06 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 42

Oleh Effendy Wongso

Adakah suara semerdu genta
di pegunungan Shongsan
atau gemerisik air
yang mengalir dari lembah Henan
lalu bermuara pada bening hatimu?
tataplah rembulan dari balik tektum Shaolin
ada cahya mengaurora
membias putih serupa lotus nirwana

Bao Ling
Litani dari Shaolin

Foto: Dok KATA HATIKU
Gemerincing pepontoh yang terbuat dari sekati emas di pergelangan tangan kanannya selalu mengirama setiap mengikuti liuk tubuhnya. Namun tiap sebentar nada serupa denting lonceng kecil itu melengang saat tangan kurus tersebut senggang tak bergerak. Culim gading itu menyentuh gigir bibirnya yang adun. Matanya memejam menikmati mariyuana yang membasuh hangat paru-parunya.
Riuh lazim yang membirama pada suhian yang disinggahinya mendadak melenyap oleh senyap. Lelaki-lelaki hidung belang menyingkir. Gajak defaitisme telah menjadi kemafhuman bila pemuda berkulit halus itu bertandang ke sana. Sebasung prajurit telah memagari tempat itu ketika kereta tandunya mengarah ke sana.
“Yang Mulia….”
Kelopak mata pemuda itu membuka sebentar di antara tabir asap beraroma senggeruk yang menggelimun di kamar terasri suhian. Baunya yang sengak menembus dinding-dinding beku di empat sudut ruang meski daun jendela langkan di samping ranjangnya mementang lebar. Di bawah sana, riuh aktivitas masyarakat kota masih berputar seperti siklus. Tetapi ia tidak peduli sebab dedaunan bernila kenikmatan itu telah melunturkan kesadarannya. Dan menulikan sepasang gendang telinganya meski sepotong sapaan sehalus satin itu telah berulang kali membentur indera pendengarannya. 
Mucikari bertubuh besar itu mendekat dengan langkah jinjit tanpa gerus. Tak sedikit pun terdengar bunyi kerak pada papan loteng. Tetapi ia nyaris tersuruk karena terlalu membungkuk. Namun ia telah sigap berdiri tegak seusai bunyi lebap, lalu berhenti sejenak sembari membenarkan letak kondenya yang bergeser letak. Bibirnya memekar paksa kala sepasang mata sayu yang tergolek soak di atas mohair seberharga emas permata itu meliriknya dengan rona ganjil.
Satu kamar khusus untuk Pangeran Yuan Ren Long, lengkap dengan seperangkat perabot tipikal Istana Da-du telah disiapkanya sejak lama. Selama ini tidak ada yang kurang. Semuanya istimewa. Juga permintaan-permintaannya yang irasional. Tetapi hari ini wajah pemuda puak Istana Da-du itu yang mengerut tua sebelum waktunya tersebut semakin mengerut. Nyaris tidak ada senyum sejak memasuki bingkai pintu suhian. Kontrasisasi yang telah menyulur antara kemegahan jauhar dan jiwa-jiwa nan rapuh pada setiap nadi di dalam tubuhnya.
Apa ada yang salah? pikirnya gamang. Kenapa Sang Pangeran tidak pernah puas dengan segala sesuatu yang terbaik, yang dipersembahkan kepadanya dengan segenap jiwa?!
Ia yang rucah memang tidak pantas bicara panjang-lebar untuk mengungkapkan dalih pembenaran atas nama apapun. Terlebih-lebih membela diri. Wajahnya yang pucat magel itu mengerut kecewa karena tidak diacuhkan sejak kalap murka ditumpahkan kepadanya beberapa saat barusan. Seantipati apapun ia terhadap pemuda bertubuh jerangkong itu, ia mesti terus menyenangkan hati Sang Pangeran. Maka senyumnya tak boleh menguncup barang sedetik pun. Sebab tidak ada apologi untuknya bila Sang Pangeran murka. Putra sulung kaisar penguasa Tionggoan itu sangat jauh dari apologetis.
“Yang Mulia….”
Pemuda itu kembali memejamkan matanya. Setiap hari. Setiap waktu. Asap bertuba itu telah merangsa tubuhnya. Mendeklinasi otaknya sehingga mengimbesil. Tidak ada sosok tegap berlamina di Istana Da-du dari seorang putra mahkota pewaris tunggal takhta naga. Semuanya sirna oleh kenikmatan sesaat. Erotisasi babur yang meledak-ledak pada nafsu purba yang membangkitkan birahi ganjil. Seperti epidemi dengue yang menjalar cepat dan mematikan setiap sel-sel darah merah di dalam tubuhnya. Entah berapa bocah perempuan yang telah menjadi korbannya.
“Yang Mulia….”
“Berengsek!”
Tiba-tiba Pangeran Yuan Ren Long mengempaskan culim mariyuananya. Ia berdiri dari berbaring. Menggabruk meja kecil di samping ranjang. Sebuah tekoan dan cawan perak di atas meja terpelanting, dan menumpahkan arak istimewa di dalamnya. Perempuan bertubuh besar itu terlompat karena kaget. Ia seperti lampion kertas yang melempem ciut karena dikoyak air hujan di luar beranda rumah.
Secara tidak sengaja panggilannya itu telah mencucuh amarah tanpa alasan Pangeran Yuan Ren Long. Sepasang pengawal khusus Sang Pangeran berpaling setelah menatap ke arah yang berlawanan, berjaga-jaga sebagaimana lazimnya untuk mencegah segala kemungkinan soe terburuk yang dapat menimpa tuan mereka. Mereka seperti anjing-anjing yang lihai mengendus dan senantiasa setia menjaga majikannya.
“Kapan kamu dapat menyediakan saya lagi barang segar, Li Chun?!” teriak Pangeran Yuan Ren Long murka. “Setiap kalau saya datang, yang kamu sodorkan daging busuk dan bangkai! Cih, kamu pikir saya ini apa?!”
Perempuan gemuk bernama Li Chun itu menggelemetar. “Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi, apa yang telah hamba serahkan kepada Anda adalah gadis-gadis perawan terbaik di desanya masing-masing.”
“Apa?!” ledak Pangeran Yuan Ren Long dengan sepasang mata membola merah. “Terbaik kamu bilang?!”
“Ampun, Yang Mulia. Tapi, gadis-gadis itu tidak ada yang berusia di atas tiga belas tahun!”
“Jangan membantah!” Pangeran Yuan Ren Long kembali menggabruk meja sehingga pepontoh di pergelangan tangannya menggemerincing hebat. “Ingat, lain kali jangan sodori saya bangkai busuk begitu!”
Li Chun sudah hampir kelengar. “Am-ampun, Yang Mulia. Ham-hamba paham, hamba paham,” balasnya cepat dengan suara tercekat. “Hamba tidak akan mengulangi perbuatan hamba yang bodoh ini lagi, Yang Mulia.”
“Nah, saya tidak mau tahu. Pokoknya, besok kamu sudah harus menyediakan saya gadis cilik sesuai permintaan saya. Bukannya bangkai-bangkai busuk seperti tadi! Kalau sampai besok tidak ada, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan kepala. Mengerti?!”
“Ba-baik, Yang Mulia,” angguk Li Chun dengan keringat yang menetes deras di sekujur tubuhnya. “Hamba akan melaksanakan perintah Yang Mulia. Hamba tidak akan mengecewakan Yang Mulia lagi. Hamba pasti akan mencarikan gadis-gadis cilik yang jauh lebih cantik.”
“Bagus,” seru Pangeran Yuan Ren Long dengan suara melunak. “Nah, sekarang keluarlah. Jangan ganggu saya lagi. Cepat laksanakan perintah saya sebelum saya berubah pikiran.”
Li Chun pamit setelah membungkuk dalam-dalam. Ia berjalan dengan langkah mundur seperti seekor undur-undur sampai di bawah bingkai pintu. Sementara itu Pangeran Yuan Ren Long melanjutkan madat. Ia berbaring separo berselonjor di atas ranjang, menikmati asap tuba yang kembali membuai pikirannya sampai melanglang ke negeri penuh bunga.
Hari ini memang tidak ada gadis cilik yang menjadi objek pelampiasan nafsu Sang Pangeran. Lima gadis yang telah disodorkan mucikari suhian itu kepadanya tadi ditolaknya mentah-mentah. Salah satu gadis yang baru jalan sepuluh malah dicampakkan dan dicakar sampai dadanya yang tanpa gundukan serta baru ditumbuhi puting serupa noktah berwarna kecoklatan itu berdarah.
Satu gadis lainnya yang bertubuh ringkih ditendang sampai terjengkang. Salah satu tulang iganya patah. Gadis cilik itu menjerit dan menangis kesakitan, namun tidak lama karena Li Chun sudah membekap mulutnya dengan selendang satinnya, dan menyeretnya dengan cara menjambak rambutnya keluar dari kamar Sang Pangeran. Ketiga gadis cilik lainnya menahan tangis mereka. Keluar perlahan-lahan setelah diseret setengah paksa oleh Li Chun yang sudah masuk kembali ke kamar Sang Pangeran. Gadis yang ditendang tadi sudah pingsan.
“Li Chun sialan!” teriaknya tadi ketika menolak gadis-gadis cilik yang rata-rata masih berusia di bawah tiga belas. “Binatang apa yang kamu sodorkan kepada saya, hah?! Mereka semua bukan orang! Mereka semua babi! Babi! Najis, najis!”
Pemuda berwajah lesi itu tidak meminati gadis cilik yang telah disiapkan Li Chun jauh-jauh hari. Padahal, kelima gadis cilik itu merupakan anak-anak petani yang diculik oleh para suro, orang suruhan Li Chun di desa-desa dan dusun-dusun miskin. Mereka adalah anak-anak perawan yang masih kecil-kecil. Selain menculik, kadang-kadang Li Chun juga membeli anak-anak gadis itu dengan imbal sekarung beras atau beberapa potong daging babi pada penduduk papa desa miskin yang tengah dilanda busung lapar.
Beberapa orangtua memang sengaja menjual anak gadis mereka kepada tuan tanah atau cukong dari kota. Mereka terpaksa melakukan hal itu demi kelangsungan hidup anak gadis mereka sendiri. Tidak jarang di antara mereka mafhum kalau anak gadis mereka kelak akan dijadikan pelacur di suhian dan gadis penghibur di kedai-kedai arak di kota.
Tetapi, entah setan apa yang merasuki pikiran Pangeran Yuan Ren Long hari ini. Ia tidak suka dan menampik gadis cilik yang masih polos serta belum pula akil-balig itu. Masih untung mereka tidak dibunuh di tempat. Biasanya kalau hati Sang Pangeran sedang riang, maka ia akan membawa pulang gadis-gadis cilik itu, dan menempatkan mereka di bungalo salah satu Istana Da-du. Memanjakan mereka seperti permaisuri.
Dan hal tersebut telah menjadi rutinitasnya selama bertahun-tahun semenjak menginjak usia akil balig. Toga tanpa batas sebagai pewaris takhta yang digenggamnya seperti mengesahkan setiap tindakannya. Ia tidak peduli seberapa banyak korban dari perbuatan maksiatnya. Ia menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu inferiornya seolah-olah anak-anak gadis yang menjadi korbannya bukan manusia. Setelah itu maka ia mencampakkan mayat-mayat mereka begitu saja di tepi hutan atau dalam sungai. Selang berikutnya onggokan mayat tersebut akan mendetritus dirangsa belatung. Sebagian lagi akan menjadi santapan binatang buas di hutan.
Tabir asap mariyuana masih menutupi wajahnya. Sebagian zat hasil oksidasi itu bergelung-geleng serupa ular kahyangan. Beberapa lagi menyerupai halimun okultis yang berangsur membentuk dewi rancak di benaknya. Ia menikmati zat adiktif yang menjalari urat-urat syarafnya dengan mata memejam. Imajinasinya leluasa membentuk virtual yang diingininya.
Kadang-kadang ia menjadi burung yang bebas terbang di awan-awan. Kadang-kadang ia menjadi seorang kaisar di antara raja diraja, dan menguasai seluruh dunia dengan segala isinya. Kadang-kadang, ia menjadi penguasa persilatan dengan adikong-adikong di sampingnya. Tetapi ia paling senang memvisualisasikan dirinya menjadi makhluk perkasa serupa gergasi yang dapat merudapaksa seribu gadis cilik dalam semalam.
Dari hari ke hari zat adiktif tersebut telah merangsa sel-sel kelabu pada otaknya tanpa disadarinya. Mariyuana telah membentuknya menjadi makhluk hipofremia. Akal sehatnya jauh melanglang tanpa arah. Dari waktu ke waktu ia menimbun dosa atas perbuatannya yang jalang. Dari waktu ke waktu ia telah menimbun musuh tanpa disadarinya. Musuh-musuh yang menyimpan kesumat karena ulah batilnya yang merenggut nyawa-nyawa kecil bagian dari keluarga mereka.
Tinggal menunggu waktu saja sampai hari pem-balasan itu tiba. (blogkatahatiku.blogspot.com)