07 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 49

Oleh Effendy Wongso

Andai saja Rajawali tak pongah
maka sumringalah Dewata
sayang indah arta mengilau
sehingga membutakan matanya
yang tajam serupa belati

Kao Ching
Rajawali yang Malang

Foto: Dok KATA HATIKU
Nyanyian rerimbun daun bambu yang diembus angin masih menyentuh dinding-dinding gulita. Suara itu menelusup di antara gulma dan reranting. Beberapa partikel itu menghilang ke senyap langit. Lalu sebagian kecil masuk ke dalam gubuk, membelai indera pendengaran kedua anak manusia itu dalam syahdu birama malam.
Kao Ching mengungkap terus-terang. “Beberapa hari lagi pasukan Mongol akan menyerang Yuan, Mulan!”
“Saya sudah tahu dari jasus Yuan yang sudah lama mengintai di daerah ini. Terima kasih atas risalah Anda, Pendekar Kao,” tanggap Fa Mulan, memejamkan matanya sesaat.
Kao Ching menarik napas panjang. “Saya prihatin atas rencana penyerangan Mongol itu, Mulan.”
“Mungkin semua itu takdir. Saya pun gamang. Pada akhirnya rakyat jugalah yang akan menderita akibat perang. Ah, kita harus bagaimana lagi?!” sahut Fa Mulan resah.
“Yah, saya pun sudah pasrah, Mulan. Saya tidak memiliki legitimasi apa-apa mengurungkan niat ayah angkat saya untuk menyerang Tionggoan. Beliau sudah dibahang ambisi, sebentuk jumawitas setelah berhasil menaklukkan beberapa daerah gegurun dan kota kecil di luar Tionggoan.”
“Ya, sudahlah, Pendekar Kao. Maharana tak mungkin dielakkan lagi. Saya hanya bisa berharap semoga semuanya lekas berlalu.”
“Ya, semoga semuanya lekas berlalu.”
Fa Mulan mengembuskan napas keras.
Ia menundukkan kepala, menatap lantai tanah merah di dalam gubuk sebagai reaksi kerisauannya. Pandangannya mengitari kaki-kaki meja, dan berhenti pada jendul di sisi dalam sepatunya. Tiba-tiba, kelopak matanya meruak. Tertuju fokus pada benda yang menyisip di antara matakaki dan batas sepatu. Ia teringat sesuatu yang sudah lama menyertainya ke mana pun juga.
Belati ‘Rajawali Satu’!
“Belati ‘Rajawali Satu’!” serunya tanpa sadar.
Kao Ching terperangah. Menatap lamat gadis yang berseru tanpa sadar di hadapannya. Ia seolah mendengar swara dari svargaloka. Matanya berbinar-binar. Permata belahan jiwanya yang hilang karena kecerobohannya telah teridentifikasi melalui gadis yang tengah duduk di hadapannya.
“Belati ‘Rajawali Satu’?!” tanyanya mendesis. “Kenapa Anda bisa tahu perihal belati tersebut?!”
Fa Mulan mengeluarkan belati milik Kao Ching yang terjatuh saat bertarung dengannya di pos pengawasan Tembok Besar lalu, yang selalu disimpannya pada sisi sebelah dalam lapiknya.
Kao Ching menahan napas ketika melihat kilau keemasan belati yang beberapa saat menghilang darinya. Ia mengembuskan napas. Sungguh. Dewata seolah mengutus gadis itu untuk menyerahkan kembali belahan jiwanya yang hilang.
“Belati ini milik Anda, Pendekar Kao!” sahut Fa Mulan, menyodorkan belati bersarung emas itu kepada pemiliknya yang semula. “Jatuh tercecer saat kita bertarung dulu. Saya menemukannya, dan selalu membawanya ke mana pun saya pergi. Saya berharap suatu saat belati ini akan kembali kepada pemiliknya. Dan ternyata belati ini memang berjodoh dengan Anda. Nampaknya belati ini sangat berarti buat Anda. Betul, bukan?”
Kao Ching mengangguk dalam-dalam, menerima belati bersarung emas yang diangsurkan Fa Mulan kepadanya di atas meja. Dipandanginya lamat-lamat belati itu setelah berada di tangannya. Membolak-balik mata belati yang tajam serta mengilap tersebut beberapa saat setelah mengeluarkannya dari sarungnya yang estetik.
“Terima kasih, Mulan. Terima kasih karena Anda telah menyimpan belati saya dengan baik. Belati ini merupakan benda wasiat mendiang ayah kandung saya kepada saya. Sebenarnya ada dua. Belati yang lainnya, yang bernama ‘Rajawali Dua’ telah diberikan kepada Auw Yang Kauw,” ucapnya berterima kasih, lalu menjelaskan muasal belatinya tersebut.
“Auw Yang Kauw?” Fa Mulan bertanya penasaran. “Siapa dia, Pendekar Kao?”
Kao Ching memaparkan. “Auw Yang Kauw adalah saudara angkat setaklik saya yang kini tinggal di Kiangsu. Dia sebenarnya totok Mongol. Tapi dia memakai nama Tionggoan seperti saya sejak lahir.”
“Saudara angkat setaklik?” tanya Fa Mulan dengan dahi mengerut. “Maksud Anda apa, Pendekar Kao?”
“Kisahnya panjang,” jawab Kao Ching. “Ya, kisahnya sangat panjang, kenapa sampai dia memakai nama salah satu suku Han, bahkan berasimilasi dan tinggal di Tionggoan. Bila berjodoh, kita akan bertemu lagi dan, saya akan menceritakan kepada Anda detil kisah masa kecil saya dan Auw Yang Kauw alias Si Putra Matahari itu, Mulan.”
Fa Mulan mengangguk.
Memang bukan saat yang tepat bila malam ini ia mendengar kisah silam Kao Ching yang pasti menyimpan banyak kenangan. Sebab malam ini ia merasa lelah.
Sangat lelah. (blogkatahatiku.blogspot.com)