21 January 2014

BISNIS PERLENGKAPAN OLAHRAGA

Laba dari Balik Slogan “Mens Sana in Corpore Sano”

Foto: Effendy Wongso
Hidup sehat adalah dambaan setiap manusia, oleh sebab itulah semua orang berlomba-lomba ingin mewujudkan hidup sehat dengan aktivitas olahraga demi terealisasinya slogan yang sering didengungkan bersama, “Mens sana in corpore sano” yang berarti “Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”.
Alhasil, untuk mewujudkan tubuh yang sehat tentunya harus ditunjang dengan sarana dan prasarana olahraga yang memadai sehingga hasilnya pun akan maksimal. Untuk menunjang semua itu pula, toko perlengkapan olahraga pun menjamur di sentra-sentra bisnis di Indonesia.
Di Makassar, toko-toko yang menawarkan beragam perlengkapan olahraga dapat ditemui di sepanjang Jalan Somba Opu, Jalan Boulevard Panakkukang, serta jalan-jalan protokol lainnya. Sementara di Watampone, Sulsel, beberapa toko alat olahraga dapat ditemui di Jalan Beringin dan kawasan pertokoan Pasar Sentral.
Hal tersebut memang tidak terlepas dari semakin banyaknya pecinta olahraga. Sebut saja sepakbola misalnya, yang memiliki penggemar terbanyak di antara jenis-jenis olahraga lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan para penggemar olahraga ini, selain bola, pelaku usaha bisnis olahraga minimal menyiapkan kostum bola (jersey) dari berbagai atribut klub ternama Eropa dan dunia.
 “Secara kualitas, kebutuhan perlengkapan olahraga dari berbagai jenis pada dasarnya sama saja. Ya, sepakbola, basket, bulutangkis, tenis lapangan, dan lain-lain. Namun untuk kuantitasnya, sepakbola sedikit lebih digemari, tapi persentasenya tidak signifikan, hampir sama,” jelas Ina, sales representatif sekaligus bertugas sebagai kasir di Mona Sports, saat ditemui beberapa waktu lalu di toko Mona Sports, Jalan Somba Opu, Makassar.
Ditambahkan, klasifikasi yang agak membedakan perlengkapan olahraga yang dijualnya adalah jenis untuk olahraga golf. Di sini, alat-alat olahraga “elite” ini agak lebih tinggi harganya dibandingkan perlengkapan olahraga lainnya.
“Harganya beragam tergantung merek, dari sekitar Rp 4 juta hingga belasan juta per stick golf,” urainya.
Menurutnya, selain perlengkapan yang disebutnya tadi, pendukung lain yang tak kalah sumbangsihnya adalah penjualan trofi. “Trofi termasuk kebutuhan yang tidak dapat lepas dari perlengkapan olahraga. Apapun jenis olahraga, masyarakat biasanya membeli sekaligus jika ada event atau perlombaan jenis-jenis olahraga tertentu,” paparnya.
Senada, salah seorang karyawan toko Makassar Sports di kawasan yang sama, Jalan Somba Opu, Jeje, melontarkan hal yang sama. Dikatakan, persentase pembelian peralatan olahraga dari jenis olahraganya sama saja. Sepakbola, basket, bulutangkis, tenis lapangan, tenis meja, sepak takraw, adalah jenis-jenis olahraga yang memiliki pembeli yang sama rata.
Adapun muasal dari produk-produk yang dijual di tokonya tersebut, wanita berambut pendek tersebut mengatakan semuanya buatan lokal. “Buatan lokal Indonesia. Kualitasnya dapat bersaing dengan impor, tetapi lebih terjangkau dari segi harga,” ungkapnya.
Namun lain halnya dengan toko Makassar Sports, owner toko Matahari Sports yang juga berlokasi di kawasan yang sama, mengatakan bahwa produk-produk yang dijualnya berasal dari berbagai negara seperti China, Jepang, dan beberapa negara Eropa seperti Jerman.
“Produk yang kami jual ada yang impor dan lokal. Tapi, saat ini memang lebih banyak lokal karena kualitasnya sudah bagus. Untuk produk gym, buatan Jerman memang diakui lebih baik bahan-bahannya. Ya, tapi semua itu tergantung terhadap bujet konsumen, mau pilih yang mana,” sebutnya.
Ketika ditanyakan prospek bisnis perlengkapan olahraga, Aswin gamblang mengatakan bahwa usaha ini sangat prospektif. Pasalnya, olahraga sudah menjadi kebutuhan maupun gaya hidup seseorang.
“Ya, kita lihat sajalah, siapa saja kan membutuhkan olahraga, baik alasan kesehatan maupun hobi. Olahraga simpel saja sebenarnya, cukup dengan bermodal baju kaus, sepatu olahraga, seseorang sudah bisa berolahraga, jogging misalnya,” contohnya.
Dengan alasan itulah ia optimis bisnis perlengkapan olahraga tetap dibutuhkan, apalagi mengingat pemerintah giat mengumandangkan pentingnya arti kesehatan dengan melakukan olahraga bagi masyarakat.
“Lepas dari prospektif usaha di bidang ini, memang kadang-kadang permintaan barang-barang mengalami grafik penurunan. Contohnya, di awal Agustus tahun lalu (2013), transaksi pembelian agak turun karena masyarakat baru saja merayakan Lebaran,” ungkap Aswin. (blogkatahatiku.blogspot.com)