03 January 2014

DAHLAN DAHI

NAKHODA TANGGUH DI BALIK SUKSES TRIBUN TIMUR

Foto: Pribadi
Menjadi wartawan adalah pilihan hidupnya. Hal itu diungkapkan oleh pria bersahaja yang humanis dan low profile, Dahlan Dahi. Disambangi beberapa waktu lalu di kantor Tribun Timur, Jalan Cendrawasih, Makassar, orang nomor satu di jajaran redaksi yang berhasil membawa Tribun Timur sebagai koran nomor satu di Makassar ini menceritakan sedikit idealisme dan kecintaannya terhadap dunia jurnalistik.
Sebelum menempati posisi sebagai pemimpin redaksi di Tribun Timur, pria kelahiran 4 April 1971 ini sudah menentukan pilihannya menjadi seorang wartawan sejak bergabung di koran kampus Identitas, sebuah wadah pembelajaran menjadi seorang jurnalis di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.
Berkecimpung di dunia wartawan dimulainya sejak duduk di bangku kuliah semester awal, meski sejak masih di bangku SMA ia telah berangan-angan menjadi seorang wartawan.
“Selama satu tahun kuliah di Unhas, saya akhirnya  memutuskan untuk menjadi wartawan. Dunia saya adalah wartawan dan  mulai fokus menjalani  profesi menjadi seorang jurnalis. Bagi saya fokus adalah hal terpeting, kalau tidak punya tujuan maka sama halnya dengan  membuang-buang waktu,” jelasnya.
Ditambahkan, semua peluang untuk menjadi seorang wartawan pun dijalaninya, mulai dari menjadi wartawan kampus sampai akhirnya memutuskan bergabung di salah satu koran harian di Makassar, yang sekarang dikenal sebagai koran Berita Kota.
“Saya belajar lebih cepat, secara kejiwaan lebih cepat matang serta mulai banyak tahu tentang dunia dengan lebih luas. Akhirnya, sehari mengumpulkan lebih dari satu berita membuat saya terbiasa dalam menjalani pekerjaan lapangan seperti itu. Saya begitu menikmati pekerjaan yang saya lakoni,” ungkapnya.
  
Bertugas di Irak
Kecintaannya terhadap dunia jurnalistik, bagi ayah dua orang anak ini, dibuktikannya dengan tetap mengemban tugas berat yang diamanatkan kepadanya, yakni meliput berita di daerah konflik Irak.
“Suatu saat saya pernah ditugaskan untuk pergi meliput di daerah konflik Irak, sebuah daerah yang belum saya kenal, tak ada siapa pun yang saya kenal, dan bahkan sempat mempertaruhkan nyawa,” beber suami dari Ulfiati Dahlan ini.
Namun demikian, diakuinya, meskipun begitu banyak pengalang untuk meliput di daerah konflik tersebut, tidak lantas menyurutkan nyalinya untuk tetap pergi ke Irak. Bukan pesoalan bahasa melainkan kompetensi menembus narasumber dan menggali fakta. Tidak ada rasa takut dan bimbang meski harus meliput di tengah konflik yang membahayakan nyawanya.
“Saya justru  merasa semua orang yang ingin menjadi wartawan itu adalah tempat “klimaks”, artinya  jika harus mati di tempat itu maka hal ini adalah tempat mati yang diidamkan oleh seorang jurnalis,” kenangnya.

Dedikasi
Ketulusan, keuletan, dan keberanian yang dimiliki Dahlan membawanya menjadi seorang pemimpin redaksi. Baginya, menjadi seorang wartawan tidak hanya belajar mencari berita, menulis berita, serta melaporkan berita, akan tetapi dibutuhkan keterampilan.
“Itu adalah hal yang sulit, di mana kita harus mengutamakan keberpihakan kepada orang banyak, serta kepedulian terhadap urusan di luar diri sendiri. Seorang wartawan harus netral untuk menemukan kebenaran, seorang jurnalis juga harus netral terhadap objek dan hal itu adalah hal tersulit yang harus dimiliki seorang jurnalis dalam mengolah sebuah berita,” tuturnya.
Menurutnya, jika sudah memutuskan tentang jalan hidup, maka seseorang harus berusaha semaksimal mungkin. Intinya, membangun karier di mana pun seseorang harus  mencintai pekerjaan yang dipilihnya.
“Hal itulah yang selalu saya tanamkan dalam diri saya. Karena saya mencintai pekerjaan saya sejak bangku kuliah sampai sekarang, dan tidak pernah menyesal memiih jalan ini. Pada dasarnya faktor psikologi mempengaruhi hasil sebuah pencapaian. Pekerjaan apa pun yang akan dilakukan, siapkan mental psikologi dan aspek intelektuanya, serta tanamkan ‘need for achievment’, suatu motivasi dalam diri sendiri untuk meraih sukses dan mampu menemukan dorongan untuk menjadi yang terbaik,” ujarnya.
Dalam memimpin harian Tribun Timur, pria karismatik ini selalu memberi motivasi kepada semua wartawan di Tribun Timur, tidak sekadar pengetahuan teknik belaka. Sejak menjadi pemimpin redaksi, Dahlan mengakui pekerjaan terberat seorang pemimpin bukan memberi perintah, melainkan memberi teladan kepada karyawan.
Alhasil, “nakhoda tangguh” yang berhasil membawa Tribun Timur sebagai koran nomor satu di Makassar ini senantiasa berupaya untuk menjadi teladan bagi orang lain. (blogkatahatiku.blogspot.com)