04 January 2014

BISNIS KAFE DAN RESTO MENJANJIKAN

KAFE DAN RESTO
Bisnis “Leisure” yang Menjanjikan

Foto: Effendy Wongso
Hampir di setiap pusat perbelanjaan dapat ditemui kafe dan resto, mulai yang bermerek populer yang biasanya dalam jaringan waralaba (franchise) asing maupun domestik, ataupun usaha reguler yang dirintis oleh pengusaha lokal. Dalam satu dekade terakhir di Tanah Air, bisnis kafe dan resto bergenre ini semakin menjamur.
Maraknya bisnis tersebut lantaran dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat modern. Kunjungan seseorang ke sebuah kafe atau resto bukan sekadar untuk minum kopi atau sarapan semata, akan tetapi bisa menjadi ajang pertemuan dengan rekan kerja, sahabat, ataupun relasi bisnis.
Dulu, kafe atau resto yang berkelas menengah ke bawah identik dengan warung kopi atau warung makan, dengan peminat yang beragam, khususnya dari kalangan bawah. Di warung kopi ini misalnya, menu minuman biasanya hanya ada kopi hitam, kopi susu, dan teh. Akan tetapi, kini warung kopi modern yang disebut kafe tak hanya menyediakan jenis minuman kopi sebagai menunya, tetapi telah ditambah dengan jenis minuman lain, seperti aneka jus, milkshake, dan minuman ringan lainnya.
Kehadiran kafe juga tidak selalu berada di pusat-pusat perbelanjaan, namun bisnis kafe pun mulai merambah berbagai wilayah strategis, baik di kota besar maupun kota kecil. Peminatnya pun beragam, mulai kalangan pelajar hingga sebuah komunitas tertentu. Membuka usaha kafe boleh dikata gampang-gampang susah. Namun jika seseorang mampu mengelola dengan baik, bisnis kafe akan berjalan dengan lancar. Tentu saja, pengelolan usaha kafe harus dilakukan secara profesional.
Dewasa ini, keberadaan kafe dan resto di beberapa kota besar di Indonesia kian menjamur. Bukan hanya kafe lokal, yang “brand”-nya dari luar negeri atau franchise juga menjamur di pusat perbelanjaan. Melihat perkembangan kafe yang cukup signifikan, boleh dikatakan bisnis kafe menjanjikan. Namun, untuk masuk ke bisnis ini, dibutuhkan modal, perencanaan dan konsep yang matang.
Hal tersebut diungkapkan penulis dan pemerhati bisnis-sosial, Khiva Amanda saat dikonfirmasi beberapa waktu via milis terkait bisnis leasure yang kian digemari ini. Dijelaskan, seseorang yang tertarik menggeluti bisnis kafe dan resto, perlu memahami beberapa strategi agar dapat mengembangkan usaha yang berkaitan dengan kuliner ini secara baik.
“Tentukan segmentasi yang hendak diambil melalui riset pasar, kemudian tentukan calon pelanggan. Pelanggan dari kalangan mana yang hendak sasar, apakah kelas menengah bawah atau golongan menengah atas. Lebih baik mencari pelanggan dari kalangan komunitas, karena mereka memiliki banyak pengikut. Seorang pelaku usaha dapat memilih komunitas otomotif seperti pecinta motor gede (moge), buku, film, atau penggemar klub sepak bola yang memiliki komunal besar,” terangnya.
Menurutnya, lokasi turut berperan penting mendatangkan pelanggan. Ia menyarankan agar para pengusaha di bidang ini berupaya mendapatkan lokasi usaha yang strategis, mudah dijangkau, dan berada di keramaian. Agar menarik, desain interior kafe dan resto dibikin semenarik mungkin.
“Fasilitas kafe dan resto tidak boleh diabaikan. Sekarang ini pelanggan mendatangi kafe atau resto bukan hanya sekadar minum kopi. Dengan gaya hidup manusia sekarang, kafe telah dijadikan sebagai tempat nongkrong, bertemu teman, jumpa mitra bisnis, dan tempat untuk bekerja. Demi kenyamanan pelanggan, tentu dibutuhkan berbagai fasilitas. Misalnya menyediakan toilet, ruangan untuk smoking dan no smoking, pendingin ruangan (AC), jaringan internet wifi, dan musala,” sarannya.
Wanita yang hobi membaca buku ini juga mengatakan agar pengusaha sebisa mungkin menambahkan fasilitas untuk pelanggan dari komunitas tertentu, misalnya menyediakan ruang baca, perpustakaan mini, dan ruang diskusi yang diperuntukkan untuk pelanggan dari komunitas buku. Atau jika ingin menghimpun komunitas penggemar sepakbola, imbuh Khiva, pelaku usaha di bidang ini wajib menyediakan layar besar untuk menonton pertandingan sepak bola. “Jadi penggemar klub sepakbola dapat mengadakan acara nonton bareng di kafe atau resto itu,” alasannya.
Menyoal kelengkapan fasilitas, wanita ini menyinggung semua tentu kembali pada modal yang dimiliki. “Dengan modal kecil, pilihan logisnya adalah mendirikan kafe yang sederhana. Namun bila ingin membangun kafe yang mewah, dan merasa belum punya cukup modal, solusinya bisa dengan mengajukan kredit tanpa agunan (KTA) melalui beberapa bank. Setahu saya, salah satu bank internasional seperti Bank Standard Chartered menyalurkan KTA dengan bunga 0,99 persen dalam jangka waktu 24 bulan,” ungkapnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)