08 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 56

Oleh Effendy Wongso

Kekerasan dan kelembutan
adalah dua kubu yang berbeda
satu bersaif mawar berbisa
dan satu bersaif yang-liu
masing-masing bertarung
dalam jarak tak seberapa

Fa Mulan
Refleksi Taichi Chuan

1220, Provinsi Guandong

Foto: Dok KATA HATIKU
Namaku Wong Qi Bei.
Aku tidak pernah berpikir untuk menjadi pendekar dengan dianugerahi sepasang lengan baja, yang nyaris setiap hari kuisi dengan perkelahian. Orangtuaku tidak pernah bermimpi anak sulung mereka akan menjadi petarung. Karena mereka menganggap pendekar adalah centeng-centeng naif yang memenuhi hidup dunia dengan darah.
Tetapi dunia ini memang sudah babur.
Yang kuat menjazam yang lemah. Tidak ada keadilan lagi ketika dajalis melanda Tionggoan. Pemampasan menjadi cerita subur di tanah ini. Aku ke biara Shaolin bersangu itu. Kelaknatan zaman mengaburkan perjalanan hidupku.
Aku gamang. Diombang alur takdir. Rupanya Shaolin yang sesuci yang-liu bukanlah tempat menempa harap. Kebatilan harus dilawan dengan kebajikan. Bukan dengan kekerasan!
Aku terpental.
Nasib membawaku kembali ke tanah kelahiranku ini. Di sini aku belajar menyelaras dengan alam. Bukan kehendak berlandas keinginan sekeras karang semata. Kusosialisasikan paruh hidupku demi kebajikan. Aku belajar memadani. Membaur dengan kesederhanaannya. Meresapi hidup penuh warna tanpa kekerasan. Nasehat yang kutepis jumawis dulu dari sepasang manusia peniup lafaz dalam napasku menyata.
Hitam dan putih sisik-melik dunia memang hanya setipis sutra!
Lalu suatu waktu aku menerima surat dari saudara seperguruanku, Fang Wong. Ia mengabariku presensi neonatus Dewata. Sekarang gadis cilik itu berada di Chengdu. Aku diminta untuk memoles permata tersebut. Mengasahnya sehingga menjadi batu permata yang paling mulia di antara segala permata.
Maka berangkatlah aku ke sana.
Kutemui gadis cilik jelmaan Dewata.
Aku terkesiap. Ribuan tahun tanah di Tionggoan tidak pernah ditumbuhi bunga secantik ini.
Ia adalah Magnolia. Keindahan segala bunga.
Kuajari ia Totok Nadi. Ortopedi. Juga pengobatan tawar racun. Kukenalkan ia pada segala jenis racun dan juga penawarnya.
Alangkah girangnya ia bukan kepalang.
“Guru, kenapa di dunia ini ada yang namanya racun?” Ia bertanya demikian, suatu hari ketika mengajarinya semua hal.
“Seperti juga dalam kehidupan manusia, hati manusia diliputi dua hal mendasar. Pertama, kebajikan. Kedua, kebatilan. Kebatilan dapat kita ibaratkan dengan racun. Lalu, kebajikan dapat kita ibaratkan dengan penawarnya. Dua hal itu seiring sejalan. Tapi, kadang-kadang racun dapat menjadi penawar racun bagi yang lainnya. Begitu pula sebaliknya. Kebajikan dapat menjadi kebatilan bagi kebajikan lainnya. Itulah fenomena yang terjadi di lingkungan kita. Di Shaolin misalnya, ada maharesi yang dapat berubah jadi serigala. Begitu pula sebaliknya di dunia hitam, ada serigala yang dapat menjelma menjadi Dewata.”
“Maksud Guru, racun itu tidak selamanya buruk?”
“Racun adalah bagian dari alam. Racun mengisi kehidupan kita sejak terbentuknya kali pertama dunia ini. Yang-liu dan Mawar Beracun tumbuh seiring dengan pesonanya masing-masing.”
“Apakah hal yang Guru sebutkan tadi masuk dalam komponen Taichi Chuan?”
“Tidak ada unsur yang lepas dari alam. Semuanya menyelaras sehingga terjadi perimbangan yang kosmis. Kalau menentang hukum-hukum tersebut, maka manusia akan menemui petaka.”
“Petaka?! Apa maksud Guru?”
“Petaka itu bersumber dari diri kita sendiri. Seseorang dapat menuai bencana dan mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri. Salah satu unsur yang tak dapat dielakkan adalah proses penuaan, sakit, dan mati. Manusia kadang-kadang ingin hidup di luar hukum alam tersebut. Mengabadikan dirinya dalam ambivalensi maya. Tapi, tidak ada yang dapat membendung unsur alam dahsyat kematian. Semua manusia pasti mati!”
“Guru, apakah yang dimaksud dengan ambivalensi maya yang seperti Anda sebutkan tadi?”
“Itu adalah nafsu keinginan dan ambisi. Ambivalensi maya itu terangkai dari egosentrisme dan utopis manusia. Padahal awal mula neonatus, manusia tidak membawa apa-apa. Semuanya terlahir bugil. Dan ketika berpulang ke Sang Pencipta pun begitu.”
“Jadi menurut Guru, awal petaka itu bermula dari ambisi dan keegosentrisan manusia?”
“Betul. Bencana bagi kehidupan datang susul-menyusul dibahang oleh ambisi manusia. Perang, genosida, pemusnahan dan masih banyak lagi ulah batil manusia.”
“Kalau begitu, apakah darah akan dibalas dengan darah , Guru?”
“Darah dibalas darah, tidak akan ada habisnya. Karenanya, kebencian mesti dilawan dengan kasih sayang. Kekerasan tidak pernah akan berakhir bila dilawan dengan kekerasan. Tapi kekerasan akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih. Bukankah itu yang diajarkan oleh Sakyamuni ?”
“Saya gamang, Guru. Terjadi banyak ketidakselarasan yang membumihanguskan peradaban. Perang dan perang. Apakah Dewata akan murka dan menjatuhkan sanksi kiamat?!”
“Beragam sanksi dapat dijatuhkan Dewata sebagai kompensasi kemurkaan. Ia dapat berupa bencana jasadi. Tapi, ia dapat juga berupa takdir. Utusan yang sudah menjadi predestinasi.”
“Siapa yang dimaksud utusan itu, Guru?”
“Pahlawan dan kesatria. Mereka dapat berasal dari kalangan manapun. Jelata sekalipun. Tidak hanya dari puak terpandang dan keluarga bangsawan.”
Aku lihat ia mengangguk mafhum ketika itu.
Aku tersenyum.
Utusan itu adalah Fa Mulan! (blogkatahatiku.blogspot.com)