03 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 32



Oleh Effendy Wongso

Rembulan memutih dalam tirai-tirainya yang patah
cahyanya melamur disaput lentera merah
yang menyala menggelimun tanpa bayang-bayang

Malam memekat oleh sunyi gulita
hanya sesekali terdengar parau gong dari kejauhan
juga lolongan anjing yang giris
seketika tangis langit pun pecah
basah bumi seiring gelegar guntur
menggiriskan dingin pada nyawa-nyawa yang melayang
dan Dewata yang meratap

Bao Ling
Elegi Malam 

BLOGKATAHATIKU/IST
Bao Ling sudah memacu kudanya menuju ke Ibukota Da-du dengan benak baur. Ia memang tidak berhasil membawa Fa Mulan ikut serta dalam Festival Barongsai seperti yang diamanatkan oleh Istana. Tetapi ia sadar kalau keadaan memang tidak memungkinkan lagi. Gadis itu memiliki alasan yang kuat untuk tidak menghadiri pesta akbar yang diselenggarakan oleh Kaisar Yuan Ren Zhan tersebut.
“Sampaikan saja manuskrip ini untuk Jenderal Gau Ming. Saya sudah menulis semua permintaan maaf saya. Juga alasan tentang kemangkiran saya pada Festival Barongsai nanti. Memang saya harus memutuskan, apakah saya tetap di sini, atau ke Ibukota Da-du. Tapi saya sudah menimbang-nimbang dengan matang, mungkin ada baiknya untuk sementara saya masih harus berada di sini. Meski kelihatan aman, tapi pengawasan perbatasan Tembok Besar ini tidak boleh diabaikan. Masih banyak jasus musuh yang berusaha masuk melalui jalan strategis di sini. Jika tidak terjadi apa-apa, saya akan menyusul kemudian. Berangkatlah kamu duluan. Semoga Festival Barongsai itu dapat berlangsung dengan aman.”
Perkaranya memang bukan soal keinginan hati untuk mengikuti atau mangkir, gerutunya dalam hati ketika gadis itu menyerahkan manuskrip yang telah ditulisnya sesaat sebelum ia berangkat pagi dini hari tadi. Namun ada hal-hal yang belum disadari pihak Istana Da-du, yang pada kenyataannya sudah terlihat oleh Fa Mulan sebagai prajurit garda depan dalam sebuah pertempuran. Intuisinya yang tajam merupakan proses dari asimilasi sebagai prajurit yang berhadapan langsung dengan musuh.
 Fa Mulan adalah gadis dengan sosok yang berbeda. Kehadirannya sebagai prajurit Yuan di Kamp Utara merupakan bagian tak terpisahkan dari situasi yang tidak menentu di Tionggoan. Rongrongan musuh di perbatasan dan juga gejolak-gejolak yang bermuasal dari Istana sendiri telah membawa gadis itu ke dalam maharana. Ia pun menyusup ke Kamp Utara setelah menyamar sebagai laki-laki. Mematuhi keharusan wamil bagi setiap anggota keluarga yang ada di Tionggoan, menggantikan posisi ayahya yang sudah tua dan pincang.
“Penyamaran saya di Kamp Utara bukan semata-mata karena menggantikan ayah saya yang sudah tua, Bao Ling!”
“Tapi apa pun alasannya, sangat tidak realistis kalau kamu mengemban dan memikul semua tanggung jawab yang mahaberat ini, Mulan.”
“Saat negara sedang di ambang bahaya, realistis atau tidak, bagi saya itu hal yang sangat relatif. Kamu pikir perempuan tidak bisa mengaplikasikan loyalitas kebangsaannya untuk membela negaranya sendiri?”
“Bukan begitu. Namun, tanggung jawab itu sudah menjadi kewajiban kaum laki-laki! Perang adalah dunia laki-laki. Melibatkan perempuan atau anak-anak adalah dosa besar.”
“Itulah leluri yang sudah mendarah daging di Tionggoan ini. Perempuan selalu berada pada strata kedua. Kalau begini terus-menerus, apa jadinya bangsa kita yang senantiasa dikungkung oleh pranata gender?”
“Masalahnya ini perang, Mulan! Bukan soal kaummu yang terpinggirkan!”
“Perang atau bukan, apa bedanya?”
“Kamu keras kepala, Mulan!”
“Mungkin. Tapi tidak sekeras iklim hakam antara laki-laki dan perempuan yang kalian ciptakan sendiri turun-temurun. Saya sedih dengan situasi yang menyudutkan begini. Ketika saya berhasil melumpuhkan beberapa musuh-musuh di perbatasan, yang ada dalam pikiran saya adalah, ini sudah merupakan tugas dan telah menjadi tanggung jawab saya sebagai prajurit. Saya tidak pernah berpikir bahwa, yang melumpuhkan lawan-lawan di perbatasan adalah Fa Mulan, seorang perempuan yang notabene terpinggirkan. Tapi apa yang ada di dalam pikiran kalian ternyata sangat bertolak belakang dengan apa yang mengisi benak saya pada waktu itu. Dan ketika kalian mengetahui bahwa, Fa Mulan ternyata adalah seorang perempuan yang menyamar sebagai laki-laki, maka dia harus mendapat hukuman penggal! Hah, kenapa?! Kenapa kalian tidak pernah adil menyikapi ini semua! Kenapa kalian tidak pernah melihat duduk persoalannya dengan mata hati dan nurani? Apa salah perempuan sehingga meskipun mereka berkorban demi negara, namun tetap akan dipenggal karena dianggap melanggar tatanan yang telah kalian buat dan sepakati.”

***

Memang, ketika itu penyamaran Fa Mulan sebagai laki-laki akhirnya terbongkar juga. Saat itu Fa Mulan terluka parah setelah bertempur mempertahankan daerah perbatasan Tembok Besar dengan beberapa ratus kaum nomad Mongol, seminggu setelah dimutasikan dari Tung Shao ke Tembok Besar untuk membantu prajurit Divisi Infanteri yang telah bertugas di sana. Ketika dalam masa perawatan itulah identitas Fa Mulan terbongkar. Tabib yang tengah memeriksanya melaporkan kepada Shang Weng bahwa Fa Mulan ternyata seorang perempuan. Seketika itu pula Shang Weng murka luar biasa. Ternyata selama ini militer Kamp Utara telah kecolongan. Sudah barang tentu hal itu merupakan aib dan coreng malu untuk sebuah barak yang dianggap suri teladan. Barak yang memiliki reputasi gemilang, dengan ribuan perwira dan prajuritnya yang berdisiplin tinggi di antara seluruh jajaran kemiliteran Tionggoan.
Shang Weng menanggung malu.
Waktu itu pula, ia langsung menghunuskan pedangnya ke arah leher Fa Mulan yang saat itu terkulai lemah berlutut di tanah. Chien Po yang melihatnya langsung turun tangan. Prajurit bertubuh besar itu langsung mengayunkan toyanya, menangkis mata pedang yang hendak menebas kepala Fa Mulan.
Yao turun membantu. Ia menghalau beberapa pengawal Shang Weng yang hendak membantu menyerang.
“Kalian semua pembangkang!” teriak gusar Shang Weng pada waktu itu.
“Tidak ada maksud kami untuk melawan Anda, terlebih-lebih membangkang seperti yang Anda tuduhkan kepada kami, Kapten Shang!” bantah Chien Po, masih sigap melindungi Fa Mulan dari bahaya saat itu.
“Betul, Kapten Shang. Apa yang dikatakan Chien Po memang benar. Kami hanya menunjukkan solidaritas, membantu saudara kami, Fa Mulan, yang terkulai lemah. Dia sedang terluka parah, Kapten Shang. Seharusnya kita membantunya. Bukannya bertindak yurisdikasi ketika segalanya masih belum jelas benar duduk-perkaranya,” tambah Yao menentang.
“Apanya yang tidak jelas?! Jelas-jelas perempuan ini telah mencoreng nama baik militer Kamp Utara ini!”
“Nama baik?! Sebegitu tinggikah nilai nama baik di mata Anda sehingga rela mengorbankan nyawa prajurit loyal Anda, Kapten Shang?!” tanya Chien Po sinis.
“Jangan membela perempuan ini lagi kalau kalian tidak ingin dihukum karena dianggap makar!”
Waktu itu pula ia memberanikan dirinya menantang Shang Weng. Ia tidak peduli seandainya ia pun dihukum penggal karena dianggap membangkang atau makar. Yang pasti, ia tidak dapat membiarkan gadis yang tengah sekarat itu dibantai tanpa musabab jelas.
“Fa Mulan tidak bersalah! Apa hanya lantaran dia perempuan sehingga harus dibunuh?!” imbuhnya, turut menentang pada waktu itu.
“Jangan ikut campur, Bao Ling!”
“Maaf atas kelancangan saya, Kapten Shang. Tapi, tolong sarungkan pedang Anda kembali! Urungkan niat Anda itu. Fa Mulan bukan musuh yang harus Anda hadapi dengan pedang yang terhunus. Kalau Anda ingin membunuh gadis ini, silakan langkahi mayat saya dulu!” tantangnya lagi.
“Ya, benar. Langkahi mayat kami dulu,” timpal Chien Po dan Yao bersamaan.
“Kalian….”
Pada saat itu perkelahian tidak dapat dihindarkan. Bao Ling berduel dengan Shang Weng, dan Chien Po serta Yao menghadapi prajurit-prajurit pengawal Shang Weng. Beberapa puluh prajurit wamil yang simpati terhadap Fa Mulan, termasuk prajurit yang bertugas sebagai juru masak barak, juga turut bertarung dengan prajurit-prajurit pengawal Kamp Utara.
Namun upaya tersebut sia-sia belaka, sekalipun Bao Ling dapat mengalahkan Shang Weng setelah bertarung cukup lama. Sementara itu Chien Po dan Yao tidak berkutik menghadapi serangan dan keroyokan ratusan prajurit pengawal yang termasuk bagian dari Divisi Infanteri. Begitu pula dengan prajurit wamil simpatisan Fa Mulan. Mereka ditangkap. Dan bersama Fa Mulan dimasukkan ke dalam tenda tahanan selama beberapa hari.
Ia sendiri melarikan diri dari Kamp Utara. Untuk sementara bersembunyi di sebuah dusun dekat barak, sampai menunggu situasi mengkondusif sebelum melakukan rencana pembebasan Fa Mulan. Selama beberapa hari ia mengintai Kamp Utara.
Suatu hari Shang Weng mendadak mengambil keputusan yang kontroversial. Ia membebaskan Fa Mulan beserta semua prajurit wamil yang ditawannya tempo hari meski mereka semua tetap dalam pengawasan ketat prajurit pengawal Divisi Infanteri.
“Untuk kasus manipulasi identitas diri Fa Mulan, akan saya serahkan sepenuhnya kepada atase militer pusat,” alasan Shang Weng waktu itu kepada prajurit-prajurit wamil simpatisan Fa Mulan. “Merekalah yang akan memutuskan, apakah Fa Mulan bersalah atau tidak. Apakah dia akan mendapat dispensasi pengampunan atau tidak, bila divonis bersalah. Kita tunggu saja dengan sabar keputusan dari atase militer Yuan di Ibukota Da-du.”
Dalih itu memang meredakan amarahnya sehingga ia pulang kembali ke barak setelah lari dan bersembunyi beberapa hari di sebuah dusun. Begitu pula dengan para prajurit wamil simpatisan Fa Mulan. Mereka menunggu amar dari atase militer Yuan di Ibukota Da-du. Apakah Fa Mulan mendapat pengampunan atau tidak.
Fa Mulan sendiri apatis kalau atase militer Yuan akan bermurah hati memberikan pengampunan. Ia tahu bagaimana keras dan tegasnya hukum kemiliteran Yuan. Ia pasrah. Tetapi tidak sedikit pun momok sanksi hukuman pancung itu menggentarkannya.
Ia memang tidak takut mati!
“Saya pantas dipenggal, Kapten Shang! Saya harap Anda jangan membuang-buang waktu lagi. Saya siap mati sekarang. Saya tidak akan menyesal. Saya bangga mati demi membela negara dan keluarga saya. Jadi, hunuskanlah pedang Anda sekarang, Kapten Shang,” ujar Fa Mulan tanpa merasa gentar pada waktu itu.
“Saya tidak memiliki legitimasi untuk menghakimi kamu, Mulan.”
“Anda adalah pemimpin tertinggi di Kamp Utara. Anda berhak mengeksekusi saya. Saya memang telah bersalah menipu militer Yuan.”
“Saya tidak bisa putuskan kamu bersalah atau tidak. Semua keputusan serta sanksi yang akan dijatuhkan atas perbuatan manipulasi identitas diri kamu itu ada di tangan atase militer di Ibukota Da-du. Saya minta maaf atas sikap vulgar saya terhadap kamu tempo hari. Saat itu saya tidak dapat menahan diri. Saya emosi. Tidak seharusnya saya bersikap sekasar itu terhadap kamu.”
“Percuma mengulur-ulur waktu. Toh pada saatnya nanti, kepala saya akan dipenggal!”
“Mulan….”
“Anda jangan menanggung beban perasaan bersalah hanya karena membunuh seorang Fa Mulan. Apalah artinya seorang Fa Mulan yang telah menyebabkan nama baik militer Yuan rusak dan tercoreng malu!”
“Jangan mendesak saya untuk mengambil keputusan sepihak, Mulan!”
“Saya hanya tidak ingin dipermainkan oleh ajal, Kapten Shang. Kalau saya memang harus mati hari ini, segeralah bunuh saya. Kalau Anda dan atase militer Yuan mengulur-ulur waktu, hal itu sama saja dengan menyiksa dan membunuh saya perlahan-lahan. Hal tersebut jauh lebih menyakitkan ketimbang Anda membunuh saya sekarang.”
“Sa-saya tidak ingin kamu mati, Mulan! Saya akan berusaha memperjuangkan nasib kamu di hadapan pejabat-pejabat militer itu. Saya….”
“Kenapa?! Bukankah saya ini biang perusak nama baik militer Kamp Utara?! Kenapa hidup saya perlu Anda pertahankan? Bukankah lebih baik kalau saya mati saja agar….”
“Jangan menyiksa saya lagi dengan pertanyaan-pertanyaanmu itu, Mulan. Saya sudah cukup menderita selama ini. Ah, saya tidak tahu mengapa harus berhadapan dengan dilematisasi seperti ini!”
“Maaf, karena sayalah sehingga Anda….”
“Tidak. Jangan salahkan dirimu. Sekarang, jangan menyalahkan siapa-siapa.”
“Tapi saya sudah pasrah.”
“Kamu tidak boleh menyerah!”
“Saya tidak pernah merasa kalah. Kematian saya kelak di ujung golok algojo Istana Da-du merupakan kemenangan. Saya hanya dikalahkan oleh ironi bangsa ini. Kalah karena terlahir di dalam zaman yang tidak tepat, di mana perempuan tidak pernah mendapat tempat yang layak di tanah kelahirannya sendiri. Di mana perempuan harus dipenggal karena dianggap melampaui batas kodrati yang telah digariskan oleh artifak leluri laki-laki.”
“Tapi kamu tetap berjasa bagi Yuan.”
“Saya tidak pernah berharap dan berpamrih ketika melaksanakan tugas-tugas serta kewajiban-kewajiban yang sudah menjadi tanggung jawab seorang prajurit.”
“Tapi, atase militer Yuan di Ibukota Da-du mesti jeli melihat serta mempertimbangkan jasa-jasamu itu.”
“Saya tidak bisa mempengaruhi keputusan para atase militer dengan memaparkan jasa-jasa baik yang pernah saya lakukan untuk negeri ini, agar saya dapat bebas dari tuntutan hukum. Saya hanya berharap mereka dapat bertindak bijak dan obyektif menyikapi kasus saya ini.”
Shang Weng memang memperjuangkan nasib Fa Mulan di markas besar militer Yuan, di hadapan puluhan petinggi militer dan panglima perang yang akan memutuskan sanksi hukuman untuk gadis itu. Namun seperti yang telah diduganya, para atase militer Yuan tetap bersikeras untuk menjatuhkan hukuman pancung kepada Fa Mulan sebagai kata sepakat pertemuan militer akbar tersebut.
“Ma-maafkan saya, Mulan!”
“Tidak apa-apa. Lakukan saja perintah para atase militer Yuan itu, Kapten Shang.”
“Am-ampuni saya, Mulan. Eksekusi akan dilakukan tujuh hari lagi. Saya bersedia melakukan apa saja untukmu sebelum….”
“Laki-laki pantang mengeluarkan airmata, Kapten Shang. Jangan menangis lagi. Fa Mulan tidak perlu ditangisi. Inilah bentuk kemenangan saya yang paling gemilang, menghadapi kematian dengan tenang dan tegar!”