01 January 2014

ANANDA SUKARLAN

USUNG IDEALISME MUSIK LEWAT RESITAL PIANO

Foto: Effendy Wongso
Edukasi musik klasik yang ditekuninya sejak masih kecil membawa seorang Ananda Sukarlan mendunia lewat resital-resital pianonya yang inovatif. Berangkat dari ideliasme dan kepeduliannya yang demikian besar terhadap budaya dan musik Indonesia, maka lahirlah Rapsodia Nusantara yang pertama, dan diejawantahkannya dalam konser piano tunggal di Makassar beberapa waktu lalu.
KATA HATIKU berkesempatan mendapat wawancara eksklusif di lobi Hotel Horison Makassar saat itu, sebelum pria kelahiran Jakarta, 10 Juni 1968 ini menunjukkan kepiawaiannya dalam pertunjukan piano tunggalnya pada malam hari.

Boleh Anda ceritakan awal karier sebagai pianis?
“Sebagai tujuh bersaudara yang lahir dari ayah TNI, tentu kami, khususnya saya, tidak memiliki latar belakang musik sama sekali. Kecintaan saya terhadap instrumental piano tergolong tidak sengaja. Ketika itu, keluarga kami membeli sebuah rumah peninggalan sahabat orang tua, di mana masih ada beberapa perabot termasuk sebuah piano tua. Nah, di sanalah saya mulai belajar bermain piano bersama kakak perempuan saya. Setelah beranjak dewasa, saya memutuskan untuk sekolah musik di Deen Haag, Belanda. Di sana saya banyak belajar kultur musik yang sesungguhnya. Bahwa musik sebenarnya bukan pekerjaan sampingan, tetapi musik merupakan sebuah pekerjaan yang dapat menghasilkan dan menopang hidup kita. Setelah itu, akhirnya saya lebih banyak berkarier di luar negeri.”

Apakah hal itu yang menyebabkan Anda lebih memilih berkarier musik di Spanyol?
“Itu memang satu-satunya alasan saya memilih berkarier musik, bahkan tinggal di Spanyol. Terus terang, iklim permusikan di luar negeri sangat berbeda jauh dengan di Indonesia. Di sana, musisi sangat dihargai. Karya-karya mereka dianggap masterpiece, dan diberi penghargaan yang layak jika berprestasi. Ketika nama saya mulai dikenal di Spanyol, seorang Ratu Sofia pun dengan antusiasnya, lewat tangan saya, hendak mempopulerkan lagu-lagu Spanyol. Nah, itu salah satu peran pemerintah Spanyol memajukan budaya dan seni mereka. Di Indonesia, saya tidak melihat peran itu. Ketika saya mendirikan Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI) yang berangkat dari idealisme, secuil pun tidak ada kepedulian dari pemerintah bagi perkembangan musik klasik di Tanah Air. “

Sebagai pianis internasional, bagaimana Anda melihat prospek permusikan, khususnya musik klasik di Indonesia?
“Saya masih optimis permusikan di Indonesia dapat berkembang meskipun belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Saya melihat antusiasme beberapa kalangan yang menunjukkan kepedulian besar terhadap musik klasik atau musik sastra, yang bukan dianggap hanya sekadar hiburan, tetapi lebih kepada edukasi bagi perkembangan jiwa anak-anak mereka. Hal itu dapat dilihat dari setiap konser tunggal yang saya gelar, pasti dipenuhi penikmat musik sastra. Dalam seminar musik yang saya adakan beberapa waktu lalu, saya lihat sangat antuasias diikuti justru oleh remaja dan anak-anak yang notabene merupakan cikal-bakal musisi bagus.”

Bagaimana cara Anda mengedukasi musik sastra di Indonesia, dan apa hasil kontribusi yang lahir dari idealisme YMSI tersebut?
“Memang dibutuhkan waktu yang lama, telaten, dan penuh kesabaran untuk mensosialisasikan musik sastra kepada publik musik di Indonesia. Pasalnya, persepsi terhadap musik itu sendiri sudah sangat melenceng dari harfiah sebenarnya. Musik dipandang sebagai selingan, sementara musisi tentu tidak dapat bergantung terhadap musik yang digelutinya lantaran posisi musik itu sendiri bukan sebagai sumber mata pencarian. Tetapi untuk sementara, saya hanya dapat melakukan terobosan kecil dulu dengan mendirikan YSMI, di mana sekolah musik ini diperuntukkan bagi pengembangan jatidiri musisi, memberi penghargaan atau beasiswa kepada anak-anak yang berprestasi di bidang musik, serta mengajar bermain musik kepada beberapa anak kurang mampu. Memang kerja idealisme ini membutuhkan dana yang tidak sedikit, tetapi bermodal tekad dan sumbangsih beberapa kerabat yang peduli nasib permusikan yang memprihatinkan, maka kami berusaha membantu sebisa mungkin untuk itu.”

Bagaimana ihwal Rapsodia Nusantara yang menjadi tajuk konser Anda di Makassar dan beberapa kota lainnya di Tanah Air beberapa waktu lalu?
“Rapsodia Nusantara merupakan bentuk kepedulian saya terhadap budaya dan seni yang ada di Indonesia. Seperti musik, budaya maupun seni kurang mendapat perhatian pemerintah. Terus terang, dari sekian banyak komponen di Indonesia yang dapat dibanggakan, selain musik, saya melihat tinggal kebudayaan dan kesenianlah yang memiliki reputasi untuk dapat dibanggakan. Politik dan ekonomi mengalami kisruh yang berkepanjangan, dan itu merupakan interpretasi negatif di mata dunia. Makanya, dalam bidang yang belum terdistorsi seperti budaya dan seni inilah, Indonesia dapat berbicara lebih banyak. Saya melihat potensi itu, dan menciptakan resital piano dengan menggabungkan musik sastra dengan beberapa lagu daerah, termasuk lagu Makassar.”

Boleh tahu lagu daerah Makassar yang menjadi resital piano dalam konser Rapsodia Nusantara Anda beberapa waktu lalu?
“Anging Mammiri dan Marencong Rencong. Lagu ini terinspirasi saat saya search lagu-lagu daerah di Google. Memang sangat disayangkan bahwa dari sekian banyak lagu daerah yang bagus-bagus, namun publik musik dunia tidak ada yang memainkannya lantaran lagu daerah tersebut tidak diekspose secara serius oleh pemerintah. Itulah pentingnya kepedulian pemerintah agar dapat memajukan musik di Indonesia.”

Apa pesan Anda terhadap musisi muda Tanah Air?
“Menjadi musisi yang baik tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan kerja keras dan kesungguhan. Ketika saya masih bersekolah musik di Belanda, saya meluangkan kurang lebih enam jam setiap harinya selama tujuh tahun di depan piano. Ini merupakan kunci saya menuju sukses. Saya kira, anak-anak muda Indonesia memiliki potensi untuk maju. Apalagi saat ini mereka didukung oleh industri teknologi (IT) musik yang baik.” (blogkatahatiku.blogspot.com)