06 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 41

Oleh Effendy Wongso

Maharana dan kesatria
adalah serupa sampir pedang
di pinggang para rani

Bao Ling
Elegi Para Rani

BLOGKATAHATIKU/IST
Fa Mulan masih berlari.
Meredam amarahnya dalam guyur bayu dari arah yang berlawanan. Bayi-bayi akan kehilangan ibu-ibu mereka. Lalu, tak ada lagi yang dapat menyuplai bantat makanan untuk menghidupi jiwa-jiwa rapuh itu. Ajal tinggal sejengkal. Sebab setiap tetes air kehidupan dari puting susu ibu itu terhenti oleh maharana. Mereka akan kelaparan dan terkapar mati. Lalu, sebagian dari bayi-bayi itu akan terjebak dalam reruntuhan. Dan terbakar mutung menjadi abu. 
“Maaf, Kapten Shang,” ujar Fa Mulan, masih dengan suara terengah begitu menyibak daun tenda Shang Weng, yang hanya berjarak sepuluh kaki dari tendanya di sebelah barat. “Saya mengganggu istirahat Anda.”
Shang Weng berdiri dari berbaring.
Sertamerta terbangun saat daun tendanya tersibak disertai sapaan Fa Mulan yang gopoh tak galib. Disambutnya gadis itu yang masih berdiri terpaku di bawah tapal batas tenda dengan berjalan tatih akibat kejur nadi betisnya belum normal mengalirkan darah sampai ke matakaki. Aura unggun yang menjingga di luar tenda membaur di salah satu sisi wajah galau gadis itu.
Pasti ada sesuatu yang tidak beres kali ini, pikirnya.
“Ada apa, Mulan?” tanyanya dengan suara sember.
“Saya barusan mendapat informasi dari prajurit intelijen Tan Tay. Menurutnya, kaum nomad Mongol sudah menghimpun kekuatan untuk menyerang Tionggoan. Saya kemari untuk berkoordinasi dengan Anda. Apa tindakan kita selanjutnya?” jawab Mulan dengan respirasi yang mulai menormal.
Wajah Shang Weng mengerut.
Sebelah wajahnya yang tertimpa sinar dari lampu minyak samin semakin menonjolkan gemurat di sekitar leher dan rahangnya. Ia sudah tahu kapabilitas tempur pasukan Mongol. Kaum nomadia itu lebih berbahaya dibandingkan pasukan pemberontak Han pimpinan Han Chen Tjing. Kehidupan dan lingkungan alam yang keras telah membentuk rakyat Mongol itu menjadi bangsa yang kuat. Beberapa negeri gurun di luar Tionggoan telah ditaklukkan. Dan hal itu merupakan salah satu bukti ketangguhan armada perang berkuda milik Mongol.
“Saya pikir, kita harus mengambil tindakan sendiri tanpa meminta delegasi markas besar militer Yuan lagi,” Shang Weng menyolusi, mencoba mengusir keresahan hatinya dengan keluar menganginanginkan badannya. “Saya tidak ingin kelambanan menjadi pangkal kekalahan Yuan atas Mongol.”
“Ya, saya pikir memang harus begitu. Berinisiatif sendiri tanpa melalui perintah Jenderal Gau Ming yang lelet,” akur Fa Mulan sembari mengekori langkah Shang Weng setelah turut keluar dari tenda atasannya tersebut. “Sebab kalau tidak, mungkin pasukan Mongol akan menyerang pasukan kita tanpa diduga-duga.”
“Ya, benar. Tidak ada waktu lagi untuk menghubungi markas besar militer Yuan di Ibukota Da-du, Mulan,” tegas Shang Weng, berjalan mondar-mandir dan bolak-balik per tiga langkah di luar tendanya.
“Betul, betul. Apalagi, Istana Da-du sibuk dengan persiapan penyambutan Festival Barongsai.”
“Itulah salah satu alasan, mengapa pasukan Mongol menyerang pada saat-saat pihak Istana Da-du mengadakan pesta akbar tersebut.”
“Salah satu bentuk kelemahan adalah, memandang remeh kekuatan lawan, juga optimisme yang berlebihan terhadap kekuatan sendiri dan kurangnya konsentrasi untuk mawas sehingga menganggap enteng lawan. Itulah yang kini terjadi dengan militer Yuan. Setelah memenangkan pertempuran di Tung Shao, para atase militer lupa diri. Malah bereuforia dengan pesta akbar yang sama sekali tidak membawa faedah apa-apa bagi negara, kecuali gengsi dan sebentuk pengakuan yang masif.”
“Kalau begitu, kita harus mengantisipasi pergerakan pasukan Mongol yang sudah memadati daerah perbatasan.”
“Selayaknya memang begitu.”
“Tapi, saya kurang yakin kalau prajurit-prajurit kita dapat membendung pasukan Mongol yang berjumlah besar. Ingat, mereka adalah armada perang berkuda. Mobilitas mereka sangat tinggi. Saya pesimis kalau prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong dapat melumpuhkan mereka.”
“Saya sependapat dengan Anda, Kapten Shang. Mereka pasti sudah belajar dari kekalahan pasukan pemberontak Han yang takluk oleh prajurit Divisi Kavaleri Fo Liong. Mereka pasti akan mengantisipasi kekuatan tercanggih divisi tempur Yuan. Jadi kalau mereka nekat menyerang, pasti bukan tanpa bekal apa-apa.”
“Betul. Saya memang telah memprakirakan hal itu. Divisi Kavaleri Fo Liong bukan tanpa kelemahan. Apalagi senjata dan amunisi Divisi Kavaleri Fo Liong sangat terbatas. Kalau mereka dapat meredam divisi baru kita itu, maka dapat dipastikan mereka dapat menaklukkan kita, dan akan melewati Tembok Besar ini untuk kemudian menyerang Ibukota Da-du.”
“Ah, saya tidak menyangka akan dihadapkan kembali pada prahara baru, legiun asing yang hendak menyerang integritas Tionggoan!”
Fa Mulan menghela napas panjang bersamaan satu dengusan napas yang keluar dari lubang hidung Shang Weng. Dielus-elusnya gagang Mushu-nya. Sejenak memejamkan matanya untuk meredam galau yang tengah berkecamuk di dadanya. Tanah Tionggoan seolah dikutuk oleh langit. Tanah babur yang setiap saat dinestapai maharana.
Ah, kapankah Tionggoan dapat damai sejahtera tanpa maharana?! resahnya dalam hati.
“Malam ini juga saya akan menyiagakan seluruh prajurit dari semua divisi,” sahut Shang Weng berapi-api. “Saya sendiri akan menghadang mereka di garis depan!”
“Tidak! Biar saya saja, Kapten Shang. Anda lebih dibutuhkan untuk menitah. Tanpa komando, apalah artinya armada perang Yuan?!” tolak Fa Mulan, juga dengan suara yang berapi-api. “Bukankah hal itu serupa galiung tanpa nahkoda?!”
“Saya adalah pemimpin tertinggi armada perang di sini. Jadi, sayalah yang memimpin prajurit di garis depan.”
“Saya tidak ingin bertengkar soal itu sehingga mengabaikan misi semula kita dalam memberangus pergerakan musuh.”
“Saya yakin kemampuan kamu. Pertempuran di Tung Shao telah membuktikan ketangguhan kamu. Tapi, saya tidak ingin menempuh risiko kehilangan prajurit tangguh semacam kamu. Yuan boleh kehilangan sejuta prajurit. Namun Yuan tidak boleh kehilangan seorang Fa Mulan!”
“Anda terlampau hiperbolik, Kapten Shang!”
“Tapi, saya benar-benar tidak ingin kehilangan kamu!”
“Jangan egois. Nyawa saya sudah saya serahkan sepenuhnya untuk negara dan rakyat Yuan sejak mendaftar sebagai prajurit wamil. Mana boleh Anda mengklaim kalau nyawa saya hanya untuk Anda seorang diri.”
“Saya sayang sama kamu, Mulan.”
“Enyahkan romantisme cengeng pada saat Tionggoan di ambang maharana!”
“Tapi….”
“Kalau dalih melarang saya berada di garda depan pertempuran semata karena rasa cinta Anda yang demikian besar terhadap saya, maka Anda salah besar, Kapten Shang!”
“Tapi….”
“Rasanya sangat tidak etis menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan negara, apa pun dalih yang melatarbelakanginya. Kalau itu sampai terjadi, maka sampai kapan pun saya tidak akan pernah dapat memaafkan Anda. Sampai mati pun dan menjadi arwah sekalipun, saya tidak pernah dapat tenang.”
“Tapi….”
“Maaf, Kapten Shang. Saya tidak pernah bermaksud menentang perintah Anda. Saya tidak pernah merasa melawan kehendak Anda. Tapi, tolong. Jangan selalu menempatkan saya pada posisi yang paling istimewa di hati Anda. Saya tidak ingin menjadi batu beban di dalam setiap liuk lafaz Anda. Saya tidak ingin menjadi simbol Yuan. Perang, dan seperti juga kemenangan-kemenangan pertempuran kita di Tung Shao bukanlah andil saya. Semua itu merupakan proses predestinasi yang, entah datangnya tiba-tiba. Saya yakin, setiap orang pasti tidak ingin mengharapkan perang terjadi. Perang, bagi saya tak ubahnya ajang pembantaian antarmanusia yang sama sekali tidak memiliki makna apa-apa. Ketika saya menjadi wamil, yang ada di dalam hati dan pikiran saya hanya satu. Hanya satu, yakni membela negara Yuan. Bukan berperang dengan segala atribut berbau kematian tersebut, Kapten Shang.”
Shang Weng terdiam.
Napasnya meladung. Kalimat-kalimat yang disampaikan Fa Mulan barusan menohoknya. Seharusnya ia memang tidak boleh menempatkan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan negara. Sebagai prajurit, ia seolah-olah telah zindik dari amar negara. Seharusnya, ia malu karenanya. Tetapi rasa cinta yang dalam terhadap gadis itu selalu menggebah kepatriotismenya itu menjadi galur. Ia memang telah dibutakan oleh cinta!
“Mulan….”
“Saya tidak ingin Anda membuang-buang waktu lagi, Kapten Shang. Jangan sampai kasus miris Tung Shao, antisipasi yang terlambat, terulang lagi karena kelambanan atase militer Yuan yang tidak tanggap menangkap serangan musuh yang mendadak seperti taifun.”
“Tapi….”
“Lebih baik saya berangkat sekarang, menyongsong musuh di perbatasan….”
“Ja-jangan….”
“Maaf, Kapten Shang! Saya akan berangkat sekarang juga!”
Shang Weng menelan ludahnya dengan susah payah. Dilihatnya gadis itu berlari ke dalam tendanya. Seperti walet yang terbang rendah, sesekali menukik di antara cadas dan gawir. Ia tahu, sebentar lagi Fa Mulan akan keluar dari sana, menenteng pedang Mushu-nya dan sangu secukupnya untuk bekal menghadapi pertempuran melawan kaum nomad Mongol di perbatasan.
Namun aneh. Lerai itu melekat di kerongkongannya seperti lekat lumpur pada dinding dan tubir. Tak ada suara yang menggebah dan meledak seperti guntur untuk mengurungkan niat gadis yang sangat dicintainya menyusur lapak ajal. Ia membatu atas ketidakberdayaannya tersebut.
Digelengkannya kepala dengan lunglai.
Gadis itu memang sekokoh karang. (blogkatahatiku.blogspot.com)