23 January 2014

ALAT TULIS KANTOR SUDAH TERMASUK BISNIS PRIMER

Foto: Effendy Wongso
Dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari, setiap orang pasti membutuhkan alat tulis kantor (ATK). Kebutuhan terhadap ATK memiliki tujuan riil, yakni melakukan pencatatan tertulis untuk menjadi bukti fisik dari sebuah laporan yang tengah disusun atau dilaporkannya. Ini berlaku, terutama pada suatu institusi, perusahaan maupun organisasi, juga pelajar dan mahasiswa yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan penjualan ATK yang terus meningkat secara signifikan.
Hal tersebut diungkapkan penulis dan pemerhati bisnis-sosial, Khiva Amanda saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu via milis terkait perkembangan transaksional produk ATK yang mencengangkan dari tahun ke tahun. Disebutkan, berdasarkan data yang dilansir oleh Kementerian Perdagangan, pada 2012 lalu saja tercatat transaksional penjualan ATK di Tanah Air mencapai sekitar Rp 7 triliun. Adapun perkembangan terpesat terjadi di DKI Jakarta. Dari data tersebut, Sulawesi Selatan (Sulsel) menempati peringkat kedelapan sebagai daerah dengan tingkat penjualan ATK terbesar di Indonesia, dengan nilai transaksi mencapai Rp 130 miliar.
“Terjadinya transaksional yang cukup besar ini berkat peran berbagai pihak, tidak hanya individu yang membutuhkan alat tulis, melainkan perusahaan, institusi, sekolah dan universitas, serta berbagai organisasi juga membutuhkan ATK,” ujarnya.
Khiva menganalogikan, jika manusia kebutuhan pokoknya adalah nasi, maka perusahaan, sekolah, maupun instansi-instansi maupun komunal formal lainnya kebutuhan pokoknya adalah ATK. Menurutnya, kebutuhan terhadap ATK terdongkrak karena semua orang membutuhkan laporan tertulis dan nyata yang berbentuk “fisik”.
“Ya, terutama ATK seperti kertas, pulpen, tinta, dan lain-lainnya. Nah, itu tidak bisa dipisahkan dalam kebutuhan hidup sehari-hari,” ungkapnya.
Disebutkan, dari sekian banyak instansi tersebut pasti setiap harinya membutuhkan ATK. “Nah, banyak orang yang tidak sadar bahwa kebutuhan pokok mereka selain pangan, sandang, dan papan adalah ATK. Pasalnya, tanpa ATK mereka tidak bisa menjalankan kegiatan sehari-hari mereka, misalnya anak sekolah, mahasiswa, ataupun para pekerja tentunya membutuhkan ATK untuk melakukan pencatatan,” contohnya.
Dipaparkan, jumlah pengusaha kecil yang bergerak di sektor ini setiap tahunnya mengalami peningkatan, begitu pula dengan jumlah pengusaha menengah dan pengusaha besar. Namun dari data yang diperolehnya dari Kementerian Perdagangan, dalam kurun waktu beberapa tahun ini, terutama pada 2010-2011 lalu, sejumlah pengusaha menengah-besar mengalami sedikit penurunan transaksional penjualan.
“Jika kita mencermati paradigma ini, hal tersebut bisa jadi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti strategi bisnis dan kinerja yang kurang maksimal saat mengelola bisnis yang sebetulnya ‘primer’ ini. Ya, kita tahu kan, sebenarnya jumlah penjualan ATK dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang stabil. Ini juga berarti bisnis di bidang ini seperti tidak ada matinya,” imbuhnya.
Menyoal peran pemerintah, khususnya dalam mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sektor ini, wanita berkacamata minus tersebut mengungkapkan bahwa peran institusi plat merah tersebut sudah semakin aktif mendorong UMKM dalam berbagai daya upaya.
“Ya, ini termasuk banyaknya bank pemerintah seperti BRI yang menawarkan kredit usaha kecil untuk masyarakat dengan syarat yang mudah,” jelasnya.
Kendati demikian, Khiva tak menafikan adanya beberapa faktor yang menyebabkan penurunan dalam usaha ini lantaran minimnya inovasi pada usaha yang dijalankan oleh para pelaku usaha. “Pada bisnis alat tulis ini, bila usaha yang Anda jalankan tidak memiliki diferensiasi tersendiri, maka akan dengan mudah tersingkir dari peta persaingan. Ya, jelas karena saat ini konsumen justru membutuhkan sesuatu yang berbeda, bukannya konsep konservatif seperti dulu lagi,” pesannya.
Diferensiasi yang dimaksud adalah strategi bisnis yang cocok dengan kondisi pasar. “Terus terang, banyak perusahaan dalam bisnis ini hanya mengandalkan strategi harga, dengan melakukan ‘war-price’ misalnya. Nah, itu kan sebenarnya berbahaya di mana pengusaha hanya menawarkan harga termurah. Cara-cara itu sebenarnya tidak dapat memenuhi keinginan konsumen yang majemuk,” paparnya.
Selain itu, sistem pengelolaan pemasok yang tidak efektif juga turut menurunkan kinerja pengusaha ATK. Hal ini diungkapkan Khiva mengingat para pelaku di bisnis ini cenderung mengandalkan satu pemasok saja.
“Ini andil yang bikin minimnya variasi untuk melakukan strategi tepat guna dan diferensiasi produk. Faktor klasik lainnya adalah kurangnya kecermatan pengelolaan modal dan kendali kredit, terutama dalam pengelolaan kredit. Pengambilan kredit over limit (di bank) yang tidak memperhitungkan plafon jaminan memiliki tingkat risiko yang tinggi. Nah, ini yang sering terjadi sehingga beberapa pengusaha mengalami kolaps,” ulasnya.
Diuraikan, akibatnya pengusaha mengalami “fatal-error” lantaran modal tersebut tak disesuaikan terhadap kebutuhan operasional, sehingga salah kaprah dalam mengalkulasi antara kredit dan modal terhadap kemampuan dalam membayar utang. (blogkatahatiku.blogspot.com)