07 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 52

Oleh Effendy Wongso

Hwasan
antara sekar bunga
dan papa dunia
adakah yang lebih indah
dan buruk darinya?

Oey Young
Elegi Pengemis

Foto: Dok KATA HATIKU
Gadis itu sudah mendengar berita buruk yang terjadi di Ibukota Da-du. Meski pulau yang didiaminya terpencil dari segala kisruh, namun tak urung kabar miris itu sampai juga ke telinganya. Kehidupan penduduk dusun di Pulau Bunga yang tenang tenteram tampaknya sudah mulai terusik.
Namun, ia tidak peduli. Dunianya masih penuh dengan bunga.
“A Young….”
Gadis itu menoleh, sejenak mengalihkan pandangannya dari indah warni bunga. Ada suara sember yang menyita perhatiannya dari ritualitas pagi. Tarian serumpun bambu oleh embus sejuk angin. Pucuk dedaunan yang-liu yang basah oleh embun. Serta kicau pipit serupa senandung penyingsing malam.
“Ada apa, Pek Thong?”
“Hihihi.”
Pertanyaan gadis berbola mata bagus itu disambut dengan cekikikan. Giginya yang nyaris ompong terkuak lewat bibirnya yang ringsing, satu gambaran nyata tentang fisik yang telah termakan usia.
“Kenapa tertawa?” Oey Young bertanya, lebih sekadar menanggapi kehadiran orangtua yang masih bersifat kekanak-kanakan itu ketimbang rasa penasarannya atas sikap anehnya.
“Saya suka dengan keadaan kisruh di Ibukota Da-du.”
Oey Young sontak tersenyum. Dilemparkannya sebatang perdu liar yang sedari tadi digenggamnya. “Kenapa bisa begitu?”
Chie Pek Thong melonjak riang, bertepuk-tepuk tangan. “Yah, karena saya senang saja.”
Oey Young menggeleng-geleng. “Kamu memang aneh, Phek Thong.”
“Memangnya kenapa?” sanggah orangtua berbadan gemuk itu dengan dahi mengerut. “Memangnya salah apa?”
“Tidak ada yang salah.”
“Lalu….”
“Masalahnya, Tionggoan dalam bahaya.”
“Peduli amat,” cibir Chie Phek Thong, mengibaskan tangannya. “Memangnya kamu juga peduli?”
Oey Young kini terbahak. “Memangnya apa pedulimu terhadap saya?”
Orangtua berambut perak itu kembali melonjak, bertepuk-tepuk tangan. “Nah, sama, bukan?”
“Maksudmu?”
“Sekarang, apa korelasi Tionggoan terhadap kita kalau kita peduli?”
“Yah, paling tidak kita ikut prihatin atas penyerbuan Mongol ke Ibukota Da-du.”
“Peduli amat!”
“Kamu tidak nasionalis, Phek Thong.”
“Lha, kamu sendiri bagaimana?!”
“Saya….”
“Hihihi….”
“Apanya yang lucu?”
“Tidak ada yang lucu, sebenarnya.”
“Lalu….”
Chie Phek Thong bukannya menjawab, ia malah menguap lebar seolah acuh tak acuh. “Huaaap.”
Oey Young tersenyum melihat tingkah bocah orangtua tersebut. Lalu, seperti turut bertindak apatis, ia pun tak mencecar jawaban dari mulut sahabat tuanya itu. Diedarkannya matanya ke serumpun bambu yang bergeletar lembut ditiup angin. Sesekali memejamkan matanya menikmati semilir angin yang membelai dingin tengkuknya.
“Peduli amat mereka bunuh-bunuhan. Peduli amat apa yang akan mereka lakukan. Perang atau tidak, pejabat tinggi negara tetap sama saja.”
“Tetap sama bagaimana?” tanya Oey Young datar, tak bermaksud untuk ditanggapi. Tangannya berusaha menjangkau setangkai yang-liu di sampingnya, yang telah bermekaran seperti kupu-kupu bersayap merah jambu.
Chie Pek Thong membeliak-beliakkan dan membolakan matanya. “Tetap sama maksud saya adalah, mereka tetap diperbudak oleh harta dan kekuasaan.”
Oey Young terbahak spontan.
Chie Phek Thong mengernyitkan dahi. “Kenapa tertawa?”
“Saya sama sekali tidak menyangka kalau seorang Chie Phek Thong bisa seposesif begitu menanggapi aktualisasi yang terjadi di Istana,” urai Oey Young setelah menyurutkan tawanya.
“Kenyataannya….”
“Kenyataannya memang begitu, bukan? Pejabat dan petinggi negara semuanya sama saja. Mereka tidak ada bedanya dengan tikus. Setiap hari mereka menggerogoti padi di lumbung rakyat. Bukankah itu yang melatarbelakangi sikap antipatimu, Pek Thong?”
“Nah, kalau begitu, untuk apa kita harus peduli?!”
“Sebaga rakyat Tionggon, bukankah merupakan kewajiban kita untuk mempertahankan kedaulatan negara dari serbuan bangsa asing?”
“Mempertahankan kedaulatan negara kamu bilang?! Hei, bukannya saya apatis di saat negara di ambang kehancuran, tapi saya lebih melihat kalau Tionggoan memang sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Kamu pikir para pejabat dan petinggi Istana peduli terhadap kondisi chaos negara? Huh, jangankan berkorban, peduli saja mereka ogah. Paling juga mereka sudah kabur memboyong harta-benda mereka sebelum agresor menduduki Istana Da-du.”
“Justru karena itulah diperlukan kepedulian orang-orang seperti kita, Phek Thong.”
“Seribu tahun pun Tionggoan akan selamanya kelam.”
“Kamu pesimistis, Phek Thong. Harus siapa lagi kalau bukan kita yang berandil menyelamatkan Tionggoan?”
Chie Phek Thong kembali menguap. “Sudah, sudah. Aku jadi mengantuk membahas persoalan negara. Biarkan saja mereka memetik buah dari hasil batil yang mereka tanam di masa lalu.”
“Hei, jangan nirapologis begitu. Toh, rakyat jugalah yang akan menderita bila pasukan besar Mongolia menguasai Tionggoan.”
Chie Pek Thong terkikik. “Siapa suruh….”
“Kamu memang terlalu kekanak-kanakan, Phek Thong!”
“Bukannya begitu, A Young. Tapi, saya sudah muak melihat tingkah laku apostasi petinggi dan pejabat Istana yang tiran dan korup. Itu hukuman bagi mereka!”
"Menghujat para pejabat dan petinggi Istana tanpa apologis tidak ada gunanya sementara stabilitas Tionggoan sudah berada di ujung tanduk.”
“Kalau begitu, kamu saja yang jadi pejabat di Istana menggantikan mereka. Saya ingin lihat, apa kamu bisa menjalankan roda pemerintahan kita yang sudah semberawut, A Young! Apa kamu bisa menyelamatkan Tionggoan?!”
“Hei, kamu pikir gampang menjadi pejabat Istana?”
“Saya tidak berpikir begitu. Hanya, saya ingin tegaskan kepada kamu kalau memimpin itu jauh lebih sulit daripada memerintah.”
“Memang begitu, Phek Thong. Jika seseorang telah menduduki takhta tertinggi, biasanya ia akan lupa dengan apa yang telah dicanang-canangkannya dulu.”
“Apa misalnya?”
“Membela rakyat kecil. Sejahterakan rakyat dan negara. Mengutamakan kepentingan umum ketimbang kepentingan pribadi masing-masing penguasa.”
“Tapi yang terjadi saat mereka telah berada di pucuk kekuasaan adalah sebaliknya, A Young.”
“Justru itulah. Mereka tidak dapat berpikir rasional lagi karena dibuai oleh kekuasaan. Gemerlap harta telah membutakan nurani mereka sehingga apa yang menjadi landasan dan cita-cita semula, kesejahteraan rakyat, akan jauh dari harapan. Mereka tidak lagi memimpin, tapi memerintah. Bukankah hal itu disebut ingkar janji?”
“Makanya….”
“Makanya itu dalih kamu bersikap apatis, bukan?”
“Alasannya memang begitu. Tapi, meski seapatis bagaimanapun, saya tetap prihatin juga terhadap nasib bangsa kita yang caruk-maruk ini.”
“Berarti, kamu masih memiliki nurani.”
“Tidak juga. Tapi, boleh dibilang kalau saya peduli terhadap nasib bangsa kita ini, itu lantaran saya iba terhadap Kaypang.”
“Kaypang?!”
Kaypang?! Oey Young terperangah. Ia paham betul nasib sekelompok masyarakat marginal yang membentuk komunitas di Ibukota Da-du tersebut. Kemiskinan merupakan predikat yang membedakan mereka dari Tionggoan. Mereka terbuang dan tersisih.
“Sejak Khung Lung meninggal setahun lalu, praktis tidak ada lagi yang memimpin Kaypang. Komunitas marginal tersebut tercerai-berai. Mereka semakin melarat dan menderita.”
  Oey Young menarik napas panjang. Sejenak direnunginya kalimat Chie Phek Thong. Khung Lung identik dengan suara rakyat. Selama puluhan tahun ia telah memimpin sekelompok masyarakat miskin dengan penuh toleransi. Afeksinya terhadap nasib sebagian orang yang bernasib kurang beruntung telah memaksa raganya meninggalkan segala keningratan. Ia keluar dari Istana, membaur dan hidup papa selama akhir hayatnya. Kaypang, sebuah komunitas bagi orang-orang yang terbuang merupakan belahan jiwanya. Ia hidup dan mati demi rakyat kecil.
“Khung Lung….”
Oey Young kembali menghela napas. Kalimat tak rampung Chie Phek Thong seolah mempertegas paparan lembar suram Istana di benaknya. Korupsi yang merajalela, peneguhan kekuasaan dengan tumbal nyawa rakyat yang tak berdosa, serta seribu satu macam problema bangsa lainnya. Hatinya tertohok. Sungguh sebuah kesalahan besar telah berpaling dari kenyataan pahit itu. Dan sungguh merupakan dosa tak terampuni lari dari semua luka bangsa tersebut.
Sekian belas tahun, ia tak mengindahkan semua kejadian miris yang melanda Istana. Diasingkannya dirinya dari pikuk masalah. Ia lari dari kenyataan. Meninggalkan Istana Ching. Meninggalkan kedua orangtuanya. Sampai kalimat gurau Chie Phek Thong menyadarkannya untuk kembali. Kembali memikirkan masalah besar yang tengah dihadapi bangsa.
“Khung Lung adalah tokoh panutan dan paternalistik. Ia adalah pahlawan rakyat kecil. Kita bukan apa-apa dibandingkan dengan dia,” lanjut Chie Phek Thong.
“Tentu, tentu,” angguk Oey Young mengakuri, berusaha mengatasi keterperangahannya akibat kalimat-kalimat Chie Phek Thong barusan. “Kita memang bukan apa-apa dibandingkan dengan tokoh masyarakat marjinal itu.”
“Ah, sudahlah, Oey Young,” Chie Phek Thong mengibaskan tangannya dengan sikap apatis. “Saya mengantuk. Huaaap!”
Lalu, lekaki tua bertubuh tambun itu melesat secepat angin. Meninggalkan Oey Young yang masih menyendiri. Terpekur meresapi setiap kalimat bersirat kebajikan. Dan selang berikutnya, Oey Young sudah berada di lintas kenangan silam. Ia terseret jauh ke belakang. Mengenang setiap jengkal lapak masa, sisik-melik kemanusiaan yang suram, yang telah ditorehkan oleh Istana. (blogkatahatiku.blogspot.com)