02 January 2014

FA MULAN (EPIK MAHARANA) 29


Oleh Effendy Wongso

Kaki-kaki kecilnya lincah menari
elok tubuhnya mengirama ditabuh rebana
namun merdu urung mengurai senyum sang jelita

Gerangan apa puan nan rupawan berdurja
dalam kemilau intan permata
dan mahkota bermute berlian
adakah cinta semekar yang-liu di istana naga?

Bao Ling
Elegi Putri Yuan Ren Xie

Foto: Dok KATA HATIKU
Pangeran Yuan Ren Qing memasuki balairung Istana Pangeran dengan rupa gerun. Suhu udara di Kiangsu yang mulai mendingin di penghujung musim semi malah menggerahkannya. Rencananya nyaris terbongkar. Untung jasus yang didelegasikannya untuk membunuh Bao Ling meninggal langsung saat pertarungan di sebuah hutan dalam perjalanan menuju pos pengawasan Tembok Besar. Kalau tidak, jasus yang tertawan dapat membuka mulut. Dan akibatnya, ia tahu sanksi apa yang akan dilakukan oleh Kakanda Kaisar Yuan Ren Zhan kepadanya. Hukum pancung!
Dihelanya napas galau.
Selama ini ia memang belum dapat menemukan orang-orang yang tangguh. Strateginya untuk merebut kekuasaan dari tangan kakaknya agaknya mesti dipikirkan matang-matang. Jangan sampai rencananya itu terbongkar sebelum ia dapat menduduki Kursi Tunggal Sang Naga di Istana Da-du.
Apalagi setelah meledaknya pemberontakan Han pimpinan Han Chen Tjing di Tung Shao dan perbatasan Tembok Besar, Kakanda Kaisar Yuan Ren Zhan jadi lebih mawas dan hati-hati. Tentu pengawalan Istana Da-du akan semakin diperketat dengan hadirnya prajurit-prajurit dan pengawal-pengawal tangguh.
Untuk itulah ia mesti bersikap sabar, menunggu perkembangan berikutnya. Menurut data intelijen Yuan, jasus-jasus Han yang dikoordinir oleh mantan Jenderal Shan-Yu telah menyusup ke dalam Istana Da-du untuk membunuh Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia berpikir, ada baiknya dua pihak itu saling menghancurkan sebelum ia mengambil alih kekuasaan dari tangan kaisar.
Hal itu jauh lebih mudah ketimbang ia harus mengkudeta kakaknya tersebut. Lagipula, kekuatan militer pengikutnya belum menunjukkan eksistensi dapat mengalahkan militer sahih Yuan pimpinan Jenderal Gau Ming dan Perdana Menteri Shu Yong. Selain itu, militer Yuan telah memiliki beberapa prajurit berdedikasi tinggi seperti Fa Mulan dan Shang Weng yang berasal dari Kamp Utara. Kehebatan kedua orang itu telah ia dengar jauh-jauh hari sesaat sebelum kemenangan gemilang mereka menggagalkan pemberontakan Han di Tung Shao.
Saat ini ia memang harus bekerja keras bila hendak menduduki takhta tertinggi di Tionggoan. Satu-satunya cara yang paling tepat agar memuluskan langkahnya ke puncak kekuasaan adalah, menyingkirkan satu per satu orang-orang kepercayaan Kakanda Kaisar Yuan Ren Zhan. Salah satunya adalah Perdana Menteri Shu Yong dan Prajurit Kurir Bao Ling yang cerdas. Sebab mereka merupakan kekuatan utama Kakanda Kaisar Yu-an Ren Zhan.
Sementara itu, Jenderal Gau Ming sendiri belum dapat dianggap berbahaya karena eksistensi militer Yuan yang dipimpinnya selama ini mengalami pasang-surut. Keberhasilan menumpas pemberontakan Han pun bukan karena andil orang tua itu. Jadi jika menilik sepak terjangnya, jenderal tua itu memang bukan merupakan kendala besar kendati ia sangat terbantu oleh kecerdikan Fa Mulan di garda depan pertempuran.
Ia duduk di salah satu kursi.
Menggabruk tanpa sadar meja kecil persegi di sampingnya sampai cawan perak yang berisi teh hijau di sana atasnya meriak nyaris tumpah. Beberapa pengikutnya yang sedari terdiam terlonjak kaget. Mereka masih berdiri dengan sikap menundukkan kepala.
“Tidak becus! Semuanya tidak becus!”
Pangeran Yuan Ren Qing menatap satu per satu wajah yang menekuk itu. Belum ada yang berani angkat suara untuk mengemukakan sanggahan atas amarah pemimpin mereka tersebut. Zhung Pao Ling gagal mengeksekusi Bao Ling yang menjadi target pelumpuhan kaki-tangan Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia malah terbunuh dalam insiden pertarungan itu. 
“Kalian yang berjumlah puluhan orang tidak dapat mengalahkan satu orang?! Hah, kalau menangani hal-hal kecil seperti itu saja tidak bisa, bagaimana mungkin kalian dapat membantu saya mengambil alih kekuasaan dari tangan Kaisar Jumawa itu?! Huh, benar-benar tidak becus. Apa keistimewaan Prajurit Kurir Bao Ling sehingga kalian seperti mati kutu begitu?!” geram Pangeran Yuan Ren Qing, menggabruk meja sekali lagi. “Saya kecewa terhadap kalian! Sangat kecewa!”
Seorang pendekar berikat kepala bulu domba tampak maju satu kaki dari tempatnya mematung tadi. Ia mengepalkan tangannya ke depan, menghormat dengan mimik ragu.
“Maafkan kami, Yang Mulia” tuturnya. “Tapi kami sama sekali tidak menyangka kalau ilmu silat Bao Ling setangguh itu.”
“Saya tidak ingin mendengar alasan ketidakmampuan kalian menaklukkan orang kepercayaan Jenderal Gau Ming itu!” sembur Pangeran Yuan Ren Qing, sontak berdiri dari duduknya. Menyeret kakinya dengan langkah berat, mendekati pendekar yang mendalih atas kegagalan mereka membunuh Bao Ling. “Saya tidak mau tahu bagaimana dan apa cara kalian menghadapi orang itu. Yang saya inginkan hanya satu. Enyahkan orang itu!”
Pendekar itu terdiam, kembali menundukkan kepala setelah sesaat mengangkat muka ketika mengurai alasan barusan. Ia mundur kembali pada barisan yang menjajar rapi di hadapan sang Pemimpin. Enam pendekar lainnya yang berseragam merah bata tampak kikuk. Sesaat bahkan seolah menahan napas yang keluar dari lubang hidung mereka.
Pangeran Yuan Ren Qing berjalan kembali menuju kursinya setelah mengibaskan jubahnya dengan satu entakan keras, jelas merupakan aplikasi kemarahannya yang belum surut dari ubun-ubun.
“Kalian tahu, apa akibatnya seandainya Zhung Pao Ling tidak mati tapi tertawan?!” gusarnya setelah duduk kembali di kursinya. “Apa jadinya seandainya dia membuka mulut?! Apa kalian semua ingin dipenggal?! Rencana kita kacau! Kacau! Bao Ling pasti akan mencari tahu, untuk apa Zhung Pao Ling hendak membunuhnya! Sekarang dia pasti akan mencari siapa dalang yang menyuruh Zhung Pao Ling membunuhnya! Hal tersebut pasti akan dilaporkannya kepada Jenderal Gau Ming. Lalu, sebentar lagi pasti berita tersebut akan sampai dan terdengar di telinga KaisarJumawa itu.”
Suasana senyap menyelubungi ruang pertemuan pangeran. Dari sinilah awal mula mufakat mereka untuk menghabisi satu per satu prajurit-prajurit berdedikasi Sang Kaisar. Rencana tersebut sudah dianggap matang setelah konsentrasi Kaisar Yuan Ren Zhan dan beberapa atase militernya terburai oleh pemberontakan Han yang terjadi di Tung Shao serta beberapa kaum nomad Mongol di perbatasan Tembok Besar. Dibiarkannya kekuatan Yuan dan kubu pemberontak Han beradu sehingga melemah. Dengan begitu, ia dapat memanfaatkan situasi tersebut sebagai taktik titik lemahnya kekuatan Kaisar Yuan Ren Zhan.
Pangeran Yuan Ren Qing ingin mengail di air keruh!
Namun ada sesuatu yang tidak disangka-sangkanya. Jauh dari prakiraannya yang semula. Pertempuran di Tung Shao ternyata dimenangkan oleh pasukan Yuan berkat kecerdikan Fa Mulan. Sementara itu kekuatan Yuan juga berangsur menguat berkat bantuan pihak Barat yang menjual meriam-meriam mereka kepada Kaisar Yuan Ren Zhan. Hal tersebut memang tidak lepas dari andil besar Perdana Menteri Shu Yong yang berhasil melobi salah seorang atase militer Inggris di London, Sir Arthur Jonathan. Berkat andil perdana menteri Yuan itu pulalah, militer Yuan memiliki pasukan dari divisi baru yang sangat tangguh dan ampuh menaklukkan pemberontak Han.
Kendati demikian, rencana Pangeran Yuan Ren Qing untuk merebut takhta dari tangan kakak kandung-nya masih tetap akan dilaksanakan. Apa pun yang terjadi. Kegagalan beberapa hari lalu saat jasusnya gagal mengeksekusi mati Bao Ling, tidak mempengaruhi niat dan ambisinya. Ia tetap akan menggulingkan kepemimpinan Kakanda Kaisar Yuan Ren Zhan secara klandestin.
Beberapa saat lamanya Pangeran Yuan Ren Qing memangu dengan benak yang terbebat masalah. Bawahan dan pengikutnya, pesilat-pesilat Kiangsu yang vulgar dan batil masih juga mematung. Dan tak sepatah kata pun meluncur dari bibir salah satu di antara mereka.
“Ah, sudahlah, Wu Kuo!” seru Pangeran Yuan Ren Qing kepada pemimpin pendekarnya, kali ini lebih melunak. “Bawalah orang-orangmu untuk kembali melakukan rencana kita. Saya harap kalian tidak akan gagal lagi!”
Wu Kuo yang bertaucang dengan bandana bulu domba itu maju sedepa dari tempatnya berdiri. Tangannya kembali terangkat dan mengatup di depan wajahnya. Kali ini pula sikapnya sedikit lebih tegas dan tegap setelah sedari tadi berdiri dengan lunglai.
“Siap, Yang Mulia. Hamba akan melaksanakan amanat Yang Mulia dengan sebaik-baiknya. Demi kejayaan kita semua!”
Pangeran Yuan Ren Qing mengangguk tanpa memandang ke arah pesilat-pesilatnya, eksekutor rencana pelbagai pembunuhan pengabdi-pengabdi tangguh Kaisar Yuan Ren Zhan. Ia hanya menggerakkan tangannya mengaba sebagai tanda supaya mereka boleh pergi meninggalkan balairung. (blogkatahatiku.blogspot.com)