22 January 2014

Cinta di Horizon Baur

BLOGKATAHATIKU/EFFENDY WONGSO

Cinta di Horizon Baur
Oleh Effendy Wongso

BLOGKATAHATIKU - Dari dek yang paling atas, Andi Mariana Rosanti Petta Padjalangi melepaskan pandangannya ke bawah dengan rasa puas. Dihirupnya dalam-dalam bau laut yang sudah terasa memasuki gerbang pelabuhan tadi. Hm, segar! gumamnya dalam hati. Dia pun tersenyum sendiri. Lihat laut, sekonyong-konyong dia dihadapkan kembali ke masa kanak-kanaknya. Waktu dia masih kecil, Tatta, sebutan ayah bagi bangsawan Bugis Bone, selalu mengajaknya ke Pelabuhan Bajoe, Watampone. Di sana, Tatta biasanya mancing ikan. Dan dia sendiri yang memegang keranjang kecil hasil tangkapan ikan Tatta. Uh, mengasyikkan sekali.
Ngung....
Riana terkesiap. Pluit kapal yang nyaris menulikan pendengarannya itu membuyarkan semua lamunan masa kecilnya. Dirapatkannya jaket pemberian Bram kemarin. Dielus-elusnya jaketnya kemudian. Dia teringat Bram....
"Untukmu, Riana." Cowok bermata sipit itu mengangsurkan sebuah kotak lebar persegi padanya. Kemarin sore, saat dia sedang berkemas-kemas.
"Apa ini?" Dia bertanya dengan mata yang membola. "Duh, Bram. Kan, aku tidak pergi selamanya. Cuma melepas kangen saja sama orang rumah di Watampone. Jadi kamu tidak usah pakai acara ngasih-ngasih apa-apa segala."
"Eit, jangan bilang kamu tidak mau menerimanya." Bram menyergah sembari mengurai senyum tipis.
"Kamu...."
"Sudahlah, Riana. Buka saja."
Dengan berat hati, dia akhirnya menerima kotak itu. Bram memang baik. Entah dia harus membalas pakai apa atas kebaikannya itu. Dua tahun diakrabinya sepotong hati yang sungguh-sungguh tulus mencintainya.
Hatinya berbeban.
Bram tidak tampan. Bodinya gembrot. Matanya sipit. Tapi, hatinya baik. Perhatian-perhatian yang sekecil apa pun, yang kerap ditujukan padanya membuatnya bertekut lutut, dan hal tersebut pulalah yang menjadi daya tarik Bram di matanya. Diakuinya, dia tidak kuasa menolak ketika Bram mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.
Kotak itu perlahan-lahan dibukanya. Dan dia tidak pernah dapat menerka apa yang diberikan Bram padanya. Cowok itu selalu bikin surprais. Pada ulangtahunnya yang ketujuhbelas lalu, Bram menghadiahinya sebuah liontin emas berbentuk bintang. Uh, betapa bahagianya dia saat itu. Dan, entah dia harus mengucapkan apa sebagai ungkapan terima kasihnya yang dalam. Sebab dia tahu, untuk membeli kalung itu, Bram pasti banting-tulang kerja serabutan di mana saja!
"Bram, ka-kamu...."
Memang, pemberian Bram kali ini pun sama sekali tak terduga-duga. Sebuah jaket coklat bertulis NBA besar-besar di belakangnya. Wow, jaket itu entah sudah wara-wiri beberapa ratus kali di pelupuk matanya. Dan untuk saat tertentu hanya dapat menjadi bagian dari skenario mimpinya.
Namun kini, tanpa disangka-sangka Bram mengejawantahkan mimpi-mimpinya tersebut menjadi kenyataan. Jaket kulit mahal senilai setahun uang kosnya di Jakarta itu menjadi miliknya sekarang!
"Sudahlah, Riana. Anggap saja jaket ini sebagai aku, yang setiap saat melindungi dirimu dari dingin."
"Te-terima kasih, Bram!"
Segalanya yang terbaik untukmu. Itu yang selalu dikatakan Bram padanya. Bram tidak peduli seandainya kuliahnya tertinggal lantaran bekerja siang-malam. Mengumpulkan uang demi uang untuk membeli jaket yang, sudah lama dingileri Riana. Dia tahu Riana naksir jaket tersebut. Makanya, tanpa sepengetahuan Riana dia bekerja. Dan, alhasil jaket itu dipersembahkan untuk Riana saat dia ingin pulang ke Watampone.
Ngung....
Riana kembali terkesiap. Kapal sudah akan berangkat. Riuh suara para pengantar berbaur dengan bunyi pluit kapal membahana mewarnai Pelabuhan Tanjung Priok. Sayang Bram tidak dapat mengantarnya. Mendadak dia ada tentamen sore hari itu di kampus.

***

Hai, Anda...." Ada suara cowok yang terdengar di sampingnya.
Riana menoleh. "Panggil saja nama saya, Riana," sahutnya santun. Dia paling tidak suka berformil begitu. Pakai, 'Anda-Anda'. Kesannya kaku.
Cowok berbadan atletis itu terlihat sedikit rikuh. Hanya sebentar, karena pada tindak berikutnya dia sudah mengusai suasana. Diulurkannya tangannya di bawah peruat Riana. "Oo, kenalkan, nama saya Rio. Rio Matulessi."
 Riana menerima dan membalas jabatan tangan cowok berlesung pipi itu.
"Tujuan ke mana?" tanya Rio simpatik.
"Makassar."
"Kita sejurusan, dong!" lonjak Rio spontan, kembali mengangsurkan tangannya. Kali ini ke muka hidung Riana, bermaksud ngetos.
Riana tertawa melihat tingkah lucu Rio.
Sementara itu KM. Umsini bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan. Lima menit kemudian cakrawala telah menjingga. Sekelebat camar-camar berterbangan di latar horizon. Ada bola merah yang tenggelam separo ke laut barat. Indah sekali. Dan, sebentar lagi semuanya akan menjadi gelap. Dingin angin laut sudah terasa menggigit. Namun Riana betah di luar. Rio, kenalan barunya itu pandai membawanya ke suasana yang menyegarkan. Ceritanya asyik-asyik.
Sepuluh menit pun berlalu. Gelap. Kapal sudah bergerak cepat. Melaju membelah ombak di laut lepas.
"Kamu kedinginan?" tanya Rio prihatin. "Masuk, yuk?"
Riana mengangguk. Bareng Rio, diseretnya langkahnya ke arah tangga turun menuju kamarnya yang berada di sisi utara dek lima, setelah sepakat untuk bertemu kembali dengan Rio di tempat yang sama sehabis santap malam nanti. Rio mengantarnya sampai di muka pintu kamarnya. Lalu cowok tampan itu melangkah menuju kamarnya di kelas tiga dek empat.
Di kelokan koridor, punggung Rio tiba-tiba berganti dengan wajah Bram di matanya. Cowok yang mengakrabi hari-harinya itu berdiri terpaku dengan tatapan yang mengguratkan kepedihan. Dikerjap-kerjapkannya matanya. Tidak ada Bram dengan tatapan ganjil di ujung koridor sana. Yang ada hanya sosok Rio yang menirus lantas menghilang di kelokan koridor. Cuma ilusinya.
Sebongkah galau menyesaki dadanya. Kedekatan yang tercipta barang sekejap bersama Rio tadi menggamangkan hatinya. Ada sesuatu yang seperti runtuh berderai di hatinya. Kesetiaan! Ya, kesetiaan yang sekian lama selalu ditumbuh-mekarkannya, kini layu perlahan-lahan. Tanpa disadarinya ada gejolak lain yang mengaliri nadinya. Selama ini hari-hari bersama Bram terasa menjenuhkan. Monoton. Tak ada gairah baru yang mengkaribinya. Cowok itu hampir-hampir tidak punya waktu lagi bersamanya. Dia sibuk dengan kuliahnya. Juga kerjanya yang, seolah-olah tidak ada habis-habisnya itu. Namun, Bram setia kepadanya. Dan itu membelenggunya.

***

Petugas telah memberitakan bahwa kapal akan transit di Pelabuhan Tanjung Perak kurang lebih satu jam lagi. Seperti biasa, sehabis bersih-bersih dan berdandan sedikit, Riana pasti keluar dan naik ke dek tujuh. Menghirup udara laut sembari ngobrol bareng Rio. Tadi malam sebelum mereka beranjak ke kamar masing-masing, mereka sepakat untuk bertemu kembali di sana.
Riana keluar dari kamarnya ketika dia berpapasan dengan Yuli, teman sekelasnya di SMA Al-Azhar Jakarta.
"Lho, kok di sini?" Kalimat itu nyaris bersamaan keluar dari bibir Riana dan Yuli.
"Wow, dunia ini memang sempit ya?" teriak Riana sembari merangkul tubuh jangkung Yuli.
"Aku kangen sama orang rumah," Yuli menjawab alasannya untuk pulang ke kampung halamannya di Palu. "Kalau kamu?" Yuli kini yang bertanya, dengan alur pertanyaan yang sama.
"Sama."
Mereka pun bersamaan ke dek atas. Di sana mereka ngobrol sepuas-puasnya sembari menunggu Rio yang belum datang.
"Hai, girls." Tiba-tiba Rio memotong obrolan Riana dan Yuli dengan kalimat cueknya. "Sudah lama menunggu, ya?"
 "Belum," Riana menggeleng dengan binar mata riang. Bibirnya mengembang membentuk senyum senang.
Dia pun memperkenalkan Yuli kepada Rio. Mereka mengobrol sebentar. Lalu Rio mengajak kedua gadis itu ke kafetaria di dek enam. Ngobrol sembari menikmati secangkir teh atau kopi tentulah lebih mengasyikkan.

***

Riana sedang merapikan barang belanjaannya di dalam travel bag-nya ketika Yuli masuk ke kamarnya.
"Belum tidur, Yul?"
Yuli menggeleng. Duduk di bibir ranjang Riana. Di sana, dia duduk mematung sembari melepaskan pandangannya ke seorang ibu tua yang sudah mendengkur di ranjang sebelah. Seorang ibu lainnya, lebih muda, tampak kepayahan menenangkan anaknya yang rewel dan cengeng. Seluruhnya hanya ada empat penghuni di kamar Riana, dari delapan ranjang yang tersedia.
"Riana...."
"Apa?" Riana memasukkan belanjaan terakhirnya. Dia bertanya tanpa mengangat muka.
"Rio...."
"Dia baik, kan?"
Yuli menghempaskan napasnya keras. Diambilnya bantal di ujung ranjang. Dipeluknya kemudian.
"Riana, aku pingin bicara."
"Silakan. Tidak dipungut bayaran, kok." Riana bangkit dari berjongkok di depan locker-nya.
"Tapi, tidak di sini," tukas Yuli cepat.
 Riana mendekat dengan dahi yang mengerut. "Ada apa sih, Yul? Kayaknya penting-penting amat?"
Yuli mengajak Riana keluar ke dek tujuh. Tempat dimana biasanya mereka bertemu. Sebetulnya Riana enggan. Sebab hari sudah sudah larut malam. Di koridor-koridor kapal sudah tidak apa siapa-siapa lagi selain penumpang kelas ekonomi yang terpulas di lantai. Namun diikutinya usul Yuli mengingat perbincangan mereka nanti mungkin dapat mengganggu istirahat penumpang lain di kamar.
"Riana...."
"Kok, kamu jadi aneh begitu sih, Yul?" Riana mulai tidak sabaran. Lagian, dia lupa mengenakan jaket lantaran keburu diseret sama Yuli.
"Sampai sejauh mana hubunganmu dengan cowok itu, Riana?" Yuli langsung ke pokok persoalan.
Alis Riana bertaut. "Maksudmu...?"
"Jangan pura-pura...."
"Pura-pura bagaimana?!"
"Aku kasihan sama Bram! Dia...."
"Kamu...."
"Habis manis sepah dibuang."
"Ka-kamu... kamu nyebelin, Yul!"
Yuli memalingkan mukanya. Bahunya bergetar. Sungguh, dia sama sekali tidak menyangka Riana begitu mudahnya terpikat oleh pesona Rio. Memang, jujur diakuinya kalau Rio jauh lebih tampan ketimbang Bram, kakak sepupunya.
"Sia-sia saja pengorbanannya selama ini," ujar Yuli, membuka pembicaraan setelah mereka terdiam beberapa saat lamanya tadi. Dia merasa bersalah karena memiliki andil yang tidak sedikit dalam hubungan kedua insan tersebut. Dialah yang berinisiatif mengenalkan Bram pada Andi Mariana Rosanti Petta Padjalangi.
Riana tersinggung. "Oo, aku tahu, kamu ternyata ada hati sama Rio. Lalu...."
"Aku tidak segampang seperti sangkamu!" Yuli memintas gusar.
Riana mendengus. Matanya memerah. "Salahkah aku kalau...."
"Kamu tidak salah," Yuli kembali memintas. "Tidak salah, dan berhak memadu cinta dengan siapa saja." Diteguknya ludahnya sedetik. "Tapi, Bram terlalu baik untuk kamu sakiti!"
Riana mengusap wajahnya. Dia tahu, kalau dia bersalah, itu karena selama ini dia membiarkan sebentuk rasa tumbuh di hatinya. Tapi, dengan begitu, paling tidak dia sudah jujur pada dirinya sendiri. Tidak membohongi perasaannya. Tidak dapat menutupi perasaannya kalau getar cinta Bram sudah tidak berdenting lagi di hatinya. Bayang Bram memudar dan berganti dengan seraut wajah yang lebih mempesona. Hatinya tak dapat berdusta. Meneguhkan bayang Bram, itu sama juga dengan menyiksa batinnya. Sungguh, dia tidak mampu!
"Memang, Rio lebih ganteng," cerocos Yuli dengan bibir yang menyeringai.
Riana diam. Kepalanya terkulai lemah.
"Bodinya oke. Macho lagi," timpal Yuli lagi. "Bram sih, tidak ada apa-apanya dibandingkan gacoan barumu itu. Bram sipit. Gemuk. Gembrot kayak panda...."
"Cu-cukup, Yul!" Riana menyergah. Airmatanya menitik. "Ja-jangan mengguruiku lagi!"
Yuli tertawa sinis. "Baik, baik. Aku akan berhenti mengguruimu. Tapi, camkan satu hal ini," diangkatnya telunjuknya, nyaris menyentuh wajah Riana. "Bram datang kepadamu dengan kesetiaan! Dan dia pernah bersumpah kepadaku untuk tidak akan mengecewakan kamu."
Dengan gerak gegas, Yuli pun berlalu dari hadapan Riana.
Airmata Riana menderas.

***

Riana sendiri tidak mengerti. Mengapa dia begitu cepat berpaling dari Bram. Padahal, Rio baru dikenalnya di atas kapal kemarin, dari Pelabuhan Tanjung Priok. Tiba-tiba saja dia sudah terpikat oleh pesona cowok itu. Dan, jatuh cinta padanya!
Rio humoris banget. Ramah dan bersahaja. Jadi apa salahnya kalau hatinya terpikat? Membohongi hatinya untuk tetap mencintai Bram mungkin dia bisa. Tapi, sampai kapan?!
Kemarin sewaktu kapal transit di Surabaya, Rio mengajaknya ke Pasar Turi. Rio simpatik banget. Ditraktirnya dia dan Yuli makan-makan. Dia juga tidak segan-segan membelikannya souvenir. Boneka Miki Tikus. CD musik Ungu Band. Gantungan kunci lucu. Serta krupuk babat berbungkus-bungkus. Dan selama kurang lebih empat jam waktu transit itu, Rio benar-benar bikin dia hepi. Lantas, atas dasar apa Yuli mencemburui hubungannya dengan Rio? Uh, Yuli sih memang begitu. Soalnya, dia pasti memihak saudara misannya!
Hari masih agak pagi. Dia memang sengaja bangun cepat-cepat. Terlambat dan kesiangan, itu berarti dia harus ikut barisan antri orang-orang yang hendak mandi. Sekarang, dia sudah bersih. Wangi. Hm, sebentar lagi Rio akan menyusulnya kemari.
Sambil menunggu Rio, Riana berjalan mondar-mandir di sekitar geladak. Sesekali berhenti, mengamati sepasang camar yang terbang rendah mengitari kapal. Dia tersenyum. Betapa bahagianya mereka. Bebas.
Ah, mungkin sudah saatnya kalau dia lepas dari Bram yang selama dua tahun belakangan ini seperti membelenggunya.

***

Riana membersihkan lengannya dari butir-butir halus garam ketika dilihatnya ibu tua yang tinggal sekamar dengannya berjalan ke tepi pagar dek. Di tangannya terlihat sekuntum bunga melati.
"Selamat pagi, Bu," sapa Riana ramah.
"Oh, Nak Riana. Pagi, pagi," balas ibu tua itu, menyembulkan secuil senyum di akhir kalimatnya.
Riana mendekat. Ibu itu tengah menabur bunga melati tersebut ke laut. Ada keharuan yang tergambar jelas pada sepasang mata kelabunya.
Riana mengernyit. "Ibu sedang...?"
Wanita berambut kelabu itu menarik napas panjang-panjang. Dipejamkannya matanya sesaat. Bibirnya bergetar samar.
"Ini kebiasaan Ibu setiap kali berlayar melewati Laut Masalembo, Nak Riana," jelas wanita tua itu sembari menyusut airmata yang menempel di sekitar pelupuk matanya.
"Untuk apa, Bu?" Riana bertanya. Dirapatkannya jaketnya. Lantas dia bersidekap tangan.
Wanita tua itu kembali menarik napas panjang-panjang. Dia berdeham sekali sebelum menjawab pertanyaan Riana.
"Dulu, dulu sekali, pada tanggal 27 Januari 1981, Kapal Tampomas II terbakar lantas tenggelam di Laut Masalembo ini," katanya, mengedarkan matanya kemudian ke bawah, ke laut. "Waktu itu, suami Ibu serta seorang putra Ibu sedang berlayar dalam kapal tersebut...."
Wanita tua itu tersedak, menangis sesenggukan. Disusutnya kembali leleran airmatanya dengan punggung tangannya.
"Sampai sekarang Ibu tidak tahu bagaimana nasib suami dan anak sulung Ibu itu. Mereka belum diketemukan. Tapi kemungkinan besar mereka memang sudah meninggal tenggelam. Atau... tewas terbakar! Ah, entahlah. Yang pasti kejadian tragis itu makin membuat Ibu tafakur, dan percaya akan kekuasaan-Nya."
"Mak-maksud Ibu?!"
"Tuhan itu Maha Penyayang, Nak Riana. Kejadian tragis di Laut Masalembo ini bukanlah malapetaka yang harus disesali. Itu bukan hukuman. Tapi, Ibu yakin itu merupakan suara rindu Tuhan buat kita. Tuhan menyayangi kita semua, umat-Nya. Bencana yang datang menimpa kita merupakan isyarat agar kita tidak alpa dari kebajikan. Agar kita sadar, dan tidak berpaling dari-Nya. Nah, Tuhan sudah menganugerahkan dan melimpahkan rahmat-Nya yang tak terkira, masakah kita tega berpaling?" urai wanita tua itu panjang-lebar. Kesedihan perlahan memudar dari wajahnya yang berkeriput. Dan dia tersenyum dengan sebaris giginya yang sudah mengeropos.
Riana seperti tersengat. Tubuhnya mengejang. Ada sesuatu yang menohok keras dadanya. Dia tersadar. Dan mendadak teringat Bram....
"... anggap saja jaket ini sebagai aku, yang setiap saat melindungi tubuhmu dari dingin."
Kalimat Bram berdenyar di kepalanya. Hatinya giris. Betapa setianya cowok itu. Kasih sayangnya yang besar dan pengorbanannya yang tak terkira itu nyaris dikhianatinya hanya dalam tempo dua hari. Menerima cinta Rio, dan meruntuhkan dinding kesetiaan yang telah dibangun Bram selama dua tahun. Ah, begitu kejamkah dirinya?!
Mata Riana mengabur oleh airmata. Dadanya sesak. Kerongkongannya perih. Mumpung semuanya belum terlambat. Dia harus belajar membangun kesetiaan seperti yang dilakukan Bram.
Ya, dia bertekad untuk itu.

***

EPILOG

Yuli

Aku benar-benar tidak tahu bagaimana jalan pikiran Riana. Tiba-tiba anak itu datang padaku, beramah-ramah. Katanya, "Yul, maafin aku, ya? Aku khilaf. Aku janji tidak bakal selingkuh dan ninggalin Bram lagi, deh."
Heh! Padahal, kemarin dia terlihat begitu lengket dengan cowok Ambon bernama Rio Matulessi itu. Seperti surat dan perangko saja! Lihat saja bagaimana mesranya mereka berdua saat di Pasar Turi. Bergandengan tangan seolah sudah pacaran seratus tahun lamanya. Baru juga kenalan di atas kapal, eh sudah main sabet saja! Gila tidak?!
Tauk, malaikat apa yang menyadarkannya untuk kembali ke Bram. Syukurlah. Bram terlalu baik untuk disakiti. Cowok itu kelewat lugu. Aku kasihan padanya. Semoga Riana gokil itu tidak macam-macam lagi.

Rio

Gadis aneh. Kemarin dia sudah menerima respek dariku. Buktinya dia senang kuajak jalan-jalan. Dia juga nampaknya sudah lengket sama aku. Kutunggu saat yang tepat untuk menyatakan cinta kepadanya, maka gadis manis itu pasti akan menjadi milikku. Entah, mungkin aku yang kegeeran atau dia memang bawaannya aneh. Sekarang, dia kayaknya selalu menghindari aku. Tidak tahu. Aku jadinya malas ngejar dia lagi. Habis, dia aneh, sih!
Tapi, eh, temannya yang bernama Yuli itu cantik juga, ya?

Riana

Aku tidak sabar menunggu kapal ini merapat di Pelabuhan Makassar. Sedari tadi kulirik jam tanganku. Lima menit lagi. Sial! Kenapa juga pulsa HP-ku kuhabiskan untuk sms-an bersama Rio? Mana di gerai kapal juga kehabisan lagi? Uh, lima menit kayak lima abad saja rasanya. Lagian, kok jarum jam ini malas banget bergerak?! Ayo, cepetan dong! Apakah tangga-tangga kapal sudah stand-by? Bagus. Rupanya mereka sudah menyiapkan tangga-tangga tersebut.
Oh, mudah-mudahan Bram belum berangkat kuliah. Mudah-mudahan dia mengaktifkan HP-nya. Aku harus cepat-cepat ke gerai handphone untuk mengisi pulsa....

Bram

Untung HP-ku tidak low-batt seperti kebiasaannya yang laten, maklum HP tua! Kalau tidak, aku pasti tidak bakalan menerima telepon dari Riana. Aku sempat kaget. Kupikir terjadi apa-apa terhadap dirinya. Soalnya dia bicara dengan terburu-buru dan napas tersengal-sengal. Tapi, ternyata dia cuma ngucapin empat patah kata saja:
"Bram, aku cinta kamu...."