05 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 40

Oleh Effendy Wongso

Adakah mara yang lebih bara
dari maharana serupa Yakkha Alavaka
yang bengis menakutkan dan congkak?

Wahai, Raja Diraja
dan para Kesatria
taklukkanlah ia
jinakkan dengan kesabaran
dan kekuatan putih nurani

Karena inilah kemenangan sempurna
yang bermuasal dari saif kebajikan

Bao Ling
Elegi Yakkha Alavaka

BLOGKATAHATIKU/IST
Ceruk langit duha semakin mengelam. Sisa pendar terang keperakan yang menyapa hangat kerut-merut tanah sudah sedari tadi tenggelam di horizon barat. Sepagi tadi hanya terdengar derau angin yang menyapu dedaunan pada serumpun bambu di bawah sana. Sesekali pula terdengar kicau rajawali dengan birama triolnya yang syahdu. Satu-satu, lepas dan melengking, sampai membaur lalu menghilang di atmosfer langit. Lalu pada akhirnya keheningan seperti raga tanpa nyawa. Menangkup alam sampai gulita bergelung, dan kembali tanpa lelah mengiramakan gerus khas malam. Derik jangkrik, siulan angin padang, koak unggas; adalah denyut rutin kekelaman. Bilangan malam itu pulalah yang menemaninya kini.
Pekat melentuk partikel binar di matanya.
Noktah-noktah putih bertabur basir pada langit yang tadi membiru-jingga ketika ia mendongak. Setiap sebentar nokturia memaksa kakinya ke salah satu bilik tinja di sisi buram Tembok Besar. Dan kala ia menjongkok, maka langit menjadi satu-satunya objek sauh matanya.
Satu-dua di antara gemintang berlompatan seolah menari. Nun jauh pula di sana, mega nan memutih tampak kelabu seperti khatifah domba Mongol yang mulai mengusang. Dari waktu ke waktu, komposisi visual itu mengiramai kesendiriannya. Selalu. Pada tembok-tembok dan gawir beku yang berlumut serta basa.
Khidmat itu diresapinya takzim. Menggantikan tabuh galau yang senantiasa mendetak pada jantungnya. Kali ini tak ada maharana, sehingga bulir-bulir embun sisa fajar kemarin merupakan kilau jauhar yang tak berbanding.
Tak sadar ia tersenyum.
Tetesan darah itu sejenak berganti menjadi butir berlian pada galur landung dedaunan. Api-api yang melelatu dan membakar perkampungan penduduk kini telah padam. Tak ada bau tengik kayu yang kobong mengarang, yang menyeruak di antara reruntuhan rumah para jelata. Di matanya, ranggas bara itu telah menjadi sigi di sepasang bahu tubuh panjang Tembok Besar. Indah. Seperti mute pada mahkota Sang Kaisar.
“Atas nama Dewata dan Naga yang perkasa, diberkatilah Yuan dan prajurit Fa Mulan!”
Tetapi selamanya tidak berlangsung dengan lama.
Serangkai kalimat aubade menggugah kedamaian itu sesaat setelah derap kuda terdengar melambat di ujung tendanya. Lima pasang gerit gesekan sepatu prajurit jaga pada tanah pun melamur, seperti membiarkan lelaki tersebut masuk ke area barak Tembok Besar. Dan ketika ia gegas beranjak dari tempatnya yang najis dan making tadi, serta memalingkan kepalanya ke arah suara santun tersebut setibanya di samping tendanya, hatinya mulai dirayapi gundah.
Tan Tay?!
Ia mengusap wajah.
Prajurit intelijen yang bertugas pada pos pengawasan Tembok Besar itu pasti datang bukan tanpa musabab. Garizal keprajuritan sontak mengembuskan praduga karu dalam benaknya, meski sepasang sepatu kulit rusa pemuda bertubuh atletis itu belum menyentuh bayang pucuk tenda yang menubir pada tanah.
Ia menghela napas berat.
Udara nokturnal menghimpit paru-parunya. Keyakinannya menegas pada wajah lesi yang mengarah lima tindak dari kuda kelabu yang menyampir di sebatang ek dengan dedaunannya yang menggimbal.
“Ada indikasi kalau kaum nomad Mongol akan melakukan penyerangan, Asisten Fa!”
Maharana!
Helaan napas Fa Mulan terdengar seperti dengus. Pemuda itu sudah mengabarinya hal terburuk yang bakal melanda Tionggoan tidak lama setelah ia berdiri tepat di dot bayang tenda.
“Maafkan saya dengan berita buruk itu, Asisten Fa.”
“Tidak. Tidak apa-apa.”
Fa Mulan mengangkat telapak tangannya mengaba ‘tidak apa-apa’. Tetapi rahangnya mengeras. Berita mendadak dari Tan Tay itu menggamangkan hatinya.
“Saya prihatin soal rencana penyerangan Mongol itu, Asisten Fa. Mudah-mudahan Anda dapat mengatasi hal itu.”
“Terima kasih atas aktualitas beritamu. Saya tidak tahu apa yang bakal terjadi seandainya kamu tidak cepat-cepat dan tanggap melaporkan pergerakan musuh di daerah perbatasan ini, Tan Tay!”
“Sudah menjadi tugas saya, Asisten Fa.”
Fa Mulan menggigit bibirnya.
Diam-diam, disyukurinya tindakannya yang berani mangkir ke Festival Barongsai. Keputusannya untuk tidak menghadiri undangan pihak Istana Da-du dalam acara akbar Festival Barongsai memang merupakan tindakan yang tepat.
Sehari setelah Bao Ling berangkat kembali ke Ibukota Da-du, ia pun langsung mendapat kabar buruk dari salah satu prajurit intelijen yang bertugas memantau perbatasan Tionggoan-Mongolia. Bahwa Tionggoan akan diserang dalam waktu dekat oleh pasukan Mongol pimpinan Gengkhis Khan.
“Kamu yakin, Tan Tay?” tanya Fa Mulan, lebih sekedar mempertegas pertanyaannya ketimbang ketidakyakinannya.
Prajurit intelijen itu mengangguk tegas. “Saya yakin, Asisten Fa. Kurang lebih tiga puluh mil dari sini, mereka sudah menyiapkan armada perang berkuda yang hanya menunggu perintah untuk menyerang. Tenda-tenda yang mereka dirikan di daerah perbatasan juga merupakan salah satu bukti kalau mereka memang sedang berencana untuk menyerang Tionggoan.”
“Sudah saya duga,” desis Fa Mulan, gelisah dengan kabar buruk rencana penyerangan pasukan Mongol ke Tionggoan. “Beberapa bulan yang lalu saya pernah bertarung dengan seorang jasus Mongol. Tapi anehnya, dia sepertinya tidak memihak pada apa yang akan dilakukan oleh pemimpin tertinggi Mongol, yang notabene merupakan ayah angkatnya sendiri.
“Maksud Anda….”
“Saya pernah mendapat informasi tentang penyusunan kekuatan oleh pasukan Mongol di perbatasan dari seseorang yang mengaku anak angkat Genghis Khan, setelah bertarung dengannya di sini.”
“Maaf, saya belum paham, Asisten Fa.”
“Ceritanya panjang. Kalau ada waktu, saya akan menceritakan ihwal hal itu. Sekarang, kita harus segera mengantisipasi pergerakan Mongol. Cepat himpun dan perkuat pengawasan intelijen yang ada di daerah perbatasan. Awasi semua jalan masuk. Saya akan koordinasikan hal ini kepada Kapten Shang. Kalau bisa, hari ini juga kamu ke Ibukota Da-du. Tolong sampaikan kawat kepada Jenderal Gau Ming untuk melapisi perbatasan Tembok Besar ini dengan armada baru. Saya berfirasat kalau kaum nomad Mongol itu akan menyerang secara besar-besaran. Lebih besar ketimbang armada pasukan pemberontak Han dulu.”
“Tapi….”
“Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan perihal anak angkat Genghis Khan yang bernama Kao Ching itu, Tan Tay. Sekarang, saya akan menyiagakan semua prajurit setelah menyampaikan keadaan genting ini kepada Kapten Shang. Setelah itu, mungkin saya akan langsung turun ke daerah perbatasan untuk memata-matai pergerakan pasukan Mongol. Menakar kekuatan mereka. Saya pikir itulah salah satu upaya terbaik untuk dapat mengetahui inti kekuatan mereka. Dengan begitu, suatu saat kita dapat menandingi besarnya armada tempur mereka. Atau, mungkin ada strategi jitu yang akan kita terapkan setelah meraba sebatas mana kekuatan kaum nomad Mongol itu. Nah, lekaslah berangkat ke Ibukota Da-du. Mumpung kita masih ada waktu mempersiapan diri menangkal pasukan Mongol.”Prajurit intelijen itu keluar dengan langkah setengah berlari. Di luar, ia langsung menuju ke arah kudanya. Menunggangi lalu menggebah sekuat tenaga kuda yang senantiasa membantunya dalam bertugas itu. Ia harus secepat mungkin ke Ibukota Da-du.
Sementara itu Fa Mulan keluar tenda dengan napas memburu. Ia memang berfirasat kalau suatu saat perkataan Kao Ching kepadanya tempo hari akan menjadi kenyataan. Tinggal menunggu waktu saja, maka kekuatan mahadahsyat Mongol akan menyerang Tionggoan seperti nasar-nasar yang menghitam di langit.
Angin menerbangkan rambutnya ketika ia menyongsong dari arah berlawanan sesaat setelah menyibak daun tendanya. Ia serupa walet yang terbang rendah, menggelepak oleh buih tuba yang diteteskan pada sepasang gendang telinganya.
Tidak ada yang tahu kapan badai maharana itu akan memporak-porandakan Tionggoan lagi. Namun ia sudah dapat mendengar denyut kematian yang diembuskan seperti taifun, lalu selang itu akan terdengar nyanyian pilu dari tangis sufi yang rapuh. (blogkatahatiku.blogspot.com)