07 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 53

Oleh Effendy Wongso

Jangan menangis dara
sebab lara telah reda
biarlah bulir airmata
menjadi permata
mengilau
mengaura
dalam setiap lafaz
napasmu

Oey Young
Senandung untuk para Papa

Foto: Dok KATA HATIKU
“Nama kamu siapa?”
Gadis kecil itu menggeleng. Rambutnya yang masai tersibak mengikuti arah goyangan lemah pada lehernya. Lalu ia menunduk seperti biasa. Tak berani bersirobok mata.
“Saya tidak memiliki nama, Puan,” jawabnya datar.
Perempuan muda itu membeliakkan mata. “Se-seorang harus memiliki nama.”
“Tapi, sungguh, saya tidak punya nama.”
“Aneh.”
“Maaf….”
“Ya, sudahlah. Kalau kamu tidak ingin menyebut nama, toh saya tidak bisa memaksa.”
“Tapi….”
“Tidak apa-apa.”
“Ta-tapi….”
“Tidak apa-apa. Saya tidak akan marah. Kalau sudah siap nanti, kamu pasti akan menyebutkan nama kamu sendiri.”
Perempuan itu tersenyum. Menegakkan badannya setelah membungkuk menyejajari tinggi sepinggang anak perempuan yang ditemuinya barusan di gerbang Istana. Lantas dibimbingnya bocah perempuan jalan sembilan itu ke ruang dalam Istana.
Namun gadis cilik itu menghentikan langkahnya. “Maaf, Puan….”
“Ada apa?”
“Saya tidak pantas….”
“Pantas atau tidak, sayalah yang berhak menentukan. Bukan orang lain. Bukan para dayang Istana. Bukan pula para kasim Istana. Jadi, kamu tidak perlu khawatir.”
“Tapi….”
“Ikutlah. Kamu tidak akan diapa-apakan. Hei, kamu sudah tiga hari tidak makan, bukan?”
“I-iya. Tapi….”
“Jangan takut.”
“Bu-bukan begitu….”
Namun perempuan bertubuh lampai itu tetap memaksa, menyeret setengah memaksa bocah cilik berbaju kumal tersebut. Langkahnya yang tertahan diikuti oleh empat orang dayang istana yang sedari tadi setia mengikuti majikannya.
“Orangtua kamu di mana?”
“Saya tidak memiliki orangtua, Puan.”
Perempuan muda yang dipanggil dengan ‘Puan’ itu menghentikan langkahnya. Ia kembali membungkuk setengah badan, bersihadap dengan gadis cilik tanpa nama yang ditemuinya lusuh di gerbang istana tadi. Kemudian ditatapnya lamat gadis kecil yang tengah dituntunnya itu dengan dahi mengerinyit.
Seolah dapat membaca jalan pikiran perempuan berhati emas itu, gadis cilik itu lekas-lekas menyahut menegaskan.
“Betul, Puan, saya tidak memiliki orangtua. Saya tidak bohong. Sedari kecil, saya tidak pernah sekalipun melihat wajah kedua orangtua saya.”
Perempuan aristokrat itu tersenyum geli melihat bocah dekil itu kegugupan.
“Siapa bilang kamu bohong? Saya percaya, saya percaya. Tapi….”
“Tapi apa, Puan?”
“Seperti juga nama, seseorang harus memiliki orangtua.”
“Tapi….”
“Ya, sudah. Mungkin kamu enggan menyebutkan nama kedua orangtua kamu.”
“Ta-tapi, saya memang….”
“Ya, sudah. Segera makan. Nanti kamu bisa sakit. Berdebat lama-lama tidak ada gunanya. Yang penting, perut kamu harus diisi dulu.”
Gadis cilik itu manggut. Tidak membantah lagi. Dilihatnya perempuan muda puak terpandang itu mengibaskan tangannya mengaba supaya dayang-dayangnya segera menyiapkan makanan. Perutnya semakin keroncongan.
“Tidak keberatan kalau kamu saya panggil dengan nama Oey Young?”
Gadis cilik itu mengerinyit. “Oey Young?!”
“Ya. Oey Young.”
“Artinya apa, Puan?”
“Teratai yang Indah.”
“Teratai yang Indah?!”
“Kenapa? Tidak suka?”
“Bu-bukan begitu….”
“Lalu, apa?”
“Saya tidak cantik, Puan. Saya tidak pantas menyandang nama sedemikian indahnya.”
“Siapa bilang begitu?”
“Kenyataannya….”
“Di manapun ia tumbuh, Teratai tetap akan indah. Sekalipun Teratai tumbuh di tengah kolam berlumpur.”
“Sa-saya….”
“Sudahlah, Oey Young. Makanlah. Nanti kamu bisa jatuh sakit.”
“Te-terima kasih, Puan!”
“Nah, begitu baru yang namanya anak manis.”
Gadis cilik itu tersenyum. Dari sanalah hidup barunya berawal, dan merangkai kenangan yang mengiang sepanjang masa hidupnya…. (blogkatahatiku.blogspot.com)