07 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 54

Oleh Effendy Wongso

Alamat lara
dijatuhkan Langit kepadaku
danuh ini tak pernah diam
maharana memaksaku untuk kembali
dan menanggung dosa
akibat nyawa-nyawa yang melayang
seperti anak-anak panah yang patah

Kao Ching
Sepasang Anak Panah yang Patah

Foto: Dok KATA HATIKU
1208, Ulan Bator - Mongolia

Kao Niang menatap bayi yang tengah digendongnya dengan rupa baur. Airmatanya menitik tiap sebentar. Rambun seharian baru saja membawa kawat buruk. Orang yang dikasihinya, tumpuan segala harapan telah pergi untuk selama-lamanya. Hamdan Nai-Ramdak terbantai dalam sebuah insiden berdarah di Ulan Bator.
Perang saudara yang melanda Mongolia telah merenggut nyawa suaminya sebagai korban kebiadaban zaman. Meski gagal menggulingkan kekuasaan Temujin menjadi Khan Agung dalam sebuah kudeta di tanah gurun, namun Bughut Orchibat, jenderal pembangkang, telah membinasakan banyak prajurit Temujin, juga rakyat tak berdosa.
Hatinya meradang.
Rambun semakin menyiksanya. Menggigit luar biasa dengan dinginnya yang dingin. Sementara bayi belum bernama dalam pelukannya itu terus menangis. Seolah-olah tahu kabar buruk yang dibawa oleh seorang peternak kuda tua kepada ibunya.
“Kao Niang….”
Ada suara paruh tangis yang menggema di belakangnya. Ia menoleh setelah membalik badan. Daun tenda tersibak, partikel salju berhamburan masuk menyertai Layla Khubilai yang berjalan tergopoh setengah berlari ke hadapannya. Ia tampak menggendong bayi. Persis seusia bayi yang tengah digendongnya.
“Layla….”
“Abadur….”
Kao Niang menggumam. Ia sudah tahu kalimat apa yang hendak disampaikan oleh sahabatnya itu. Airmatanya kembali menitik.
“Saya prihatin,” desisnya.
Layla Khubilai bertanya pelan. “Kamu sudah tahu?”
Anggukan getasnya menjawabi.
Dibelainya rambut tipis bayinya yang masih memerah. Dirapatkannya selimut beledu kulit rusa yang membebat tubuh mungil itu yang kini telah tertidur. Perempuan yang tengah terkapar dalam luka di hadapannya tengah menggigit bibir. Keras. Sampai nyaris berdarah.
“Hamdan….”
“Dia juga tewas di tangan pasukan pemberontak pimpinan Jenderal Bughut Orchibat, Layla!”
“Ke-kenapa….”
“Seperti juga suamimu Abadur, Hamdan suami saya pun merupakan korban perang. Biarlah Dewata yang menghukum pembunuh-pembunuh kejam itu, Layla!”
“Sa-saya….”
“Mungkin peristiwa tragis yang menimpa kita berdua ini merupakan takdir langit. Kita tidak boleh berkubang terus-menerus dalam kesedihan, Layla. Bayi kita masih memerlukan perhatian kita!”
“Tapi….”
“Besarkan bayi-bayi kita ini. Semoga mereka nantinya dapat menjadi pahlawan kebenaran bagi Mongolia.”
“Tapi kita tidak memiliki siapa-siapa lagi, Kao Niang!”
“Kita harus mandiri!”
“Mana bisa….”
“Layla, kalau sudah cukup besar, bayi-bayi ini dapat kita titipkan kepada Temujin. Beliau adalah pemimpin bijak yang welas asih. Saya yakin beliau dapat mendidik anak-anak kita dengan baik.”
Kepala Layla Khubilai menegak.
Sepasang matanya berbinar riang setelah disaput dukacita kehilangan orang yang paling dikasihinya. Ia mengangguk. Sertamerta mengakuri usulan Kao Niang, sahabatnya dari suku Han bersuamikan Mongol.
“Temujin tidak memiliki anak laki-laki,” jelas Kao  Niang. “Pasti dengan senang hati beliau akan menerima anak-anak kita!”
“Terima kasih, Dewata nan Agung!” Layla mendongak, seolah memanjatkan doa syukur ke langit, di balik tenda kulit kempa lembu. “Tolonglah kami. Biarkan bayi-bayi kami ini dapat hidup layak bersama Temujin!”
Seperti merasakan pijar bahagia sahabatnya itu, Kao Niang kontan menepuk lembut punggung tangan Layla Khubilai dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggendong bayinya yang masih terlelap, dan sesekali terlihat menguap.
“Nama bayimu siapa, Kao Niang?”
Kao Niang mengembangkan senyumnya. Obat penawar lara ada pada wajah polos tanpa dosa bayinya. Tempat menaruh segala harapan. Karenanya ia memutuskan untuk tetap hidup.
“Kao Ching!”
“Kao Ching?!”
“Kao yang teguh. Kao adalah marga kami. Sementara Ching dalam bahasa Han berharafiah teguh. Saya tidak ingin peristiwa tragis yang merenggut ayahnya menjadi kenangan abadi di benak saya. Makanya, bayi ini tak saya beri nama marga Hamdan. Biarlah semua berlalu ditelan sang waktu. Bayi ini saya beri nama yang berasal dari marga keluarga saya. Kao. Jadi, bayi ini bernama Kao Ching. Si Teguh Kao .”
“Kamu cukup bijak untuk dapat melupakan masalah.”
“Yah, hanya itu saja yang dapat saya lakukan.”
“Saya salut dengan ketabahan kamu!”
“Saya berusaha sebisa mungkin melupakan semua peristiwa tragis itu. Saya hanya dapat menaruh harapan setinggi-tingginya kepada Kao Ching.”
“Saya berniat mengikuti langkahmu!”
“Jadi….”
“Bayi ini belum bernama. Setiap menyebut nama Abadur, hati saya seperti ditusuk pedang. Saya ingin melupakan dia seperti kamu melupakan Hamdan.”
“Kamu beri nama apa bayimu, Layla?”
“Saya belum menemukan nama yang cocok. Yang pasti, saya tidak ingin menggunakan marga ayahnya.”
“Yah, mungkin itu lebih baik. Mongolia memang menyimpan banyak kenangan buruk di dalam benak kita masing-masing.”
“Bagaimana kalau kamu yang menamainya, Kao Niang?”
Kao Niang terkesiap.
Terkejut atas permintaan Layla Khubilai. Dalam kalangan suku Han, permintaan barusan merupakan penghormatan yang tiada tara. Ia melebarkan bibir. Mengurai senyum bijak.
“Mana boleh begitu, Layla. Nama merupakan roh anak kita. Tidak boleh dinamai sembarangan. Terlebih-lebih diberikan oleh sembarang orang. Saya tidak boleh….”
“Tapi, saya tidak ingin bayi saya ini mereplikasi sifat ayahnya. Dia tidak boleh menjadi prajurit. Saya harus menjauhkan dia dari bayang kelam Mongolia. Makanya….”
“Makanya kamu meminta saya menamainya dengan nama Han, bukan?”
Perempuan berwajah tirus kecoklatan itu mengangguk.
Sepasang mata besarnya masih membasah. Tetapi ia tidak dirangsa nelangsa lagi. Hatinya sedikit lapang bila mengingat buah hatinya yang masih tertinggal. Tempat menumbuhkan segala harapan.
“Tolonglah, Kao Niang….”
“Saya tidak bisa, Layla. Bukannya saya tidak mau menolongmu. Tapi, dalam kultur kami, hal tersebut sangat tabu.”
“Ja-jadi….”
“Dia tetap Mongol meskipun berganti nama sekalipun, Layla!”
“Tapi….”
“Kao Ching lain. Dia masih memiliki darah Han. Kamu tahu….”
“Kao Niang….”
“Bersabarlah, Layla. Mungkin sedikit hari kamu dapat menemukan nama yang tepat untuk bayimu.”
“Tapi, saya….”
“Biarlah bayimu tumbuh secara alamiah, Layla. Nama untuk dia hanya soal waktu. Melupakan kenangan sepat tidak sertamerta dapat dilakukan, meski bayimu itu berganti kulit sekalipun.”
“Baiklah kalau kamu bersikeras menolak, Kao Niang. Tapi, paling tidak kamu mengusulkan satu nama untuk bayi saya ini.”
“Nama Han?”
“Tentu saja. Saya tidak ingin kenangan Mongol selalu bercokol di benak saya.”
“Tapi….”
“Ayolah, Kao Niang. Anggap saja saya sedang memohon, sekali ini saja. Hanya satu nama.”
“Tapi saya tidak berhak….”
“Kamu berhak, Kao Niang!”
“Arwah Abadur akan menyalahkan saya!”
“Tidak. Bukankah dia pernah mengatakan kalau anak-anak kita nanti akan dipersatukan dalam ijab?”
Kao Niang kembali terkesiap.
Ia teringat sesuatu. Tentang taklik yang pernah disepakati oleh Hamdan dan Abadur. Kelak bila anak mereka lahir sebagai perempuan dan laki-laki, maka kedua anak tersebut akan dinikahkan. Bila kedua-duanya terlahir sebagai laki-laki atau perempuan, maka mereka akan dijadikan saudara angkat. Maka Hamdan dan Abadur pun sepakat untuk membuat benda materiil simbol ikatan itu.
Dibuatlah dua belati bersarung emas. Anak yang terlahir duluan akan mendapat belati yang berukir aksara ‘Rajawali Satu’, dan anak yang terlahir kemudian akan mendapat belati serupa berukir aksara ‘Rajawali Dua’.
“Auw Yang Kauw, Si Rajawali Dua!”
Badan Layla Khubilai sontak menegak. Ia mengernyit dengan pikiran magel. Atas dasar apa sahabatnya itu memilih nama Han itu? Dan seperti sudah tahu apa yang bersemayam di benaknya, Kao Niang langsung menjawabi pertanyaan yang hanya berdenting sekilas di kepalanya tersebut.
“Auw Yang Kauw berarti Putra Matahari. Si Putra Matahari. Matahari yang diharapkan dapat terus-menerus memancarkan sinarnya untuk kehidupan manusia.”
“Rajawali Dua….”
“Itu nama belati bersarung emas untuk putramu. Abadur pasti sudah menceritakan kepadamu, bukan?”
Sesaat Layla Khubilai masih mengernyit.
Mencoba menghimpun serangkaian kalimat yang pernah disampaikan oleh mendiang suaminya menyikapi taklik yang sudah disepakatinya dengan almarhum Hamdan. Dan akhirnya ia mengangguk setelah memori hal itu terkuak di benaknya.
“Karena bayimu lahir lebih lambat tiga hari dari bayi saya, maka otomatis dia menerima belati ‘Rajawali Dua’ itu, Layla.”
“Saya paham. Jadi hari ini, Kao Ching bayimu, dan bayi saya, Auw Yang Kauw, resmi menjadi saudara angkat!”
“Ya. Semoga kedua bayi kita ini dapat menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara kita, Mongolia!”
“Semoga Dewata melimpahkan anugerah kepada bayi-bayi kita.”
Layla Khubilai kembali mendongak. Kao Niang mengikuti tingkah perempuan muda tersebut tanpa sadar. Seolah sedang berusaha mengintip Dewata di balik tenda kulit kempa lembu.
Namun yang terlihat hanyalah kerangka-kerangka tenda dari tiang-tiang mahoni. Juga partikel-partikel rambun yang menitik di punggung tiang-tiang tersebut akibat embusan angin yang menelusup di celah-celah sobekan tenda. Beberapa di antaranya melekat di dinding-dinding tenda. Lainnya jatuh tepat di wajah dan rambut kedua perempuan muda itu. (blogkatahatiku.blogspot.com)