15 January 2014

BANGUN PERADABAN DENGAN MENULIS

BAHRUL ULUM ILHAM
Direktur Makassarpreneur
“Bangun Peradaban dengan Menulis”

Foto: Pribadi
Dunia penulisan dan kewirausahaan tidak lepas dalam diri Bahrul Ulum Ilham, Direktur Makassarpreneur yang juga aktif menulis di berbagai media di Makassar. Bagi mantan ketua lembaga riset mahasiswa Penalaran UNM ini, menulis merupakan sarana untuk membangun peradaban. Baginya, menulis menjadi ladang amal karena bisa berbagi ilmu, pemikiran, dan nasihat kepada orang lain dengan argumentatif dan bisa menjangkau banyak orang.
Ia pun mengutip kata-kata yang menjadi inspirasinya, “Peradaban dibangun di atas cahaya Tuhan, dibawa sang Nabi manusia pilihan. Melaju bersama warna merah dan hitam. Merah itu darah para syuhada dan hitam itu tinta para ulama/ilmuwan”.
Sayangnya, budaya menulis masyarakat masih rendah dibandingkan dengan budaya tutur, ujar pria yang akrab disapa Bahrul ini. “Penulis-penulis kita masih sangat kurang, termasuk dari masyarakat kampus. Sebagai buktinya, akademisi yang aktif  menulis di berbagai media cetak lokal dan nasional bisa dibilang orangnya itu-itu saja. Padahal, harusnya kampus menjadi tempat persemaian hadirnya pemikir-pemikir brilian, kritis, dan cerdas, serta memberikan kontribusi bagi pembangunan masyarakat,” tandasnya.
Bagi anggota Lajnah Khusus Intelektual HTI Sulsel ini, dunia tulis menulis dan kewirausahaan punya hubungan sangat erat. “Saat ini, kegiatan menulis merupakan skil yang sangat dibutuhkan. Bukan hanya akademisi, hubungan sosial dan bisnis tidak lepas dari dunia tulis menulis,” ujar Bahrul.
Ia pun memberi contoh sederhana, bagi akademisi seolah tidak sah kepakarannya tanpa  menulis. Sebab, bagi pebisnis dan calon pebisnis tak lepas dengan menulis karena berkaitan dengan penulisan proposal, business plan, kontrak kerja, surat penjualan, dan lain-lain. Makanya kini muncul writerpreneur, bahwa menulis bisa juga menjadi cara kreatif untuk mendapatkan penghasilan. Bagi penulis yang juga berjiwa entrepreneur, kemampuan yang dimiliki menjadi peluang untuk meraih keuntungan yang lebih besar dengan menciptakan jasa-jasa turunan yang memberikan nilai lebih.

Raih Berbagai Prestasi
Di bidang tulis menulis, pria kelahiran Makassar 5 April 1979 ini pernah meraih berbagai penghargaan, di antaranya finalis Lomba Karya Tulis Mahasiswa Tingkat Nasional di UNS Surakarta, juara I LKTI Balitbangda Sulsel, juara I LKTI Penyiaran, juara I Lomba Penulisan Mamminasata, juara II Lomba Penulisan 100 Tahun Pegadaian, dan lain-lain. Selain itu ia pernah menjadi wartawan tabloid Bisnis dan Manajemen (2005-2006), Event Management Air Bening, dan founder Lembaga Pengembangan Bisnis Makassarpreneur.
Buku yang pernah ditulis dan dipublikasikan antara lain “Jaga Mata, Jaga Telinga” (2004; Tim-KPID Sulsel), “Diary ICMI Muda, Meretas Jalan Sejarah” (2005; Tim), “Biduk Belum Berlabuh, 400 Tahun Napas Kota Makassar” (2007), “Back to Mosque” (2008), Saatnya Wirausahawan Muda (2010), dan menjadi editor beberapa buku.
Suami dari Aidah Ambo Ala Husain ini kini menggeluti pula dunia kewirausahaan dengan menjadi trainer kewirausahaan lembaga buruh internasional (ILO) sejak 2008. Bagi ayah Muh Ahza Ramadlan ini, dunia kewirausahaan bukan hal yang asing, karena sejak kuliah terlibat pada kegiatan kewirausahaan antara lain finalis Pimnas XVI pada Program Karya Inovatif Mahasiswa dan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) Dikti. Di bidang penelitian, ia pernah menjadi koordinator survei dan data The Inquire Institue, dan pernah menajdi Direktur Survei Insert Institute.

Pengalaman Tak Terlupakan
Bagi Bahrul, setidaknya ada dua pengalaman yang paling berkesan terkait dengan dunia kewirausahaan dan penulisan yang saat ini digelutinya. Pengalaman pertama yang tak terlupakan saat mendapat kesempatan bepergian ke luar negeri.
 “Tahun 2010 lalu, bersama istri dan anak tercinta kami berkesempatan ke Kota Bremen, tempat di mana istri saya mengikuti program sandwich doctoral di Universitas Bremen, Jerman. Di Bremen inilah saya melihat bagaimana konsep dan implementasi kawasan riset terpadu ‘Bremen Science Park’ sebagai tempat bersinergi akademisi, calon pengusaha, dan pengusaha,” kenangnya.
Lebih jauh dikatakan, Indonesia setidaknya bisa mencontoh Jerman dalam pengembangan kewirausahaan. Di Uni Bremen, dikembangkan Bremen Science Park berupa inkubator bisnis atau pusat inovasi dan teknologi untkuk bisnis baru (start up), yakni Bremer Innovations Und Technologiezentrums (BITZ). “Di BITZ, bagi para lulusan universitas disiapkan kantor-kantor yang diperlukan dan infrastruktur untuk memulai bisnis mereka sendiri,” tambah Bahrur.
Pengalaman tak terlupakan lainnya, saat makalah yang ditulisnya terpilih menjadi salah satu pemakalah Konferensi Internasional Triple Helix di Hotel Panghegar Bandung, 8-10 Agustus 2012 lalu. “Saya sangat bangga bisa bertemu 250 inovator dunia dan berkesempatan diskusi panel bersama dengan Dr Ir Ophir Sumule, DEA (Kemenristek), Jose Mello dari Universidade Federal Fluminense, R Passo da Patria Brazil dan Prof Jose Manoel Carvalho de Mello (Triple Helix Association),” urai Bahrul bangga.
Dalam kesempatan konferensi ini, Bahrul mewakili Makassarpreneur membawakan makalah berjudul “Makassar Technopark, The Effort to Build A Synergy Among University, Industry, And Government As The Basic Investment to Implement the Innovation Systems”. (blogkatahatiku.blogspot.com)