02 January 2014

BISTROPOLIS, ORIGINAL WESTERN KONSEP RUSTIC

KURNIADI SUDIBYO
Restaurant Manager Bistropolis
"Bistropolis, Original Western Konsep Rustic"

Foto: Effendy Wongso
Usaha kafe dan resto di bawah payung usaha waralaba (franchise) saat ini memang tengah marak di Tanah Air, khususnya di Makassar. Namun lain halnya dengan Bistropolis, di mana kafe dan resto dengan sajian menu original Western (kuliner Barat) dengan konsep “rustic” ini didirikan secara independen.
Bistropolis yang launching pada Jumat (15/11/2013) lalu, mendapat apresiasi yang baik dari pencinta kuliner di Kota Daeng. Sejak seremoni pembukaannya hingga disambangi KATA HATIKU, Selasa (26/11/2013) sore, kafe dan resto yang digawangi oleh dua owner asal Makassar ini selalu dipadati pengunjung.
“Sejak pembukaan hingga kini, tercatat dua ribu pengunjung yang telah menikmati menu-menu di Bistropolis,” ungkap Restaurant Manager Bistropolis, Kurniadi Sudibyo, saat diwawancara di Bistropolis, Jalan Sultan Hasanuddin, Makassar.
Dijelaskan, selain berdiri secara independen atau nonfranchise, Bistropolis juga terbilang kafe dan resto yang unik lantaran mengusung makanan khas original Western. Adapun konsep rustic yang menjadi ornamen ataupun gestur ruangan merupakan salah satu atmosfer lain yang menambah daya tarik orang untuk berkunjung ke tempat “hangout” tersebut.
“Konsep rustic itu sedikit antik dan kuno, tetapi tetap elegan sesuai dengan konsep Bistropolis. Nah, kalau Anda lihat konsep ruangan kami yang berdinding tekstur batu bata, atasan (dinding atas) tanpa plafon sehingga tampak transparan, ini sengaja kami lakukan agar pengunjung merasa lebih homey (rumahan) seperti di rumah sendiri,” ulas pria yang telah berkecimpung selama 15 tahun di dunia perhotelan ini.
Selain sebagai tempat hangout yang representatif, Kurniadi menyebutkan juga bahwa kafe dan resto yang menyasar segmentasi middle-up ini hadir untuk meramaikan tempat dan tongkrongan baru bagi masyarakat Makassar.
“Bistropolis menjadi salah satu pelopor kafe dan resto yang menggabungkan tiga konsep leisure, di mana family (keluarga), anak-anak muda, dan profesional dapat berkumpul menikmati menu khas Western atau sekadar kongkow untuk bersantai bersama relasi bisnis mereka,” ungkapnya.
Sebelumya, ayah dari seorang anak ini mengatakan, selama ini konsep “bistro” lebih banyak berkembang di kota-kota besar pusat kuliner seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Namun, khusus di Makassar, Bistropolis menjadi salah satu resto pelopor yang menggabungkan kitchen (dapur), restoran, dan bar sekaligus dalam satu ruangan.
Pria kelahiran Jakarta, 18 Oktober 1976 ini memaparkan, ruangan Bistropolis mampu memuat kurang lebih 100 pengunjung. Adapun komponen penunjang seperti penerangan di dalam kafe dan resto ini dijejeri lampu hias konvensional dengan didukung tampilan furniture kayu yang menggambarkan suasana klasik.
“Meja dan kursi memang sengaja kami datangkan dari Singapura dan Hongkong. Sebagian ornamen kami datangkan dari Bali, Surabaya, dan Jakarta. Konsep (rumahan) ini sengaja kami bikin agar dapat membuat pengunjung betah dan bisa berlama-lama di dalam restoran. Apalagi, kami juga menyediakan wifi yang dapat diakses gratis oleh para pengunjug,” ujarnya.
Ditambahkan, dengan mengedepankan ciri tongkrongan unik yang mengusung aneka sajian kuliner Barat, para penggemar menu ini tak perlu repot keluar daerah untuk sekadar mencicipi makanan Eropa.
“Bistropolis adalah salah satu referensi, sebab beragam menu yang kami hadirkan hampir tidak bisa ditemui di kafe dan resto lainnya. Selain itu, kami memiliki ciri khas tersendiri, terutama dalam hal konsep (ruangan),” sebutnya.
Menu Western dipilih, runut Kurniadi, lantaran masyarakat Makassar kini semakin maju dan berkembang, terutama dalam tren selera lidah. Oleh karena itu, beberapa alternatif menu Barat yang disiapkan Bistropolis mengutamakan “original taste”.
Terkait iklim kompetitif yang kian ketat di usaha kafe dan resto ataupun kuliner sejenis, Kurniadi mengatakan pihaknya tetap berkomitmen menyuguhkan hal terbaik bagi pecinta kuliner di Makassar. “Selain tetap menyajikan menu-menu andalan seperti Aragosta dan BBQ Short Ribs (original Western cullinary), kami juga mengedepankan pelayanan yang baik. Ini juga sejalan dengan visi manajemen Bistropolis yang ingin menjadi trend-setter kafe dan resto di Makassar,” tutur pria yang pernah bekerja di Hotel Hilton International dan Crown Plaza di Jakarta ini.
Sejauh ini, dalam segmentasi sasaran konsumen kelas menengah ke atas, pria yang hobi outdoor activity seperti hiking dan motorcycle touring ini mengungkapkan bahwa one person atau setiap per kepala (pengunjung) dapat menghabiskan minimal Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu.
“Price menu kami berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 250 ribu per item. Sejauh ini, gambaran yang sudah kami dapat, tiap satu orang konsumen minimal menghabiskan Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu sekali makan,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)