14 January 2014

BINTANG SANG JAWARA (1)

Oleh Effendy Wongso

Foto: Dok KATA HATIKU
Barangkali tidak ada yang tahu bagaimana beratnya tugas sebagai Ketua Kelas dan Ketua Osis seperti yang saya emban ini. Dalam pandangan kebanyakan siswa, saya ini sepatutnya bangga karena menjadi pemimpin sekaligus perantara siswa dan guru-guru. Sebab saya adalah simbol, maskot sekolah! Tapi sejujurnya bukan itu yang saya inginkan. Apalah artinya sebuah kebanggaan jabatan jika suasana sekolah seperti rimba dengan kelakuan anomi para warga kelas.
Ini tugas berat yang mesti saya pikul. Menuntaskan semuanya merupakan tanggung jawab moral. Saya tidak boleh bermasa bodoh seperti Ketua Kelas lainnya. Yang hanya menganggap jabatan itu sebagai formalitas belaka. Ya, formalitas belaka!
Setiap malam sebelum tidur saya sudah dipusingkan oleh tugas yang harus saya limpahkan kepada teman-teman kelas. Mulai dari soal kebersihan sampai laporan kegiatan eskul kelas kami. Tentu saja saya tidak bisa iri hati jika pada saat yang sama, teman-teman saya tengah asyik ber-Playstation di kamarnya masing-masing. Atau nonton teve sambil ngemil.
Inilah konsekuensi yang suka tidak suka mesti saya patuhi. Komitmen tugas Ketua Kelas yang diamanatkan Dewan Sekolah pada saat menentukan pilihan kepada Bintang Handoko memang wajib diaplikasikan.
Untuk itulah, dedikasi dan kedisiplinan mulai saya canangkan sejak awal di kelas. Mula-mula hanya tanggung jawab ringan semisal pembagian tugas menyapu dan menghapus papan tulis bekas kemarin sore. Kemudian masuk ke frase disipliner. Kemeja sekolah tidak boleh keluar menjuntai seenaknya di bawah perut. Harus masuk rapi ke dalam celana atau rok.
Namun tindakan saya dianggap keterlaluan. Melampaui tugas pokok dari tugas seorang Guru BP sekalipun!
“Semua ini untuk kebaikan kita semua.”
“Kelas lain tidak sebegitu ribetnya, kok!”
Ryan nyeletuk dengan kalimat nyelekit. Saya tatap matanya dengan tajam. Dia membuang muka dengan bibir mencibir. Anak itulah yang paling berani membangkang perintah saya. Satu-dua kali saya tidak menghiraukannya. Saya pikir, anak-anak masih kagok dengan iklim baru yang saya bawa untuk perbaikan reputasi di kelas.
“Saya tidak peduli dengan kelas lain. Yang penting kelas kita harus lebih baik, disiplin, dan memiliki reputasi bagus di mata para guru.”
Anak-anak diam kecuali Ryan. Dia melengos dengan muka congkak. Demi Tuhan! Rasanya saya ingin menonjok bibirnya yang dower seperti bumper bajaj itu!
“Apa bagusnya pengakuan baik dari para guru?! Huh, sok disiplin. Baru juga jadi Ketua Kelas tapi lagaknya sudah jadi jenderal besar berbintang tujuh!”
Amarah saya mengubun. Tapi saya masih berusaha menahannya. Saya kepalkan tangan meredam emosi yang mulai meletup-letup di dalam dada. Saya lihat anak-anak lainnya terkikik. Sembunyi-sembunyi.
“Kalau bukan dari sekarang, kapan lagi kelas kita akan mendapat pengakuan baik?! Kalian tahu, kelas kita ini sudah kepalang dicap kelas perusuh oleh nyaris seantero guru di sekolah kita ini!”
“Memangnya gue pikirin?!”
Asem!
Kelakuan minus anak kaya itu sudah tidak dapat ditolerir lagi. Saya dekati Ryan yang duduk dengan gaya koboinya di seberang meja belakang kelas. Saya tarik kerah bajunya dengan satu entakan keras setibanya di sana. Dia tersentak maju. Kaget tidak kepalang tanggung atas tindakan saya yang mendadak.
“Jadi, maumu apa, heh?!”
“Sa-saya….”
“Ayo, jagoan! Kalau kamu memang tidak suka dengan perintah saya, jangan kayak Nenek Cerewet begitu. Misuh-misuh di belakang saya. Kalau berani, kamu berhadapan langsung dong!”
Anak reseh itu hanya terdiam. Dia menentang mata saya dengan sikap sinis. Tapi dia tidak berbuat apa-apa untuk melawan. Saya lepaskan cekalan di kerah bajunya. Lalu mendorongnya sehingga terjerembab duduk di bangkunya.
“Kalian camkan semua! Kalau ada yang tidak setuju dengan perintah demi perbaikan kelas, silakan maju untuk protes. Jangan kayak ‘banci’ ini yang tahunya misuh-misuh di belakang!”
Suasana kelas sunyi seperti di kuburan. Semuanya menunduk seperti mengheningkan cipta. Ryan masih menentang mata saya. Saya tahu anak itu pasti mendendam. Anak itu memang jawara. Jagoan dari sekolah!
Diam-diam saya menghela napas panjang-panjang. Lega rasanya saya telah meluapkan emosi tanpa terjadi bentrokan fisik. Padahal, sang jawara itu bukan anak sembarangan. Seluruh sekolah tahu siapa Ryan Gunawarman. Anak pengusaha kaya. Ayahnya memiliki hubungan baik dengan pihak pendiri sekolah, founder. Selama ini tidak pernah ada yang berani menantangnya kecuali guru-guru dengan tingkat idealisme tinggi.
Satu tugas telah saya selesaikan hari ini. (blogkatahatiku.blogspot.com)