18 January 2014

CEGAH MIGRASI GAS ELPIJI

DARI GAS 12 KG KE 3 KG

Foto: Effendy Wongso
Beberapa agen gas Elpiji menyatakan kekhawatirannya terkait kemungkinan langkanya pasokan gas tiga kilogram menyusul kenaikan harga Elpiji nonsubsidi 12 kilogram beberapa waktu lalu. Salah seorang penyalur produk Pertamina di Jalan Wahidin Sudirohusodo Makassar, yang enggan dikutip namanya, mengaku sempat agak kerepotan menghadapi migrasi massal dari pemakai gas 12 kilogram ke tiga kilogram yang lebih dikenal sebagai tabung gas melon.
“Masalahnya, yang jadi kendala selama ini tabung gas Elpiji tiga kilogram selalu kosong. Kita tidak enak sama pelanggan karena setiap hari mereka harus bolak-balik ke sini,” ujarnya.
Langkanya pasokan gas Elpiji tiga kilogram tersebut, sebutnya terjadi paling parah saat harga gas 12 kilogram menembus harga Rp 130 ribu selama Rabu (1/1/2014) hingga Senin (6/1/2014) barusan. Menurutnya, saat itu 300-an tabung gas tiga kilogramnya habis hanya dalam hitungan jam.
 “Biasanya, itu pasokan kita dalam sehari. Tetapi kemarin habisnya dalam hitungan satu jam,” beber wanita berdarah Tionghoa ini.
Akibatnya, ia terpaksa harus mencari alasan menjelaskan kepada konsumen tiga kilogram atas kondisi itu. “Saya mengaku kepada konsumen, pengiriman gas Elpiji subsidi tiga kilogram terlambat. Agak telat pengirimannya dari Pertamina. Ya, kita alasan begitu saja, biar konsumen tidak komplain,” jelasnya.
Sementara itu, salah seorang pengamat ekonomi dari kalangan akademika, saat dikonfirmasi di Makassar mengatakan mengapresiasi pemerintah yang merevisi kenaikan harga gas Elpiji tabung 12 kilogram.
Diungkapkan, banyak efek yang ditimbulkan bila tabung gas Elpiji nonsubsidi tersebut dinaikkan dengan harga semula, yakni Rp 3.959 per kilogram. “Pasti memicu inflasi, sebab dampaknya bagi perekonomian bisa mempengaruhi terjadinya kenaikan harga. Dampak lainnya terhadap masyarakat ekonomi lemah yang tidak bisa membeli tabung gas Elpiji jenis ini lagi dan akan beralih ke tabung gas tiga kilogram,” ungkapnya.
Menurutnya, konvergensi besar-besaran terhadap pengguna tabung gas 12 kilogram ke tiga kilogram dapat menjebol subsidi negara. Untuk itulah ia berharap agar pemerintah dapat membatalkan kenaikan tabung gas Elpiji 12 kilogram yang dianggap tak rasional tersebut.
“Tujuannya jelas, agar perekonomian dapat berjalan stabil dan tidak terganggu polemik kenaikan tabung gas 12 kilogram yang terkesan dibebankan kepada masyarakat. Seharusnya, sebelum dinaikkan mesti ada kajian dan perhitungan yang transparan, sehingga tidak ada dampak negatif dan menuai protes dari masyarakat,” pesannya.
Ditambahkan, meski kebijakan pemerintah untuk menurunkan kembali harga gas Elpiji ukuran tabung 12 kilogram, namun para pengecer masih menjual dengan harga tinggi. Kondisi ini, tentu memberatkan rumah tangga ekonomi menengah ke bawah yang semakin terpuruk dengan kenaikan sejumlah bahan pokok pada awal 2014.
“Seharusnya pemerintah melakukan pengawasan di lapangan, jangan hanya mengubah kebijakan tanpa adanya pengawasan yang ketat, karena konsumenlah yang paling dirugikan,” harapnya.
Oleh karena itulah, ia menandaskan setiap kenaikan harus memiliki manfaat, baik untuk perekonomian negara maupun terhdapat masyarakat itu sendiri. (blogkatahatiku.blogspot.com)