16 January 2014

CERMAT MEMILIH INVESTASI

Foto: Effendy Wongso
Agaknya kecerdasan para investor mulai diuji kembali, sejauh mana mereka cermat memilih investasi yang riil dan nyata. Memang, setiap usaha memiliki tingkat risikonya masing-masing. Kendati demikian, risiko tersebut selaras dengan besaran dana yang dinvestasikan di mana ini sesuai kapabilitas value yang seimbang. Jadi adalah hal yang muskil dapat mengembangkan modal dalam kapasitas kapital dengan modal yang sangat kecil. Pasalnya, investasi bukan sistem gambling yang takarannya sangat tidak seimbang.
Dalam pasar finansial pun, initial public offering (IPO) atau penawaran umum perdana merupakan  nilai penjualan pertama saham umum sebuah perusahaan kepada investor umum. Perusahaan yang bergerak di pasar modal ini akan menerbitkan hanya saham-saham pertama, namun bisa juga menawarkan saham kedua. Biasanya perusahaan tersebut akan merekrut seorang bankir investasi untuk menjamin penawaran tersebut dan seorang pengacara korporat untuk membantu menulis prospektusnya.
Artinya, penjualan saham diatur oleh pihak berwajib dalam pengaturan finansial, dan jika relevan hal tersebut akan berlaku sahih dalam sebuah bursa saham. Biasanya hal ini menjadi sebuah persyaratan untuk mengungkapkan kondisi keuangan dan prospek sebuah perusahaan kepada para investor.
Secara umum, ini menggambarkan bahwa sekalipun dalam pasar modal yang terkesan bukan sektor riil, tetapi ada aturan main yang tegas sehingga para investor tidak dirugikan dan merasa ditipu oleh sebuah emiten. Akan tetapi, memang seyogianya investor sendiri perlu pandai-pandai memilah mana emiten kuat dan mana yang lemah. Untuk amannya, para pengamat pasar modal menyarankan untuk membeli saham-saham blue chip meskipun bisanya prospektifnya untuk jangka panjang.
Sementara itu, investor lokal yang bermain di sektor riil, investasi emas merupakan investasi praktis yang dapat dilakoni semua orang, mulai ibu rumah tangga hingga karyawan kecil sekalipun. Pasalnya, investasi di emas tidak memerlukan modal kapital, tergantung dana yang dimiliki seseorang. Jika dananya sedikit, mereka bisa bermain di emas perhiasan, tetapi jika mumpuni barulah bisa bermain di emas batangan yang lebih mahal.
Memang, terpuruknya nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) di 2013 barusan telah memberi sinyal bahwa ekonomi di tahun ini harus dilakoni dengan kerja keras. Apalagi, situasi ekonomi dunia yang belum pulih, ditambah rencana pemotongan stimulus oleh The Fed, serta ancaman kenaikan harga pangan, merupakan faktor-faktor eksternal yang dapat mengancam perekonomian Indonesia di tahun ini.
Masalah kian berat karena quatro deficits (defisit APBN, defisit neraca barang, defisit neraca jasa, defisit neraca transaksi berjalan) masih akan menghantui negeri ini. Kendati begitu, seberat apapun 2014 harus dijalani juga. Pemerintah dan BI masih optimis dengan menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8 persen hingga 6,2 persen dan tingkat inflasi 4,5 persen. Sementara Bank Dunia agak pesimistis dengan mematok pertumbuhan ekonomi 5,3 persen. Memang, tahun ini Indonesia akan menggelar pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu), di mana ini dapat menjadi momentum pelecut pertumbuhan yang berkontribusi menyumbang 0,13 persen hingga 0,19 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Harapan terhadap sumringahnya perekonmian nasional dapat diraup oleh para pengusaha lewat sektor valuta asing. Ada beberapa pilihan sebenarnya, salah satunya adalah menukarkan rupiah ke mata uang asing yang sedang menguat, di mana dolar jelas termasuk salah satu pilihan itu. Beberapa ekonom nasional memproyeksikan bahwa di tahun ini dolar masih akan bertengger di kisaran Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu.
Adapun deposito, jika tak ingin diganggu oleh fluktuasi mata uang dunia, berjangka dan tabungan bisa menjadi pilihan. Meski bunga masih akan tetap tinggi, namun likuiditas perbankan tahun ini diperkirakan tidak seketat 2013 lalu. Ini lantaran bank-bank tersebut mawas menganalisa terhadap pertumbuhan kredit perbankan yang bakal kerdil bila tetap memberlakukan regulasi yang memberatkan tersebut.
Artinya, besar kemungkinan suku bunga simpanan di 2014 akan sedikit menurun. Dengan demikian, jika ingin hasil besar pilihan deposito satu tahun atau berjangka panjang adalah pilihan yang bijak. Sementara untuk mengurangi risk, bank-bank badan usaha milik negara (BUMN) bisa menjadi pilihan. Memang dituntut kecerdasan untuk berinvestasi lantaran merupakan hidup-mati bagi para investor. (blogkatahatiku.blogspot.com)