07 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 51

Oleh Effendy Wongso

Angin menjemput rani di gerbang tua
Kala mahardika termenung dan sendiri
di antara tubir bingkai jendela
dan pada kelopak daun pintu
yang menderit dan menggerus parau karena lapuk
sungguh,
seketika itu tak terdengar lagi
sebentuk nada pondik

Istana, Istana telah terbakar
baunya yang kobong menyeruak sampai di sini
di manakah engkau para rani
akan hilangkah segala sekar wangi dan rupa rupawan?

Masa hanya mengendus
kematian tanpa tangis
dan makam tanpa nisan
lewat cupu hidungnya yang telah mengaroma making

Bao Ling
Makam Tanpa Nisan

Foto: Dok KATA HATIKU
Setelah memata-matai barak Mongol, Fa Mulan kembali ke pos pengawasan Tembok Besar. Ia menyampaikan kebenaran berita buruk rencana penyerangan pasukan Mongol ke Tionggoan itu kepada Shang Weng yang, sudah bersiaga dengan kekuatan penuh. Armada perang Yuan telah membentengi Tembok Besar, yang merupakan salah satu jalan masuk utama ke Ibukota Da-du.
Sementara itu Kao Ching melarikan diri dari barak Mongol, dan ia kembali ke Kiangsu menemani ibu kandungnya. Ia mengambil keputusan yang kontroversial sesaat sebelum armada perang Mongolia menyerang Tionggoan. Ia mengundurkan diri dari kemiliteran Mongolia setelah menolak melibatkan diri dan memimpin dalam penyerangan besar-besaran pasukan Mongol ke Tionggoan. Ia pun memutuskan hubungan dengan ayah angkatnya, Genghis Khan, untuk selama-lamanya. Dan sejak saat itu Fa Mulan tidak pernah bertemu dengan pemuda berdarah Han-Mongol itu lagi.
Festival Barongsai yang akan diselenggarakan oleh Kaisar Yuan Ren Zhan di Ibukota Da-du urung terlaksana. Penyerangan besar-besaran pasukan Mongol di daerah perbatasan Tembok Besar telah membatalkan acara yang, semula bakal dilaksanakan untuk merayakan kemenangan Yuan atas pasukan pemberontak Han.
Prajurit Yuan pimpinan Shang Weng dan Fa Mulan tidak sanggup membendung armada perang berkuda Mongol. Divisi Kavaleri Fo Liong yang semula ampuh melumpuhkan pasukan pemberontak Han di daerah perbatasan Tembok Besar dulu dapat ditaklukkan oleh kaum nomad Mongol tersebut dengan pasukan berpanahnya.
Shang Weng dan Fa Mulan serta beberapa ribu prajurit Yuan yang masih selamat melarikan diri ke Kiangsu, daerah terdekat yang masih dapat mereka capai untuk bersembunyi. Di sana mereka menyusun siasat pembalasan dan pengusiran pasukan Mongol yang sudah menguasai dusun-dusun kecil di Tionggoan. Setelah itu mereka semua perlahan kembali ke Kamp Utara di Tung Shao. Bergabung dengan beberapa ribu pasukan cadangan dari dua divisi militer. Divisi Infanteri dan Divisi Kavaleri Danuh yang masih solid.
Di Ibukota Da-du, Kaisar Yuan Ren Zhan sudah terkepung oleh beberapa ratus jasus handal Han pimpinan Jenderal Shan-Yu, dan ratusan anggota klan Perkumpulan Naga Muda pimpinan Ta Yun yang, mengail di air keruh. Mereka menyerang pada saat konsentrasi para atase militer Yuan terpusat ke daerah-daerah perbatasan dan pos pengawasan Tembok Besar sehingga cuai dengan pengamanan Sang Kaisar. Akibatnya, para pemberontak bahkan berhasil menerobos masuk ke dalam Istana Da-du setelah membunuh beberapa atase militer Yuan, termasuk Jenderal Gau Ming dan Perdana Menteri Shu Yong.
Namun upaya pembunuhan Kaisar Yuan Ren Zhan dapat digagalkan oleh beberapa pengawal handal Istana Da-du. Kaisar Yuan Ren Zhan lolos dari maut. Ia dilarikan ke Kamp Utara di Tung Shao. Semua keluarga dan kerabat Istana Da-du beberapa hari sebelumnya telah melarikan diri ke kediaman Pangeran Yuan Ren Qing di Istana Kiangsu.
Di Tung Shao, Fa Mulan berupaya keras menghimpun kekuatan baru dari prajurit-prajurit Yuan yang tersisa. Juga menarik simpatisan rakyat jelata di dusun-dusun sekitar Kamp Utara untuk bersatu padu melawan pasukan Mongol yang sudah menyerbu dan menyerang Tionggoan. Di markas militer Tung Shao itu pula Fa Mulan bekerja keras tanpa lelah menyusun strategi baru untuk mempertahankan Tionggoan yang sudah berada di ujung tanduk.
“Maaf, makanan untuk Asisten Fa,” sahut seorang prajurit yang membawa nampan berisi makanan untuk Fa Mulan yang tengah duduk di belakang meja tulisnya di dalam tenda.
Fa Mulan mengangkat muka. Tangannya yang masih memegang pena kuas mengambang di udara. Manuskrip strategi perang yang ditulisnya berhenti pada lajur gigir.
“Terima kasih. Taruh di atas meja makan.”
“Siap, Asisten Fa.”
“Eit, tunggu. Makanan apa-apa saja hari ini?”
“Selain nasi, ada sayur asin dan daging burung dara yang hanya khusus disuguhkan kepada Asisten Fa dan Kapten Shang.”
“Kalian sendiri makan apa hari ini?”
“Kami hanya makan nasi jagung.”
“Kalau begitu, ganti makanan saya itu dengan nasi jagung!”
“Ta-tapi….”
“Ini perintah! Saya hanya ingin makan kalau makanan yang disuguhkan kepada saya sama dengan yang kalian makan hari ini.”
“Ta-tapi, Asisten Fa….”
“Cepat ganti! Bagikan makanan yang agak lezat ini kepada prajurit-prajurit yang sakit dan terluka parah.”
“Siap, Asisten Fa.” (blogkatahatiku.blogspot.com)