08 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 58

Oleh Effendy Wongso

Seterang apakah gemintang timur
yang memias serupa lelatu api
dari sembur mulut Sang Naga?

Oh, patriot dari Chengdu
serupakah engkau tetomis
yang kasat dan hidup
lantas menggeliat serta terbang
di atas tanah nan kerontang ini?

Bao Ling
Litani Nirwana

Foto: Dok KATA HATIKU
Di manakah letak sang jiwa, yang melanglang dan kadang melarung dalam mayapada tak bertepi? Serupa dengung kecapi dan sitar pengembara, ia terus menerus menelusup lantas menelikung di antara basir pasir dan cadas. Kegalauan ini sungguh tak terjamah jawab, meski dawai-dawai itu melengking parau dan membiasi malam dengan pongah.
Lalu, apalah arti seorang manusia yang ditiupi lafaz dari langit. Ia mengecap dengan tangisnya. Ia meraba dengan jeritan dan celotehnya yang mungil.
Oh, aku tak paham.
Sungguh tak paham
Kepandaian ini menjadikanku pandir. Sungguh dina jiwa yang semelata ular-ular di Gobi. Sungguh lara hidup yang mengagungkan rasa dan raga.
Lantas, apakah Fa Mulan yang dianugerahi Prajurit Garda Langit merupakan seorang perkasa di antara gergasi buana? Sehingga ia mampu memecahkan karang gemarang hanya dengan aumannya?
Oh, sahabatku. Tidaklah bijak mendewakan aku dalam selaksa puja. Kultus telah menjadikanku batu di antara karang. Dan menjadikanku pemati di antara nisan.
Mohon, sahabat. Sekali lagi aku pinta, enyahkan selantun litani yang mengikatku dalam pranata ini. Aku ini hanya seonggok daging. Aku ini hanya segumpal darah. Aku ini hanya raga yang terbentuk dari segala najis, yang sungguh tak kalian pahami maknanya.
Sebab, Fa Mulan yang kalian gelari Prajurit Garda Langit juga sesekali melakukan nista tercela dalam gelimun gemawan gelap.
Ya, nista tercela.
Saya tidak pernah dapat memahami apa makna kehidupan ini. Semuanya babur. Rangkaian episode kisah manusia seperti rantai yang sambung-menyambung tanpa ujung. Ada kehidupan, ada kematian. Ada tawa, ada tangis. Jauhar afeksi menjadikan saya serupa rani. Sementara rana menjadikan saya serupa pemati. Kebajikan dan kebatilan beriringan serupa bayang-bayang yang mengikuti cakra pedati.
Apa yang terjadi dengan Tionggoan?!
Sabda yang diturunkan dari langit untuk para Tuan dan Puan melamur seperti pendar pelangi, dan tak lagi memiliki makna keindahan untuk dititi dedewi. Maka kuduslah engkau para rani. Kuduslah engkau yang senantiasa meletupkan lelatu kebajikan dalam sanubari manusia, meski iramanya yang minor menjadi rekwin. Meski biramanya yang platonis tak terjamah para hati yang telah terpenjara oleh tirai-tirai kegelapan.
Saya Fa Mulan, Prajurit Garda Langit, perempuan yang disabda dan diturunkan dari Langit untuk mengabdi demi kebajikan agar semuanya tak jadi nisan.
Ya, tak jadi nisan. (blogkatahatiku.blogspot.com)