06 January 2014

BISNIS SALON DAN BRIDAL TAK ADA MATINYA

MERRY LIEM
Sales Representatif Emillia Salon Makassar
“Bisnis Salon dan Bridal Tak Ada Matinya”

Foto: Effendy Wongso
Pernakah Anda berpikir untuk menekuni bisnis salon atau bahkan bridal dengan etalase gaun pernikahan yang terkesan mewah serta bertaburan perhiasan di setiap sisinya. Mungkin yang ada di benak Anda adalah modal besar dan keahlian khusus untuk memulai bisnis yang tak ada matinya ini.
Namun ternyata berbisnis bridal adalah tergolong mudah. Intinya, hanya menyediakan baju pengantin sekaligus make up-nya. Gaun bisa disewakan, bisa juga dijual. Baju pengantin ini pun tak perlu dibuat sendiri. Banyak bridal yang membeli baju pengantin dari pihak ketiga.
Hal tersebut diungkapkan oleh Sales Representatif Emilia Salon, Merry Liem, saat disambangi KATA HATIKU beberapa waktu lalu di tempat kerjanya, Jalan Satanga, Makassar.
“Jika Anda memang tertarik untuk mulai menekuni bisnis yang mengutamakan kreasi atas tren yang berkembang ini, ada beberapa tips yang harus dipatuhi, khususnya bagi yang ingin buka bridal. Pertama, Anda harus mencintai bidang fashion dan make up, sebab ini bisa menjadi modal utama yang amat penting,” ujarnya.
Selanjutnya, belajarlah mengenai teknik make up dan fashion design dengan baik. Banyak pengusaha yang baru belajar make up satu bulan nekat membuka bridal. Hasilnya, make up-nya berantakan dan banyak pelanggan yang kecewa. Alangkah bagus kalau calon pengusaha di bisnis ini bisa merancang sendiri gaun pengantin yang akan disewakan. Namun, biasanya jarang sekali calon pengantin yang membeli, kebanyakan hanya menyewa.
“Ya, modalnya memang terhitung besar. Kalau ingin menghemat biaya, gaun pengantin dari China atau Taiwan bisa menjadi produk awal. Namun, jujurlah berbisnis. Jangan membohongi pelanggan tentang produk dan harganya. Kalau memang berasal dari China, katakanlah apa adanya. Bagi Anda yang bermodal besar, tak ada salahnya mengambil gaun pengantin karya desainer lokal semacam Sebastian Gunawan, Didit Hadiprasetyo, atau Eddy Betty. Harganya memang mahal, akan tetapi kualitasnya bisa bersaing di pasaran,” terang ibu dua orang anak ini.
Lebih lanjut, Merry memaparkan bahwa meski tak membutuhkan modal besar untuk pebisnis pemula, akan tetapi ia mengingatkan agar calon pengusaha yang bergerak di bidang salon dan bridal mesti tetap berkreasi, karena kreasilah yang kelak membedakan atau menjadi ciri dari usahanya.
“Ya, berkreasi saja seperti memadukan penyewaan gaun dengan kebutuhan lain, misalnya wedding cake, fotografi, rental mobil, dan lainnya. Sediakan juga beberapa alternatif pilihan harganya sesuai kantong konsumen,” pesannya.
Menurutnya, maintenance atau perawatan pasca-sewa juga sangat penting, seperti merawat gaun dengan baik, simpan di tempat dingin ber-AC, hindari terkena air, dan gunakan binatu khusus. Harga perawatan terbilang cukup mahal, di mana satu gaun bisa mencapai Rp 300 ribu, namun jika tak dirawat maka dampak kerugian akan lebih besar lagi.
Dijelaskan, biasanya kendala yang dihadapi oleh pengusaha pemula di bisnis salon dan bridal adalah bingung melakukan promosi karena wedding organizer (WO) yang masih baru. Ia menyarankan, jika masih pemula dalam bisnis WO, sebaiknya tidak mengikuti pameran dulu lantaran mengikuti pameran harganya cukup mahal.
“Hal lain, promosi yang dilakukan berlebihan bagi yang belum berpengalaman akan back-fired, karena memperlihatkan ketidakmampuan dan tidak adanya pengalaman seseorang dalam menyelenggarakan usaha. Sebab, ketika pengunjung ingin melihat hasil kerja WO, Anda tidak akan banyak memperlihatkannya. Akhirnya, pameran ini hanya menguntungkan bagi yang berpengalaman saja, sementara Anda hanya pelengkap penyerta,” sarannya.
Untuk mengembangkan usaha ini, ia menguraikan seseorang harus memahami dulu bahwa membangun bisnis itu adalah proses. Tidak ada jalan pintas menuju bisnis yang sukses, termasuk bisnis WO. Untuk mengembangkan usaha lewat promosi, usaha yang paling efektif adalah jika seseorang bisa memberikan gratis kepada pasangan-pasangan yang mau menikah atau memberikan kepada mereka harga yang sangat murah. Di sini biaya promosi dikeluarkan, dan pebisnis pemula tidak mengambil untung.
“Dari mereka, jika mereka  puas terhadap hasil kerja Anda, itu akan menghasilkan promosi dari mulut ke mulut. Usaha Anda menjadi dikenal dan diketahui orang. Dengan cara tersebut, ada dua keuntungan yang bisa didapat, yaitu Anda mendapat pengalaman sekaligus mengenalkan usaha. Kalaupun tidak berhasil, pelanggan tidak akan marah karena harganya murah atau malah gratis. Walaupun gratis atau memberi harga yang murah, Anda tetap harus mengerjakan dengan sebaik-sebaiknya,” pesan wanita yang telah menggeluti dunia “kecantikan” sejak 1980-an ini.
“Untuk promosi ini, kerjakan sekitar satu atau dua tahun. Tidak mungkin Anda mendapat pengalaman, kalau baru berjalan beberapa bulan. Setelah lewat waktu tersebut, diharapkan Anda akan mendapat portofolio bagus bagi usaha Anda. Anda pun akan mendapat pembelajaran sekaligus mengatasi kesalahan,” ungkapnya.
Dikatakan, di masa-masa promosi ini, seseorang memang harus siap hidup pas-pasan. Yang penting usahanya bisa survive atau bertahan. “Biasanya, setelah dua tahun, perlahan-lahan Anda akan mendapat kepercayaan dari para pelanggan,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)