11 January 2014

EKA FIRMAN ERMAWAN

GOLF MELATIH KESABARAN

Foto: Ahmad Alia
“Main golf itu melatih kesabaran, kita harus dalam kondisi tenang,” ujar Direktur PT Trans Kalla, Eka Firman Ermawan saat ditemui beberapa waktu di kantornya, Lantai 1 Trans Studio Mall (TSM), Jalan HM Patompo, Metro Tanjung Bunga, Makassar.
Dalam pandangannya, Eka, demikian panggilan akrabnya, golf adalah olahraga ringan yang sangat membutukan konsentrasi, ketenangan, dan kesabaran. Kalau lagi marah, kita tidak akan bisa main golf,” tegasnya.
Pasalnya, olahraga satu ini membutuhkan ketelitian yang bertumpu pada kekuatan dan ketepatan tangan dalam memukul bola. Jika marah, emosi yang tidak terkontrol akan menyebabkan pula tidak terkontrolnya tangan dalam memukul bola, bisa saja terlalu keras atau sebaliknya.
Di lain pihak, pria kelahiran Semarang, 18 Juli 1971 ini senang bermain golf karena suasana keakraban yang terjalin di dalamnya. Selain itu, ia banyak bersilaturahmi dengan rekan bisnis saat bermain golf. Menurutnya, silaturahmi adalah langkah awal untuk menjalin relasi.
Pria yang pernah berkarier di Hotel Aryaduta Makassar ini pernah melancong ke Perth, Australia, demi memuaskan hobinya ini. Kota yang memiliki kurang lebih 40 padang golf ini pernah menjadi daerah sasarannya, apa lagi kalau bukan untuk menjajal kemampuan golfnya. Namun, jujur Eka menggatakan bahwa Indonesia adalah tempat terbaik untuk bermain golf.
“Beberapa fasilitas yang disediakan di lapangan golf Indonesia tidak disediakan di Australia. Salah satunya adalah ‘caddy, perempuan cantik yang siap mendampingi dan melayani kebutuan para pemain golf saat sedang berada di lapangan hijau,” ungkapnya.
Ayah dari A Raka Zareza, A Keyza Ratu Audria, dan A Marsal Sari bunga ini mulai bermain golf sejak 2001. Diceritakannya, ihwal pertama kali menyenangi permainan golf saat menjadi kontraktor bersama dengan pemimpin Pertamina. Namun sejak menjabat sebagai direktur TSM di  2009, kesibukan memaksanya untuk menghentikan hobinya sementara waktu.
Namun alumni International Hotel Management di Institute Lucerne, Swiss ini berencana akan menggeluti kembali hobinya memukul bola putih dengan stick tersebut. Kendati demikian, terkait dengan permainan golf yang dilakoninya selama ini, Eka berkata jujur jika dirinya belum pernah melakukan “hole in one”.
Saya belum pernah melakukan hole in one. Prestasi hole in one ini adalah faktor keberuntungan si pemain,” ungkap suami Endang Palupi ini.
Meski tidak pernah melakukan hole in one, atau menorehkan prestasi di olahraga yang dianggap elite ini, akan tetapi Eka mengakui mendapat satu hal mendasar, yakni filosofi yang tersirat dalam permainan golf.
“Golf mengajarkan kita untuk bersabar, cermat, dan bijaksana dalam mengambil langkah. Golf juga membutuhkan konsentrasi yang tinggi,” akunya.

Filosofi Golf
Eka mengakui jika filosofi golf banyak diterapkannya saat menunaikan kariernya di TSM dan Trans Studio Theme Park TSTP. Pasalnya, untuk mengembangkan bisnis yang berada di bawah naungan CT Corp ini, tidak hanya diperlukan loyalitas dan integritas kepada perusahaan, namun juga visi yang visioner.
“Tentunya tidak mudah membangun sebuah perusahaan entertainment di daerah luar Jakarta atau Pulau Jawa. Dulu, sebelum TSM dan TSTP berdiri di Makassar, kami memang sempat mendapat nada pesimistik, bagaimana mungkin dapat berdiri sebuah bisnis hiburan kelas AB di kawasan timur Indonesia,” ungkap Eka.
Kendati demikian, ia mengatakan TSM dan TSTP tetap dibuka di Makassar karena manajemen di bawah kepemimpinan Chairul Tanjung telah melihat prospek yang menjanjikan di Makassar ini. “Kita tetap jalan, dengan konsep visioner yang telah kita pikirkan matang-matang. Ya, ini juga mengenai beleid zonasi yang telah kita antisipasi sehingga tidak ada benturan antara pusat perbelanjaan modern dengan pasar tradisional.”
Ditambahkan, pihaknya bukannya membangun sesuatu tanpa “masterplan” yang matang. Buktinya, hanya dalam dua tahun, average TSM mencapai 99 persen, dan hal tersebut merupakan pencapaian yang luar bisa. “TSM yang berbasis bisnis di kelas AB, yang menyasar segmentasi menengah dan atas, bukan saja telah menjadi salah satu ikon yang ada di Kota Makassar, akan tetapi juga di wilayah timur Indonesia.
TSM juga, urai Eka, adalah pusat perbelanjaan kelas dunia, terdiri dari lima lantai dengan area seluas 55 ribu meter persegi, dilengkapi tiga atrium yang menakjubkan. Di sini bisa dijumpai pilihan merek fashion ternama dunia seperti Mango, Hugo Boss, Prada, Aigner, dan pilihan produk elektronik untuk kebutuhan gaya hidup terkini. Juga menawarkan beragam pilihan restoran dalam Gourmet Imporium, yang menjadikan TSM sebagai tujuan wisata kuliner terlengkap, selain menjadi tujuan wisata hiburan.
Disinggung mengenai keberadaan TSM mapun TSTP yang merupakan proyek tendensius, alumni SMA Negeri 1 Makassar ini menampik, dan mengatakan bahwa mal dan pusat perbelanjaan modern merupakan konsekuensi logis sebuah kota metropolitan. Diakui, pendirian TSM dan TSTP sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang giat dilakukan pemerintah.
“Hal itu terbukti dengan adanya pembangunan berbagai fasilitas, mulai bandar udara kategori internasional, terminal angkutan darat, pelebaran jalan, sarana akomodasi, hotel hingga tempat pertemuan,” paparnya.
Pembangunan infrastruktur tersebut, sebut Eka, secara langsung memberikan dampak yang luar biasa bagi perekonomian warga. “Kehadiran TSM maupun TSTP menyerap banyak tenaga kerja lokal. Hampir semua tenaga lokal dipekerjakan di sini.”

Tips Memilih Stick Golf
Banyak  pemain golf kelas amatir atau professional yang merasa tidak cocok atau kurang puas terhadap stick golf miliknya, sehingga banyak menghabiskan uangnya untuk membeli stick golf lagi.
Menurut Eka, faktor penyebabnya biasanya adalah bentuk dan jenis material stick golf. Bila Anda baru bermain golf dan ingin membeli stick golf, maka Anda harus mempertimbangkan jenis material, bentuk, sweetspot, loft, pertimbangan harga, MOI, dan lain-lain,” sebutnya.
Namun buat pemain golf profesional, tambahnya, biasanya yang jadi pertimbangan adalah shaft (kelenturan, torque, kickpoint), swing weight, dan loft (terutama untuk driver)/iron loft biasanya sudah standar.
Pegolf Indonesia biasanya tidak peduli berapa kecepatan ayunannya atau swing speed-nya, karena tidak tahu manfaatnya. Padahal, swing speed berhubungan dengan pemilihan shaft. Swing speed dapat dicek melalui alat Vector Pro Launch Monitor. Orang Indonesia biasanya memiliki swing speed sekitar 70 sampai 110 Mph,” terangnya.
Selain itu, urai Eka, seorang pemain golf juga harus tahu ukuran berat bandul stick atau swing weight yang cocok dengan dirinya. Ukuran swing weight sebuah stick golf diukur dengan alat eight balancer, kemudian diberi tanda nilai dengan huruf C, D dan E, kemudian  dihitung mulai dari angka nol sampai sembilan.
Menurutnya, swing weight yang baik hanya bisa dirasakan oleh pemain golf itu sendiri, yaitu ketika sudah merasa cocok atau nyaman dengan berat stick pada saat diayunkan.
Selain itu, ada dasar ukuran untuk pergeseran swing weight di mana seorang pemain golf  harus mempunyai pegangan swing weight driver miliknya. Jadi, bila pukulan kacau karena stick terasa terlalu ringan atau berat maka tinggal dinaikkan atau diturunkan satu level,” pesannya.
Bagi pegolf pemula, Eka mekomendasikan untuk menggunakan driver dengan loft antara 10,5 sampai 13 derajat, karena sulit untuk memperoleh hasil yang stabil dan maksimal bila menggunakan driver dengan sudut yang kecil. (blogkatahatiku.blogspot.com)