07 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 50

Oleh Effendy Wongso

Cinta adalah pias deru
dari bayu yang bercampur debu
ia berembus dari hati manusia
dan melentuk majas dalam rahimnya sendiri

Kao Ching
Elegi Cinta di antara Maharana

Foto: Dok KATA HATIKU
“Apakah jabatan itu demikian penting bagimu, A Kauw?”
“Penting atau tidak, saya hanya ingin dihormati oleh semua orang.”
“Oh, A Kauw….”
“Sudahlah, Ibu. Saya hanya tidak ingin dihina. Saya ingin mengangkat harkat keluarga kita sehingga tak ada satu orang pun di dunia ini yang dapat melecehkan kita lagi.”
“Ibu tidak menginginkan segala kemuliaan yang menjadi majas dalam benakmu itu! Yang Ibu inginkan hanya satu, yaitu kebahagiaanmu. Bukan kejayaan, bukan kekayaan. Tapi, kebahagiaanmu.”
“Sebelum cita-cita saya terwujud, selamanya saya tidak pernah akan bahagia.”
“Apalagi yang kurang, A Kauw?! Bukankah A Ling merupakan permata yang tak ternilai di dalam keluarga kita?!”
“Jangan menyebut-nyebut nama cucu Ibu untuk menghalangi niat saya mewujudkan cita-cita saya!”
“Kalau begitu, bagaimana dengan Chang Mei?”
“Perempuan itu pilihan Ibu, bukan pilihan saya. Dan….”
“Ya, Dewata! Kamu sudah keterlaluan, A Kauw! Biar bagaimanapun, dia adalah istrimu.”
“Dia istri sekaligus penghalang langkah saya yang Ibu sodorkan kepada saya!”
“Ti-tidak benar….”
“Saya harus pergi!”
Pemuda itu menggabruk sepasang daun pintu sehingga terpelanting dan ruyak. Gubuk yang menaunginya belasan tahun sungguh tak layak lagi. Ia bersumpah untuk berjuang memperbaiki derajat kehidupan mereka.
“Nak, jangan pergi!”
“Saya harus pergi!”
“Ambisi akan menghancurkanmu, A Kauw!”
“Saya sudah tidak tahan hidup menderita, Ibu!”
“Bersabarlah, A Kauw. Tidak selamanya kita hidup menderita begini.”
“Sampai kapan kita harus bersabar?!”
“Ta-tapi….”
“Kenapa Ibu selalu melarang saya?! Kenapa Ibu selalu memasung langkah saya?! Kenapa?!”
“Ibu tidak memasungmu, A Kauw. Ibu hanya tidak ingin kamu dihancurkan oleh ambisi dan emosi yang meledak-ledak begitu. Lihat, apa yang telah kamu korbankan demi cita-cita naifmu.”
“Saya tidak naif! Saya hanya ingin memperoleh apa yang seharusnya menjadi hak kita! Oh, sungguh bedebah keadaan yang telah mengombang-ambingkan kita ke dalam penderitaan ini!”
“Bukan keadaan yang salah! bukan takdir yang salah! Tidak ada yang salah. Hanya saja kamulah yang telah dibahang ambisi.”
“Maaf, saya harus pergi!”
Seketika itu pemuda tersebut meninggalkan kampung halamannya. Tak ada yang dapat menghentikan niatnya menyongsong cita-cita setinggi langit. Tak jua tangisan bayinya yang masih memerah. Juga jeritan pilu perempuan muda yang telah setia menyertainya selama ini.
“Nak, belajarlah kepada kesederhanaan Kao Ching!”
Kao Ching?!
Kepala pemuda bertubuh jangkung itu serasa meledak. Sepasang gerahamnya mengatup. Kenapa semua orang membangga-banggakan saudara setakliknya itu?!
Demi langit dan bumi, ia bersumpah untuk dapat menjadi orang paling terpandang di Tionggoan! (blogkatahatiku.blogspot.com)