14 January 2014

BINTANG SANG JAWARA (2)

Oleh Effendy Wongso

Foto: Dok KATA HATIKU
Suasana di kantin tidak terlalu ramai. Begitu melihat muka saya, Bang Thoyib langsung melebarkan bibirnya. Dengan gesit pula dia menyiapkan semangkok bakso tanpa mie kesukaan saya. Dia sudah tahu makanan fave saya.
Arini dan Herman tampak mesra, makan barengan di meja sudut belakang kantin. Kedua anak itu memang tengah fall in love. Dan mereka melambaikan tangan begitu melihat saya yang duduk di meja depan kantin. Setelah kejadian dua hari yang lalu di kelas, teman-teman lebih respek pada saya. Mereka sudah menghormati dan menganggap saya sebagai pemimpin ketimbang teman biasa.
“Halo, Bintang. Pesan apa kamu?”
“Bintang, sini duduk bareng. Eh, hari ini biar saya yang traktir kamu.”
“Di sini sama saya saja. Saya sudah pesan bakwan, banyak. Sayang kalau mubazir. Ayo, kamu bantuin saya habisin.”
 Terus terang, saya sedikit risih dengan perlakuan mereka. Seperti ada jarak yang membentang tiba-tiba. Mengantarai hubungan kami sebagai teman biasa. Sejujurnya pula, saya tidak terlalu suka mereka memperlakukan saya demikian santunnya. Sebab saya tidak ingin dihormati dan dianggap karena terpaksa. Tentu saja. Saya tidak ingin di muka mereka patuh dan bermanis-manis, tapi di belakang berulah lagi dengan kelakuan mereka yang amburadul. Sebagai Ketua Kelas, saya tulus ingin anak-anak jadi baik. Minimal, tidak kurang ajar terhadap guru-guru.
Di sekolah swasta kami ini guru-guru memang banyak yang tentatif. Setiap awal ajaran baru biasanya berganti dengan wajah-wajah baru. Kecuali guru-guru tetap, guru-guru tentatif biasanya kurang dapat beradaptasi dengan siswa-siswa sekolah kami yang bandel ini. Secara psikologis hal itu dapat menyebabkan siswa-siswa bertindak seenaknya. Membolos atau datang ke kelas sesuka hati mengikuti mata pelajaran guru bersangkutan.
Hal itu diperburuk lagi oleh Ketua Kelas terdahulu. Orangnya tidak tegas sama sekali. Lembek dan cuek-bebek. Setiap hari justru dia yang datang belakangan dengan mata mengantuk. Kalau apel bendera, cowok gemuk itu tidak pernah sigap. Barisan selalu kacau seperti orang yang habis kalah perang. Dia sendiri juga indisipliner! Kancing-kancing atas bajunya selalu terbuka sehingga tatonya yang norak bergambar bunga mawar di dada kirinya itu terpamer ke mana-mana. Lengan bajunya selalu disingsing sampai ke pangkal lengan sebatas bahu, sehingga baju seragam sekolah yang dikenakannya lebih mirip you can see ketimbang seragam Osis. Selalu membolos. Laporan tidak pernah lengkap dan betul. Tapi anak-anak suka padanya karena dia boros. Suka traktir satu kelas makan-makan dan minum-minum di kantin. Bersama Ryan Gunawarman, mereka memang setali tiga uang!
Awal Tahun Ajaran Baru ini Dewan Sekolah memutuskan hal yang di luar dugaan. Dan hal itu merupakan kejutan tidak disangka-sangka buat saya. Rico Bernardus Tarampa mengundurkan diri secara suka rela sebagai Ketua Kelas karena akan pindah ke Balikpapan mengikuti orangtuanya yang bertugas di sana. Setelah Dewan Sekolah mempertimbangkan prestasi cemerlang saya, yang merupakan rangking pertama sepuluh besar sekolah dan saya pernah menjuarai lomba pidato tingkat SMP, maka Bintang Handoko pun diangkat menjadi Ketua Kelas yang baru. Sekaligus sebagai Ketua Osis yang baru melalui prosedur prestasi tahunan sekolah!
Mulanya saya menolak pilihan Dewan Sekolah yang menganugerahkan tanggung jawab besar itu ke pundak saya. Bukan karena saya tidak pede. Tapi saya tahu, beban-beban tugas yang bakal saya pikul itu secara otomatis akan mengganggu konsentrasi belajar saya.
“Ini tugas mulia,” bujuk Ibu Neni Wulandari, Wali Kelas saya, penuh harap.
“Tapi….”
“Ibu yakin kamu sanggup.”
“Bukan begitu….”
“Atau, mungkin kamu takut persiapan ujian kelulusanmu akan terganggu?”
Saya mengangguk pada waktu itu. Memang hal itulah yang paling saya takutkan. Selama ini, mulai dari kelas satu, kelangsungan studi saya memang praktis berasal dari beasiswa. Saya tidak ingin mengganggu penghasilan ayah saya yang cuma pegawai negeri sipil.
“Dewan Sekolah sudah memikirkan semua hal itu, Bintang. Kami tidak mungkin mengorbankan prestasimu begitu saja. Makanya, tugasmu sebagai Ketua Osis akan dihargai sebagai nilai eksklusif pada kegiatan ekstra kokurikuler. Jadi, jangan khawatir.”
Akhirnya saya terima tawaran itu. Dan sampai hari ini, tugas saya sebagai Ketua Kelas sudah berjalan satu bulan. Sudah ada perubahan sedikit ke arah yang lebih baik.

***

Namun si Biang Kerok Jawara Sekolah itu ternyata masih menyimpan dendam. Picik. Setiap hari ada saja ulahnya yang bikin saya senewen. Kalau bukan perbuatan iseng seperti menempel sepah permen karet di bangku saya, dia pasti berkicau seperti burung hantu.
“Hei, dikiranya saya takut karena dibekingi sama Ibu Neni!”
Si Burung Hantu itu tidak terang-terangan mengucapkan kalimat itu. Dia memunggungi saya, seolah-olah berbicara dengan teman-teman lainnya yang sedang berada di kantin. Dia mulai menyinggung nama Wali Kelas kami.
“Sok disiplin! Sok galak! Bagaimana kalau jadi….”
“Diaaamm!” Saya bentak Ryan yang berdiri dengan kaki kanan menginjak salah satu bangku. Gayanya tengil sekali.
“Kenapa?! Tersinggung?!”
Dia membalikkan badan. Berhadapan langsung dengan saya kini. Saya mengatupkan geraham menahan darah yang mengubun. Anak itu cengengesan dengan mata memicing. Kurang ajar. Dia malah mengunyah tusuk gigi dengan pongah.
“Punya jabatan baru, mbok ya yang wajar. Jangan kelewat euforia begitu, dong!”
“Ka-kamu sudah keterlaluan, Ryan!”
“Tapi tidak seterlalu kelakuan sok kamu yang….”
Saya tidak dapat menahan emosi lagi. Saya terjang anak itu dengan melayangkan tinju ke mukanya. Dia mengelak. Pukulan saya membentur dinding kantin. Anak-anak cewek menjerit-jerit histeris.
Ryan membalas pukulan saya yang luput tadi dengan sebuah tendangan keras yang mengarah ke perut. Saya terjerembab kesakitan di lantai. Dia hendak melayangkan satu tendangan lagi ketika saya berusaha bangkit. Namun urung dilakukannya karena Pak Simon Simanjuntak,  guru BP tiba-tiba memiting dia dari belakang. Ditekuknya anak itu sehingga badannya terjerembab ke salah satu meja kantin.
“Apa-apaan ini, heh?!” Lelaki gempal itu menatap saya. Dia masih menelikung tubuh Ryan yang meringis kesakitan terhimpit di atas meja kantin. Lalu memakinya dengan suara bentak. “Dan kamu jagoan sekolah! Berani-beraninya hanya sama….”
Ibu Neni datang tergopoh-gopoh, menggebah kalimat Pak Simon. “A-ada apa ini, Pak Simon?!”
“Anak-anak bengal ini bikin ulah lagi. Berkelahi seperti jagoan!”
“Astaga! Kamu lagi, Ryan?!” Ibu Neni melotot. Menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian.
“Ka-kamu tidak apa-apa, Bintang?” Lusiana bertanya prihatin, membersihkan lengan saya yang terluka dengan tissue. Beserta Marni, dia membantu mengangkat tubuh saya.
“Astaga! Bin-Bintang?! Kamu tidak apa-apa, kan?!” Ibu Neni memandang saya dengan mimik iba. Didekatinya saya yang sudah berdiri dengan kepala menunduk.
“A-aduh! Kok, kamu berkelahi sih, Bintang? Padahal, Ibu kan sudah bilang kalau ada apa-apa melapor saja ke Guru BP. Atau, sama Ibu.”
Airmata saya menitik. Saya menyesal tidak dapat menahan emosi. Dan bertindak gegabah karena merasa memiliki sedikit kemampuan beladiri taekwondo. Ternyata Ryan lebih kuat dari prakiraan saya. Berdua kami masuk ke ruang BP. Setelah mendengarkan penjelasan  masing-masing, maka tidak ada keputusan yang dapat meringankan hukuman untuk Ryan.
Keesokan harinya diadakan rapat penting menangani kasus perkelahian kami kemarin. Dewan Sekolah mempertimbangkan dengan cermat bahwa Ryan bersalah dan harus mendapat hukuman. Dia diskorsing tiga hari.

***

Sejak kejadian itu, saya lihat Ryan selalu menghindar bertemu dengan saya kecuali di dalam kelas. Aneh. Dia juga tidak berulah lagi, mengusili saya seperti biasa. Mungkin karena jera setelah mendapat hukuman dari sekolah. Tapi saya yakin anak itu pasti masih menyimpan dendam.
Namun saya tidak terlalu mengacuhkan pertikaian kami lagi. Saya sibuk dengan urusan sekolah. Mendekati masa ebtanas, yang juga merupakan saat-saat terakhir di sekolah, saya memang berkonsentrasi penuh terhadap pelajaran sehingga perlahan-lahan melupakan kejadian lima bulan lalu itu.
Dan sampai datang sepucuk surat dari Ryan via Lusiana. Setelah semuanya sudah tidak mungkin dapat bersama-sama sekelas seperti dulu lagi. Kami semua harus berpisah satu dengan yang lainnya. Masing-masing menempuh jalan sendiri-sendiri. Memilih Perguruan Tinggi mana yang akan kami masuki sebagai kesinambungan jenjang pendidikan.

How are you, Bintang?
Sebelumnya saya mau meminta maaf karena selama ini saya selalu bikin kamu kesal. Saya selalu jahatin kamu. Saya tahu kamu pasti membenci saya. Makanya, saya menulis surat ini supaya kamu dapat mengerti kalau selama ini saya telah menyesal. Hei, penyesalan memang datangnya selalu belakangan. Di saat kita tidak bakal dapat bersama-sama lagi seperti dulu. Tapi, it’s okay. Daripada tidak sama sekali, lebih baik ada sepucuk surat unek-unek ini, kan?
Bintang yang manis,
Meskipun mulanya saya membenci kamu karena merasa kamu tuh sok banget, tapi setelah dipikir-pikir, ternyata apa yang kamu lakukan selama ini demi reputasi dan nama baik kelas kita. Buktinya, kelas kita memperoleh predikat kelas terbaik dan terteladan.
So, untuk itu saya angkat topi. Karena kamu merupakan cewek paling berani yang pernah saya kenal. Kamu lebih berani ketimbang cowok-cowok manapun di sekolah. Kamu juga smart banget!
Eh, ini bukan rayuan pulau kelapa ya, Bintang! Tapi, memang kenyataan. Tahu tidak, setelah kasus di kantin itu saya kok jadinya malah selalu ingat kamu. Saya tidak nyangka kamu berani melawan saya, padahal tahu sendiri kan kalau seantero sekolah tidak ada yang berani sama saya. You are the great girl, Bintang! Saya salut sama kamu.
Dan sebetulnya gelar jawara itu hanya pantas untuk kamu. Bukan saya yang bengal ini!
Nah, hati saya sudah sedikit lapang setelah menulis surat ini. Tapi, ada satu hal yang ingin saya sampaikan terus terang. Boleh tidak? Kamu jangan marah tapi ya, Bintang?
Hm, saya suka sama kamu!
Sudah dulu, ya?
Bye!
Ryan Gunawarman

Saya menitikkan airmata. Ternyata si Burung Hantu itu sudah sadar. Saya bahagia membaca suratnya. Tapi juga sedih karena kami tidak mungkin dapat bersatu seperti dulu lagi. Itulah stori saya yang paling indah semasa di SMU. Dan saya akan menyimpannya sebagai kenangan yang tak terlupakan.
Selamanya. (blogkatahatiku.blogspot.com)