03 January 2014

Boyaboya, Komunitas Fotografi yang Peduli Kaum Marginal

BOYABOYA - Bermula dari sifat empati yang dimiliki oleh anggotanya, Boyaboya pun terbentuk menjadi sebuah komunitas atau wadah sharing bagi para fotografer muda di Makassar. Boyaboya tidak sekadar dihuni sekumpulan fotografer yang hanya memburu gambar, tetapi memiliki visi dan misi mengisahkan foto-foto yang direkam tersebut menjadi sebuah opini publik. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Bermula dari sifat empati yang dimiliki oleh anggotanya, Boyaboya pun terbentuk menjadi sebuah komunitas atau wadah sharing bagi para fotografer muda di Makassar. Boyaboya tidak sekadar dihuni sekumpulan fotografer yang hanya memburu gambar, tetapi memiliki visi dan misi mengisahkan foto-foto yang direkam tersebut menjadi sebuah opini publik, misalnya tentang anak-anak putus sekolah dan anak jalanan, masyarakat prasejahtera di bantar Kanal Sinrijala, anak-anak pesisir di Rusunawa Mariso Makassar, dan sebagainya.
Untuk itulah Muhary Wahyu Nurba, penggagas pembentukan sekaligus pimpinan Komunitas Foto Hunting Boyaboya ini, merasa terpanggil untuk membuat wadah yang peduli terhadap kaum marginal tersebut. Itulah sebabnya ia menamai komunitas ini dengan Boyaboya, yang dalam bahasa daerah Makassar berarti “Mencari-cari”.
“Kami memang mencari-cari gambar atau foto di daerah-daerah yang dihuni masyarakat prasejahtera. Kami berharap, lewat foto yang kami angkat masyarakat akan tahu bahwa ternyata di dalam kenyataannya, ada sebagian saudara kita yang kurang beruntung seperti bayi-bayi kurang gizi, anak jalanan, anak putus sekolah, pemulung, penghuni di bantar kanal yang masih makan nasi aking, dan lain-lain,” ungkap Muhary.
Secara aklamasi Boyaboya terbentuk pada medio Februari 2012, di mana hunting pertama dilakukan di Pasar Terong Makassar. Di sini, Muhary dan belasan anggota fotografer yang terdiri dari anak muda sepakat untuk membentuk wadah komunikasi Boyaboya via Facebook. Lewat fans page Boyaboya Makassar Photo Hunting Club, para anggota dapat mengunggah fotonya masing-masing, kemudian akan dikritisi oleh anggota lainnya demi pengembangan fotografi mereka yang lebih baik.
Saat dirilis, Boyaboya sudah mencatat belasan nama sebagai anggota di antaranya Muhary Wahyu Nurba, Hamdan, Airinisti Ardie Rinvi, Arfah Yusuf, Asmar Exwar, Bachtiar Rezkiawan Narwis, Erick Didu, Fahmy Husain, Fheny Anggriyani, Giant Pallacubang, Hasrat Asnawi Hamid, Hasman Syahran Fattah, Herwin Gunadi, Joko Widodo, Jumardan Muhammad, Muhaimin Tawwa, Muhammad Ridham, Richsandy Bostam, Ringgi, Supryadi Maulid Tito, Rahmat Rahim Nur, Arfah Aksa, Rakhmawati Lalang, Imran Sentosa, dan Adityo Taufik.
Tak hanya berkutat di bidang fotografi, Boyaboya pun melakukan aksi sosial untuk membantu sebagian masyarakat Makassar yang kurang mampu. Untuk membantu kesinambungan Sokola Pesisir Mariso, misalnya, Boyaboya menggelar acara Pameran dan Lelang Foto Amal Sharing is Caring, di Gedung Bakti, Jalan Dr Sutomo No 26, Makassar, beberapa waktu lalu. Dalam acara tersebut, terjual 12 foto yang merupakan karya anggota Boyaboya.
“Tujuan acara ini adalah untuk menggalang dana bagi Sokola Pesisir yang terletak di Kelurahan Mariso, Kecamatan Mariso, Makassar, di mana Sokola Pesisir akan segera pindah dari tanah tempat selama ini menjadi Balla Pappilajarang (Rumah Belajar) anak-anak dan remaja di Mariso, karena sang pemilik tanah memiliki rencana lain atas tanahnya. Sokola Pesisir Mariso sedang mencari dana untuk membeli sepetak tanah yang tak jauh dari lokasi sekarang dan memindahkan semua kegiatan di sana agar tak lagi berpindah-pindah tempat dan bisa dengan leluasa berkegiatan,” jelas Fahmy Husain, salah satu pengurus Boyaboya.
Meski terbilang komunitas baru, namun Boyaboya memiliki visi dan misi yang luhur di mana komunitas berlogo “b” ini berinisiatif untuk menerbitkan buku kumpulan foto, yang nantinya berisi foto-foto cerita tentang kaum marginal. Untuk itu pulalah Muhary telah menugaskan anggota Boyaboya lainnya untuk konsekuen dan intensif memotret spot atau area yang telah ditentukan seperti di daerah Pecinan, Kanal Sinrijala, Rusunawa Mariso, dan daerah-daerah terpencil lainnya di Makassar.