03 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 36

Oleh Effendy Wongso    

Adakah impian seindah magnolia
yang datang dari palung hati
dan mekar serupa tunas kebenaran
lalu tumbuh menyeribu di tanah kerontang ini?

Oh, magnolia yang malang
Taman yang bergulma sungguh tak lagi merona
sehingga benih indah kebajikan enggan tumbuh
serupa tangkai dan kelopakmu yang rapuh di ranah masif

Bao Ling
Elegi Magnolia

BLOGKATAHATIKU/IST
Ada suara derap kuda yang menderas di gendang telinganya.
Bao Ling menegakkan kepala, meluruskan punggungnya yang sedari tadi menyandar pada sebatang mahoni, mawas mengawasi ke arah suara riuh itu dengan sepasang mata sipitnya yang semakin menyipit. Istirahatnya terganggu.
Padahal, belum lagi lama ia mengaso. Sendi-sendinya yang ngilu pun belum lagi normal dari kebas. Sehabis menikmati bekal makanannya, ia pun rileks menyemedi. Satu bakpao berisi daging babi cincang yang dihabiskannya sesaat tadi membuai lambung di perutnya, dan mengundang kantuk yang sesekali membelai-belai kelopak matanya.
Ia berdiri. Melangkah tiga tindak dalam gerak gingkang sebelum melompat ke atas sebatang dahan pohon dengan tubuh seringan bulbul. Disembunyikannya dirinya di balik dedaunan sembari mengawasi si Penunggang Kuda yang melaju lambat di bawahnya.
Tak lama berselang, di belakang kuda pertama tadi tampak menyusul seekor kuda berwarna kelabu. Si Penunggang Kuda pertama tampak menelengkan kepala, dan menghentikan laju kudanya saat ia melihat kuda Bao Ling yang menyampir di sebatang pohon. Si Penunggang Kuda itu melompat turun. Diikuti oleh si Penunggang Kuda kedua. Mereka berdua mendekati kuda tanpa pemilik itu dengan langkah hati-hati.
Bao Ling menyongsong si Penunggang Kuda tersebut setelah tidak berfirasat buruk. Apalagi ia tidak melihat ada senjata yang dibawa oleh kedua si Penunggang Kuda itu. Ia pun melompat turun. Dan berdiri di hadapan kedua si Penunggang Kuda tersebut dengan seburai dedaunan kering yang merontok dari pokoknya.
“Saya Bao Ling. Maaf, Anda-anda ini siapa?” tanya Bao Ling santun saat kakinya mendarat di tanah.
 Sesaat kedua si Penunggang Kuda itu tampak terkejut kala Bao Ling tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka setelah melesat menukik turun dari atas seperti walet.
“Oh, kami ini hanya kafilah yang kebetulan lewat,” jawab salah satu di antara mereka yang bertubuh agak jangkung dalam nada alto.
Bao Ling terkesiap.
Ternyata kedua si Penunggang Kuda itu adalah perempuan. Tetapi dari kejauhan tadi mereka tampak seperti laki-laki. Mungkin mereka menyamarkan diri dengan berpakaian laki-laki supaya tidak dirudapaksa atau dirampok para perompak di tengah perjalanan, pikir Bao Ling.
“Sebenarnya kami ingin ke Ibukota Da-du. Tapi tiba-tiba saja kami tersesat, dan entah sudah berada di hutan ini,” tambah si Penunggang Kuda kedua yang tampak lebih mungil dan halus.
“Oh, begitu,” Bao Ling mengangguk-anggukkan kepala. “Ini hutan Hwa. Kurang lebih sebelas mil, bila berjalan lurus dari arah Barat ke Selatan, Anda-anda sudah dapat menemukan Ibukota Da-du.”
“Oya?” Si Penunggang Pertama bertubuh tinggi itu seperti terlonjak kegirangan. “Jadi, kita sudah hampir tiba di Ibukota Da-du, Putri….”
Si Penunggang Kuda kedua tampak kelimpungan, dan mengerjap-ngerjapkan matanya seolah mengaba. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Dan menutupi hal itu dari orang lain. Terlebih-lebih orang asing yang baru mereka temui di dalam perjalanan.
“Oh, maaf, Nona Sun!” ralat si Penunggang Kuda pertama tadi.
“Sebenarnya kalian siapa?” tanya Bao Ling sedikit mendesak. “Dan apa tujuan Anda semua ke Ibukota Da-du?”
“Oh, tujuan kami sebenarnya ingin menyaksikan Festival Barongsai di Ibukota Da-du,” jawab si Penunggang Kuda kedua dengan suara lembut. “Ya, hanya itu tujuan kami.”
“Hanya itu?!” cecar Bao Ling, mengulang kalimat yang disampaikan oleh salah satu dari kedua gadis tersebut. Ia tidak percaya. Sudah jelas ada yang mereka sembunyikan, gumamnya dalam hati.
Si Penunggang Kedua itu kembali menjawab. “Benar, benar. Memang benar kalau hanya itu tujuan kami menuju ke Ibukota Da-du. Hm, kalau Anda sendiri….”
Bao Ling mengangkat kedua tangannya di depan wajah, dan menghormat sebagaimana lazimnya. “Saya Bao Ling. Prajurit Kurir Yuan dari markas besar militer Yuan di Ibukota Da-du. Saya dalam perjalanan pulang menuju ke Ibukota Da-du setelah semalam berada di pos pengawasan Tembok Besar. Saya mendapat tugas dari salah seorang atase militer Yuan untuk menyampaikan pesan dan undangan kepada pimpinan prajurit bernama Fa Mulan di pos pengawasan Tembok Besar agar dapat menghadiri Festival Barongsai.”
“Jadi, Anda salah seorang prajurit dari Istana Da-du?!” tanya si Penunggang Kuda pertama, lagi-lagi seperti melonjak kegirangan. “Putri….”
“Diam, Tong Xiu Ni!” tegur si Penunggang Kuda kedua dengan rupa tidak senang. “Kamu jangan ceriwis!”
“Tapi….”
“Hm, maafkan kami, Prajurit Bao. Tong Xiu Ni memang….”
“Aduh, Putri! Putri tidak usah takut lagi,” bisik si Penunggang Kuda pertama tadi di dekat telinga si Penunggang Kedua dengan membentuk sepasang telapak tangannya menjadi corong. “Bukankah dia adalah prajurit Yuan? Jadi, dia itu tidak akan mencelakai kita!”
Si Penunggang Kuda kedua itu menyanggah, juga dengan suara berbisik. “Masalahnya bukan dia itu prajurit Yuan atau bukan, A Mei! Masalahnya, bagaimana kalau dia melaporkan kepada Ayah keberadaan kita di Ibukota Da-du nantinya. Huh, bodoh sekali kamu ini!”
“Tapi….”
“Sudahlah, A Mei. Pokoknya, kita harus tetap menyamar. Jangan panggil saya Putri lagi. Sekarang, nama saya adalah Sun Erl Lan. Dan kamu Tong Xiu Ni. Ingat, jangan kelepasan lagi!”
“Tapi….”
Bao Ling tergelitik melihat tingkah kedua gadis bertampang kumal itu. Mereka pasti bukan orang biasa. Penampilan sederhana mereka terlalu dibuat-buat. Mungkin anak gadis saudagar kaya di kota lain yang menyamar sebagai rakyat biasa, dan tersasar di dalam perjalanan menuju Ibukota Da-du.
“Kalau tidak salah menilai, Anda-anda pastilah bukan rakyat biasa,” tebak Bao Ling akhirnya.
“O-oh, bukan!” dusta si Penunggang Kuda kedua yang ternyata adalah Putri Yuan Ren Xie, yang kabur dari Istana Kiangsu tanpa seizin ayahnya, Pangeran Yuan Ren Qing. “Benar kami cuma kafilah yang tersesat.”
“Iya. Betul, betul. Kami ini hanya rakyat biasa,” tambah si Penunggang Kuda pertama yang sebenarnya adalah Fang Mei, salah satu dayang setia Putri Yuan Ren Xie. “Kami hanya ingin menghadiri Festival Barongsai. Tidak ada yang salah, bukan?”
“Tentu saja tidak,” jawab Bao Ling sembari menahan tawanya yang hendak menyeruak melihat tingkah gugup kedua gadis itu. Dan hal itu menambah keyakinannya kalau mereka itu memang bukan orang biasa. “Tapi yang salah adalah cara berpakaian kalian yang kelihatan aneh.”
“Aneh bagaimana?” tuntut Putri Yuan Ren Xie dengan rupa tidak senang. “Memangnya….”
Bao Ling terbahak. “Rakyat biasa tidak mungkin memakai tusuk konde bermute berlian di rambutnya.”
Putri Yuan Ren Xie tergeragap. Ia memang lupa melepas sesuatu di atas kepalanya setelah menyamar dari prajurit Yuan menjadi rakyat jelata. “Hah, ja-jadi….”
“Jadi pasti kalian ini bukan orang biasa. Kalian pasti sedang menyamar sebagai rakyat biasa. Hm, mungkin kalian dari kalangan kedaton.”
“Tapi, kami memang betul rakyat biasa,” sanggah Fang Mei, berusaha meyakinkan Bao Ling. “Soal tusuk konde bermute berlian, apa tidak boleh rakyat biasa memiliki barang berharga seperti itu?”
“Ya, boleh-boleh saja. Tapi tusuk konde itu bukan barang berharga biasa. Bukan barang berharga yang dapat dengan mudah diperoleh dan dibeli di sembarang tempat. Tusuk konde itu berbatang giok dan bermata berlian. Pada batang tusuk konde itu terdapat vinyet berukir naga, Liong. Kalau bukan kerabat Istana, Anda pasti salah satu anak gadis dari puak bangsawan. Betul, bukan?”
Putri Yuan Ren Xie masih berusaha membantah. “Bukan….”
Bao Ling mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Tidak usah berbohong lagi. Hidup-mati saya untuk Istana. Jadi, saya paham betul ciri-ciri gadis puak bangsawan meskipun mereka menyamar dengan balutan pakaian kesat-goni sekalipun agar menggambarkan kepapaan khas rakyat-rakyat kecil pada umumnya. Kalian terlalu sekar untuk menjadi jelata,” ujarnya ringan dengan suara bercampur tawa. “Ya, tidak apa-apa kalau kalian masih merahasiakan identitas diri kalian yang sesungguhnya. Mungkin kalian memiliki alasan untuk itu. Lagipula, toh saya tidak dapat memaksa. Oya, karena kita sejurusan, bagaimana kalau sekalian saya antar kalian sampai ke Ibukota Da-du?”
Putri Yuan Ren Xie menundukkan kepala, menyembunyikan kegugupannya, tidak berani bersitatap mata dengan Bao Ling. Diam-diam diakuinya kalau prajurit Yuan itu merupakan prajurit yang cerdas. Matanya jeli menangkap perhiasan rambut yang digunakannya. Padahal, jarak pemuda itu dengannya tidak dapat dikatakan dekat. Namun ia dapat melihat detil benda sekecil itu di atas kepalanya. Dan mengemukakan argumen yang tepat mengenai tusuk kondenya yang merupakan salah satu harta-benda Istana.
Fang Mei yang sedari tadi hanya terdiam kini angkat suara. “Boleh, boleh. Nah, kebetulan Anda juga akan ke Ibukota Da-du, bukan? Berarti kita sejurusan. Bukankah begitu, Prajurit Bao?”
“Ya, betul. Kalau Anda-anda tidak keberatan, saya bersedia menjadi petunjuk jalan bagi kalian,” tawar Bao Ling ramah. “Lagipula, berjalan tanpa pengawalan di dalam hutan ini sangat riskan dari bahaya. Apalagi, kalian adalah perempuan.”
Putri Yuan Ren Xie membeliakkan matanya, melotot sebagai tanda protes atas saran Fang Mei yang secara tidak langsung menerima tawaran Bao Ling. Fang Mei tergeragap ditatap nanar begitu. Ditundukkannya kepala sebagai reaksi gugupnya.
“Tapi, kami dapat berangkat sendiri. Terima kasih atas tawaran Anda, Prajurit Bao,” tolak Putri Yuan Ren Xie, masih bersikeras menyembunyikan identitas dirinya. “Kami dapat jaga diri baik-baik.”
“Betul, Prajurit Bao. Lagipula, jarak ke Ibukota Da-du tidak jauh lagi,” sahut Fang Mei menambahi, jelas untuk menutupi rasa bersalahnya terhadap Putri Yuan Ren Xie.
Bao Ling  belum menyerah. “Tapi….”
“Kami adalah kafilah yang tersesat. Jangan terlalu mengkhawatirkan kami,” dusta Putri Yuan Ren Xie agar ia dapat terbebas dari uluran tulus Bao Ling yang ingin mengawalnya ke Ibukota Da-du. “Kami sudah mengelana mengelilingi banyak negeri. Pedoman kami hanya gemintang di langit. Tersesat sedikit tidak apa. Kami sudah terbiasa.”
“Kalian bukan kafilah,” sanggah Bao Ling. “Untuk apa kalian menutupi identitas diri kalian? Bukannya saya mendesak agar kalian berterus terang, tapi saya hanya prihatin kalau terjadi apa-apa dengan keselamatan kalian selama dalam perjalanan.”
“Maaf, Prajurit Bao,” ujar Putri Yuan Ren Xie dengan wajah kecut, mulai tidak senang didesak-desak begitu. “Permisi. Kami berangkat duluan!”
Putri Yuan Ren Xie menunggangi kudanya secepat kilat. Fang Mei sontak mengikuti, menunggangi kudanya setelah putri tunggal Pangeran Yuan Ren Qing, buah hati perkawinannya dengan istri pertamanya, itu sudah berada di atas punggung kuda.
“Nona!” teriak Bao Ling, berusaha menahan langkah kedua gadis itu dengan serentetan teriakan meyakinkan. “Jangan takabur! Di dalam hutan ini banyak jebakan musuh yang belum aktif. Empat hari yang lalu, saya nyaris terbunuh oleh jebakan-jebakan musuh. Juga serangan misterius musuh di tengah hutan Hwa ini!”
Peringatan itu tak ditanggapi oleh Putri Yuan Ren Xie. Ia tetap bersikeras berangkat tanpa pengawalan Bao Ling. Dipacunya langkah kuda tanpa memedulikan nasehat salah satu prajurit Yuan yang masih berdiri dengan wajah penasaran itu.
“Putri,” tegur Fang Mei lembut setelah kuda mereka telah melangkah, membelah keheningan di dalam hutan Hwa. “Apa tidak sebaiknya kita dikawal oleh Prajurit Bao saja?”
“Tidak boleh! Kalau dia ikut menyertai kita, maka rahasia kita akan terbongkar,” tolak Putri Yuan Ren Xie, menarik keras tali kekang untuk mempercepat langkah kudanya. “Lagipula, belum tentu dia itu prajurit Yuan. Kalau musuh bagaimana?! Huh, saya tidak ingin jadi obyek perampokan. Salah-salah nanti dirudapaksa oleh orang yang tidak kita kenal itu!”
Fang Mei menyejajari langkah kuda Putri Yuan Ren Xie. “Tapi, dia kelihatannya orang baik-baik, Putri.”
“Kamu jangan sok yakin. Jangan menebak sifat orang hanya melihat dari penampilan luarnya saja.”
“Tapi, apa yang dikatakan prajurit Bao tadi mungkin ada benarnya, Putri. Di dalam hutan sesepi ini, pembatil dapat melakukan apa saja. Merampok, merudapaksa, dan….”
“Jangan ngawur! Kamu sudah dikibuli oleh perilaku seseorang yang belum tentu baik. Jangan terkecoh kalau tidak ingin celaka. Kelihatannya dia memang baik. Ramah. Tapi, belum tentu niat baiknya tadi itu berangkat tanpa pamrih. Jangan-jangan ada maksud lain yang menyelubungi tawaran manisnya untuk mengawal kita sampai di Ibukota Da-du. Jangan-jangan ada niat jahat yang melatarbelakangi kebaikannya itu. Mana kamu tahu kalau seandainya dia itu musang berbulu domba.”
“Tapi, sebentar lagi gelap. Saya khawatir tidak ada dusun di sekitar hutan ini untuk tempat kita menginap nantinya….”
“Sudahlah, A Mei. Jangan menyesal dan merasa tidak enak hati begitu. Bukankah Ibukota Da-du sudah dekat? Jadi, apa yang kamu risaukan lagi?”
“Tapi….”
“Di Ibukota Da-du nanti kita tetap menyamar. Dan, awas! Kamu jangan sampai kelepasan ngomong lagi. Kalau sampai pihak Istana mengetahui keberadaan kita, maka kita pasti diportasi dari Ibukota Da-du. Saya tidak ingin batal menyaksikan Festival Barongsai terbesar sepanjang sejarah Tionggoan gara-gara penyamaran kita terbongkar, A Mei. Ayah pasti sudah memerintahkan semua prajuritnya untuk mencari kita. Jadi, tolong camkan kata-kata saya,” pesan Putri Yuan Ren Xie mewanti-wanti sembari melepas tusuk konde yang masih menancap di rambutnya, salah satu bentuk keteledorannya yang nyaris melantakkan keinginannya untuk menyaksikan Festival Barongsai di Istana Da-du.
Ia menghela napas panjang. Untung prajurit Yuan tadi tidak terlampau menginterogasinya, ujarnya dalam hati. Untung prajurit kurir Yuan yang bernama Bao Ling tadi bukan gandek. Untung pemuda itu bukan salah satu dari orang-orang suruhan ayahnya. Kalau tidak, mereka tidak bakal dapat menyaksikan Festival Barongsai yang fenomenal itu!
 Fang Mei mengangguk takzim dengan rupa ganar. Tidak memiliki perbendaharaan kalimat untuk menyanggah lagi kecuali manut mengakuri semua pesan-pesan tegas Putri Yuan Ren Xie yang serupa tetitah.