06 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 44

Oleh Effendy Wongso

Ada aroma kematian
pada gulita yang merayap congkak
melamur terang senandika para eling
maka berkuasalah para rana
di antara bangkai dan malam

Lalu Dewata mengutus fajar
mengusir rangda suram pada malam dan dini hari
dengan sorot dan binar matanya yang benderang

Tetapi roh-roh suro langit
dan mahardika istana masih bertempur
di antara bangkai dan malam serta kota yang kobong

Lantas terang seperti tak bermakna
sebab siang yang bergelimun gemawan kelam
tiap sebentar mencurahkan hujan airmata

Bao Ling
Kisruh Kota pada Suatu Malam

Foto: Dok KATA HATIKU
Tidak ada mimik yang lebih jijik daripada melihat wajah mesum puak Istana Da-du itu yang, sepanjang hari hidup berhura-hura menghamburkan dirham untuk mengeksplotasi imajinasi inferiornya.
Lalu pada akhirnya dendam telah membawa dua orang pemuda ke suhian ini. Dan saat ini pula tengah bergulat melawan pengawal-pengawal tangguh Istana Da-du.
Mereka belingsatan seperti sepasang kelelawar yang siap mencabik-cabik mangsanya. Namun keduanya tak berdaya, sebab angin menerbangkan mereka pada arah yang salah, di mana sekumpulan elang siap mematuk dengan paruh dan cakarnya yang tajam.
Tombak dan pedang diarahkan pada tubuh rapuh mereka, seperti langkisau yang datang tiba-tiba dan tanpa henti. Tetapi kedua penyusup dari klan Perkumpulan Naga Muda itu masih gesit berkelit. Mereka sudah terperangkap. Dan hanya menggunakan sisa-sisa tenaga mereka untuk bertahan.
“Pangeran Berengsek!” Ma Wing berteriak, berupaya membakar hatinya yang menciut karena terdesak oleh pengawal-pengawal tangguh Pangeran Yuan Ren Long yang ternyata memiliki ilmu silat tinggi. “Kami bunuh kamu!”
Wajah Pangeran Yuan Ren Long yang pucat semakin melesi.
Rileksisasi rutinnya terganggu. Ia hanya terpaku duduk di atas ranjangnya tanpa bicara apa-apa. Culim gading mariyuananya tergeletak di papan loteng saat jatuh dari tangannya karena shock. Sama sekali tidak menyangka akan mendapat serangan mendadak, upaya pembunuhan dirinya dari dua orang sinting yang nekat menerobos masuk pagar betis prajurit di dalam suhian.
Gadis-gadis penghibur menjerit-jerit ketakutan.
Suasana suhian melantak oleh ulah dua pemuda yang menerobos masuk hendak membunuh tamu agung Pangeran Yuan Ren Long yang bertandang hari ini. Tidak ada gelak tawa para gadis yang mengundang untuk diayuti para lelaki hidung belang. Semuanya berubah menjadi ketakutan.
Sementara itu di luar orang-orang sudah berkerumun di pinggir jalan, keluar dari hunian mereka masing-masing. Menyaksikan keributan yang mendadak meriuh di dalam suhian. Riuh tak galib yang biasanya berasal dari tetamu yang birahi seperti bulbul di bubungan, mengoak-ngoak berisik meruyak atmosfir malam mencari pasangan betinanya.
“Ayo, keluar kamu pengecut! Tahunya hanya membunuh anak-anak perempuan!” timpal Chiang Kok, menjerit dengan suara memarau. “Kalau berani hadapi kami!”
Namun, upaya mereka akhirnya kandas di tengah pertarungan. Emosi dan amarah telah mencelakakan diri mereka sendiri. Upaya balas dendam tanpa rencana malah menghancurkan raga mereka. Ajal kini tinggal sejengkal. Kawruh yang sebatas telah dimatikan oleh bahang yang menggeliat liar di ubun-ubun. Kelinci tak akan pernah menang bila berhadapan langsung dengan harimau. Tetapi hal tersebut telah serupa. Pertarungan tidak seimbang itu hanya akan menambah tetesan darah yang sebentar lagi akan mengotori lantai papan suhian.
Sepasang pengawal tangguh Pangeran Yuan Ren Long belum turun tangan. Mereka berdiri dengan sikap santai di depan bingkai pintu Sang Pangeran, dan menyaksikan dari langkan pertarungan hidup-mati yang masih berlangsung di lantai bawah. Mereka memang belum perlu turun membantu sebasung prajurit Yuan yang juga memiliki ilmu silat cukup lumayan tersebut.
Chiang Kok dan Ma Wing memang sudah habis. Hanya roh mereka yang belum enggan berpisah dari badan, dan masih menempel saat cacahan-cacahan pedang dan sodokan-sodokan ujung mata tombak mengiris otot-otot mereka. Satu sabetan pedang prajurit Yuan sudah menembus trabekula lengan Ma Wing. Sementara Chiang Kok sudah tertusuk tombak di bahu sebelah kanannya. Darah sudah mengucur di mana-mana. Namun ia masih melakukan perlawanan sekadar memperpanjang napas yang masih mengembus lewat sepasang cupu di hidungnya.
“Kalian adalah anjing-anjing Yuan!” teriak Ma Wing, menahan rasa sakit yang menggerogoti lengannya yang mengebas karena telah kehilangan banyak darah.
Ia terhuyung dan menyandar pada salah satu dinding suhian. Sebuah pigura prosa beraksara indah terlepas dari dinding oleh oleng punggunggnya yang menggabruk. Pigura itu hancur terinjak-injak bersamaan dengan tumbangnya tubuh ringkih Ma Wing.
Satu tusukan tombak telah memboyak otot perutnya. Memburai sebagian ususnya yang menjuntai keluar seperti trematoda dalam genangan lumpur merah. Kepalanya terantuk di lantai, tepat di samping satin dasar kaligrafi prosa yang sangat indah itu, yang kini lecek dan memburam oleh darah yang berpropulsi dari mulutnya. Matanya menutup sesaat sebelum puisi yang tersalin dalam satin putih itu membayang lalu berangsur melamur dari benak untuk selama-lamanya. (blogkatahatiku.blogspot.com)