05 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 37

Oleh Effendy Wongso

Damaiku terpecah-pecah di antara sesamaku
dibahang hasutan biram laknat
yang ketawa serupa pewaka
oh, mestikah gulma rangsa rebung
sehingga setiap pucuk indah dari rerimbun
akan merontok serupa tunas yang mati

Datanglah dewiku
ajaklah aku keluar dari taman anominitas ini
terbang meninggalkan segala murka
dan absoludisme di tanah babur ini

Bao Ling
Dewiku nan Agung

BLOGKATAHATIKU/IST
Kedua gadis itu tampak menyusuri alur setapak di dalam hutan Hwa. Cahaya rembulan yang patah-patah, serta basir gemintang menjadi lampu dan penerang jalan mereka. Sunyi mengepulkan birama natural dan teratur. Seperti nada rekwin yang keluar di antara jajaran log yang tinggi dan raksasa. Jenjang kaki-kaki kuda yang lelah masih pula menapak pada tanah yang lodoh.
“Putri….”
“Ada apa lagi?!”
“Bukankah lebih baik kalau prajurit Bao menyertai kita?”
“Jangan merengek-rengek seperti anak kecil lagi, A Mei!”
“Tapi Putri….”
“Untuk apa kamu bersikeras ingin pemuda itu menyertai kita?!”
“Saya hanya khawatir keselamatan Anda, Putri.”
“Kekhawatiran kamu itu sangat tidak beralasan, A Mei. Bukankah kita sudah menyamar sebagai rakyat biasa? Heh, jangan pikir kalau para perompak mau merampok rakyat jelata yang tidak punya apa-apa.”
“Bukan begitu masalahnya, Putri.”
“Jadi masalahnya apa?!”
“Maaf, Putri. Rasanya muskil Putri dapat menyembunyikan identitas Putri yang sebenarnya.”
“Kenapa?!”
“Bagaimanapun, Putri tetap puak bangsawan Istana. Ada spesifikasi fisik dan tingkah laku yang tidak mungkin Putri ubah hanya dalam semalam. Salah satu contoh adalah, tusuk konde yang sempat terbaca oleh Prajurit Bao Ling tadi. Dan semuanya itu merupakan bukti bahwa, Putri tetap Putri. Putri Yuan Ren Xie, putri tunggal Pangeran Yuan Ren Qing dari Istana Kiangsu.”
“Ka-kamu….”
“Maaf, Putri. Saya hanya bicara apa adanya.”
“Saya menyesal kamu ikut, A Mei!”
“Putri….”
“Sudah, sudah! Kalau kamu memang tidak berniat ikut dan tidak tulus mengawal saya, silakan pergi dan kembali ke Istana Kiangsu. Saya tidak akan marah dan menghukum kamu!”
“Bu-bukan begitu, Putri!”
“Bukan begitu bagaimana?!”
Fang Mei meneteskan airmata. “Saya akan setia kepada Putri, apapun yang terjadi! Saya bersumpah akan senantiasa menyertai Putri sampai kapan pun juga!”
Putri Yuan Ren Xie mengibaskan tangannya. “Sudahlah, A Mei. Pulanglah. Biar saya sendiri saja yang akan ke Ibukota Da-du,” sahutnya ketus, lalu menarik keras tali kekang kudanya. “Pergi, pergi!”
“Putri!” teriak Fang Mei sembari berusaha menyejajari kuda Putri Yuan Ren Xie yang sudah melaju kencang di depan. “Maafkan saya, Putri!”
Putri Yuan Ren Xie tak menggubris permintaan maaf Fang Mei meski mata gadis itu memerah karena tangis. Ia terus memacu kudanya dengan langkah seribu. Fang Mei masih berusaha mengejar, tidak menuruti perintah Putri Yuan Ren Xie yang mengusirnya untuk pulang kembali ke Istana Kiangsu.
Airmatanya masih bergulir.
Selama ini ia tidak pernah dikasari begitu oleh Putri Yuan Ren Xie. Selama ini pula Putri Yuan Ren Xie tidak pernah menganggapnya bedinde. Ia adalah dayang yang lebih dari sekedar dayang. Ia adalah pengasuh sebaya, sahabat, sekaligus saudara bagi Putri Yuan Ren Xie. Namun entah setan apa yang merasuki badannya, malam ini gadis itu angot dan sarkastis. Ia sedih. Sedih sekali.
Tetapi ia tidak pernah akan meninggalkan Putri Yuan Ren Xie. Gadis itu adalah segalanya. Ia bahkan rela mengorbankan nyawanya demi melindungi Putri Yuan Ren Xie, seperti juga sumpah keluarganya yang akan mengabdi dan berbakti sampai mati untuk Istana Kiangsu. Keluarga Fang berhutang jasa pada Istana Kiangsu. Dan mereka merasa tidak akan pernah sanggup membayar hutang jasa itu sampai kapan pun juga. Karenanya, mengorbankan nyawa untuk mahardika dan totemis Istana merupakan syahid.
Ada suara yang menggelegar dari langit. Semantung malam hanya mengirim angin yang menderau kencang tanpa hujan. Udara yang melandai mendesaukan dedaunan dan mendesahkan rerumputan di bahu jalan setapak yang mereka lalui. Lalu tiap sebentar angin menerbangkan rambut Sang Putri yang mayang. Tetapi seperti tidak peduli dengan gelegar heban dari langit serupa aum gergasi, gadis totem itu tetap melarikan kudanya dengan kecepatan penuh.
Fang Mei menggigit bibir.
Ia tidak boleh membiarkan Putri Yuan Ren Xie didera amarah sehingga alpa dengan keselamatan dirinya sendiri. Hutan bukan tempat yang ramah untuk melakukan perjalanan panjang. Ia sedih karena Putri Yuan Ren Xie lebih menurutkan kata hatinya ketimbang rasionalitas akal sehat.
Dan satu semantung kembali menggelegar bersamaan dengan sebuah lesatan benda pipih berpangkal bulu angsa yang menyundak dada kuda Putri Yuan Ren Xie. Kuda yang ditunggangi Putri Yuan Ren Xie ambruk ke tanah setelah meringkik kesakitan. Darah hewan naas itu mengucur deras pada cupu sebesar kelingking yang masih terancapi sebilah anak panah. Sang Putri terjerembab menyusur tanah. Kepalanya terbentur tanah yang lambuk.
“Awas, Putri!”
Fang Mei membeliak.
Ia menjerit kalut. Putri Yuan Ren Xie di ambang bahaya. Sontak ia melompat seperti terbang dari punggung kudanya. Menyambut tubuh Sang Putri yang terpelanting dan mengaduh kesakitan di tanah. Ditamenginya tubuh Putri Yuan Ren Xie dengan badannya sendiri dari lesatan-lesatan anak panah. Sebilah anak panah melesat di atas kepalanya sebelum menancap pada sebatang mahoni.
Terdengar sebuah dentingan garing di sela-sela derap langkah kuda yang menderas. Fang Mei mengangkat kepalanya setelah merunduk memeluk Putri Yuan Ren Xie yang limbung. Dilihatnya pemuda yang ditemuinya di tengah hutan Hwa tadi tengah mengayun-ayunkan tombaknya, menghalau lesatan-lesatan anak panah yang mengarah ke tubuh mereka.
Bao Ling! serunya dalam hati.
Ia menghela napas panjang. Dewata masih menolong Putri Yuan Ren Xie dan dirinya!
“Nona, cepat bersembunyi di balik pepohonan!” teriak Bao Ling kepada kedua gadis yang merunduk, lalu melata saat ia menjatuhkan pandangannya di tanah.
Seraya menghalau anak-anak panah yang masih dilesatkan dari balik rimbun dedaunan di atas pepohonan, ia memutar-mutar kudanya melingkari kedua gadis itu yang tengah merayap ke tempat persembunyian.
Fang Mei menaati perintah Bao Ling agar mereka segera menyembunyikan diri di balik pepohonan. Dibopongnya tubuh Putri Yuan Ren Xie yang terkulai lemas ke arah sebuah pohon berpokok lebat. Memeluk erat-erat tubuh Sang Putri. Tetap menamengi tubuh gadis itu dengan badannya meskipun ia sudah berada di balik batang pohon. Salah satu tembakan anak panah parewa itu memang tidak mengenai tubuh Putri Yuan Ren Xie. Namun anak panah itu membunuh kudanya. Mengempaskan Sang Putri dari punggung kuda yang terjerembab mati. Kepala Sang Putri terbentur keras di tanah. Ia belum sadar dari pingsan.
Fang Mei kembali meneteskan airmata. Badannya menggigil ketakutan. Ia prihatin atas kondisi Putri Yuan Ren Xie yang belum siuman. Ia bertanggung jawab penuh atas keselamatan Sang Putri.
“Putri! Putri!” desis Fang Mei dengan suara tangis. “Sadar, Putri! Sadar!”
Sementara itu Bao Ling masih berusaha menghalau anak-anak panah yang dilesatkan dari dalam kegelapan hutan Hwa. Ia terus memutar-mutarkan tombaknya ke segala arah seperti propeler tanpa beranjak dari punggung kudanya. Melihat banyaknya anak panah yang dilesatkan, ia dapat menerka kalau para parewa yang menyerangnya itu kali ini berjumlah banyak orang. Lesatan anak-anak panah mereka gencar mengarah dari segala arah. Dan belum satu pun yang mencoba keluar bertarung dengannya.