31 January 2014

BISNIS PONSEL YANG MENJANJIKAN

Peluang di Tengah Maraknya Teknologi Mutakhir

Foto: Effendy Wongso
Saat ini telepon seluler (ponsel) atau yang lebih dikenal dengan sebutan handphone (HP) sudah bukan menjadi barang mewah seperti satu dekade lalu. Di Indonesia, dari data yang dilansir Kementerian Komunikasi dan Informatika, mencatat penggunaan gadget di Indonesia pada 2012 telah mencapai angka 240 juta unit. Angka tersebut lebih banyak dibanding penduduk Indonesia yang jumlahnya di kisaran 230 juta jiwa, sedangkan tingkat penggunanya mencapai 67 persen.
Sementara untuk proporsi kepemilikan, terbanyak di Pulau Jawa di mana rata-rata satu orang mempunyai dua ponsel, baik smartphone dan ponsel reguler. Pemakain ponsel aktif biasanya berusia di bawah 34 tahun. Akses internet diketahui paling sering dibuka di rumah, saat mobile, dan tempat “hangout” seperti kafe dan tempat berkumpulnya suatu komunitas.
Kondisi ini tidak saja menguntungkan provider, akan tetapi juga merupakan peluang yang  menggiurkan bagi masyarakat yang ingin berbisnis terkait bidang tersebut, mulai dari penjualan HP, voucher, aksesoris, servis, bahkan multilevel marketing (MLM). Prospek yang tengah dilanda euforia ini akan menjadi inspirasi bagi masyarakat yang ingin membuka usaha ponsel.
Menurut lansiran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), melalui Direktur Telekomunikasi, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Titon Dutono, di  2009 saja terdata 160 juta kartu Subscriber Identity Module (SIM) yang beredar. Satu orang bisa menggunakan lebih dari satu ponsel, sementara satu ponsel ada yang memiliki lebih dari satu kartu SIM. Berkat dukungan infrastruktur komunikasi yang berkualitas dalam memperlancar sinyal, seperti suara yang jelas tanpa terputus-putus, maka dalam kurun waktu yang singkat, di Tanah Air tumbuh 11 operator (provider), masing-masing telah melakukan strategi “perang harga” dan unjuk fasilitas untuk menjaring konsumen.
Belakangan ponsel asal China membanjiri pasaran dengan harga miring dengan tampilan dan model pendahulunya dari ponsel-ponsel merek besar dan ternama. Serangan ini sempat memporak-porandakan produsen ponsel seperti Nokia, Sony, Philips, Motorola, Samsung, LG, dan lainnya. Bahkan jenis “qwerty” Blackberry yang kini tengah digandrungi pecinta ponsel, ditiru dan dijual dengan harga yang sangat murah. Fenomena kemajuan teknologi, menciptakan alat komunikasi ini berinovasi dalam kurun waktu beberapa bulan saja, dan mendikotomi mindset seseorang “yang tidak segera ganti baru tentu akan ketinggalan zaman”.
Dari pantauan KATA HATIKU, industri ponsel memang tak lepas dari Negeri Tirai Bambu China, tak terkecuali di Makassar. Animo masyarakat untuk memiliki ponsel lebih dari satu sudah menjadi semacam tren dan gaya hidup modern. Di MTC Karebosi Makassar, pengunjung gerai maupun outlet ponsel tidak pernah sepi dari pembeli, terutama berburu ponsel China yang berharga murah namun berkualitas high-tech.
Memang, hal tersebut tidak terlepas dari hadirnya berbagai ponsel merek lokal atau lebih dikenal sebagai “HP China”, berharga cukup terjangkau serta dilengkapi dengan berbagai fitur canggih guna mendukung mobilitas masyarakat yang semakin meningkat.
Salah satu pusat penjualan handphone terbesar dan terlengkap di Makassar, yaitu HP Zone MTC yang terletak di Lantai 1 MTC Karebosi, terdapat ratusan gerai ponsel yang menyediakan ponsel merek lokal seperti Oppo,  Nexian, Mito, Cross, TiPhone, Taxco, dan lain sebagainya, termasuk aneka aksesoris pendukungnya. Di samping merek-merek lokal tersebut, tersedia pula merek ternama seperti Nokia, Blackberry, Samsung, Sony, Philips, LG, dan Motorola.
Suasana di HP Zone MTC Karebosi, Kamis (30/1/2014) sore, cukup ramai dipadati pengunjung. Salah seorang owner gerai ponsel di HP Zone MTC, Aryani, mengatakan meski mata uang rupiah melemah beberapa bulan belakangan ini, namun aktivitas transaksi ponsel masih normal, bahkan cenderung melonjak tajam jika ada produk mutakhir yang dirilis beberapa produsen seluler.
“Dengan uang Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu saja, pembeli sudah dapat memiliki HP Android model terbaru, lengkap dengan fitur-fitur canggih seperti wifi, WhatsApp, kamera, jaringan untuk jejaring sosial semacam Facebook atau Twitter, serta fasilitas lainnya,” jelasnya.
Ketika ditanya perihal omset per hari yang dapat diraih gerai ponselnya, wanita yang kurang lebih tiga tahun menggeluti bisnis ponsel ini enggan mengungkapkannya. “Tidak tentu. Yang pasti cukup lumayanlah,” jawabnya.
Sementara itu, menyusuri gerai lainnya di tempat yang sama pun tak kalah ramainya. Di gerai Gudang Handphone blok G01-02, Prima Cell blok M03-06, dan Takasimura Cell blok C11-12, pengunjung terlihat membeludak. Beragam smartphone dipajang dengan banderol yang hampir sama. Untuk Blackberry Z10 misalnya, gerai-gerai tersebut membanderolnya antara Rp 5,6 juta hingga Rp 5,7 juta per unit.
“Harga Blackberry Z10 sudah agak turun, rata-rata sekitar Rp 5,7 juta dari harga sebelumnya sebesar Rp 6 juta. Sedangkan harga bekas atau second, masih berkisar Rp 5,1 juta,” ungkap salah seorang staf di salah satu gerai HP Zone MTC, Wiwik.
Ia membandingkan, harga ponsel jualannya bisa bersaing dengan toko online Lazada.com. “Toko online Lazada, Blackberry Z10 dijual dengan harga Rp 5,9 juta termasuk ongkos kirim,” ungkapnya.
Menurutnya, bagi penggemar gadget mutakhir, biasanya harga tidak jadi soal. Yang penting, mereka bisa mendapatkan barang yang diinginkan. “Apalagi kita sendiri tahu, ponsel dapat mengangkat citra diri yang punya,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)