25 January 2014

Cantiknya laba dari bisnis kosmetik

Foto: Effendy Wongso
britaloka.com, MAKASSAR - Maraknya bisnis kosmetik di Tanah Air, baik lokal maupun impor merupakan fenomena menarik yang terjadi pada industri kecantikan dewasa ini. Tentu saja, ini bisa menjadi sebuah peluang besar bagi siapapun yang ingin memulai bidang yang kebanyakan digemari kaum Hawa. Selain menjanjikan karena memiliki pangsa pasar yang sangat luas, kosmetik sendiri sudah termasuk gaya hidup masyarakat modern.
Membidik segmen yang lebih sempit, yakni di kalangan wanita, pasar ini terbukti sangat menggiurkan. Pasalnya, yang namanya wanita tentu tidak lepas dari penggunaan kosmetik sehari-hari seperti bedak, parfum, hand and body lotion, lipstik, dan sebagainya.
“Kebutuhan mereka terhadap kosmetik sangat besar, bahkan terkadang menyamai kebutuhan makan dan minum mereka sehari-hari. Nah, hal tersebutlah yang membuat bisnis kosmetik seperti tidak ada matinya,” demikian diungkap penulis dan pemerhati bisnis-sosial, Khiva Amanda, saat dikonfirmasi via milis beberapa waktu lalu terkait bisnis yang telah merambah segala kalangan ini.
Menurutnya, jika seorang calon pengusaha di bidang ini mampu membangun toko kosmetik yang lengkap, maka ia yakin toko tersebut akan laris dan diserbu konsumen yang ingin berbelanja kosmetik. Kendati demikian, untuk memulai bisnis kosmetik boleh dikata gampang-gampang susah lantaran banyak faktor yang menjadi penentu berhasil atau tidaknya usaha tersebut.
“Ketika seseorang ingin memulai bisnis kosmetik, patut memperhatikan hal-hal mendasar seperti menentukan lokasi tempat usaha. Ya, ini prinsipil lantaran menyangkut banyak sedikitnya konsumen si calon pengusaha kosmetik,” ulasnya.
Lokasi bisnis kosmetik yang cocok, sebut Khiva biasanya terletak di area pasar tradisional, pusat perbelanjaan, mal-mal, maupun ruko-ruko di kompleks perumahan. “Ingat, tentukan dengan tepat (lokasi usaha), jangan sampai salah karena hal ini sangat mempengaruhi keberhasilan bisnis kosmetik seseorang ke depannya,” pesannya.
Hal lain yang dipaparkannya adalah mencari distributor atau pemasok kosmetik kecantikan yang resmi dan murah untuk memasok barang-barang ke toko. Setelah itu, tentu saja menentukan terlebih dulu prioritas jenis kosmetik yang ingin dijual.
“Jangang serampangan memilih produk yang ingin dijual. Ya, tentu saja seseorang tidak bisa menyediakan semua jenis kosmetik sekaligus di awal-awal memulai usahanya. Seperti kita ketahui, meskipun laris namun bisnis kosmetik sebenarnya membutuhkan modal yang sangat besar,” ungkap wanita yang suka makan masakan Padang ini.

Kendala Menjalankan Bisnis

Adapun hambatan dalam menjalankan bisnis kosmetik, ulas Khiva di antaranya adalah munculnya pesaing usaha bisnis kosmetik yang dijalankan pada daerah yang sama dengan tempat bisnis seseorang.
“Itu salah satu kendala. Sedangkan, hambatan lainnya adalah pasokan barang yang tersendat dari pemasok. Ini jadi kerugian bagi si penjual sehingga tidak dapat memenuhi pesanan konsumen. Adapun hal lainnya adalah munculnya isu-isu miring bahwa barang kosmetik berbahan berbahaya yang kita jual,” bebernya.
Menyoal strategi bisnis kosmetik agar dapat berkembang lebih baik dan tidak mengalami kolaps, wanita berkacamata minus ini mengatakan, sebaiknya seorang calon pengusaha selalu mengutamakan kualitas dan mutu kosmetik jualannya.
“Kualitas dan mutu, ini primer dan tak dapat diabaika, ya? Untuk itu, jagalah kualitas alat-alat kosmetik yang dijual dengan selalu membelinya dari distributor resmi dan terpercaya. Untuk promo, barangkali bisa diberlakukan sistem potongan harga atau diskon dalam pembelian jumlah tertentu. Ingat, keuntungan sedikit tetapi laris lebih baik ketimbang laba besar namun transaksinya kecil,” paparnya.
Untuk faktor nonteknis, Khiva berpesan agar seseorang yang bergelut di bisnis ini harus menjaga penampilannya agar selalu bersih dan menarik. “Ya, ini penting sekali mengingat yang dijual adalah alat-alat kosmetik yang notabene ‘ikon’ cantik. Bagaimana mau jualan alat kecantikan jika diri Anda sendiri tidak menarik, kan?” ujarnya.
Ditambahkan, servis seperti tetap berlaku ramah kepada konsumen juga merupakan salah satu daya tarik yang tak dapat diabaikan. “Jangan segan-segan memberikan saran kepada konsumen Anda. Terangkan dengan gamblang, kosmetik kecantikan yang cocok bagi pelanggan. Ya, ini salah satu ‘service point’ yang bakal jadi daya tarik toko kosmetik seseorang,” sebutnya.

Bikin Kemasan yang Menarik

Terkait pemasaran suatu produk, wanita yang senang membaca dan menulis ini, menyarankan agar calon pengusaha kosmetik membuat kemasan yang menarik pada barang-barang jualannya. “Cobalah untuk mengemas barang jualan yang dibeli konsumen dengan mencantumkan nama toko, alamat, serta nomor telepon atau ponsel Anda. Lantas, pasarkanlah kosmetik Anda melalui internet, baik membuat toko online maupun mempromosikannya melalui jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, atau Blackberry Messenger (BBM),” sarannya.
Mengenai tingkat loyalitas konsumen produk kosmetik, Khiva mengatakan cukup tinggi di mana pada umumnya pembelinya didominasi kaum wanita. “Berdasarkan hasil survei Mars Research Indonesia di delapan kota, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Balikpapan, dan Palembang, tentang pola belanja produk kosmetik, diketahui bahwa mayoritas konsumen sebanyak 51,5 persen selalu membeli produk kosmetik begitu persediaan atau stok mereka habis terpakai,” paparnya.
Diterangkan, konsumen tidak mau menunggu waktu terlalu lama untuk tak memakai bahan pemanis penampilan tersebut. Hal ini menggambarkan bagaimana “ketergantungan” terhadap produk kosmetik, di mana tanpa kosmetik, maka “user” terutama wanita seolah kehilangan kesempurnaannya.
“Konsumen produk kosmetik sangat loyal menggunakan jenis bedak wajah, lipstik, hand and body lotion, di mana terdapat sekitar 22,4 persen yang selalu melakukan pembelian secara rutin meskipun persediaan masih ada. Ini artinya kebutuhan terhadap produk kosmetik memang sudah demikian tinggi. Sementara yang membeli ketika diperlukan saja hanya sekitar 26,1 persen,” ungkapnya.
Diuraikan, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dari sisi psikografi, konsumen produk kosmetik mayoritas tipe si Tukang Belanja atau shopaholic. "Nah, Ini artinya, mereka selalu meluangkan waktu untuk berbelanja ke toko, minimarket, maupun mal setiap kali ada kesempatan. Sebaliknya, hanya sebagian kecil saja yang masuk kategori ‘just buyer’, atau dapat dikata mereka yang membeli produk kosmetik sesuai kebutuhan saja alias jarang berbelanja,” terang Khiva.
Menurutnya, konsumen tipe shopping lover ini sebagian besar berasal dari kelompok usia muda antara 18-25 tahun dengan tingkat persentase 52,2 persen. Sedangkan kelompok usia menengah antara 26-34 tahun dengan tingkat persentase 51,5 persen dengan status sosial-ekonomi kelas B, yaitu yang tingkat pengeluaran belanja bulanannya di bawah nilai Rp 2.500 ribu hingga Rp 1.125 ribu.
“Nah, lalu seberapa jauh tingkat loyalitas konsumen produk kosmetik, baik bedak untuk wajah, lipstik, maupun hand and body lotion yang paling sering digunakan seseorang? Urutan pertama diraih konsumen bedak wajah, dengan proporsi 76,4 persen loyal dan 7,5 persen tidak loyal. Disusul, konsumen lipstik dengan porsi 72,6 persen loyal dan 9,8 persen tidak loyal, serta konsumen hand and body lotion sebanyak 66,2 persen loyal dan 11,3 persen tidak loyal,” tutupnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)