03 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 35

Oleh Effendy Wongso

Ketika nisan telah tegak di tanah ini
maka tak ada tangis lagi yang bisa berderai
anominitas telah merudapaksa
hingga tak tersisa setetes pun airmata

Bao Ling
Elegi Rudapaksa

BLOGKATAHATIKU/IST
“Manusia memang bodoh, Mulan. Manusia selalu ingin menguasai seluruh alam ini. Padahal, apalah arti manusia dibandingkan keagungan Dewata di langit?”
“Ya, benar. Apalah artinya manusia dibandingkan keagungan Dewata di langit? Sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk-makhluk hidup lainnya, manusia menjadi pondik. Superioritas menjadikan manusia lupa bahwa, mereka sebenarnya tidak memiliki nilai dan arti apa-apa dibandingkan Sang Pencipta. Kesombongan telah meruntuhkan peradaban manusia. Maharana dan genosida telah menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri. Manusia telah menggali makam untuk dirinya sendiri, jauh sebelum ajal menjemput.”
“Kadang-kadang saya sendiri pun merasa terlibat dalam dosa besar manusia itu, Mulan?”
“Maksudmu….”
“Yah, apa bedanya kita dengan manusia-manusia pembatil itu? Kita ini prajurit. Kita membunuh. Saling memusnahkan.”
“Mempertahankan sesuatu untuk kebenaran bukan tindakan yang salah, Bao Ling. Hal itu merupakan radiah, sifat alami manusia yang telah menjadi bagian dari predestinasi kala diturunkan dari langit. Dalam sebuah pertempuran, kemenangan itu tidak mesti diraih dengan jalan membunuh atau saling memusnahkan. Diplomasi merupakan salah satu cara yang paling efektif tanpa harus menumpahkan darah sesama. Menaklukkan satu musuh dengan kesadaran kontemplasi dan budi pekerti adalah kemenangan yang paling gilang gemilang. Jauh lebih berharga daripada menaklukkan satu juta laskar prajurit dengan pedang dan tombak.”
“Tapi dalam kenyataanya, maharana selalu memakan banyak korban. Tidak terkecuali rakyat kecil yang sama sekali tidak terlibat dalam peperangan. Tidak memilah-milah apakah mereka itu prajurit atau bukan. Anak kecil, perempuan, dan orang tua. Semuanya pasti menjadi korban kebiadaban perang.”
“Untuk itulah rakyat membutuhkan pemimpin yang baik. Tionggoan memerlukan kaisar yang dapat bertindak adil dan bijaksana. Kaisar yang senantiasa berpedoman pada hati nurani, Bao Ling. Sebab, kaisar yang memiliki naluri kinasih melihat matra maharana itu dari sisi dan sudut pandang berbeda. Tujuan perang bukan untuk saling memusnahkan. Tapi semata adalah hal radiah untuk mempertahankan negara, dan pencapaian sebuah cita-cita luhur bangsa. Apabila perang sudah mengarah ke genosida dan penghancuran, maka hal tersebut tidak lain disebabkan oleh bahang ambisi pribadi sang Pemimpin. Kalau sudah begitu maka perang tidak lagi murni sebagai radiah. Perang tidak lagi merupakan aksi untuk mencapai cita-cita luhur bangsa. Perang akan menjadi neraka paling bengis untuk manusia!”
“Ya, memang benar. Kalau sudah begitu pula, maka para pemimpin atau kaisar suatu negara akan bertingkah lalim. Bertindak sewenang-wenang dengan yurisditikasi pribadi mereka. Pemerintahan menjadi absolut. Dan pada akhirnya militer dan bala prajurit menjadi bidak-bidak penegas kekuasaan mereka.”
“Sayang rakyat kita masih tercerai-berai. Kekuatan menjadi lemah karena kurangnya persatuan. Dan sampai sekarang masyarakat Tionggoan enggan bersatu. Suku-suku bangsa saling menonjolkan superioritas mereka. Saling membanggakan kelebihan dan keberadaan mereka. Suku-suku bangsa saling mengkasta-kastakan sehingga di antara mereka sendiri tercipta jurang pemisah yang sangat lebar. Itulah sebabnya Tionggoan tidak pernah lepas dari absolutisme kaisar-kaisar pelalim. Karena mereka tahu rakyat dapat dengan mudah diadu domba. Rakyat mudah dipecah belah. Dan kalau rakyat sudah terburai, maka sang Penguasa Batil tersebut akan dengan mudah memainkan kemudi pemerintahan seenak hati mereka. Rakyat menjadi miniatur, obyek permainan sang Penguasa Lalim tersebut. Bukankah begitu, Bao Ling?”
“Wah, kamu benar-benar prajurit sejati, Mulan!”
Fa Mulan tersenyum sembari mengibaskan tangannya. Lalu ia meninju pelan dada Bao Ling. Pemuda bertubuh jangkung itu tertawa.
“Kamu keliru menilai saya, Bao Ling. Saya bukan prajurit sejati. Saya hanya prajurit wamil biasa,” ujar Fa Mulan setelah meredakan tawanya.
“Tapi buktinya….”
“Buktinya apa, heh?”
“Buktinya Fa Mulan….”
“Sudah, sudah. Jangan menyanjung-nyanjung lagi. Tidak ada kelebihan apa-apa pada diri seorang manusia biasa bernama Fa Mulan. Buktinya, saya belum dapat membendung maharana di Tionggoan ini. Saya belum berandil apa-apa, sama sekali.”
“Tapi….”
“Tapi apa lagi, heh?”
“Tapi kamu memang hebat!”
“Hebat apanya?”
“Ya, hebat.”
“Hebat itu hanya sebentuk pengakuan. Begitu pula dengan kata sejati tadi. Sama sekali tak memiliki makna tanpa aplikasi. Atensi itu dapat berbentuk apa saja. Baik dukungan moral atau moril, juga sumbangsih tenaga maupun pikiran. Semua orang bisa mendapat pengakuan hebat atau sejati. Tapi, tidak semua orang dapat benar-benar dikatakan hebat dan sejati, apabila tidak memiliki kapabilitas dan kesungguhan untuk berkorban tanpa pamrih. Berkorban tanpa pamrih, itulah bentuk atensi yang dapat dikategorikan sebagai hebat yang sejati, dan sejati yang sejati.”
“Wah, kamu benar-benar luar biasa, Mulan!”
“Nah, kamu mulai lagi….”
“Buktinya….”
“Proyeksi gendermu itu bikin sakit hati, Bao Ling.”
“Maaf. Saya tidak menyangka semua kalimat saya telah melukai hati kamu, Mulan. Bukan maksud saya begitu. Tapi, kenapa kamu tidak pernah mau menerima realita hidup bahwa, kaum perempuan memang selalu berada di posisi kedua setelah laki-laki.”
“Tentu saja. Saya sudah terluka sejak lama, bahkan sejak saya baru dilahirkan. Semua itu lantaran posesif gender.”
“Dan yang kamu maksud sudah terluka sejak baru dilahirkan pasti berhubungan dengan ibumu yang bernama Fa Li itu. Betul, bukan?”
“Siapa lagi yang saya maksud? Entah, sudah berapa ribu kali hal menyakitkan hati itu saya ceritakan kepada orang yang mau mendengarkan keluhan saya.”
“Hahaha. Itulah sepenggal lara dari seorang Fa Mulan, yang mesti dituangkan dalam sebentuk kisah miris.”
“Jangan meledek. Sakit hati dapat terbawa sampai mati. Jadi, jangan sepelekan ungkapan hati saya tersebut. Seandainya kamu terlahir sebagai seorang Fa Mulan, tentulah kamu dapat merasakan getir sebagaimana yang saya rasakan sampai sekarang.”
“Hahaha. Maaf, maaf. Namun seandainya saya memang terlahir sebagai seorang Fa Mulan, maka saya tidak pernah akan sanggup menanggung derita-derita tersebut. Saya tidak setegar seorang Fa Mulan yang sesungguhnya. Fa Mulan yang sesungguhnya itu adalah, kamu!”
“Sudahlah. Sesungguhnya saya tidak ingin mengingat-ingat masa kecil saya yang menyakitkan itu lagi.”
“Hm, saya masih ingat, dan tidak akan pernah lupa keluh-kesahmu itu, Mulan.”
“Yah, terima kasih. Kadang-kadang, dengan menceritakan tiranisasi Ibu terhadap saya, saya merasa lebih lapang. Hati saya jadi lebih tenang. Saya memang butuh sahabat untuk berbagi. Inafeksi Ibu terhadap saya sungguh di luar batas nalar hanya karena saya perempuan. Seandainya saya terlahir sebagai laki-laki, tentulah Ibu tidak akan sejahat begitu terhadap saya!”
“Saya prihatin soal itu.”
“Ya, sepatutnya semua orang harus prihatin. Inharmonisasi antara manusia berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, yang terentang karena gender telah menyebabkan penderitaan salah satu makhluk hidup ciptaan Sang Khalik itu sendiri, Bao Ling. Padahal, sejak di dalam kandungan sampai terlahir, manusia tidak pernah dapat menentukan akan dapat terlahir sebagai apa. Mereka tidak pernah dapat memilih, apakah akan terlahir sebagai laki-laki ataupun perempuan. Tapi kenapa pengkotak-kotakan dan pemilah-milahan itu justru lahir dari manusia sendiri?! Bukankah manusia semuanya sama?! Huh, andai saja tidak ada genderisasi, pasti Ibu akan menjadi ibu yang sesungguhnya untuk saya. Pasti Ibu akan menjadi ibu sejati bagi saya putri tunggalnya. Pasti Ibu tidak pernah mengutuk saya, dan mengatakan saya sebagai anak jelmaan iblis yang memangsa janin laki-laki yang dikandungnya selama sembilan bulan. Pasti Ibu tidak pernah memaki-maki saya dengan kalimat menyakitkan kala saya mendapat menstruasi pertama: ‘Mulan, kenapa kamu bukan laki-laki sehingga tidak merepotkan Ibu?!’. Seharusnya Ibu dengan bijak menjelaskan fenomena yang terjadi bila seorang anak perempuan mulai menginjak usia akil-balig. Bukannya malah menambah kepanikan saya dengan memarahi saya habis-habisan, yang pada waktu itu nyaris pingsan karena menganggap vagina saya mengucurkan darah secara tiba-tiba. Saya sakit hati. Sungguh sakit hati!”
“Saya paham penderitaan kamu itu, Mulan.”
“Sudahlah, Bao Ling. Jangan bicara soal gender lagi. Jangan memuji saya lagi. Jangan pula menganggap saya hebat atau sejati lagi. Hebat dan sejati itu memerlukan pembuktian. Bagaimana mungkin saya dapat kamu katakan hebat atau sejati kalau saya sendiri belum pernah mengaplikasikan sesuatu yang berguna bagi bangsa ini.”
“Buktinya….”
“Bukti apa lagi?!”
“Buktinya kamu sudah berkorban, menyusup dan menyamar menjadi laki-laki menggantikan posisi ayah kamu sebagai prajurit wamil. Bukankah semua hal itu kamu lakukan demi keluarga dan negara?”
“Apa bedanya saya dengan kalian semua? Toh kita masuk menjadi prajurit wamil memang mewakili keluarga masing-masing dan untuk membela negara, bukan?”
“Iya, memang benar. Tapi, apa yang kamu lakukan itu berbeda dengan kami semua.”
“Karena saya perempuan?”
“Salah satu alasannya memang begitu.”
“Nah, kamu mulai lagi….”
“Mulai apa?”
“Saya tidak suka kamu jadi orang yang primordialis begitu!”
“Siapa yang primordialis?”
“Tidak peduli kamu atau siapa. Yang pasti primordialis itu tidak ada bedanya dengan makhluk batil yang hadir sebagai pengganggu dalam peradaban manusia.”
“Maaf….”
“Untuk apa minta maaf? Kalau begitu, kamu malah mempertegas primordialistis itu sebagai wujud kasatmata dalam dirimu.”
“Tapi, saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung-nyinggung soal perbedaan dan gender. Beda maksud saya adalah, seorang Fa Mulan memang prajurit tangguh yang memiliki kapabilitas juang melebihi kami semua, kaum laki-laki.”
“Jangan mengelak. Apa bedanya pengakuan yang menyanjung, tapi akhirnya mengarah ke persoalan gender?”
“Hahaha. Lalu, saya harus ngomong apa untuk mengungkapkan kelebihan dan kehebatan kamu itu, Mulan?”
“Ingat, saya bukan orang hebat. Dan saya tidak butuh pengakuan. Jadi, kamu tidak usah repot dan bingung mencari artikulasi untuk mengungkapkan kelebihan dan kehebatan saya.”
“Hahaha. Kamu ini gadis yang aneh.”
“Aneh apa? Saya kira tidak ada yang aneh dalam diri saya. Sudahlah, Bao Ling. Kamu dan saya itu sama. Kita ini sama-sama prajurit wamil. Saat ini, lepaskanlah persoalan gender, apakah saya perempuan atau bukan. Yang pasti, sekarang saya adalah prajurit wamil di Kamp Utara ini. Tidak peduli perempuan atau laki-laki!”
“Tapi, kamu tetap seorang perempuan di mata saya.”
“Jangan mempermainkan saya lagi, Bao Ling.”
“Siapa yang mempermainkan kamu?”
“Kamu….”
“Maaf….”
“Sudahlah.”
“Tapi, saya hanya jujur menyuarakan suara hati saya.”
“Simpati yang berlebihan pada sesuatu yang dianggap istimewa merupakan senjata bumerang, yang suatu waktu dapat memakan tuannya sendiri. Jadi, hati-hatilah dalam berkesimpulan kalau tidak ingin terluka suatu saat.”
“Tapi saya tidak salah menilai kamu, bukan?”
“Apa yang kamu ketahui tentang saya? Jangan terlalu percaya diri, Bao Ling. Apa yang kamu ketahui tentang seorang Fa Mulan tidaklah lebih sebatas kulit. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat membaca isi hati orang lain.”
“Kamu selalu mengelak. Tidak senang dipuji. Tidak senang disanjung. Rendah hati dan tidak sombong. Bukankah hal itu sudah menggambarkan kesempurnaan kamu, Mulan?”
“Tidak ada manusia yang sempurna.”
“Pengecualian untuk kamu.”
“Fa Mulan bukan Dewata.”
“Fa Mulan memang bukan Dewata. Tapi, Fa Mulan adalah Dewata yang menitis ke dalam tubuh manusia.”
“Kamu pikir Fa Mulan adalah Dewata yang mahasempurna apa?”
“Tapi paling tidak, tidak ada yang setara dengan seorang Fa Mulan yang….”
“Cukup. Hentikan proyeksi gendermu.”
“Hahaha….”
“Uh, kamu sama saja piciknya dengan para atase militer Yuan. Tidak ada bedanya dengan pandangan mereka terhadap perempuan. Hanya aplikasinya saja yang berbeda.”
“Hei, saya tidak sejahat mereka! Jadi, jangan samakan saya dengan petinggi-petinggi militer yang kerjanya hanya memerintah di belakang meja tersebut.”
“Apa bedanya kamu dengan mereka?”
“Saya ini tidak menentang lintas gender. Jangankan menjadi prajurit, menjadi jenderal pun kalau kamu, perempuan, mampu kenapa tidak? Kalau perempuan lebih mampu dibandingkan laki-laki, bahkan menjadi kaisar sekalipun bagi saya tidak ada masalah. Bukannya malah dijatuhi hukuman penggal seperti yang pernah mereka ingin lakukan terhadap kamu.”
“Jangan mengungkit masa lalu. Mengubah tatanan yang sudah meleluri tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh waktu yang sangat panjang untuk itu. Mungkin seratus tahun, dua ratus tahun, atau seribu tahun lamanya lagi. Ah, entahlah!”
“Justru itulah Tionggoan memerlukan orang-orang yang seperti kamu, Mulan.”
“Kenapa harus saya?”
“Karena orang seperti kamu merupakan sosok perombak kultur yang telah mendarah-daging di Tionggoan ini.”
“Saya hanya menyuarakan nurani. Saya bukan sosok sentrum yang dapat mengubah wajah lama Tionggoan menjadi baru. Untuk mewujudkan hal itu diperlukan tanggung jawab moral dari banyak pihak. Bukan sosok individu orang per orang.”
“Selama ini saya belum melihat ada sosok yang tepat mengubah wajah lama Tionggoan itu selain kamu.”
“Saya bukan pahlawan, Bao Ling. Fa Mulan hanyalah seorang prajurit wamil biasa. Prajurit wamil yang ingin melihat pembaruan di negerinya sendiri. Negeri tanah kelahirannya.”
“Cita-cita luhur kamu itu saja sudah lebih dari cukup mewakili sosok kepahlawanan di negeri ini. Panglima-panglima dan jenderal-jenderal di Ibukota Da-du saja mungkin tidak pernah berpikir searif kamu. Huh, mana ada yang memiliki rasa patriotisme tanpa batas seperti kamu? Mereka semuanya hanya tahu memerintah tanpa aplikasi.”
“Membangun negeri ideal selayaknya menjadi tanggung jawab moral setiap orang. Bukan hanya tugas para panglima dan jenderal atau petinggi-petinggi militer saja. Jadi, apa yang telah menjadi cita-cita saya tersebut sama sekali tidak dapat dikatakan istimewa. Terlebih-lebih kalau saya dianggap pahlawan karena itu. Apa yang saya lakukan tidak lebih dari pangabekti terhadap negara.”
“Selayaknya, pahlawan sejati tidak pernah mau menggembor-gemborkan dirinya sebagai pahlawan, meskipun pada kenyataanya dedikasi yang telah diaplikasikannya selama ini telah menegaskan kalau mereka memang merupakan pahlawan.”
“Tentu saja. Sebab, pahlawan itu tidak dinilai semata-mata dari sejumlah kontak fisik dan pertempuran-pertempuran heroik yang dilakukannya sebagai aksi bela negara. Tapi, ada hal-hal lain di luar dari itu. Orangtua kita masing-masing juga merupakan pahlawan bagi keluarga. Petani merupakan pahlawan agraria. Nahkoda merupakan pahlawan maritim dan navigasi galiung di lautan. Dan masih banyak lagi pahlawan-pahlawan tanpa nama dan tanpa tanda jasa. Jadi, pahlawan sejati itu merupakan sebentuk pengabdian. Pengabdian tanpa pamrih yang dilakukan oleh sebagian orang dalam jabatan dan tugas yang berbeda-beda.”
“Kalau begitu, kamu adalah manusia sempurna. Manusia yang seolah-olah terlahir semata-mata untuk muamalah.”
“Sekali lagi saya tegaskan. Saya bukan Dewata, Dewata yang penuh dengan kinasih. Saya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari cela dan ketidaksempurnaan. Manusia tidak ada yang sempurna.”
“Tapi, bukankah moralitas yang selama ini telah kamu tunjukkan merupakan bentuk pengukuhan kesempurnaan itu?”
“Siapa saja dapat mengaplikasikan kebajikan. Itu gaung moralitas yang selayaknya diwujudkan semua orang sehingga dunia ini dapat menjadi damai. Saya Fa Mulan, tidak pernah menganggap diri sendiri sebagai saka guru yang menggethok-tularkan moralitas.”
“Tapi….”
“Moralitas merupakan gaung nurani yang bersih. Kebaikan akan membawa dan membuahkan kebaikan. Demikian pula sebaliknya dengan kejahatan. Saya hanya belajar dari fenomena alam. Apa yang kita tanam, maka itulah yang akan kita tuai kelak. Jadi, hal itu bukan kesempurnaan. Hanya langit dan Dewatalah yang dapat menyandang predikat sempurna itu, Bao Ling. Bukannya Fa Mulan yang hanya seorang prajurit biasa.”
“Tapi….”
“Tidak ada seorang manusia pun yang lebih tinggi dan sempurna dibandingkan manusia lainnya. Strata dan jabatan kekuasaan, kasta dan bentuk-bentuk penggolongan, juga kilau gemerlap permata dan harta yang dimiliki seseorang; bukanlah alat untuk mempertegas nilai lebih manusia di atas manusia lainnya. Justru, harkat dan martabat manusia itu dapat diperoleh berkat aplikasi kebajikan dan moralitas yang telah mereka tunjukkan selama ini.”
Ia mengangguk-angguk waktu itu. Rasanya tidak ada lagi kesangsian untuk mengatakan kalau gadis itu memang predestinasi yang diturunkan dari langit untuk ranah babur Tionggoan.
Bao Ling melambatkan laju kudanya.
Sinar jingga matahari senja yang masih belum tenggelam benar ke horizon barat nun jauh di sana, menyorotnya dari arah yang berlawanan, dari balik rimbun dedaunan di rimba hutan. Lintas kenangan lamanya bersama Fa Mulan, semasa wamil, surut seketika oleh koyakan bias pada kornea matanya. Gadis itu melamur dari benaknya.
Sejenak dikerjap-kerjapkannya pelupuk mata karena direcok silau. Diputuskannya untuk beristirahat setelah merasa arteri nadinya memacu adrenalin dan denyar darah dengan siklus yang cukup tinggi. Ia tidak dapat memaksakan tubuhnya terus untuk bekerja. Bolak-balik antara Ibukota Da-du ke pos pengawasan Tembok Besar memang sangat meletihkan. Apalagi ia langsung berangkat pulang setibanya sejenak di tenda Fa Mulan dua malam kemarin.
Ia turun untuk mengaso sebentar. Dikaitkannya tali kekang kudanya pada sebatang pohon mahoni di hutan Hwa. Setelah itu ia pun duduk di tanah, dan menyandarkan punggungnya yang penat di sebatang pohon. Empat malam yang lalu di hutan inilah ia diserang oleh Zhung Pao Ling. Namun hari ini ia tidak menemui hambatan lagi. Tak satu pun terlihat jasus yang hendak menghabisi nyawanya. Namun demikian, ia tidak mengendurkan konsentrasinya. Ia tetap waspada terhadap serangan musuh sewaktu-waktu.
Setelah merasa lebih segar nanti, ia akan kembali melanjutkan perjalanannya ke Istana Da-du. Menyampaikan peristiwa miris pencobaan pembunuhan dirinya kepada Jenderal Gau Ming.