05 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 38

Oleh Effendy Wongso

Balam adalah bayang semu
seperti gemintang berselubung gemawan
lalu apalah arti seorang dewi di Negeri Tengah
bila tak mampu pancarkan benderang
seperti gemintan nan masif

Fa Mulan
Aku Bukan Dewi di Negeri Tengah

BLOGKATAHATIKU/IST
Beberapa hari yang lalu ketika berangkat menuju ke pos pengawasan Tembok Besar ia juga sempat diserang. Namun tidak sebanyak penyerangnya malam ini di hutan Hwa. Pemimpin parewa yang menyerangnya beberapa hari lalu di tempat yang sama adalah Zhung Pao Ling. Salah seorang prajurit intelijen kepercayaan Jenderal Gau Ming.
Tetapi pemuda handal itu tewas di tangannya, dan menutup misteri dalang di balik usaha pembunuhan dirinya. Ia yakin parewa yang menyerangnya malam ini pastilah para suro dalang yang sama. Mereka pasti kembali berusaha membunuhnya.
Dan ketika kedua gadis yang ditemuinya di tengah hutan Hwa tadi itu melewati jalan setapak ini, mereka diserang oleh para suro yang hendak mencabut nyawanya. Malam yang temaram dan balam telah melamurkan mata mereka, menyerang membabi-buta tanpa mengetahui detil sosok musuh yang hendak disasarnya.
Masih menangkis anak-anak panah yang sudah mulai berkurang melesat ke arahnya, Bao Ling tiba-tiba melompat dari atas punggung kudanya. Ia berguling seperti trenggiling ketika tubuhnya mendarat di tanah, dan menghilang di balik gegulma.
Sesaat ia seolah-olah menghilang.
Namun tidak lama kemudian ia muncul serupa halimun yang menggelimun di pucuk sebatang mahoni. Lantas ia melompat dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya.
Di atas ketinggian pepohonan itulah matanya yang nanar berusaha menelusuri dan mencari tempat musuh-musuhnya bersembunyi. Tetapi malap malam mengaburkan segalanya sehingga sejauh mata memandang hanya tampak rerimbun daun yang membentuk bayang musuh majasi.
Tetapi bahang amarah yang menggelegak seperti lahar kepundan dalam diri sang parewa mengenyahkan ketenangan batin yang selama ini menjadi salah satu senjata paling ampuh untuk seorang pesilat. Ia keluar dari tempat persembunyiannya di balik sebatang mahoni, tidak jauh dari tempat kedua gadis itu meringkuk sembunyi.
Enam orang pemuda berseragam senada tampak mengitari area sekitar kudanya berada. Sesekali melangkah gingkang dan menebas-nebas rerumpun gulma dengan golok mereka. Bao Ling masih mengintip di atas dahan pohon. Membiarkan para parewa itu menyabet-nyabet angin, sesekali mematahkan reranting pepohonan.
“Cepat keluar kamu bangsat!”
Salah seorang pemuda berpakaian lain dibandingkan seragam keenam pemuda yang keluar lebih dulu tadi terdengar berteriak cupar. Ia baru keluar dari tempat persembunyiaannya dengan air muka cua, tidak sabar ingin memusnahkan musuhnya.
“Ayo, pengecut! Kenapa, hah?! Takut?!”
Bao Ling tidak menggubris kalimat-kalimat sarkastis yang diteriakkan oleh pemuda yang bertaucang itu. Ia tidak terpengaruh kalimat-kalimatnya yang memancing emosi. Ia masih menunggu situasi yang tepat untuk balas menyerang dari balik kegelapan. Ia pun masih membiarkan para parewa itu menghabiskan tenaga mereka sendiri dengan meletupkan amarah, menebas-nebas gegulma dan dedaunan di dalam hutan Hwa.
Tetapi sesuatu seperti menyentaknya saat seorang parewa itu mendekati tempat persembunyian gadis yang ditemuinya di tengah hutan tadi. Ia dapat mengendus bahaya ketika golok parewa itu mengayun hendak menebas gegulma tempat persembunyian kedua gadis itu. Menyadari nyawa kedua gadis itu di ujung tanduk, ia pun menampakkan dirinya setelah berteriak lantang. Sontak menghentikan tebasan golok parewa itu.
“Saya di sini!”
Bao Ling mendarat di tanah.
Ia berdiri dengan sikap menantang, menenteng tombaknya di bahu. Pemuda bertaucang yang tampaknya sebagai pemimpin parewa itu memicingkan matanya menahan geram yang berkecamuk di hatinya.
“Kalian siapa?!” tanya Bao Ling tegas tetapi tenang tanpa umbar amarah. “Untuk apa kalian menginginkan nyawa saya?!”
Pemuda itu mengempaskan kucirnya ke belakang punggung setelah mengayun dan menyampir di dadanya tadi. Gerahamnya menggemeletuk. Wajahnya yang ramping dan keras itu memerah. Ia belum menjawab pertanyaan Bao Ling. Keenam parewa lainnya sudah mengerubunginya di samping dan belakang tubuhnya. Mereka semua mengambil ancang-ancang untuk menebas, mengibas-ibaskan golok mereka seperti kipas para rani Istana.
“Kamu tidak perlu tahu saya siapa!” sahut pemuda bertaucang itu akhirnya.
Bao Ling tersenyum memanas-manasi pemuda parewa itu. “Kalau begitu, atas alasan apa kalian hendak membunuh saya?!”
“Jangan banyak cingcong!” teriak pemuda berwajah keras itu marah. “Hari ini, kami akan memenggal kepalamu!”
“Silakan. Tapi, saya ingin tahu siapa majikan kalian yang tega mengirim anjing-anjing buluk seperti kalian untuk mencoba menggigit saya!”
Pemuda parewa bertaucang itu tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Emosinya yang sedari tadi membahang telah membakar hatinya. Diserangnya Bao Ling dengan golok terhunus ke depan. Ia berlari sekencang-kencangnya, menyeruduk seperti kerbau liar yang bertanduk golok.
“Kurang ajar kamu, Setan Istana Da-du!”
Tindakannya itu diikuti oleh enam parewa lainnya yang mengenakan seragam merah bata serupa jubah rahib Shaolin. Mereka semua memberondong Bao Ling dengan tebasan-tebasan golok. Bao Ling memutar tombaknya di leher sekaligus menangkis tebasan golok mereka. Seiring dengan gasingan tombaknya itu, ia merunduk dengan satu kaki sebagai penyangga badan, lantas kakinya yang lain berputar menyusur tanah sebelum terangkat mendepak-depak seperti ekor kalajengking.
Dua parewa terpelanting terkait kaki lampai Bao Ling. Tetapi mereka segera bangkit dengan sikap salto, dan kembali mengayunkan golok ke arah kepala Bao Ling. Namun rupanya Bao Ling sudah mengantisipasi gerakan balasan mereka. Tombaknya yang menggasing di leher itu mendadak dibenturkannya ke tanah. Hanya sekedip mata tombak itu memantul elastis dari tanah dan terbang mengarah serupa bumerang, menghantam kepala kedua parewa itu dengan sangat keras.
Kedua parewa itu limbung dan jatuh ke tanah bersamaan dengan memantulnya kembali tombak itu ke tangan Bao Ling. Bao Ling menangkap tombaknya dengan sigap, lalu ia melompat dengan tubuh terbalik, berdiri di atas gagang tombaknya yang merancap tanah. Gerakannya itu sertamerta menghindari satu tusukan golok pemuda bertaucang yang mengarah cepat dari belakang punggungnya tadi. Rupanya ia sudah mengetahui bakal gerakan-gerakan dan jurus-jurus lawan-lawannya.
Lalu masih berdiri dengan sikap terbalik di atas udara, ia pun leluasa melancarkan tendangannya yang memutar-mutar seperti propeler, yang menyapu wajah dan kepala musuh-musuhnya. Keempat parewa berseragam merah bata yang menyerangnya dari samping dan belakang tadi terkulai ke tanah tepat ketika kaki Bao Ling kembali menjejaki tanah.
Hanya pemuda bertaucang itulah yang dapat menghindari tendangan kerasnya. Ia tadi berkelit gesit, melompat ke samping dengan gerakan salto, dan kembali berdiri setelah sepakan bertenaga itu hanya menggaru angin.
Menyadari musuhnya terdesak, Bao Ling tidak mengendurkan serangannya. Ia kembali melompat gingkang, dan sesekali memantul pada batang pepohonan sembari mengibas-ibaskan ujung tombaknya yang lancip dan tajam itu ke arah kepala para parewa yang berusaha bangun. Alhasil, kibasan tombaknya menghalau tindakan para parewa yang hendak bangkit dari tanah dan memungut golok mereka yang terlempar barusan.
Pemuda bertaucang itu semakin mengalap. Ia menebas-nebaskan goloknya dengan mimik frustasi. Ia mencoba membantu sahabat-sahabatnya yang terdesak tidak berdaya dengan menyongsong tubuh Bao Ling yang sesaat kini tengah berada di udara. Namun jurusnya sudah tidak terarah karena kehilangan konsentrasi dan kelelahan. Goloknya menancap di sebatang pohon ketika ia mengarahkan senjata tajamnya itu sekuat tenaga ke arah pinggang Bao Ling yang kini tengah melandaikan dirinya ke tanah.
Tiiiing!
Daun telinganya bergerak ketika sebuah lentingan golok yang nyaring terdengar merancap dan menggemeletar pada sebatang pohon. Tanpa melihat pun ia sudah tahu apa yang terjadi.
Tak ada pengampunan lagi!
Intuisinya yang tajam akibat asah basir pertarungan heroik telah menebarkan aroma darah.