05 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 39

Oleh Effendy Wongso

Gasingan tubuhku berputar di Samsara
kadang melayang seperti walet
namun tak jua kutemukan
ranah bijak untuk berpijak

Mata pedangku pun terus berpijar
seperti matahari-matahari
sekecil partikel debu
di bentara Nova

Aku lelah
Samsara ini menyakitkanku

Fa Mulan
Dalam Bentara Nova

BLOGKATAHATIKU/IST
Ia melengos sebentar ke belakang ketika satu kakinya menyentuh tanah. Dengan entakan keting pada tanah pula, ia terpantul kembali ke udara serta berputar gemulai bak sehelai bulu ayam putih sebelum tombaknya yang panjang merancap dada musuhnya. Pemuda bertaucang itu mati dengan tangan yang masih memegang gagang goloknya. Ia belum sempat melepaskan rancapan senjata tajamnya yang lebar mengilap tersebut dari batang pohon ketika tombak Bao Ling dengan cepat melubangi dada dan merobek jantungnya di balik sebilah tulang iganya yang patah.
“Ketua Wu Kuo!”
Seorang parewa berteriak histeris, bangkit berdiri lalu memungut goloknya yang terpental tidak jauh dari tempatnya terjerembab tadi. Ia berlari kesetanan ke arah Bao Ling yang masih merancapkan tombak ke dada musuhnya yang sudah tak bernapas lagi.
Tetapi langkah parewa yang hendak membunuhnya itu terhenti sebelum goloknya yang tajam itu mencacah badannya. Tombak yang tadi merancap di jasad Wu Kuo telah berpindah ke dada parewa yang beringas itu sesaat setelah melayang secepat kilat. Tubuh anak muda itu ambruk tak bernyawa. Goloknya jatuh mendenting membentur tanah bersama debum keras tubuhnya yang liat.
Bao Ling melompat ke arah jasad parewa yang sudah membujur kaku di tanah itu, menarik tombaknya dari tubuh musuhnya yang mati dengan sepasang mata membuka. Para parewa lainnya berdiri secepat mungkin, lalu menghambur kabur menyelamatkan diri masing-masing di sela-sela pepohonan dalam kekelaman malam, tanpa memungut golok serta busur dan karpai anak panah mereka lagi saat melihat pemimpin dan salah seorang sahabat mereka tewas mengenaskan.
Bao Ling menghela napas panjang.
Didekatinya mayat pemuda bertaucang yang dipanggil dengan nama Wu Kuo tadi. Diamatinya seksama wajah saring dan keras itu. Kali ini ia bukan merupakan salah satu prajurit dari Istana Da-du seperti Zhung Pao Ling. Namun, ia yakin mereka adalah para suro dari dalang yang sama. Sebuah konspirasi yang kini berkembang lebih jauh dengan melibatkan dirinya. Tak ada barang bukti apa-apa yang dapat membongkar risalah misterius itu. Semuanya nihil ketika ia mencoba merogoh sesuatu di dalam saku pakaian jasad pemuda itu.
Ia berjalan dengan benak sarat ke arah tempat persembunyian kedua gadis yang hanya sekali ditemuinya di tengah hutan Hwa petang tadi. Diam-diam dibuntutinya kedua gadis itu tadi karena penasaran dengan identitas diri yang mereka rahasiakan kepadanya. Ia yakin kedua gadis itu bukan rakyat jelata atau pengelana seperti yang mereka katakan. Diikutinya kedua gadis itu sampai berhenti di tengah hutan karena penyerangan yang dilakukan para parewa tersebut.
“Kita sudah aman, Nona-nona!” ujar Bao Ling setelah tiba di sebatang pohon tempat kedua gadis itu bersembunyi. Di sana, ia mengempaskan dirinya duduk menyandar pada batang pohon. Ia merasa lelah. Benaknya mulai dipenuhi beban psikis.
“Te-terima kasih, Prajurit Bao!” balas Fang Mei lirih. “Anda sudah menyelamatkan nyawa kami.”
Bao Ling memalingkan kepalanya, menengok ke balik batang pohon besar yang disandarinya. Ia tersenyum. Dilihatnya kedua gadis itu meringkuk seperti kelinci yang menggigil kedinginan seusai diguyur hujan dalam hutan.
“Bukan kalian yang menjadi sasaran pembunuhan tadi,” jelas Bao Ling. “Tapi sayalah yang menjadi target mereka.”
Sergah Fang Mei terpotong. “Ta-tapi….”
“Mereka hanya salah sasaran, menyangka kalian adalah saya,” jelas Bao Ling, tampak berusaha menenangkan.
Fang Mei terdiam.
Ia belum dapat mengatasi keterkejutannya. Sesaat lalu ia serasa mati. Nyawanya seolah-olah mengambang di udara ketika melihat Putri Yuan Ren Xie dihujani anak-anak panah oleh orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Kuda Sang Putri pun mati terancap sebilah anak panah. Mengempaskan Sang Putri sampai tak sadarkan diri.
Dan seandainya saja mereka tidak ditolong oleh prajurit kurir yang berasal dari Istana Da-du itu, entah apa yang akan terjadi dengan nasib mereka. Firasatnya memang menjadi kenyataan. Hutan asing dan rimba bukanlah tempat yang aman untuk melakukan perjalanan jauh. Setiap saat nyawa mereka dapat terancam. Putri Yuan Ren Xie yang pongah dan keras kepala itu memang telah termakan oleh kesombongannya. Ia kena batunya sendiri.
Diliriknya Putri Yuan Ren Xie yang sudah siuman tetapi masih tampak lunglai, dan berbaring berbantalkan pahanya.
“Putri, kita sekarang sudah aman!” bisik Fang Mei sembari mengusap peluh di dahi Putri Yuan Ren Xie dengan pipah lebar lengan bajunya yang menjuntai serupa kipas. “Musuh-musuh yang menyerang kita secara misterius tadi telah kabur. Dua orang malah mati dibunuh Prajurit Bao.”
Daun telinga Bao Ling bergerak, menegak menangkap kalimat Fang Mei. Tetapi senyap malam tidak dapat melamur suara bisikan itu sehingga kalimat serupa mantra itu menyihirnya untuk segera takluk dan berlutut di hadapan kedua gadis itu.
“Ma-maafkan saya, Tuan Putri!” ujar Bao Ling terbata-bata. “Sa-saya tidak tahu kalau Anda semua adalah Putri!”
Fang Mei tersenyum. “Saya bukan Putri. Saya hanya dayang Istana Kiangsu. Yang Putri adalah….”
Bao Ling masih berlutut. Diliriknya bibir Fang Mei yang bergerak miring mengaba, menunjuk Putri Yuan Ren Xie yang masih berbaring di pahanya sebagai Tuan Putri itu dengan ekor matanya tanpa berani mengangkat muka. Ia masih menunjukkan sikap terkejut.
“Tapi….”
“Sudahlah, Prajurit Bao. Tidak usah berlutut begitu. Seharusnya kamilah yang menyampaikan rasa terima kasih kepada Anda karena telah menyelamatkan nyawa kami,” papar Putri Yuan Ren Xie, akhirnya mengungkap jelas identitas mereka yang sebenarnya. Ia masih berbaring di atas paha Fang Mei. Ia merasa risih dihormati sedemikian rupa di luar protokoler Istana Kiangsu. “Kami berdua memang bukan rakyat jelata. Saya Yuan Ren Xie dan….”
“Saya Fang Mei. Dayang. Bukan Putri,” timpal Fang Mei ceriwis, memintas kalimat Putri Yuan Ren Xie yang belum rampung. “Kami dari Istana Kiangsu. Putri Yuan Ren Xie adalah putri tunggal Pangeran Yuan Ren Qing, saudara kandung Kaisar Yuan Ren Zhan.”
Bao Ling semakin merundukkan kepala. “Ma-maafkan saya, Putri. Saya telah berlaku kurang santun terhadap Anda!”
“Berdirilah, Prajurit Bao. Tidak usah berlutut begitu,” balas Putri Yuan Ren Xie lalu tersenyum di akhir kalimatnya. Ia berusaha bangun dari berbaring.
Fang Mei memapahnya kembali untuk duduk bersila di hadapan Bao Ling yang belum berani menyudahi sujudannya. Fang Mei terkikik. Menahan tawa dengan telapak tangannya.
“Tapi, selama ini saya telah bersikap kurang santun terhadap Anda, Putri,” urai Bao Ling dengan lugu. “Saya pantas dihukum mati.”
“Tidak ada alasan untuk menghukum mati Anda, Prajurit Bao,” sahut Putri Yuan Ren Xie teduh. “Saya hanya ingin Anda mematuhi perintah saya.”
“Saya siap melaksanakan semua perintah, Putri!”
“Bagus.”
“Apa yang dapat saya lakukan untuk Putri?”
“Kawal kami ke Ibukota Da-du.”
“Saya siap mengawal Anda, Putri. Saya siap menjaga keselamatan Putri.”
“Bagus. Eh, tapi jangan bilang siapa-siapa ya kalau kami berdua ini adalah kerabat Istana Kiangsu. Saya harap Anda bermasa bodoh bila bertemu siapa saja yang ingin mencari kami berdua.”
“Maaf, Putri. Untuk apa?!”
“Jangan membantah. Ini perintah!”
“Ba-baik. Saya akan laksanakan perintah Putri.”
Fang Mei tertawa keras. Ia tidak dapat menahan geli yang menggelitik hatinya lagi. Putri Yuan Ren Xie menghardiknya supaya diam dengan satu anggukan pada kepala. Namun gadis jangkung itu tetap tertawa terbahak-bahak dengan suara falseto. Mengabaikan bahasa tubuh Putri Yuan Ren Xie yang tengah jengah karena akhirnya meminta pengawalan yang sempat ditampiknya mati-matian di awal pertemuan mereka petang tadi. (blogkatahatiku.blogspot.com)