02 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 30



Oleh Effendy Wongso

Putri bermata gemintang
biarkan dedewi menari di Langit
dan memainkan sitar bernada emas
hingga membuai engkau ke peraduan
: sungguh,
dunia ini bukan tempat yang indah
untuk memulai mimpi

Bao Ling 
Elegi Mimpi

BLOGKATAHATIKU/IST
“Ayah!”
Pangeran Yuan Ren Qing terlonjak dari lamunannya. Entah sudah berapa lama ia duduk menyendiri dan terpatung di kursinya sampai suara lembut putrinya itu menyapa dari arah bingkai pintu balairung pangeran.
“A Xie,” balasnya lemah terhadap gadis remaja yang melangkah setengah berlari ke arahnya. “Apa yang Ayah pikirkan?”
“Oh, tidak ada apa-apa.”
Putri Yuan Ren Xie kini telah menggelayut manja di bahu ayahnya. “A Xie tidak percaya. Ayah pasti sedang banyak masalah. Ayo, ceritakan. Mungkin A Xie bisa kasih solusi.”
Pangeran Yuan Ren Qing tersenyum.
Binar amarah mendadak melenyap saat menatap keteduhan di mata putri tunggalnya tersebut. Gadis itu merupakan satu-satunya pelipur lara kala ia tengah dirundung galau. Diciuminya dahi gadis yang baru menginjak usia enam belas itu dengan penuh kasih sayang sesaat sebelum sepasang tangan gemulai putrinya tersebut memijiti pundaknya.
“Anak kecil tahu apa masalah orangtua?” elak Pangeran Yuan Ren Qing, membiarkan dirinya dipijat. “Anak kecil jangan suka mencampuri urusan orangtua. Anak kecil seharusnya hanya bermain, bukan?”
“Ah, Ayah! Ayah selalu begitu! Ayah selalu menganggap A Xie anak kecil!” ujar Putri Yuan Ren Xie dengan mulut manyun, pura-pura sewot. “Kapan Ayah dapat menganggap A Xie dewasa?!”
Pangeran Yuan Ren Qing tertawa.
“Sedang memikirkan persoalan apa, Ayah?” cecar Putri Yuan Ren Xie sembari memijit-mijit pundak serta menumbuk-numbuk lembut punggung ayahnya. “Persoalan Istana, ya?”
Pangeran Yuan Ren Qing berdeham. “Ah, anak kecil tahu apa soal Istana?”
“Tentu saja A Xie harus tahu,” elak Putri Yuan Ren Xie lincah. “A Xie putri Ayah, bukan?”
“Iya. Siapa bilang Putri Yuan Ren Xie bukan anak Ayah?”
“Makanya….”
“Makanya kamu nyinyir ingin tahu, ya?”
Putri Yuan Ren Xie menghentikan pijitannya seolah memerotes kalimat ayahnya barusan. “Ayah jahat! Ayah suka mempermainkan A Xie!”
Lelaki tua dengan pelipis yang ditumbuhi uban tersebut sontak merangkul tubuh putri tunggalnya. Menariknya kembali berdiri di sisinya setelah gadis itu protes dan pura-pura hendak beranjak menjauhinya.
“Kamu marah sama Ayah, ya?”
“Habis, Ayah selalu mempermainkan A Xie!”
“Baik, baik. Ayah janji tidak akan mempermainkan kamu lagi,” bujuk Pangeran Yuan Ren Qing. “Ayah senantiasa akan membahagiakan kamu.”
Putri Yuan Ren Xie tersenyum dengan rupa menang, memeluk ayahnya yang sudah melingkarkan sepasang tangan dipinggulnya.
“Jadi, Ayah berjanji akan memberikan dan mengabulkan apa saja yang A Xie minta?”
“Ya. Apa saja,” angguk Pangeran Yuan Ren Qing, masih menyembulkan senyum. “Apa yang tidak pernah Ayah berikan kepada kamu?”
“Ah, Ayah pasti bohong!”
“Bohong apa?” tanya Pangeran Yuan Ren Qing dengan suara separuh tertawa, membelai-belai janggutnya yang sedikit melingkar di bawah dagunya seperti ekor bekisar. “Sekarang, kamu minta apa? Bilang saja. Hm, pasti akan Ayah penuhi.”
“Benar, Ayah?!” Putri Yuan Ren Xie bertanya, antusias dengan dengan mata membola.
Pangeran Yuan Ren Qing mengangguk keras. “Iya, benar. Untuk kamu, apa saja akan Ayah berikan.”
“Benar Ayah tidak akan bohong?” tanya Putri Yuan Ren Xie, mencecar. Alisnya bergerak naik-turun. Se-ulas senyum nakal  mengembang di bibirnya.
“Ayah berjanji. Nah, apa yang ingin kamu minta?”
Putri Yuan Ren Zhan mempererat pelukan pada bahu ayahnya. Bibirnya dicondongkan, mendekat dan nyaris menyentuh telinga kiri salah seorang adik kandung Kaisar Yuan Ren Zhan.
“A Xie ingin ke Ibukota Da-du menyaksikan Festival Barongsai, Ayah,” bisiknya manja.
Pangeran Yuan Ren Qing membeliak. Senyumnya melamur perlahan. Dipandanginya lamat wajah ayu di hadapannya, buah hatinya yang paling berharga. Satu-satunya penerus atas seluruh aset dan pengharapan yang telah dicita-citakannya sejak lama. Tampuk tertinggi kepemimpinan Tionggoan akan berada di tangannya, dan segala penerus yang berasal dari darah-dagingnya sendiri!
“Tapi, tidak aman berada di Ibukota Da-du pada saat-saat seperti ini, A Xie!” tolaknya lembut. “Di sini kamu tenang….”
“Tapi Ayah sudah berjanji!” protes Putri Yuan Ren Qing, turun dari pangkuan ayahnya. “Ayah tidak boleh mengingkari janji Ayah tadi!”
“A Xie….”
Putri Yuan Ren Xie mengentakkan kakinya. “Ayah bohong!”
“Bukan begitu….”
“Bukan begitu bagaimana?! A Xie kecewa sama Ayah!”
Pangeran Yuan Ren Qing masih berusaha membujuk. Dicobanya menggapai pergelangan pipih Putri Yuan Ren Xie, namun gadis itu mengentak keras tangannya kala telapak tangan tua itu telah menggenggam jemarinya. Dihindarinya cekalan tangan Pangeran Yuan Ren Qing dengan melangkah mundur sedepa sehingga lelaki tua itu hampir tersuruk dari kursinya.
“Ayah melarang kamu ke Ibukota Da-du semata-mata demi keselamatan kamu, A Xie,” urai Pangeran Yuan Ren Qing setelah membenarkan duduknya yang sedikit melorot dari ke kursinya. “Bukannya Ayah mengingkari janji. Bukannya Ayah mengekang hidup kamu.”
“Tapi, Ayah tidak adil!”
“Ayah akan mengabulkan apa saja permintaan kamu asal jangan permintaanmu untuk menyaksikan Festival Barongsai di Ibukota Da-du itu.”
“Kenapa?! A Xie bisa jaga diri. A Xie bukan anak kecil lagi, Ayah!”
“Semua suku bangsa di Tionggoan akan menghadiri Festival Barongsai tersebut, A Xie. Sangat tidak menutup kemungkinan akan terjadi kekacauan di sana-sini. Lagipula, pihak musuh, khususnya kaum pemberontak Han, pasti masih akan terus merongrong Istana. Jadi, sangat tidak aman bila kamu hadir di sana. Apalagi kamu adalah Putri, bangsawan Yuan yang dapat dijadikan sasaran empuk penjahat.”
“Jangan mengurai dalih, Ayah!”
“A Xie, tolong dengar Ayah. Sekali ini saja. Ayah sangat sayang sama kamu. Ayah tidak membatasi kebebasanmu. Tapi, situasi dan kondisi di Ibukota Da-du memang tidak aman, riskan dari bahaya. Setiap saat dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Setiap saat dapat terjadi pertempuran. Ayah hanya mengkhawatirkan keselamatan kamu jika tetap bersikeras berangkat ke Ibukota Da-du.”
“A Xie tidak peduli!” umpat Putri Yuan Ren Xie, bersikeras dengan keputusannya untuk berangkat ke Ibukota Da-du. “Pokoknya, A Xie harus pergi!”
“Ayah harap kamu dapat mengerti, A Xie.”
“A Xie juga berharap Ayah dapat menepati janji Ayah tadi!”
“A Xie….”
“Ayah jahat! Ayah pembohong!”
“A Xie….”
“Tidak peduli Ayah izinkan atau tidak, A Xie tetap akan pergi!”
“A Xie!” bentak Pangeran Yuan Ren Qing, sudah tidak mampu membendung kesabarannya. “Jangan keras kepala!”
Putri Yuan Ren Xie menderaikan airmata karena kesal dengan ultimatum ayahnya yang tetap bersikeras melarangnya menyaksikan pesta akbar Festival Barongsai di kawasan Istana, di Ibukota Da-du beberapa hari lagi. Ia berlari keluar dari balairung tanpa menghiraukan panggilan ayahnya lagi sesaat setelah menggabruk daun pintu.
Pangeran Yuan Ren Qing menghela napas panjang. Menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai bentuk keresahannya. Putri tunggalnya itu memang keras kepala. Mungkin ia sudah salah mendidik selama ini. Afeksi yang berlebihan darinya semasa kanak-kanak sampai sekarang terhadap putrinya telah membentuk sosoknya menjadi gadis manja. (blogkatahatiku.blogspot.com)