07 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 48

Oleh Effendy Wongso

Lelatu Naga Api
dan desau anak panah
adalah irama satir
kala aku menari di padang lalang

Fa Mulan
Elegi Naga Api

Foto: Dok KATA HATIKU
Ia tidak ingin kuda belahan jiwanya itu terbantai oleh prajurit jaga Mongol. Itulah yang membahangkan amarahnya, dan ingin segera mengakhiri pertarungan dengan menggunakan jurus pamungkas. Tetapi kali ini lawannya bukan keroco, orang yang memiliki ilmu silat rendah. Pemuda itu tidak dapat diremehkan. Semakin kalap ia melancarkan pukulan, ia malah terdesak oleh tangkisan-tangkisan efektif pemuda itu yang berbalik dan berubah menjadi serangan balasan.
Jurus Telapak Fa yang digunakannya ternyata belum dapat melumpuhkan pemuda itu. Beberapa kali telapak tangannya membentur pepohonan, dan hanya menyisakan ngilu di sekujur lengannya. Sedikit frustasi, ia langsung menggunakan jurus andalannya yang lain, Tinju Bunga Matahari.
Jurus yang digunakannya tersebut lebih lembut ketimbang Telapak Fa. Jurusnya kali ini pun lebih akurat karena tidak semata-mata mengandalkan telapak tangan dan lengan sebagai penebas serta pemukul, tetapi lebih variatif karena jurusnya kali ini ditunjang dengan tendangan-tendangan yang meliuk.
Fa Mulan balik menyerang.
Ia sedikit di atas angin. Pemuda itu terundur beberapa langkah ke belakang. Ia kesulitan menangkis tendangan Fa Mulan yang berputar-putar di udara, dan sesekali mencangkul ke arah kepalanya. Tinju kepalan tangannya yang keras dan bertubi-tubi pun dapat ditepis oleh Fa Mulan dengan taktis. Jurus yang diilhami dari geletar dan kedinamisan bunga matahari yang diciptakannya tersebut memang menyulitkan pemuda itu. Beberapa kali tinjunya itu terperangkap ke dalam jemari tangan Fa Mulan, lalu selang berikutnya kepalan tangannya yang meninju itu seperti terbelit oleh tangan Fa Mulan.
Dan ketika tubuh pemuda itu terentak maju oleh tarikan tangan Fa Mulan, maka seketika pula itu tangan Fa Mulan yang lainnya segera menumbuk dadanya. Pemuda itu terempas, terjerembab di tanah. Tetapi ia tidak ambruk. Tubuhnya yang tegap segera bangkit setelah jatuh. 
Lalu ketika berhadap-hadapan saat masing-masing mengambil posisi kuda-kuda, Fa Mulan baru dapat menangkap jelas wajah pemuda itu. Sertamerta mulutnya ternganga. Sama sekali tidak menyangka dapat bertemu kembali dengan pemuda yang pernah bertarung dengannya beberapa bulan lalu.
“Nona Fa?!” Ada teriakan bernada pekik mendahului sebelum Fa Mulan membuka pelepah bibirnya.
Fa Mulan mengernyitkan keningnya. “Pendekar Kao?!”
“Kenapa Anda dapat kemari, Nona Fa?!” tanya pemuda yang bernama Kao Ching itu dengan nada heran.
“Saya….”
Kao Ching memintas. “Hei, sebaiknya kita tidak bicara di sini. Saya khawatir pasukan Mongol akan menemukan Anda. Mudah-mudahan mereka tidak mendengar suara pertarungan kita barusan.”
“Ta-tapi, Khan….”
“Khan? Siapa dia?”
“Nama kuda saya. Saya harus menyelamatkan kuda saya itu!”
Kao Ching kembali menarik bahu Fa Mulan. “Jangan! Jangan ke sana. Berbahaya. Nona Fa pasti akan tertangkap kalau ke sana. Di sana banyak prajurit Mongol.”
“Ta-tapi kuda saya….”
“Jangan khawatir. Orang Mongol sangat mendewakan kuda. Mereka tidak akan membunuh kuda Anda, Nona Fa.”
“Tapi, Khan pasti….”
“Tidak usah cemas begitu, Nona Fa. Kuda Anda pasti dibawa ke tenda istal. Saya janji akan membebaskan kuda Anda setelah diri Anda sendiri selamat. Saya akan menjelaskan kepada prajurit jaga bahwa, kuda tersebut merupakan kuda saya yang tersesat di dekat barak, sehingga mereka tidak akan curiga kalau kuda tersebut adalah milik jasus Yuan. Sekarang, cepat sembunyi sebelum pasukan Mongol menemukan Anda di sini. Untuk sementara waktu, Anda dapat bersembunyi dengan aman di tempat saya di sebelah timur dalam hutan bambu ini. Setelah menginap sampai malam ini, besok fajar Anda sudah dapat kembali ke markas Anda di pos pengawasan Tembok Besar.”
Pemuda itu menarik tangan Fa Mulan setengah paksa, meninggalkan area tengah hutan bambu. Ia sedikit lega setelah mendengar janji pemuda berdarah Mongol itu kepadanya. Mereka berdua berjalan dengan langkah separuh mengendap. Cepat. Namun tetap berusaha bersikap mawas menghindari beberapa tumpukan dedaunan yang dapat menyebarkan suara riuh kala terinjak.
Setelah kurang lebih tiga ratus kaki berjalan dari tengah hutan bambu, mereka akhirnya berhenti di depan sebuah gubuk bambu beratap rumbia. Ada gagak yang hinggap dan bertengger di cangkrang bambu samping gubuk sewaktu Kao Ching mendorong pintu. Sesaat sepasang daun pintu tua itu  berderit seirama dengan koak parau dari tembolok unggas berbulu hitam tersebut. Suaranya yang sember dan patah-patah seperti mengartikulasi keberadaan baureksa yang bergentayangan di dalam hutan bambu.
Daun pintu serupa jaro itu terpentang.
Di dalam masih menyala sebuah penerangan dari lampu minyak samin. Fa Mulan masuk mengikuti langkah pemuda itu yang sudah menyeret satu bangku bambu untuknya.
“Nona Fa….”
“Panggil nama saya saja, Pendekar Kao,” pintas Fa Mulan. “Mulan.”
Kao Ching tersenyum. Dua kawah kecil di sudut bibirnya terbentuk natural dan manis. “Baik, Mulan.”
“Gubuk ini….”
Kao Ching berdeham. “Gubuk ini dulunya milik sepasang petani rebung. Tapi sejak tanah lapang di seberang hutan bambu ini dijadikan markas oleh pasukan Mongol, mereka pun mengungsi ke tempat lain. Di gubuk inilah saya tinggal, menjauhi pasukan Mongol yang pongah. Saya sengaja tidak tinggal di tenda barak karena saya ingin menghindari peperangan. Rasanya lebih tenang hidup menyendiri di sini. Pikiran dan perasaan saya lebih tenteram. Saya dapat bermeditasi tanpa terganggu oleh hiruk-pikuk militan barak,” jelasnya panjang-lebar.
Fa Mulan mengangguk-angguk lalu menyisir suasana di dalam gubuk kecil itu dengan matanya. Tidak ada apa-apa selain sebuah meja dengan sepasang bangku yang terbuat dari bambu. Di sudut kiri gubuk yang berlantai tanah tersebut, terdapat amben bambu beralas majun setinggi keting. Di atas amben terlihat balok bantal dari batang bambu berlapis kain serupa yang sudah sobek dan mengumal. Dinding-dinding gubuk nyaris kosong tak tercantol apa-apa selain sebuah busur bergagang mohair dan karpai anak panah dari kulit rusa.
“Saya prihatin dengan situasi yang semakin menegang di daerah ini. Petani-petani angkat kaki dari hutan bambu ini. Tidak ada ketenangan lagi. Ah, sebagai Mongol saya merasa bersalah karena secara tidak langsung telah mengganggu ketenteraman penduduk di hutan bambu ini.”
Fa Mulan mengangguk.
Dilihatnya binar pada sepasang mata bola yang meredup di hadapannya. Penyesalan dan keprihatinan yang tulus bermuasal dari nurani. Pemuda itu memang prajurit resi.
“Maafkan saya,” sesal Fa Mulan, menggugah keterdiaman yang mengambang di dalam gubuk. “Saya sudah mengganggu barak Mongol.”
“Tugas yang membawa Anda kemari,” tukas Kao Ching. “Itu bukan kesalahan Anda pribadi.”
“Tapi, saya ada dalam posisi jasus, Pendekar Kao.”
“Jasus lawan bukan berarti musuh, apalagi ditimpali dengan sebilah pedang tanpa musabab.”
“Seharusnya Anda dapat menangkap saya. Bukannya malah menghindarkan saya dari sergapan pasukan Mongol tersebut.”
“Kalau saya ingin menangkap Anda, sedari tadi saat Anda masuk ke hutan bambu ini, Anda pasti sudah saya tangkap basah sedang mengintai barak Mongol.”
“Oh, ternyata sudah sedari tadi Anda mengetahui keberadaan saya di hutan bambu ini, Pendekar Kao?”
“Ya. Tapi saya sama sekali tidak menyangka kalau orang yang mengintai barak Mongol itu adalah Anda, Mulan.”
“Kenapa Anda tidak menangkap saya?”
“Korelasinya apa?”
“Saya ini pihak yang berseberangan dengan Anda. Saya merupakan musuh Mongol.”
“Tapi saya tidak pernah menganggap Anda musuh.”
“Kenapa? Bukankah saya ini telah mengintai kekuatan armada perang Mongol, dan suatu ketika pasti akan membocorkan data itu kepada pihak Yuan? Saat ini saya merupakan orang yang paling berbahaya bagi pasukan Mongol.”
“Lalu, apakah dengan menangkap Anda akan membawa perubahan signifikan untuk kesejahteraan rakyat Mongol?”
Fa Mulan terkesiap. Dipejamkannya mata meresapi sejenak keteduhan dalam kalimat-kalimat pemuda itu. Masih adakah prajurit resi seperti Kao Ching di dunia ini? batinnya sembari menghela napas panjang kemudian.
“Maksud Anda?” tanyanya, ruap ekspresi yang tidak memerlukan jawaban sebenarnya.
Kao Ching mengangkat kepalanya sejurus. “Seperti yang sudah saya katakan kepada Anda sewaktu kita bertarung di pos pengawasan Tembok Besar dulu, bahwa saya tidak setuju dengan perang. Perang tidak membawa faedah apa-apa bagi Mongol maupun Yuan. Perang adalah destruktifitas yang hanya akan menghancurkan kedua belah pihak. Menang jadi arang, dan yang kalah menjadi abu. Jadi, untuk apa saya menangkap Anda?”
“Tapi….”
“Anda memiliki alasan untuk mengintai, seperti yang pernah saya lakukan dulu, memata-matai Yuan dan jasus Mongol sendiri di daerah perbatasan Tembok Besar. Saya yakin Anda tidak bermaksud batil. Saya percaya Anda adalah prajurit darwis. Prajurit sejati yang resi.”
“Saya tidak seagung apa yang Anda maksud, Pendekar Kao,” tolak Fa Mulan, tersenyum di ujung kalimatnya.
Kao Ching tertawa. “Ya, mungkin tidak serealis itu. Tapi, paling tidak Anda adalah prajurit yang berhati baik.”
Fa Mulan turut tertawa. “Kalau baik, saya tidak akan menjadi prajurit wamil. Tapi saya akan menjadi pertapa, mengajarkan kebenaran dan kebajikan kepada semua manusia.”
“Mengejawantahkan kebenaran dan kebajikan tidak harus menjadi resi. Sebagai prajurit yang bersenjatakan pedang dan tombak, tidak berarti Anda tak dapat mengaplikasikan kebajikan kepada semua orang. Prajurit yang gagah berani dan penuh dengan pengorbanan merupakan wujud resi dalam bentuk lain. Prajurit yang demikian tidak akan memandang perang sebagai alternatif destruktif untuk mencapai tujuan tahana yang anani. Tapi perang adalah proses akumulasi sebuah cita-cita murni tanpa bahang ambisi. Perang untuk mempertahankan negara dan memperjuangkan rakyat kecil yang tertindas adalah sahih. Bukankah begitu, Mulan?”
Gadis berambut bukung itu mengangguk. “Tapi, sesungguhnya Andalah prajurit resi itu, Pendekar Kao.”
Kao Ching menggelengkan kepalanya pelan. “Saya hanya pengelana gurun, Mulan.”
“Apa bedanya dengan saya yang prajurit biasa?” aku Fa Mulan merendah sembari menggambarkan maksud kalimatnya dengan mengarahkan telunjuknya ke dadanya.
Mereka terbahak.
Fa Mulan sejenak melupakan harab yang bakal memporak-porandakan dua kubu, Tionggoan dan Mongolia. Juga ripuh tentang Khan, kuda kesayangannya. Ia menghela napas, menghirup udara dingin dari selusupan dedaunan bambu dan gulma yang membawa renyai embun ke cupu hidungnya.
Satu orang prajurit sejati seperti Kao Ching memang tidak terlalu berpengaruh apa-apa terhadap perkembangan kebajikan di tanah babur Tionggoan. Tetapi ia yakin itu adalah awal mula kebajikan yang mulai menunas di tanah kerontang Tionggoan.
Dan hal itu merupakan sebagian kecil dari mimpinya yang sempurna. (blogkatahatiku.blogspot.com)