07 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 55

Oleh Effendy Wongso

Ia bukan genta
dari kemilau emas
hingga gemanya ke dasar hati
tetapi ia adalah
senandung largisimo
yang menyentuh hati

Bao Ling
Refleksi Taichi Chuan

Foto: Dok KATA HATIKU
1219, Kabupaten Chengdu

Namaku Fang Wong.
Aku lahir di Sichuan, salah satu kota provinsi di Tionggoan Selatan. Sejak lahir aku sudah tidak pernah bertemu dengan ayahku. Kata ibu, ayah sudah meninggal di Goa Fu Xien, salah satu lembah di Bukit Wudan. Terkurung di sana sampai ajal menjemputnya.
Namun ada dua versi yang kudengar. Pertama, ia mati karena dirangsa gergasi. Kedua, ia mati karena nelangsa. Aku masih kecil ketika itu. Ibu tidak pernah terbuka, jujur mengatakan yang sebenarnya. Namun ketika beranjak dewasa, aku baru mengerti kalau kematian ayah sangat mengenaskan. Lebih dari kedua versi yang samar aku dengar.
Lalu amarah itu bergejolak di dalam dadaku. Seperti lahar kepundan di gunung berapi. Semestinya Ibu tidak bisa begitu. Seharusnya perempuan itu tidak menutupi rahim kebenaran, meski aroma yang dikeluarkannya serupa sempedah dahak berdarah sekalipun.
Belasan tahun tubuhku yang ringkih ini dipahat Ibu selaksana arca gaharu. Ia halus gemulai menyebarkan harum. Selantun hio yang terbakar, aku ditelikung semerbak wangi, menggiring masa kanak-kanakku ke dalam suka tanpa lara. Ia memasungku, menjauhkan aku dari apa yang dinamakan replika. Ia tidak ingin anak tunggalnya, Fang Wong serupa Fang Hong!
Serdadu Kaisar Yuan Ren Xing telah mencacah tubuhnya sehingga menjelma menjadi jerangkong. Mayat hidup tanpa nyawa. Ia terasing di pengasingannya. Goa Fu Xien menjadi saksi bisu kebiadaban manusia atas manusia lainnya. Belasan tahun ia terbebat di antara tubir cadas. Tembok-tembok beku yang dingin dan kelam.
Aku berguru pada Shaolin dilatarbelakangi dendam yang membara. Perempuan yang melahirkan aku dari rahimnya itu meraung. Aku tetap bersikeras. Pergi ke dunia para resi. Menempa diri setebal baja. Belajar ilmu silat mereka yang mashyur.
Namun aku salah kaprah.
Shaolin bukan alternatif penggumpal dendam. Dunia gerbang nirwana itu terlalu suci untuk dikotori dengan sekelumit dendam. Takdir bicara. Aku terkapar. Lalu terdampar ke dusun ini, Chengdu. Bertemu dengan gadis luar biasa. Gadis jelmaan Dewata. Fa Mulan!
“Guru, apakah yang dimaksud dengan Taichi?”
Ia bertanya demikian kepadaku, suatu petang saat belajar sembunyi-sembunyi. Kedua orangtuanya memasungnya dalam pranata ribuan tahun. Kakinya dibebat dengan benang merah kultur Tionggoan yang kaku. Anak gadis hanyalah penghuni sangkar madu!
“Taichi merupakan harmonisasi kehidupan ini dengan alam semesta. Semua bentuk kehidupan harus berselaras dan beriringan dengan alam. Perpaduan siklus alami, sebuah keseimbangan yang abadi.”
“Apa itu, Guru?”
“Air, api, tanah, logam, dan angin. Itulah unsur-unsur alam. Kelima unsur alam itu telah membentuk sebuah kehidupan hakiki yang bernama ren .”
“Ren?!”
“Ya. Manusia dan alam adalah satu. Masing-masing saling melengkapi. Bukannya memusnahkan.”
“Tapi Guru, saya melihat banyak manusia saling memusnahkan!” Fa Mulan bertanya lugu. Suaranya yang mungil itu mengentakkan jiwa. “Bukankah perang yang dilakukan manusia itu juga merupakan pemusnahan sesama?!”
Aku memandang langit.
Rembang petang masih menyisakan segumpal awan kelabu. Bias kelam belum menyaput benar jingga yang masih bercokol di ufuk barat. Tujuh tingkat di atasnya ada svargaloka. Mungkinkah ini presensi neonatus Dewata di muka bumi?!
Gadis cilik itu memang maharani!
“Perang adalah inharmoni, Mulan,” kataku lembut. “Perang adalah penentangan terhadap unsur-unsur alam.”
Kepala kecil itu mengangguk mafhum.
Namun bola matanya seolah berbicara. Bibirnya tidak sertamerta terkatup oleh sebaris penjelasan. Ia lantas bertanya. Bertanya apa saja. Aku mengurai senyum.
Gadis cilik memang itu penggambaran chi langit.
“Guan Yu bertempur dan berperang untuk mempertahankan negara. Beliau malah digelari pahlawan besar. Apakah perang yang dilakukan oleh beliau itu sahih dan tidak melanggar aturan alam? Bagaimana menurut Guru?”
“Beliau bertempur bukan untuk memusnahkan. Tapi, untuk menjaga agar unsur-unsur alam tidak dirusak. Rakyat, negara, dan kemakmuran juga termasuk bagian dari unsur alam tersebut!”
“Apakah Taichi itu semata-mata kelembutan, Guru?”
“Kenapa Mulan bertanya begitu?”
“Karena saya lihat tidak ada kekerasan di dalam Taichi Chuan.”
“Lembut itu belum tentu lemah, Mulan. Lemah gemulai bukan berarti tidak kuat. Air merupakan unsur yang paling jelas dalam Taichi Chuan.”
“Air?”
“Ya, air. Air itu lunak dan gemulai. Tapi air dapat mengauskan karang. Air dapat menghanyutkan sebuah desa sekaligus. Itulah kekuatan terpendam pada air yang gemulai.”
“Hebat!”
“Dan ketahuilah, Mulan. Air adalah unsur alam yang paling ‘rendah hati’. Air selalu menggenang di tempat yang rendah. Air selalu merendah meskipun sebenarnya dahsyat. Air merupakan paradoks dari orang yang bijak. Orang bijak itu tidak akan melawan kekuatan dengan frontal, tapi ia akan mengalah dan membiarkan musuhnya melumer dengan kelembutan.”
“Wushu Taichi Chuan sungguh hebat!”
“Bukan wushunya yang hebat, tapi inti dari unsur-unsur alamnya. Kekuatan mahadahsyat bagaimanapun tidak akan dapat mengalahkah arus deras air di sungai. Wushu Taichi Chuan hanya berguru pada alam. Makanya, proses lahirnya jurus-jurus dalam Taichi Chuan ini tidak terlepas dari unsur-unsur alam tadi.”
“Jadi, tekniknya merupakan replikasi unsur-unsur alam. Lemah gemulai mengalahkan kekuatan besar. Seperti arus air sungai yang menjebol batu karang dan juga akar pohon raksasa!”
“Betul.”
“Guru, mohon ajari saya Taichi Chuan!”
Aku tersenyum.
Tersenyum melihat tingkahnya yang lugu. Ia bersujud di hadapanku. Meminta dengan sangat agar aku mau mengajarinya Taichi Chuan. Tentu saja aku akan mengajarinya!
Aku tidak ingin Dewata murka!
Sebab gadis cilik itu adalah maharani!
“Bangunlah.”
“Ja-jadi, Guru mau mengajari saya?!”
Aku mengangguk.
Gadis cilik itu merangkul perutku.
Airmatanya bergulir ditabuh haru. Aku terbahak. Dewata seperti mengutus seorang anak manusia untuk kugembleng menjadi pusaka. Sebilah pedang naga yang akan menyelamatkan bumi dari angkara. Rasa-rasanya aku menjadi makhluk paling beruntung di dunia ini!
Fang Wong, manusia setengah lumpuh, yang akhirnya dapat mengaplikasikan sedikit kebajikan untuk perkembangan dunia. Replika alam Taichi Chuan memang bukan sertamerta terilhami di serabut kelabu otakku. Semuanya predestinasi dari langit.
Takdir yang tidak dapat kutolak! (blogkatahatiku.blogspot.com)