06 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 45

Oleh Effendy Wongso

Ke manakah sepasang angsa itu pergi
sementara biru air di Sungai Yangtze
terus mengalir
dan kanopi daun bambu
yang mekar di gigir memanggil-manggil

Oh, cintaku
angsa putih nan gemulai
pagi akan bercerita tanpa elegi
dan dendang sukacita
telah ditiupkan para penggembala
lewat serunai bambu kuning
yang melantun tanpa henti
di antara kemuning hamparan lalang

Kemarilah angsa-angsaku
Sebab di sini ada cinta yang platonis

Bao Ling
Angsa-angsa yang Menari

Foto: Dok KATA HATIKU
Pemuda itu mengembuskan napasnya yang terakhir dengan wajah separo menyeringai. Seperti tersenyum dan tenang. Mungkin reaksi sakit yang tak tertahankan. Mungkin juga karena dibuai lena estetika yang termaktub dalam lektur prosa itu.
Tetapi ia memang telah binasa. Sungguh-sungguh mati dikoyak oleh tombak dan pedang prajurit-prajurit Yuan serupa taring nan tajam anjing-anjing dan serigala-serigala hutan, sehingga roh badan halus pergi meninggalkan raganya. Lalu roh tersebut akan melayang-layang entah ke mana, dan tak akan pernah kembali pada tubuh kasarnya yang rusak oleh pertempuran barusan.
“Ma Wing!” teriak Chiang Kok saat melihat Ma Wing tergeletak dan terbujur mati di salah satu sudut suhian.
Namun teriakannya terhenti oleh sabetan pedang yang kembali meruyak dadanya. Tubuhnya limbung. Tetapi ia tidak mau terkapar, dan tetap bertahan berdiri meskipun prajurit-prajurit Yuan terus menebas-nebaskan pedang mereka ke punggungnya. Ia mati berdiri dengan pedang yang menyangga tubuhnya. Matanya terbuka. Tidak menutup. Seolah-olah sebuah penegasan bahwa ia tidak pernah kalah dalam pertempuran ini meskipun rohnya telah pula berpulang ke langit, dan Sang Dewa Kematian telah mencatat namanya dalam loh batu sebagai salah satu penghuni akhirat.
Setelah mengetahui kedua penyerang misterius itu tewas di tempat dari kedua pengawal tangguhnya, maka Pangeran Yuan Ren Long memberanikan diri keluar dari kamarnya. Di atas langkan loteng ia melihat ke bawah. Kedua pemuda yang hendak membunuhnya sudah mati dengan tubuh tercabik-cabik. Lalu seperti harimau yang mengaum, ia berteriak seolah mengekspresikan kegembiraannya atas terbunuhnya pemuda-pemuda yang ingin menghabisi nyawanya.
“Cepat panggil Li Chun! Panggil dia menghadap saya, dan penggal kepalanya di hadapan saya!”
Tak lama setelah mengeluarkan perintah dengan nada gusar, mucikari pemilik suhian itu pun terdengar menjerit-jerit ketakutan. Ia meratap seperti seorang ibu yang ditinggal mati anak tunggalnya. Empat orang prajurit Yuan bertubuh besar seketika mematuhi perintah tuannya tersebut. Mereka melangkah dengan sigap ke arah suara tangisan itu.
Li Chun menggigil ketakutan di bawah salah satu meja seperti seekor tikus gurun yang bersembunyi dari puluhan ekor ular kobra yang hendak mematuknya.
Dua orang prajurit Yuan tampak menyeret dengan kasar perempuan bertubuh besar itu supaya keluar dari kolong meja. Masing-masing prajurit Yuan itu memegang satu lengan mucikari suhian tersebut. Dua prajurit lainnya mengikuti dari belakang. Tubuh Li Chun yang bergelambir tampak serupa babi yang mengiuk-ngiuk mencium aroma kematian dari golok penjagal. Ia diseret jauh sampai di tengah ruang. Di sana ia diberdirikan. Setelah tegap berdiri, tungkai kaki dan punggungnya ditendang agar memosisi melutut di hadapan Pangeran Yuan Ren Long, yang berdiri dengan sikap jumawa di atas langkan loteng.
“A-ampun, Yang Mulia! Ampun! Ham-hamba ti-dak menduga kalau hari ini ada penyusup yang masuk dan hendak membunuh Anda!” sahut Li Chun terbata-bata.
“Alasan mati! Kamu bertanggung jawab atas serangan terhadap saya hari ini! Kamu tidak becus mengawasi tempat ini!” teriak Pangeran Yuan Ren Long sembari berkacak pinggang. “Kamu harus menerima sanksi berat atas upaya pembunuhan diri saya tadi itu!”
Li Chun meraung-raung ketakutan sampai celananya membasah oleh urinnya sendiri. “Ta-tapi Yang Mulia….”
“Prajurit,” seru Pangeran Yuan Ren Long tanpa belas kasihan. “Penggal kepalanya!”
Lalu satu sabetan pedang telah memisahkan kepala perempuan itu dari badannya. Kepalanya jatuh menggelicir seperti buah kelapa tua, menggelinding melewati kaki-kaki kursi, dan berhenti kala membentur salah satu kaki meja di sisi dinding. Darah yang mengalir kental dari pangkal lehernya yang terpenggal serupa kuah bubur kacang merah, selazim makanan yang biasa disantap para prajurit Yuan di medan pertempuran.
“Gantung kedua mayat anjing-anjing Han itu di tengah kota!” perintah Pangeran Yuan Ren Long bengis. “Supaya mereka semua tahu, apa akibatnya bila coba-coba melawan saya!”
“Siap, Yang Mulia!” teriak adikong-adikong itu serempak.
Pangeran Yuan Ren Long tertawa terbahak-bahak seperti anak kecil yang asyik dengan sebuah permainan. Lantas, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa, ia kembali masuk ke dalam kamarnya. Berbaring dan melanjutkan memadat.
Para prajurit Yuan segera membersihkan suhian. Lalu mereka menggantung kedua mayat pemuda Han itu di balai kota setelah membuang tubuh dan kepala Li Chun di pinggir hutan. Tempat biasanya mereka membuang mayat-mayat gadis cilik yang telah dirudapaksa dan dibunuh oleh Pangeran Yuan Ren Long. (blogkatahatiku.blogspot.com)