06 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 46

Oleh Effendy Wongso

Duhai sang jelita
Putri Yuan Ren Xie yang diukir sang malam
serupa lektur prosa di atas satin

Tersenyumlah
sebab kembang pada taman telah memekar
jangan kuncupkan riang
serupa tembang lara para rana

Bao Ling
Duhai Sang Jelita

Foto: Dok KATA HATIKU
Ong Chen Hwa ternganga. Dirinyalah yang pertama-tama melihat dan mendapati kedua mayat sahabatnya itu tergantung di balai kota. Kedua jasad anggota klan Perkumpulan Naga Muda tersebut nyaris tidak berbentuk lagi serupa daging babi asap. Keduanya tergantung dengan tubuh polos di dua pilar tiang kayu setinggi lima belas kaki.
Badan mereka tergantung pada temali yang mengikat di pangkal leher. Dan pada masing-masing tubuh yang mulai melebam dan membiru itu ada secarik kain putih yang bertulisan: ‘Anjing-anjing Han. Mati serupa bangkai akibat melawan Yuan’, tergantung di antara masing-masing jasad itu.
Airmatanya menitik. Kudanya menyampir di samping dinding sebuah rumah tua. Sahabat-sahabatnya yang lain tiba tidak lama setelah ia berusaha ke tempat mayat-mayat itu digantung, di antara luberan manusia yang menyaksikan dari bawah.
Tetapi langkahnya tertahan. Ada tangan tegap yang sigap menghentikan niatnya untuk membebaskan mayat-mayat Chiang Kok dan Ma Wing yang tergantung tidak jauh dari tempatnya berada.
“Jangan gegabah!” teriak seseorang di belakangnya.
Ong Chen Hwa menyahut tanpa memalingkan wajah. Ia sudah tahu si empunya suara. “Tapi, kita tidak dapat membiarkan Pangeran Berengsek itu menginjak-injak harga diri kita sebagai bangsa Han, Ketua Ta!”
Ta Yun mengibaskan tangannya setelah melepas cekalannya pada bahu pemuda bermata bola itu. “Persetan dengan harga diri kalau pada akhirnya kita semua akan mati konyol! Ingat, jangan mengulangi kesalahan Chiang Kok dan Ma Wing!”
“Tapi, saya tidak dapat membiarkan jasad-jasad mereka digantung terus-menerus di atas sana, dan sebentar lagi pasti akan membusuk!”
“Saya juga tidak ingin hal itu terjadi. Tapi kalau kamu maju ke depan, maka kamu akan masuk perangkap mereka. Kamu akan mencelakakan kita semua kalau sampai tertangkap.”
“Mati pun saya rela, Ketua Ta!”
“Bukan persoalan mati atau hidup, A Hwa! Tapi, ini menyangkut keselamatan semua anggota klan Perkumpulan Naga Muda. Tahu apa akibatnya kalau kamu tertangkap?! Kamu akan disiksa sampai mengaku dan membeberkan semua nama anggota klan kita. Bukan saja anggota barongsai kita akan dicekal, tapi kita semua juga akan dipenggal!”
“Ini kesalahan kita, Ketua Ta!” seru Ong Chen Hwa menentang. “Kita terlalu lamban menyelamatkan mereka!”
Ta Yun mengepalkan tangannya. “Bukan kesalahan kita! Semua itu merupakan kesalahan mereka. Chiang Kok dan Ma Wing-lah bertindak tanpa perhitungan. Mereka tidak pernah berkonsultasi kepada klan Perkumpulan Naga Muda kalau akan menyerang Pangeran Yuan Ren Long di rumah bordil ‘Melati Emas’ hari ini!”
“Tapi….”
“Bersabarlah, A Hwa,” hibur Ta Yun, menepuk-nepuk pundak salah satu anggotanya. “Saat ini kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mereka. Menjelang Festival Barongsai, prajurit Yuan memang telah disiagakan untuk berjaga-jaga. Mereka terlalu banyak dan tampak berkeliaran di mana-mana. Rupanya kita harus menyusun siasat baru untuk dapat membunuh Pangeran Berengsek itu. Chiang Kok dan Ma Wing merupakan tumbal. Mudah-mudahan kesalahan yang menyebabkan kematian mereka, dapat kita tebus dengan memenggal kepala Pangeran Berengsek itu di kemudian hari.”
Ong Chen Hwa mengangguk mafhum. Emosinya sedikit mereda. Benaknya yang tadi dipenuhi amarah berangsur menjernih. Apa yang disampaikan pemimpin klan Perkumpulan Naga Muda tersebut memang benar. Mereka tidak boleh bertindak sembarangan atau kematian dan nyawa yang sia-sia menjadi taruhannya.
Ia akhirnya mengikuti nasehat Ta Yun untuk tidak bertindak gegabah, mengurungkan niatnya yang semula hendak menerobos kerumunan massa, lalu melawan puluhan prajurit Yuan yang berjaga-jaga di bawah pilar-pilar tiang di mana mayat-mayat Chiang Kok dan Ma Wing tergantung. Mereka semua akhirnya mundur kembali ke markas. Dan lebih memilih membiarkan jasad-jasad sahabat mereka itu tetap tergantung dan membusuk sampai beberapa hari ketimbang terpancing masuk ke perangkap musuh.
Yuan masih terlalu kuat dan tangguh untuk dilawan. (blogkatahatiku.blogspot.com)