07 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 47

Oleh Effendy Wongso

Lalu aku melihat gemintang bercahya
seperti lelatu yang berkobar dari Naga Api
inikah maklumat dari Langit?

Ada kesatria pada padang nan tandus
menatap gemintang serupa basir pasir
seorang diri
lalu ia seperti membilang
rana-rana yang telah merenggut nyawa-nyawa
sebanyak noktah perak di langit

Fa Mulan
Refleksi Kesatria pada Padang Tandus

Foto: Dok KATA HATIKU
Fa Mulan mengendap dari balik serumpun bambu.
Daerah itu memang sudah dipenuhi oleh pasukan Mongol. Seratus kaki dari tempatnya mengintai memang telah terpancang tenda-tenda serupa cendawan raksasa. Di mana-mana ada lidah unggun yang meranggas, sesekali terdengar suara menggemeretak serta menebarkan bau abnus gosong yang menusuk-nusuk hidung.
Angin yang berembus semilir menyertakan sisa aroma khas kambing guling Mongol. Bau itu menyeruak bersama wangi arak dan dadih kuda, dibawa sang bayu sampai di ujung hidungnya. Fa Mulan menyandarkan bahunya di salah satu batang bambu. Duduk menjinjit sembari mengamati suasana barak musuh dengan mata mawas. Dadanya berdegup kencang. Armada besar berkuda itu jauh lebih berbahaya daripada nasar-nasar yang menghitam di langit. Tionggoan sesungguhnya di ambang bahaya.
Lima puluh kaki bukanlah jarak yang aman untuk mengamati gerak-gerik kaum nomad itu. Sebab pada jarak itulah beberapa puluh prajurit Mongol tengah meronda, hilir-mudik sepanjang barak menjaga keamanan tenda-tenda dan pasukan yang sedang beristirahat. Namun Fa Mulan memberanikan dirinya mendekat. Ia ingin mendeteksi seberapa besar kekuatan armada perang Mongol.
Diseretnya langkah kakinya dengan gerak hati-hati. Sebab reranting dan dedaunan yang mati mengerontang di tanah merupakan musuh tak bernyawa. Setiap bunyi derak pada tanah merupakan awal petaka. Maka dihindarinya bahaya dengan berjalan jinjit.
Dilewatinya beberapa puluh jajaran batang bambu yang jenjang merimbun dan bisu di pangkal hutan bambu, lalu menelusup di bahu tanah lapang sehingga berangsur dapat menangkap dengan jelas barak Mongol. Masih awas pula matanya yang menyipit menangkap beberapa pasukan berkulit legam matang tengah duduk bersila serta bertepuk-tepuk tangan di sekeliling sebuah lidah unggun. Menyuarakan himne bariton yang tak ia pahami maknanya.
Tetapi rupanya gulita malam belum pekat benar menangkup seluruh tanah dari terang basir gemintang. Juga cahaya yang meredup dari bulan separo di langit tengah. Sehingga sosoknya yang kamuflase oleh balutan satin hitam masih tampak di mata para prajurit jaga Mongol.
“Hei, siapa itu?!” teriak salah seorang prajurit jaga.
“Eh, dia lari masuk ke dalam hutan bambu,” timpal prajurit jaga yang lainnya dengan suara lantang.
Fa Mulan terkesiap.
Teriakan salah seorang prajurit jaga Mongol itu menggugah malam yang senyap sehingga riuh mengundang perhatian seperti koak bulbul yang garing. Pasukan Mongol yang sedang mengaso sontak keluar beramai-ramai.
Lalu Fa Mulan seperti terbang, menjauhi barak musuh yang kini sudah menyemut dengan pasukan Mongol. Ia melompat seperti katak, dari satu dahan bambu ke dahan bambu berikutnya. Ratusan pasukan Mongol mengejarnya dengan golok dan tombak yang terhunus hendak mencacah tubuhnya.
“Jangan lari!” teriak prajurit jaga yang lainnya sembari terus mengejar Fa Mulan.
Memang tidak ada satu pun prajurit Mongol yang dapat menandingi kecepatan dan lesatan larinya. Dengan gingkang dan Taichi Chuan yang dipelajarinya semasa kanak-kanak dulu, kemampuan beladirinya memang jauh di atas rata-rata para prajurit Mongol itu.
Tetapi masalahnya ia tidak ingin takabur.
Sehebat apapun seseorang pastilah ia memiliki kelemahan. Apalagi dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan seperti sekarang. Seekor harimau akan takluk bila menghadapai jutaan koloni semut. Subtil itu yang sering didengung-dengungkan para pebijak di dalam dunia persilatan. Dan ia mematuhi semua itu demi keselamatan dirinya sendiri.
Fa Mulan masih terus berlari di antara dahan-dahan batang bambu.
Pasukan Mongol yang mengejarnya hanya dapat mengerubung, lalu menyebar dalam kelompok-kelompok kecil dan menutup beberapa jalan keluar dari hutan bambu tersebut sehingga mencegah upaya kabur buronan mereka.
Menyadari jalan keluar dari hutan bambu telah ditutup, Fa Mulan memilih bersembunyi di atas salah satu dahan batang bambu. Di bawahnya tampak sepuluh orang prajurit Mongol berdadap sedang menebas-nebas golok mereka ke segala arah di balik rerumpun gulma dan dedaunan bambu.
Seorang prajurit mengarahkan sinar lentera yang dibawanya ke segala arah. Tetapi lentera kecil mereka tidak cukup kuat menyinari area persembunyiannya sehingga untuk beberapa saat ia dapat bernapas lega, dan menunggu sampai prajurit-prajurit Mongol itu menjauh agar ia dapat mengendap kabur meninggalkan daerah musuh.
“Sialan! Orang itu kabur seperti menghilang tiba-tiba,” umpat seorang prajurit Mongol berstola kelabu. “Pasti bukan orang biasa!”
“Mungkin. Tapi siapa, ya?” tanya seorang prajurit lainnya dengan nada penasaran.
“Barangkali mata-mata musuh.”
“Ya, jelas mata-mata. Kalau bukan, mana mungkin orang tersebut mengendap-endap seperti maling.”
“Ah, jangan-jangan kamu tadi salah lihat.”
“Tapi, saya lihat seperti orang.”
“Jangan-jangan musang atau rusa.”
“Entahlah.”
“Hah, atau jangan-jangan hantu?!”
“Hus, jangan sembarangan ngomong! Ini hutan bambu, tahu?!”
“Habis, gelap. Mana saya tahu siapa yang tampak mengendap-endap tadi. Ya, sudah. Coba kita cari sekali lagi, mengitari daerah sebelah barat.”
“Ayo.”
Kesepuluh prajurit tersebut meninggalkan area persembunyiannya. Fa Mulan melompat turun saat sinar lentera telah melamur dan berangsur menghilang dari pandangannya, berganti dengan cahaya patah-patah dari bulan separo yang suram, yang menelusup di antara celah-celah tipis rimbun dedaunan. Namun ia tidak dapat sertamerta keluar dari jalan masuk tadi lagi. Sebab di sana telah tampak sepuluh prajurit Mongol lain yang mementang jalan, yang juga tengah mencari-carinya.
Untuk dapat keluar dari hutan bambu itu maka tidak ada cara lain yang dapat ditempuh selain bertarung dengan mereka. Tetapi Fa Mulan masih menimbang-nimbang. Barangkali tindakannya itu akan memancing amarah panglima perang Mongol, dan mempercepat penyerangan mereka ke Tionggoan.
Lalu akhirnya ia masih harus menunggu sampai prajurit-prajurit Mongol tersebut berlalu, dan membiarkan dirinya tetap terkurung di dalam hutan bambu dekat barak kaum nomad Mongol tersebut. Tetapi ia tersentak ketika dilihatnya prajurit-prajurit Mongol itu mengarah ke arah utara hutan bambu. Berjalan menjauhi dirinya seiring derik jangkrik di sela-sela gulma.
Napasnya tertahan.
Langkah-langkah para prajurit yang menirus dari matanya lebih menakutkan ketimbang klaustrofobia yang menghinggapi benak setiap manusia. Digigitnya bibir. Ia terlalu ceroboh meninggalkan Khan tidak terlalu jauh dari hutan bambu ini. Ia terlalu gegabah menyertakan Khan ke arena tempur. Seharusnya ia sudah dapat menerka hal terburuk yang akan dialami oleh kuda kesayangannya itu. Tetapi ia terlalu percaya diri dan terlalu berani memata-matai pihak Mongol sampai ke barak mereka seorang diri. Padahal Shang Weng sudah mati-matian menahannya di pos pengawasan binara Tembok Besar. Ia memang terlalu keras kepala.
Sepasang kakinya melemas.
Ia merosot bertekuk lutut di tanah, memegang sebatang bambu menahan limbung tubuhnya. Restan ketakutan masih membayang di benaknya.
Oh, Khan yang malang! pekiknya dalam hati. Semoga Dewata melindungi Khan!
Sungguh.
Disesalinya keputusannya yang membahang. Patriotisme memang akan terasa sia-sia bila dilakukan tanpa kontemplasi. Ia telah bertindak salah. Kini ia terjebak di sarang musuh. Dan baru sekali ini merasakan ketakutan yang luar biasa. Ketakutan akan kehilangan sesuatu yang amat dicintainya sejak kanak-kanak dulu.
Khan belahan jiwanya!
“Hei, kuda siapa ini?!”
Tubuh Fa Mulan menegak.
Telinganya mendengung seolah-olah dikitari ribuan tawon. Suara bariton seorang prajurit yang menyapu keheningan hutan bambu menggigilkan tubuhnya. Ia berdiri dari berlutut. Respirasinya mengembang tak wajar. Jantungnya berdetak seperti tabuh nekara. Memukul-mukul sampai dinding dadanya seakan-akan hendak pecah.
Khan tidak boleh mati! jeritnya dalam hati.
Lalu ia keluar dari tempat persembunyiannya, hendak menyelamatkan kuda hitam kesayangannya tersebut. Tetapi langkahnya tertahan saat tumitnya terangkat sejengkal dari tanah. Lompatan gingkangnya gagal oleh sebuah cekalan pada bahunya. Ada sebuah cakar berlengan kokoh yang menariknya kembali turun ke tanah.
Fa Mulan sontak menebas si Pencekal bahunya itu dengan pukulan telapak begitu kakinya menjejaki tanah. Ia memukul mengikuti gasingan tubuhnya, dari arah samping ke belakang punggung badan. Namun orang itu mengelit dinamis dengan mengayang seperti batang bambu yang menyusur tanah ditiup angin lantas kembali menegak dengan tubuh tegap. Cacah telapak tangannya gagal menebas kepala orang yang berbadan proporsional itu. Rupanya ia berhadapan dengan seseorang yang memiliki ilmu silat tinggi.
Orang itu pasti bukan prajurit biasa, pikir Fa Mulan.
Menyadari tebasan telapak tangannya hanya menerpa angin, Fa Mulan mulai melancarkan serangan yang lebih dahsyat. Ia harus segera melumpuhkan orang itu agar dapat menolong Khan. Ia langsung menggunakan jurus Telapak Fa-nya, salah satu jurus andalan keluarganya para pemarga Fa.
Pemuda yang menghentikan langkahnya untuk menolong Khan tadi juga mengambil ancang-ancang menyambut serangan Fa Mulan. Ia mengulurkan tangan kirinya ke depan, menelapak dan lurus sejajar dengan wajahnya yang menggelap karena gulita. Sementara tangan kanannya mengepal nyaris menempel di samping pipinya membentuk jurus serupa pedanuh dengan sepasang kaki yang membentuk kuda-kuda.
Tidak lama kemudian Fa Mulan sudah melesat cepat seperti anak panah yang terlontar dari busur. Dengan menghimpun seluruh tenaga ke sepasang telapak tangannya, ia mulai melakukan tebasan-tebasan ke titik mematikan dari tubuh pemuda itu. Ia menusuk-nusukkan telapaknya ke arah bagian ulu hati pemuda itu. Satu titik lemah yang paling rentan dan mematikan.
Namun pemuda itu terlalu tangguh untuk ditaklukkan meskipun Fa Mulan sudah menggunakan jurus-jurus mautnya. Kali ini ia serius ingin menghabisi pemuda itu. Ia tidak ingin membuang-buang waktu bertarung dengan kungfu tingkat dasar hanya untuk melumpuhkan.
Khan dalam bahaya besar. (blogkatahatiku.blogspot.com)