14 January 2014

BISNIS RADIO MASIH MENJANJIKAN

ERIC DJAJAKUSLI
Owner Radio Telstar Makassar
“Pertajam Segmentasi Pendengar

Foto: Effendy Wongso
Penampilan pria berdarah Tionghoa ini terlihat sangat sederhana, dan sapanya yang lembut terdengar santun ketika menyambut sambangan KATA HATIKU beberapa waktu lalu di Kantor Stasiun Radio Telstar, Jalan Alimalaka, Makassar.
Adalah Eric Djajakusli, owner dan pendiri Radio Telstar. Di bawah kepemimpinan pria yang mengabadikan nyaris seluruh hidupnya untuk radio yang berfrekuensi di gelombang 102,7 FM ini, radio bersegmentasi keluarga ini berhasil menjadi salah satu radio ternama di Makassar. Dengan menyuguhkan beragam program menarik, radio yang dibesarkannya sejak 1969 ini sangat populer di telinga masyarakat pendengar.
Salah satu program Radio Telstar yang terbilang unik dan bersegmentasi tajam adalah “Pesona Mandarin”. Menurut ayah dari empat orang anak ini, Pesona Mandarin merupakan program on-air yang memiliki karakteristik tersendiri, namun didengar oleh audience dari kalangan manapun.
“Meski kami memutar lagu-lagu Mandarin, tapi pendengar Pesona Mandarin tidak hanya didengar oleh komunitas Tionghoa saja. Bahkan sekarang, pendengarnya dari semua suku dan etnis,” jelas Eric yang total mencurahkan hidupnya di bisnis radio.

Tak hanya komunitas Tionghoa
Ketika ditanya perihal pengadaan program berspesifikasi tajam tersebut, suami dari Tan Lie Ie ini mengungkap bahwa sebenarnya tidak ada alasan khusus untuk program yang mengudarakan lagu-lagu Mandarin ini.
“Semuanya terjadi karena karakter pendengar kami sendiri, yang kami aplikasikan sebagai bagian dari pengembangan radio. Sebelum Pesona Mandarin mengudara permanen, kami sudah melakukan sosialisasi kurang lebih dua tahun,” ungkap Eric.
Ditambahkan, begitu tanggapan pendengar antusias, juga terjadinya kebebasan berekspresi di era reformasi, maka pihaknya pun menjadikan Pesona Mandarin sebagai salah satu program andalan Radio Telstar.
Menurut pria kelahiran Makassar, 18 Desember ini, yang juga membawahi Radio Venus Makassar yang bersegmentasi pendengar muda, dengan khusus memutarkan lagu-lagu Indonesia, kehadiran Radio Telstar tidak hanya sebagai peranti bisnis dan hiburan belaka, namun mengembangkan misi edukatif. “Lantaran itulah Radio Telstar berkomitmen mengabdi bagi kemajuan broadcasting,” akunya.
Sebagai implementasi, radio dengan jargon Pesona Keluarga ini selalu melengkapi struktur perusahaan dengan sumber daya manusia (SDM) yang andal. “Kami selalu melakukan pembaruan yang signifikan, termasuk mengikuti perkembangan teknologi mutakhir,” ungkap Eric.
Kendati demikian, bebernya, bisnis radio saat ini menghadapi persaingan yang berat, terutama saat berkembangnya era pertelevisian (swasta) dua dasawarsa lalu. Untuk itulah, dikatakan, pengelola radio juga harus membuat segmentasi pendengar sehingga bisa mengetahui acara apa yang tepat untuk para pendengar dengan segmentasi tertentu.
“Pesona Mandarin misalnya, program ini kami buat atas survei yang mendalam dengan segmen terfokus, yang mengangkat info soal komunitas Tionghoa di Makassar," papar pria yang hobi mengutak-atik peralatan elektronik ini.
Ditambahkan, masuknya siaran televisi swasta di era 1990-an, radio memang sempat “terpukul” lantaran kelebihan audio-visual yang ditawarkan sebuah TV. Namun ia menegaskan, radio memiliki “kelebihan” tersendiri dibandingkan dengan siaran TV.
“Pada intinya, bisnis radio masih menjanjikan. Radio sifatnya lebih mobile, di mana tanpa harus memfokuskan perhatian kita terhadap layar kaca (TV), kita masih dapat menjalankan aktivitas kita seperti mengendarai mobil, bekerja, dan sebagainya,” imbuh Eric.

Bekas tapi Mulus
Salah satu program andalan Radio Telstar selain Pesona Mandarin adalah “Bekas tapi Mulus”. Eric menjelaskan, program ini menyajikan informasi jual-beli barang bekas. Akan tetapi, lanjutnya, tidak menutup kesempatan bagi pendengar untuk berbagi informasi mengenai kontrak rumah, jual tanah, maupun seputar kehidupan sehari-hari.
“Acara ini dibawakan secara santai penuh canda ringan, diselingi lagu dan musik instrumental pilihan. Waktu on-air, Senin-Sabtu, pukul 09.00-10.00 Wita (60 menit), dengan target pendengar antara 20-40 tahun (umum). Sedangkan format acaranya adalah hiburan dan informatif,” jelasnya.
Acara lainnya yang juga bersegmentasi tajam adalah “Masalah Kita”, demikian tutur Eric. Masalah Kita, sambungnya, membahas solusi berbagai masalah bersama narasumber profesional dan berpengalaman, misalnya masalah dalam keluarga, etika, kesehatan, pelayanan publik dari instansi pemerintah, masalah pengobatan alternatif, dan masalah hukum.
“Di sini pendengar dapat berkonsultasi langsung melalui telepon dan SMS,” urainya.
Pendengar, kata Eric, dapat menyimak acara ini setiap Senin hingga Jumat, antara jam 10.00 hingga 11.00 Wita, selama 60 menit. Target pendengar dipatok antara 20-40 tahun (umum), dengan format acara informatif. (blogkatahatiku.blogspot.com)