03 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 34

Oleh Effendy Wongso

Tak ada derap kuda para pengelana
pada sunyi gorong-gorong malam
dan muram labirin batu
untuk menjelajahi negeri berantah

Maka bersuaralah para penyeru
dari deru parau notasi pada jakun
menembusi tabir lorong cadas
lalu mengumpul pada suatu tempat
yang jauh dari riuh
di mana maharana telah berangus pebijak
dengan kobar api dan nestapa tanpa gigir

Bao Ling
Elegi Kelana

BLOGKATAHATIKU/IST
Bicara dengan gadis itu, ia serasa berhadapan dengan sesosok teguh berpendirian keras. Masalah gender adalah persoalan yang paling hakiki dalam hidupnya. Fa Mulan memang idealis. Dan ia bahkan bersedia mati untuk memperjuangkan cita-cita luhurnya tersebut. Kebenaran seperti bayang yang terpantul dari cermin nurani sisi hatinya.
“Tidak ada yang salah, Mulan. Tapi, kalau hal itu sudah menjadi predestinasi, apa yang harus kamu tuntut lagi?”
“Hei, Dewata tidak pernah memaklumatkan hakam untuk memilah-milah anak-anak manusia di dunia ini!”
“Tapi kenyataannya….”
“Kenyataannya hal itu dibuat-buat. Jangan menyinggung-nyinggung nama langit untuk mengukuhkan hakam sebagai pembenaran kalian.”
“Pembenaran untuk kebaikan itu sahih, Mulan.”
“Tapi sahih yang kalian putuskan adalah dosa besar bagi kemanusiaan dan peradaban!”
“Kadang-kadang, ada kalanya cita-cita harus dibarengi dengan pengorbanan. Berkorban di satu pihak untuk meraih kemenangan di pihak lainnya.”
“Lelucon yang bagus.”
“Ini bukan lelucon. Tapi memang begitu adanya. Sesuatu yang luhur dan murni harus didapatkan dengan segenap pengorbanan. Negara yang makmur tidak dibangun begitu saja. Banyak nyawa dan darah menjadi pondasi negara yang kuat tersebut. Tembok Besar, misalnya. Bangunan fenomenal kebanggaan rakyat Tionggoan itu telah mengorbankan demikian banyak nyawa sebelum dapat menjulang dan menjalar dengan gagah di Semenanjung Kuning  ini. Entah berapa juta nyawa dikorbankan agar dapat membangun Tembok Besar itu, Mulan. Dan kamu lihat, pengorbanan itu ternyata tidak sia-sia, bukan? Nah, itulah yang kerap melandasi pola pikir pejabat-pejabat negara. Kamu tidak dapat menyalahkan hal tersebut sebagai sesuatu yang naif. Terlebih-lebih lelucon!”
“Saya tidak sependapat. Akar sejarah yang pengkar, yang dibenarkan secara sahih turun-temurun oleh kaisar-kaisar terdahulu, akan merajut benang merah masa lalu yang suram di masa sekarang. Kalau sudah begitu, maka yang terjadi kemudian adalah maharana yang tak kunjung reda. Di mana-mana ada perang. Perebutan kekuasaan. Intrik Istana. Apakah hal yang sangat menyengsarakan rakyat itu dapat dianggap suatu kebenaran?”
“Kalau hal itu merupakan bagian dari pengorbanan, yang bertujuan demi pengembangan negara ke arah yang lebih baik, paling tidak demi anak-cucu kita di kemudian hari, maka saya tidak dapat menyalahkan tindakan anarkisitas itu sebagai sebuah dosa besar.”
“Huh, absurditas ambisi pribadi yang menghalalkan segala cara untuk dapat mencapai tujuan puncak kekuasaan! Sungguh sebuah keputusan yang ironis!”
“Itu khidmat yang dapat diperoleh dari serangkaian pengorbanan. Baik atau buruk, merugikan ataupun menguntungkan, semuanya berpulang pada pribadi masing-masing manusia.”
“Oya? Jadi, kamu setuju hal itu dijadikan landasan bagi negara kita ini?”
“Sebegitu pentingkah artikulasi itu bagi kita, Mulan?”
“Berarti atau tidak, toh kita harus peduli terhadap nasib bangsa ini, bukan?”
“Tentu. Itulah tujuan kita menjadi prajurit wamil. Tapi, bukan berarti kita harus mencampuri semua hal. Ada hal-hal lain yang memang tidak memerlukan partisipan kita.”
“Kenapa kamu bisa bilang begitu?”
“Masing-masing individu mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Kaisar adalah kaisar. Jenderal adalah jenderal. Prajurit adalah prajurit. Petani adalah petani. Kalau tugas dan tanggung jawab tersebut saling bersilangan, maka fungsi individu itu akan kacau-balau. Lalu, pada akhirnya negara akan mengalami instabilitas politik. Negara tidak memiliki tatanan yang kuat karena masing-masing individu rancu dengan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing.”
“Rasanya terlau picik bila kamu menilai aspirasi dan kepedulian kita sebagai rakyat yang menggugah kepemimpinan seorang kepala negara sebagai sesuatu yang balau.”
“Kenapa?”
“Justru, saya melihat hal tersebut sebagai tiranisasi yang membelenggu aspirasi rakyat. Itu pembodohan buat rakyat. Pemilah-milahan dan pengkotak-kotakan individu ke dalam tugas dan fungsinya masing-masing merupakan politisasi para pengusa lalim. Rakyat dibiarkan berjalan pada pola yang telah ditentukan. Kaisar tetap kaisar. Jenderal tetap jenderal. Prajurit tetap prajurit. Petani tetap petani. Dan kalau sudah terstigma begitu, seorang kaisar akan memenggal kepala seorang petani yang sesungguhnya berpotensi menjadi kaisar dibandingkan kaisar penguasa yang diuntungkan stigma tersebut.”
“Politik Istana itu rumit, Mulan. Bila kita terlampau jauh mencampuri, maka yang terjadi adalah kekisruhan. Semuanya akan membabur. Bukannya solusi pemecahan suatu masalah.”
“Ini presedensi yang salah. Tujuan negara, perang misalnya, adalah semata-mata demi rakyat. Bukan demi segelintir orang. Bukan hanya untuk kepentingan kalangan Istana dan kroninya. Pada Kenyataannya, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Banyak di antara penguasa negeri menggunakan militer dan perang untuk mempertahankan aset-aset serta kekayaan mereka sendiri. Bahkan untuk merampas harta-benda dan tanah orang lain.”
“Itu hanya presensi batil segelintir Sang Penguasa Tionggoan. Tapi sesungguhnya keputusan negara adalah stempel sahih dan kebenaran, karena kaisar adalah keturunan Dewata dan Naga dari langit. Mereka adalah totemis. Namun keputusan itu pada akhirnya membabur bila terlampau direcoki oleh absolutisme rakyat yang pluralis. Nah, kalau sudah begitu, maka kekisruhan akan menjadi-jadi. Rakyat akan jadi tiran. Dan pemerintah adalah boneka yang setiap saat dikendalikan untuk menjalankan misi pluralistis tersebut.” 
“Hei, bukan sebaliknya?! Amanat rakyat tidaklah seinferior sangkamu, Bao Ling. Absolutisme dan tirani dapat terjadi karena adanya penyalahgunaan wewenang di dalam roda pemerintahan. Penyelewengan dari asas-asas hakiki langit, bahwa kaisar adalah keturunan Dewata dan Naga di langit serta analisis totemis itu, justru membawa kaidah tersebut sangat melenceng jauh dari tatanan moralitas dan kebenaran itu sendiri.”
“Tapi, dalam kenyataannya rakyat akan menjadi anarkis dan tiran saat tidak terpenuhinya keinginan-keinginan mereka yang ambigu. Kerusuhan, penjarahan, dan banyak hal merusak lainnya lagi ketika mereka menjelma menjadi serigala yang memangsa kaumnya sendiri.”
“Lalu, siapa yang salah kalau sudah begitu?! Seharusnya pejabat-pejabat negara berintrospeksi. Bukannya malah menggunakan kelebihan dan kekuatan mereka, militer dan bala prajurit, untuk balas memukul, bahkan memusnahkan rakyat tersebut, yang kelaparan dan tidak puas terhadap kepemimpinan mereka?! Bukankah kesalahan itu bermuasal dari kalangan Istana?! Apakah bukan karena tindakan tak bermoral pejabat-pejabat negara yang batil dan korup itu?! Mereka merampok dan mencuri harta-benda rakyat, Bao Ling! Dan mestikah rakyat yang disalahkan apabila mereka berbalik membobol gudang-gudang beras, dan mencuri berton-ton beras negara karena sebutir nasi pun sudah menjadi barang yang langka di negeri ini?! Apakah salah bila mereka kelapara karena ulah jahat pejabat-pejabat korup itu?!”
“Rasanya tidak etis membenarkan tindakan anarkis hanya atas nama perut rakyat yang kelaparan!”
“Terlebih tidak etis lagi tindakan pejabat-pejabat negara yang batil itu terhadap apa yang telah mereka lakukan kepada rakyat. Korupsi telah menyebabkan rakyat merana. Lumbung-lumbung padi habis digerogoti oleh tikus-tikus koruptor itu. Rakyat semakin miskin.”
“Saya kira, tak ada satu pun negara yang makmur apabila tengah dirundung maharana. Itu bagian dari konsekuensi perang.”
“Siapa bilang tidak begitu?! Perang adalah salah satu bentuk tiran dan absolutisme babur dari penguasa-penguasa batil sebuah negara. Lalu yang terjadi adalah kekacauan dan bencana. Rakyat kelaparan. Semuanya terberangus hanya oleh satu kata. Ambisi!”
“Hahaha….”
“Kenapa tertawa?”
“Saya sama sekali tidak menyangka kalau seorang Fa Mulan bisa seidealis begitu.”
“Idealis atau bukan, yang saya tahu, saya hanya mengungkapkan kenyataan yang saya lihat dengan mata dan kepala saya sendiri.”
“Tapi, kamu cerdas, Mulan.”
“Cerdas? Kamu keliru. Saya tidak cerdas. Seperti yang telah saya katakan tadi, semua hal itu merupakan kejadian riil dan kasat yang dapat kita saksikan setiap hari. Jadi apa yang saya ketahui hanyalah mualamat. Semua juga rakyat tahu kalau kebanyakan pejabat negara itu kotor. Bukankah begitu, Bao Ling?”
“Saya tidak berani berasumsi dengan mengatakan sependapat.”
“Kenapa?”
“Semuanya relatif. Hati manusia tidak dapat ditebak. Hitam dan putih sisi hati hanya dipisahkan oleh segaris tipis nurani. Siapa yang tahu kalau Kaisar Yuan Ren Zhan yang kita anggap baik dan bijak, sehingga kita rela mengorbankan jiwa dan raga menjadi prajurit wamil di era kepemimpinan beliau sekarang, suatu saat kelak, entahlah, dapat lebih kejam ketimbang ayahandanya, mendiang Kaisar Yuan Ren Xing?”
“Justru karena itulah diperlukan masukan-masukan dari suara rakyat. Agar kaidah tetap terjaga, dan Sang Kaisar tidak lari dari norma-norma kebajikan.”
“Nah, itulah yang sulit, Mulan.”
“Sulit bagaimana?”
“Kamu tahu, kenapa rakyat Tionggoan diharuskan menjalani kewajiban militer?”
“Tentu saja saya tahu.”
“Apa itu?”
“Untuk apa kamu tanyakan hal itu?”
“Sebagai prajurit kita harus memiliki banyak wawasan.”
“Itu sudah pasti. Tapi, sebagai prajurit pun kita mesti memiliki gagasan. Bukan hanya wawasan.”
“Gagasan? Untuk apa?”
“Karena itulah aspirasi. Itulah suara kita. Suara rakyat.”
“Kalau begitu, intisari wamil itu untuk apa?”
“Wamil ada karena ada masalah. Masalahnya adalah, karena Tionggoan terus-menerus dirongrong oleh pemberontakan-pemberontakan di daerah perbatasan. Militer Yuan kesulitan menghadapi mereka. Negara di ambang bahaya. Itulah sebabnya Kaisar Yuan Ren Zhan segera mengeluarkan maklumat agar rakyat Tionggoan harus mengikuti wamil. Bukankah begitu, Bao Ling?”
“Akar masalahnya memang di situ. Tapi….”
“Tapi apa?”
“Tapi tahukah kamu kalau musuh-musuh yang menyerang di daerah perbatasan itu, di luar pemberontakan kaum nomad Mongol, juga merupakan rakyat Tionggoan sendiri!”
“Maksudmu, pasukan pemberontak Han?”
“Siapa lagi? Bukankan mereka merupakan salah satu suku bangsa Tionggoan juga?”
“Maksudmu, berarti….”
“Berarti Kaisar Yuan Ren Zhan ditentang oleh rakyatnya sendiri. Jadi kalau direnungi, jangankan menjadikan rakyat sebagai parameter pengendali kekuasaan, tapi mengakui secara aklamasi Sang Penguasa itu sebagai satu-satunya pemimpin tertinggi mereka saja sangat jauh dari harapan. Lantas, bagaimana mungkin Kaisar Yuan Ren Zhan dapat menjadi stigma, dan bersatu dengan rakyatnya? Nah, bukankah hal itu termasuk di dalam absolutisme pluralis rakyat?”
“Kamu menyalahkan rakyat lagi?”
“Saya tidak mengatakan begitu.”
“Lalu?”
“Saya mengatakan bahwa, rakyat pun dapat menjadi serigala. Rakyat tidak selamanya dapat dianggap suara kebenaran. Saya tidak mendiskreditkan rakyat dalam hal ini. Tapi kadang-kadang rakyat dapat menjadi tiran, melebihi kaisar yang paling lalim sekalipun.”
“Kamu terlalu dangkal menilai rakyat, Bao Ling!”
“Tapi kenyataannya….”
“Kenyataannya rakyat tidak begitu. Pasukan pemberontak Han memang merupakan salah satu suku bangsa di Tionggoan. Mereka sama dengan kita. Tapi, kamu mesti melihat inti permasalahannya. Belum tentu ketidakpuasan mereka, yang kamu anggap absolutisme pluralis dan tiran itu, disebabkan oleh ambigu kolektif, sekelompok orang yang bernama rakyat, untuk menggulung pemerintahan yang sah. Meskipun saya belum tahu pasal yang sebenarnya, tapi saya kira ada hal-hal lain yang melatarbelakangi anarkisme mereka itu.”
“Apa itu, Mulan?”
“Yah, mungkin saja mereka terpengaruh dan termakan oleh seseorang yang dianggap figur. Figur yang dapat mengubah falsafah pandang mereka terhadap pemerintahan yang sudah ada. Nah, setelah terindoktrinasi, mereka akan menyatukan kata sepakat untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah, meskipun mereka sebenarnya tidak tahu jelas sosok Sang Penguasa Tionggoan, dan keliru menilai pemimpin mereka yang sekarang. Bisa pula mereka telah termakan isu, pembodohan yang dianggap sebuah kebenaran.”
“Boleh jadi. Tapi apakah semudah itu mengubah pikiran yang sederhana rakyat menjadi sebuah bentuk anarkisme?”
“Apa pun dapat terjadi, Bao Ling. Janji dan iming-iming adalah majas yang paling berbahaya. Majas tersebut dapat membius kesadaran manusia. Yah, itulah salah satu bentuk kekhilafan makhluk hidup yang bernama manusia.”
“Maksudmu, mereka dipengaruhi oleh seseorang untuk melakukan pemberontakan?”
“Itu merupakan satu-satunya alasan yang paling masuk akal.”
“Masuk akal. Tapi, siapa?”
“Tentu saja lawan-lawan politik Kaisar Yuan Ren Zhan. Manusia-manusia yang penuh dengan ambisi majas. Manusia-manusia serigala berbulu domba. Manusia-manusia yang senantiasa diliputi angkara. Penebar maharana. Biang bencana.”
“Sedari dulu, puncak kekuasaan dan Kursi Tunggal Sang Naga selalu menjadi obyek pertumpahan darah. Kaisar demi kaisar akan dijatuhkan secara bergantian. Begitu seterusnya. Kalau sudah begitu, maka mana ada klemensi dalam lingkungan Istana?!”
“Dan kalau begitu seterusnya, bagaimana rakyat Tionggoan dapat hidup tenang?”
“Ah, saya juga resah, Mulan. Sejarah kelam Tionggoan seolah tak ada habis-habisnya. Dari masa ke masa, perang dan kezaliman sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari negeri ini.”
“Manusia memang terlalu dangkal menyikapi anugerah yang telah diberikan oleh Dewata di langit. Alam yang berlimpah-ruah dengan keanekaragaman isinya telah memenuhi segala kebutuhan manusia. Biji-bijian tumbuh menjadi makanan. Hujan. Air. Matahari. Semuanya itu adalah karunia mahabesar yang tak dapat diucapkan dengan kata-kata. Tapi, coba lihat keegoisan manusia. Mereka tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberikan alam pada mereka. Tetap saja mereka menjazam sesamanya. Membunuh. Merampok. Merampas. Memusnahkan.”