06 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 43

Oleh Effendy Wongso

Apakah birahi lebih laknat
daripada anjing-anjing adikong
yang menjilati tuannya sang parafrenia?
berangas itu mendetak
seperti derap-derap kuda dari kejauhan
di lorong-lorong kelam kota

Ada kelana menghisab deru
dari paruh waktu yang tinggal sepenggal
hingga maut mengendus serupa pelacak
hipokrisi rana baginya adalah hipofremia
lapak ajal bagi sang dara

Bao Ling
Elegi Pangeran Yuan Ren Long

Foto: Dok KATA HATIKU
Adalah gerakan bawah tanah dan mason bernama Perkumpulan Naga Muda yang hendak membunuh Pangeran Yuan Ren Long. Sepak-terjang putra sulung Kaisar Yuan Ren Zhan itu sudah sangat meresahkan masyarakat di pedalaman dan dusun-dusun. Setiap hari terjadi penculikan anak perempuan. Selang berikutnya, anak perempuan tersebut diketemukan telah tewas mengenaskan dengan kondisi jasad yang memprihatinkan. Kebanyakan di antara jasad-jasad itu sudah membusuk. Vagina dan anus mereka robek oleh benda tumpul yang sengaja dirancap untuk meruyak cupu kecil tanpa pubis itu.
“Saya bersumpah akan membunuh laknat itu atas nama Dewata di langit!” sumpah Ta Yun berapi-api dengan wajah beringas dan mengeras. “Saya akan menghabiskan keturunan Yuan! Saya akan meruntuhkan Kekaisaran Yuan!”
Seorang pemuda berbadan tegap menghampirinya di samping meja usang dalam sebuah rumah tua separo rubuh yang dijadikan markas mereka selama ini. Beberapa pemuda, bertampang kasar dan bercambang turut melangkah, mendekati Ta Yun yang masih mengepalkan telapak tangannya menahan geram.
“Ketua Ta, apa tindakan kita selanjutnya?” tanya pemuda berbadan tegap itu.
“Kita tunggu perintah dari Jenderal Shan-Yu,” Ta Yun menjawab diplomatis.
Seorang pemuda menyanggah dengan nada tidak sabar. “Tapi, kita tidak dapat membiarkan anak-anak perempuan kita menjadi korban terus menerus, Ketua Ta!”
Ta Yun mengangkat kepalanya, menatap tajam seperti hendak menentang mata pemuda berwajah kasar yang menuntut tadi. Pemuda itu hanya membalas menatap sebentar. Hanya sebentar karena ia menundukkan kepalanya dalam-dalam seperti kura-kura yang menyusup dalam karapaksnya setelah melihat binar benci di kedalaman mata ketua Perkumpulan Naga Muda tersebut. Ia tidak berani bersirobok mata dengan Ta Yun yang masih menyisakan amarah perihal ulah tak manusiawi salah satu putra Kaisar Yuan Ren Zhan. Sungguh. Pemuda berambut gimbal sepinggang itu tidak senang ditantang dengan pertanyaan begitu.
“Tentu, tentu! Kita tidak dapat membiarkan binatang buas itu berkeliaran, dan memakan korban terus-menerus!” tanggapnya dengan nada berapi-api. “Tapi, kita tidak boleh bertindak gegabah. Kalau tindakan kita tanpa dilandasi rencana terlebih dahulu, itu sama saja dengan mengirim nyawa!”
“Betul, Ketua Ta. Saya sependapat dengan Anda. Kita harus bersabar sebelum melakukan gerakan penghancuran,” timpal salah seorang yang berdiri pada jejeran baris belakang. Ia tampak lebih dewasa meskipun usianya masih sebaya dengan pemuda-pemuda yang hadir dalam pasamuan di rumah separo rubuh itu.
Ta Yun mengangguk-angguk.
Melekuk senyumnya karena berhasil menghimpun kekuatan jelata di daerah pedalaman dan dusun-dusun. Juga beberapa ratus anggota keluarga miskin perkotaan untuk melakukan makar terhadap Kekaisaran Yuan.
Siasatnya berhasil.
Ia berhasil menebarkan simpati pada klan Perkumpulan Naga Muda, sebuah klan hasil bentukannya selama di Ibukota Da-du bersama Jenderal Shan-Yu yang berkendali di belakang layar. Ia pun berhasil menumbuhkan sikap antipati pada Kekaisaran Yuan yang dianggap tiran dan bengis. Kasus tragis pembunuhan korban-korban pedofilia gadis cilik yang dilakukan Pangeran Yuan Ren Long telah membakar amarah penduduk, dan hal itu mengandili bergabungnya mereka di Perkumpulan Naga Muda.
Perkumpulan Naga Muda memang merupakan kendaraan politik Ta Yun dan Jenderal Shan-Yu untuk membunuh Kaisar Yuan Ren Zhan. Klan tersebut juga setali tiga uang dengan Kelompok Topeng Hitam pimpinan Han Chen Tjing, salah seorang tokoh jelata paling berpengaruh di suku Han. Setelah pasukan pemberontak Han gagal menaklukkan Ibukota Da-du dan terpukul mundur oleh prajurit Yuan pimpinan Fa Mulan di Tung Shao, mereka akhirnya menyusun strategi lain untuk melenyapkan Sang Kaisar.
Maka dibentuklah sebuah klan yang bergerak klandestin. Menyusup di Ibukota Da-du. Mengikuti Festival Barongsai sebagai salah satu peserta barongsai. Dan menyusun rencana utama untuk membunuh pemimpin tertinggi Tionggoan.
Perkumpulan Naga Muda merupakan klan kolaborasi antara rakyat jelata dan perompak ganas Kelompok Topeng Hitam pimpinan Han Chen Tjing. Anggotanya terdiri dari pemuda-pemuda kampung yang sigap dan bersemangat. Mereka bergabung dengan sukarela tanpa dipaksa.
Ta Yun membakar hati mereka dengan memaparkan kenyataan-kenyataan miris yang telah dilakukan oleh salah satu keturunan Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia juga menebarkan empati kala menyumbangkan dan menyisihkan sejumlah uang klan Perkumpulan Naga Muda untuk biaya pemakaman jasad-jasad gadis cilik yang tewas di tangan seorang pedofilia imbesil, sehingga rakyat jelata bersimpati pada klan tersebut.
Biaya penguburan tersebut merupakan sumbangsih yang sangat besar bagi rakyat miskin di pedesaan. Pemakaman yang layak merupakan upaya terakhir keluarga korban untuk menghormati almarhumah gadis-gadis cilik tak berdosa tersebut. Dalam setiap acara pemakaman, Ta Yun selalu hadir. Di sana ia kembali membakar rakyat dengan propaganda antipemerintah. Juga sebagai ajang penerimaan anggota baru klan Perkumpulan Naga Muda.
Ta Yun sangat cerdik memanfaatkan situasi.
Ia memancing di air keruh. Ia tahu, jasus atau prajurit intelijen pemerintah sibuk mengawasi para peserta Festival Barongsai sehingga tidak menyadari kehadiran klan klandestin baru yang sudah mengakar di Ibukota Da-du. Mereka juga lebih memusatkan perhatian pada pengawasan di daerah perbatasan saja. Jadi untuk sementara ia dan klan Perkumpulan Naga Muda berada pada posisi yang sangat aman. Selain itu ia memilih markas di sudut kota, di sebuah rumah tua tak berpenghuni. Jauh dari pikuk dan aktivitas urban masyarakat perkotaan.
“Ketua Ta, saya dengar kabar kalau Pangeran Yuan Ren Long sering main ke rumah bordil ‘Teratai Emas’, tidak jauh dari Istana Da-du,” celetuk seorang pemuda bertubuh kurus dengan penampilan tidak terurus. Bajunya tidak terkancing sehingga dada tipisnya tampak menonjolkan tulang rusuknya yang serupa jeroang. “Dari sanalah dia menjemput anak-anak perempuan itu untuk kemudian diboyong ke Istana Da-du.”
“Saya sudah tahu itu, A Yong,” kata Ta Yun, melirik sekilas ke pemuda ringkih dan kotor itu, lalu menatap bergantian pemuda lain yang berada di deretan terdepan darinya. “Setiap minggu dia pasti ke sana. Rupanya, mucikari pemilik suhian itulah yang menjadi perantara. Dia menyuplai gadis-gadis cilik itu kepada Pangeran Yuan Ren Long. Perbuatan itu sungguh keterlaluan. Tapi, jangan khawatir, Saudara-saudara. Saya sudah menugaskan beberapa orang mata-mata untuk mengetahui gerakan perempuan jalang itu. Juga dari mana dia mendapatkan gadis-gadis cilik tersebut. Kalau tertangkap tangan, saya pasti akan membunuh dia di tempat!”
Semua pemuda yang hadir di dalam pasamuan tersebut tampak menganggukkan kepala. Beberapa di antara mereka manggut-manggut puas atas jawaban Ta Yun yang akan menyikapi secara tegas tindakan tak berprikemanusiaan Pangeran Yuan Ren Long.
“Saya dengar juga, hari ini merupakan jadwal Pangeran Berengsek itu mengunjungi rumah bordil ‘Teratai Emas’, Ketua Ta,” timpal pemuda dekil itu kembali.
“Ya, saya tahu,” angguk Ta Yun, sengaja mengeraskan suaranya ketika mengatakan ‘tahu’ tadi. Agaknya ia ingin menegaskan posisi dirinya yang serbatahu kepada anggota-anggota bawahannya, buah dari kadar solipsismenya yang berlebihan. “Tapi, kita tidak dapat sembarang bertindak. Di sana, Pangeran Trocoh itu dikawal oleh adikong-adikong tangguh. Lagipula, ada beberapa puluh prajurit yang menjaga pintu gerbang masuk suhian. Jadi, tidak mudah menyusup ke sana tanpa perhitungan yang matang dan cermat.”
Pemuda ceking yang bernama A Yong itu menyanggah. “Tapi, bukankah kita dapat menyamar sebagai tamu suhian atau apalah, Ketua Ta?”
“Tidak gampang. Tetamu dan pelanggan tetap yang hadir di sana saja diusir jika Pangeran Yuan Ren Long hadir di sana. Mereka baru dapat berkunjung lagi saat Pangeran Busuk itu meninggalkan suhian. Semua minuman ataupun makanan untuk Pangeran Bejat itu diawasi ekstra ketat. Adikong-adikongnya akan mencicipi terlebih dahulu minuman ataupun makanan yang disodorkan kepadanya sebelum si Cabul itu sendiri menikmati minuman dan makanan itu,” urai Ta Yun, melipat tangannya di dada dengan sikap tengil.
“Maaf, Ketua Ta,” sergah seorang pemuda yang berwajah kasar dan bercambang tadi. “Kalau begitu, selamanya kita tidak akan pernah dapat membunuh Pangeran Berengsek itu! Bukankah hari ini merupakan saat yang tepat untuk membunuh Laknat Jalang pembunuh anak-anak perempuan itu?! Kalau Anda mengulur-ulur waktu, saya khawatir Pangeran Berengsek itu akan menjadi-jadi, merajalela membunuh anak-anak gadis yang tidak berdosa. Dan, kita tidak pernah akan dapat membunuhnya jika selalu diliputi rasa cemas dan takut!”
Emosi Ta Yun mengubun kembali.
Digabruknya meja usang di depannya sampai papan meja tersebut patah. Partikel debu tampak mengepul seperti asap dan menabir di depan wajahnya yang memerah.
“Saya tidak takut! Saya tidak takut! Dia pasti mati di tangan saya!” teriak Ta Yun dengan suara mengideofon. “Tidak ada yang akan lolos dari tangan saya! Kalian pikir saya tidak geram apa?! Kalian pikir saya tidak peduli terhadap tindakan brutal Pangeran Busuk itu?! Saya ingin membunuhnya! Saya ingin mencincang-cincang dia! Tapi, belum saatnya! Belum saatnya!”
Peserta pasamuan diam membisu.
Hanya terdengar derak papan meja yang patah di akhir guntur kalimatnya tadi. Sekarang tak ada yang berani bicara atau menyanggah. Darah muda pemimpin mereka itu kerap meledak-ledak seperti kepundan yang setiap dapat memuntahkan lahar amarah. Dan ia tidak akan segan-segan mendepak anggota-anggotanya yang membangkang, tidak setuju dengan jalan pikirannya.
 Ambang sunyi tidak berlangsung lama. Ada suara gabrukan pada daun pintu usang di samping tempat pasamuan berlangsung. Seorang pemuda berwajah persegi dengan hidung bercupa besar seperti cingur babi masuk dengan napas terengah-engah di tengah daun pintu yang terpentang.
“Ce-celaka, Ketua Ta!” sahutnya keras-keras, masuk di ruangan pasamuan.
Ta Yun mencodakkan kepalanya setelah menunduk beberapa saat lamanya tadi, menatap repihan papan kayu yang patah oleh gabrukan tinjunya tadi. Disambutnya pemuda yang berbaju kumal dan penuh debu itu.
“Ada apa, A Seng?!” tanya Ta Yun tegas dan berwibawa.
Pemuda yang bernama A Seng itu menghela napas panjang, berusaha menormalkan suaranya yang menggemeletar. Diruyupkannya mata sesaat sebelum menjawab.
“Chiang Kok dan Ma Wing menerobos masuk ke dalam rumah bordil ‘Melati Emas’. Mereka berdua bermaksud membunuh Pangeran Yuan Ren Long yang hari ini bertandang ke sana!”
Rahang Ta Yun mengeras.
Gerahamnya menggemeletuk sehingga terdengar seperti derak sisa pada bilah papan meja usang yang patah tadi. Pemuda-pemuda lainnya semakin mendekat, seperti semut yang menyerubungi gula.
“Kurang ajar!” tukas Ta Yun, meletupkan amarahnya yang belum menyurut. “Mereka berdua itu sok jagoan! Heh, dipikirnya membunuh Pangeran Busuk itu semudah membunuh anjing buluk apa?!”
“La-lalu, kita harus berbuat apa sekarang, Ketua Ta?!” tanya A Seng gugup. Tubuhnya masih menggelemetar hebat meski sudah diwajarkannya dengan bersikap tegar.
“Mereka berdua keras kepala!” Ta Yun mengumpat seperti menggumam, otot lehernya mengejang membentuk galur-galur hijau serupa sulur daun. “Padahal, sudah berkali-kali saya menasehati kalau tindakan kita tidak boleh dilakukan tanpa rencana. Sekarang, mereka malah mengantar nyawa ke hadapan Pangeran Berengsek itu!”
“Tunggu apa lagi?!” seru Ta Yun mengambil ancang-ancang untuk lari membantu kedua anggotanya yang nekat ingin membunuh Pangeran Yuan Ren Long. “Kita bebaskan mereka dari suhian itu. Kenakan cadar atau topeng hitam kita. Jangan sampai identitas diri kita terbongkar. Cepat!”
Ta Yun melompat segesit kijang. Disambarnya senjata trisulanya yang berdiri vertikal menyandar pada dinding kusam di belakangnya. Trisula merupakan senjata andalannya. Tombak panjang bermata tiga itu telah banyak memakan korban di medan laga. Masih setia menyertainya dalam serentetan pertempuran. Pemuda yang lainnya ikut setelah mengambil senjata masing-masing. Beberapa puluh pemuda itu menggunakan pedang. Beberapa lagi tombak. Juga golok maupun gada dan kapak.
Mereka menghambur keluar dari markas dengan mengenakan pakaian hitam-hitam. Beberapa pemuda langsung melompat di atas kuda masing-masing, dan menggebah kuda tersebut dengan sepasang tumit sehingga binatang bernapas kuat itu lari seperti kemukus. Malam gulita jadi riuh oleh derap-derap yang semakin menderas.
Ta Yun mengekor di belakang.
Kudanya melangkah lambat namun pasti. (blogkatahatiku.blogspot.com)