31 January 2014

Suatu Hari di Fashion Cafe

BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
Suatu Hari di Fashion Cafe
Oleh Anita Anny

“Nama Kakak Eyang, ya?”
Saya mengangguk. Sekilas menatap wajah tirus yang mengarah begitu dekat ke pipi kanan saya. Saya meneruskan mengawasi panggung.
“Lho, kok Eyang sih?”
“Memangnya kenapa?”
Dia tersenyum. Samar. Lalu menggeleng pelan. “Nggak apa-apa,” begitu jawabnya. “Cuma aneh.”
“Lha, kok aneh?” Kali ini saya menatapnya serius. Cowok ceking itu sudah terkekeh. Bahunya bergetar hebat. Tapi dia sama sekali tidak meledek saya. Saya tahu, seperti orang-orang yang baru mengenal saya, mereka pasti akan menertawakan nama saya. Eyang.
“Eyang kan, artinya….”
“Nenek-nenek!” ketus saya, menyalibi.
 Bagaimanapun juga, saya tidak dapat menutupi perasaan saya. Saya bosan ditanyai-tanyai tentang nama saya yang kedengaran aneh di telinga orang lain. Padahal, apa sih jeleknya nama Eyang itu?! Bagi saya, itu merupakan nama terbaik dan terindah sedunia. Iya, sedunia! Karena menurut Mama, nama Eyang punya makna yang dalam. Formalnya sih, sakral. Ah, saya tidak tahu pasti. Karena nama tersebut sudah dilekatkan kepada saya sejak  saya masih orok. Tentu saja saya tidak boleh protes, menolak, atau demo pada orangtua saya yang notabene memberi saya nama yang tidak lazim. Iyalah, masa sih saya harus menggelar poster atau spanduk antinama seperti  pada saat maraknya mahasiswa-mahasiswa se-Indonesia menyuarakan reformasi! Kalau iya, Mama dan Papa, juga Oom Bayu, adik Mama pasti akan terkekeh alias terkikik ala kuntilanak seperti kalau sedang nonton program acara lawak di stasiun TV.
Eyang, Eyang! Kamu ini sedang ngelawak atau apa, sih? begitu pasti kata mereka, lantas meneruskan tawa yang sama sekali tidak sedap di pendengaran saya.
Pufh!
Lalu, saya harus bagaimana dong?! Mencak-mencak hanya gara-gara sebuah nama?! Huh, bukankah ada pepatah  mengatakan: ‘Apalah artinya sebuah nama?!’. So, nama itu tidak, atau paling tidak, tidak menjadi masalah buat saya. Lalu, kenapa dipersoalkan?! Lha, kalau Komnas HAM sampai tahu hanya gara-gara sebuah nama dibesar-besarkan, mungkin mereka akan mengirimkan duta atau wakil untuk mengusut tuntas kasus ‘nama’ tersebut. Iyalah. Soalnya perkara sepele itu kalau dikipas-kipas atau dikompor-komporin terus kan,  mengganggu kebebasan ber-‘nama’. Itu berarti mengganggu aktivitas sehari-hari. Tidak enak dibawa kerja. Tidak enak dibawa makan. Tidak enak dibawa tidur. Tidak enak dibawa melamun. Tidak enak de-el-el  de-el-el. Pokoknya, tidak enak segala-galanya. Persis kalau orang lagi sakit gigi!
Tapi memang dasar. Orang-orang sih biasanya punya sifat laten yang tidak terpuji. Sudah dari sononya. Dan kebiasaan tersebut, yang acap kali dikasih nama hobi itu tidak lain dan tidak bukan adalah: G-O-S-I-S-P!  Singkatan dari, Digosok-gosok Semakin Sip! Padahal mereka tidak tahu bahan obyekan yang digosok-gosok itu bisa senewen. Dosa, tahu! Tapi, apa mereka sadar bahwa ngegosip itu juga merupakan dosa?! Apa mereka tidak tahu kalau si korban gosip itu bahkan tertekan jiwanya kayak memikul sembako sekian puluh ton?! Apa mereka tidak punya nurani untuk melihat bagaimana sengsaranya si korban gosip itu?! Hah, dikiranya yang menderita hanya korban PHK pabrik-buruh-kasar yang  pada akhirnya bisa makan nasi-tiwul?!
Kayak artis saja. Tiap hari digosipin. Apalagi kalau bukan persoalan nama: E-Y-A-N-G?! Iyalah. Eyang Sastrowijoyo sekian tahun ini tidak kalah pamornya sama selebritis. Tidak kalah gemerlapnya dengan para bintang yang mukanya sering nongol di layar kaca. Tidak kalah larisnya dibandingkan film Titanic yang kesohor itu. Paling tidak, nama Eyang bisa disejajarkan sama ketenaran Kate Winslet!
Oke, oke. Berbalik dari kekesalan yang bikin nyut-nyut kepala dan bikin senut-senut gigi saya, semua perihal nama itu ada juga hikmahnya. Saya bisa jadi lebih sabaran. Tidak suka misuh-misuh kayak dulu lagi. Mau marah-marah gimana? Apa harus nabok orang atau kenalan baru saya yang mempersoalkan nama saya itu?! Atau, apa saya harus menuntut mereka ke pengadilan lantaran bawa-bawa nama saya yang kedengaran aneh itu?! Apa saya harus nyewa pengacara top OC Kaligis atau Adnan Buyung Nasution untuk menyeret mereka ke bui?! Hihihi… apa kata dunia? Lelucon terbesar abad ini!
“Kak Eyang…!”
Kata Mama, nama Eyang sengaja dipilih di antara nama-nama lain semisal Susi, Wati, Siti, de-el-el de-el-el. Karena nama Eyang sudah diperhitungkan matang-matang. Diperhitungkan menurut primbon dan kerabat-kerabatnya. Konon, untuk mendapatkan nama buat saya, Mama sampai mutih selama seminggu. Ah, tauk-lah. Kalau Mama mutih, pastilah Papa ngitem.
Ya, itulah. Demi sebuah nama. Kata Mama lagi, Eyang dipilihkan kepada saya supaya saya dapat menjadi eyang-eyang alias nenek-nenek alias panjang umur. Supaya saya nantinya dapat beranak-pinak sampai cicit.
“Kak Eyang…!”
“Oups…!”
“Ngelamunin siapa, sih?”
Cowok ceking itu menatap saya terpaku. Saya tidak menyangka kalau pikiran saya bisa ngelencer jauh begitu.
“Ngelamunin pacar saya!” jawab saya, mencoba menutupi kekikukan saya.
“Pasti special.”
“Martabak kali.”
Dia tertawa.
“Kak Eyang….”
“Apa?”
“Pacarnya ganteng, ya?”
“Kalau nggak ganteng mana saya mau?”
“Oya?”
“He-eh.”
“Asli?!” Dia mengacungkan jarinya menggambarkan suer.
“Apa saya pernah bohong sama kamu?” balas saya.
Dia menggeleng dengan lugunya. Saya tertawa, nyaris ngakak. Dia menatap saya terheran-heran. Heh, tentu saja saya tidak pernah berbohong kepadanya. Wong saya baru kenalan dengan dia pagi tadi, kok. Meski dia ngaku sudah mengenal saya lama sebagai kakak kelasnya, tapi saya sendiri kan tidak kenal sama dia. Memangnya Arjuna Arief Santoso yang sebenarnya berembel-embel Raden itu seleb apa?!
“Kenapa ketawa, Kak Eyang?”
“Kamu lucu,” sahut saya agak kecentilan. “Kamu bisa jadi pelawak.”
“Pelawak?”
“Yap. Seperti Tukul Arwana, Basuki, atau Timbul.”
Saya sudah ngakak. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan tawa saya yang sebenarnya tidak sopan itu. Malah dia menyembulkan senyum simpatik. Saya katakan simpatik karena, dia berusaha menutupi giginya yang notaris (nongol tapi sebaris) itu. Paling tidak, dia memahami etika ketawa yang baik. Tidak seperti saya yang, meski gadis dari kalangan baik-baik, kalau ketawa kadang-kadang gulingan di lantai.
“Saya nggak suka mereka,” urainya setelah meredakan tawa kecilnya.
“Lho, kenapa?” tanya saya dalam nada bergurau. “Jelek-jelek gitu mereka tajir, lho?  Lihat, gimana larisnya mereka sebagai bintang iklan….”
“Kalau boleh memilih, saya lebih memilih Mr Bean,” salibnya serius.
“Kenapa Mr Bean?”
“Nggak kenapa-kenapa. Cuma dia nggak sekadar melucu.”
“Maksud kamu apa?”
“Dia nggak melucu tapi lucu.”
“Maksud kamu….”
“Kak Eyang lihat, Mr Bean itu lucu karena keluguannya. Ketidaktahuannya. Bukan karena ketololannya, atau kebodohannya. Kadang-kadang kita tertawa karena, sebenarnya kita menertawakan diri kita sendiri.” Arjuna Arief Santoso itu bicara panjang-lebar berdiplomasi.
Huh-huh! Saya mulai sebel. Dia sok menggurui.
“Kadang-kadang, Kak Eyang, saya nggak ngerti gimana jalan pikiran kita,” si Tiang Listrik berjalan itu mulai lagi dengan kalimat-kalimat filosofinya. Pantas, sebelum berkenalan dengan dia, Rini, teman sebangku saya di kelas, sempat membisiki saya kalau yang namanya Arjuna Arief Santoso orangnya rada-rada ‘begini’, begitu katanya sembari memiringkan jari telunjuk di jidatnya. “Setelah terpenuhi ini, ya mau itu. Setelah terpenuhi itu, ya mau ini lagi. Manusia, ya kita-kita ini Kak Eyang, nggak ada puas-puasnya. Dapat seratus mau seribu. Dapat sejuta mau semiliar. Begitu seterusnya. Nggak ada habis-habisnya. Nggak ada putus-putusnya. Seperti kereta api yang punya seabrek-abrek gerbong. Kalau keinginan atau cita-cita tersebut nggak kesampaian, maka kita-kita pada ngamuk, ngambek, nangis, cengeng kayak balita. Seharusnya kita belajar sama Mr Bean. Dia selalu, bukan selalu ya, tapi mensyukuri apa yang diperolehnya. Dapat ini, ya dia bersyukur tanpa neko-neko.”
Saya jengkel, tapi sedikit terpikat untuk menyanggah. “Tapi, memang manusia begitu kok. Punya naluri untuk berkembang. Nggak cepat merasa puas. Kalau manusia cepat puas seperti Mr Bean gambaranmu itu, berarti dia bukan manusia. Tapi malaikat.”
Dia menggeleng. “Manusia adalah manusia. Malaikat adalah malaikat. Kalau manusia nggak punya rasa syukur, itu berarti manusia nggak ada bedanya dengan mobil tanpa rem. Nah, Kak Eyang, bayangkan deh kalau mobil itu nggak memiliki rem. Nabrak sana nabrak sini kalau nggak nyungsep ke jurang.”
Saya terperangah. Sama sekali nggak menyangka kalimatnya akan ‘mengena’ begitu. Iya, apa bedanya manusia macam begitu dengan mobil tanpa rem?! Jujur, saya banyak melihat manusia jenis yang digambarkan Arjuna. Bahkan, bagi saya, manusia-manusia jenis itu tidak ada bedanya dengan kanibal. Pemakan manusia. Tidak salah kalau ada pepatah miris yang mengatakan bahwa, ‘manusia merupakan serigala bagi manusia lainnya’!
“Kak Eyang….”
“Eh, apa?” Saya belum berhasil menguasai keterkejutan saya.
“Saya mau berterus terang sama Kak Eyang. Boleh?” Dia menatap saya serius. Dengan sorot matanya yang ganjil.
“Boleh,” angguk saya.
“Saya mencintai Kak Eyang!”
Saya tiba-tiba pingin ketawa. Kalau bisa, terbahak-bahak. Tapi itu  tidak saya lakukan. Sebab, dia, Arjuna Arief  Santoso, telah mengajari saya sesuatu tentang kejujuran.
“Saya sudah lama naksir Kak Eyang. Sejak hari pertama MOS. Kak Eyang ingat, waktu itu Kak Eyang merupakan salah satu panitia.”
Saya menelan ludah saya dengan susah payah. Dari pingin tertawa tadi tiba-tiba menjadi pingin menangis.
“Kak Eyang nggak marah, kan?”
Saya menggeleng. Perlahan berdiri dan meninggalkan dia duduk sendiri dengan wajah berharap-harap cemas. Hari ini saya telah mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang kejujuran. Salah satu sisi putih hati manusia.
Boleh jadi Arjuna adalah orang sinting seperti yang dikatakan Rini pada saya. Boleh jadi. Tapi bagi saya, keterusterangannya kepada saya itu telah mewakili sifat bijak yang sudah jarang dimiliki oleh orang-orang.
Saya tinggalkan Fashion Cafe dengan hati baur. Arjuna menirus dalam pandangan saya. Dia bergabung dengan teman-teman lainnya yang tengah menata dekorasi panggung untuk acara perpisahan sekolah nanti malam. Wajahnya seperti bayi tanpa dosa.

INDUSTRI MAINAN ANAK YANG IMAJINATIF

Foto: Effendy Wongso
Sebagai salah satu mainan edukatif, puzzle berkarakter binatang termasuk jenis mainan yang paling diminati. Mainan ini diklaim dapat merangsang daya pikir anak tentang dunia satwa. Hal tersebut dikemukakan oleh Gede Widiatmita, owner kedai mainan dan buku bacaan anak-anak, Gede Agency di Jalan Ahmad Yani, Watampone, Sulawesi Selatan (Sulsel), saat ditemui beberapa waktu lalu.
Gede adalah salah satu pemerhati anak di Kota Kepiting ini. Ia mengaku hanya menjual mainan yang edukatif saja. Selain itu, sedari dulu ia juga menyajikan bacaan anak-anak yang sarat makna seperti majalah Bobo, Kawanku, Nakita, Ayah Bunda, dan lain-lain. Gede boleh jadi merupakan salah salah satu orang yang masih memiliki idealisme di antara demikian banyak pengusaha mainan anak yang berorientasi konsumerialisme semata.
Namun sudah barang tentu, sebagai orang yang peduli terhadap perkembangan kreatif anak, kita memang dituntut untuk memulai segalanya dari hal-hal kecil seperti yang dilakukan pria asal Singaraja, Bali ini.
Lepas dari itu, anak-anak Indonesia memang memerlukan mainan edukatif yang dapat merangsang daya pikir. Dalam hal ini, orangtua dituntut untuk peduli dengan selektif memilihkan mainan untuk anak-anak mereka. Tak heran, jika mengaitkan dengan bisnis, peluang pasar mainan ini kian menjanjikan. Pada 2011 misalnya, seperti diuraikan oleh penulis dan pemerhati bisnis-sosial, Khiva Amanda, omset industri mainan edukatif mencapai Rp 44,21 miliar. Jumlah tersebut meningkat 30 persen dibandingkan nilai penjualan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 34,43 miliar.
Dikatakannya pula, di tengah pesatnya pertumbuhan pasar tersebut, produsen mainan kini semakin giat berinovasi. Berbagai bentuk mainan unik dan kreatif diciptakan, salah satu jenis mainan yang sedang tren adalah puzzle.
“Di era 1980, Indonesia sempat booming dengan permainan yang namanya ‘Lego’. Mainan ini memicu kreativitas anak lantaran diharuskan untuk membangun sebuah struktur seperti rumah atau bangunan sesuai minat mereka. Sayang mainan ini memudar, padahal sangat edukatif dan merangsang imajinasi anak-anak,” kenangnya.
Khiva berharap, apapun bentuknya, produsen mainan edukatif harus bisa menyelami imajinasi anak-anak. Melalui permainan edukatif tersebut pulalah sehingga imajinasi anak-anak dapat terbangun sehingga dapat merangsang daya pikirnya.
Sementara itu, pemerhati budaya dan mainan tradisional anak Makassar, Romo Hemajayo Thio, kala ditemui di Griya Jinaraja Sasana, Jalan Bonerate, Makassar, mengungkapkan keprihatinnya terhadap bebasnya akses digital yang belum layak dikonsumsi oleh anak-anak, di antaranya melalui jaringan internet.
“Orang tua perlu mengawasi anak-anak mereka. Di era teknologi ini, pergeseran pola permainan anak mengarah ke digital, di mana permainan tradisional mulai ditinggalkan, dan mereka menuju akses internet bebas. Jika tak diawasi, saya khawatir ini akan menimbulkan problematika tersendiri,” pesannya.
Hemajayo menyampaikan, seyogianya permainan tradisional tak ditinggalkan karena secara tersirat banyak membawa pesan moral, di antaranya menggugah anak-anak terhadap cinta Tanah Air dan tetap menggunakan bahan mainan yang bersumber dari alam.
Memang, industri mainan anak di satu sisi merupakan lahan bisnis yang menggiurkan, akan tetapi di sisi lain, bisnis ini sarat dengan moralitas karena merupakan gerbong bibit-bibit muda yang suatu saat akan memimpin bangsa ini.
Sebab mengajari anak bermain, khususnya melalui peranti atau alat permainan, adalah landasan kita dalam membangun kreativitas dan kemandiriannya kelak di masa depan. (blogkatahatiku.blogspot.com)

POKCOY TUMIS BAWANG PUTIH

Foto: Istimewa
(Untuk 4 porsi)

Bahan:

2 ikat pokcoy, disiangi
4 siung bawang putih, dicincang kasar
1 sendok teh kecap ikan
1 sendok teh kecap asin
½ sendok makan saus tiram
½ sendok teh garam
¼ sendok teh merica bubuk
2 sendok teh maizena, dilarukan dengan 1 sendok makan air 100 ml
1 sendok makan minyak untuk menumis

Cara Membuat:

-   Panaskan minyak. Tumis bawang putih hingga harum. Masukkan pokcoy. Aduk sampai berubah warna.
-   Tambahkan kecap ikan, kecap asin, saus tiram, garam, dan merica. Aduk rata. Tuang air. Masak hingga matang.
-   Kentalkan dengan larutan maizena. Aduk hingga meletup-letup.

Tips:

Pilih pokcoy yang kecil (tinggi 6 cm). Pokcoy juga bisa direbus saja, lalu saus disiramkan di atasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)

TERONG BAKAR MASAK BELACAN

Foto: Istimewa
(Untuk 3 porsi)

Bahan:

3 buah terong ungu, dibelah dua memanjang
2 lembar daun jeruk, dibuang tulangnya
1 buah tomat, dipotong-potong
1¼ sendok teh garam
½ sendok teh gula pasir
75 ml air
4 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu Tumbuk Kasar:

6 buah cabai merah
3 buah cabai merah keriting
4 butir bawang merah
2 siung bawang merah
2 siung bawang putih
1½ sendok teh terasi, dibakar

Cara Membuat:

-   Belah dua terong. Bakar terong sampai berwarna sedikit kecoklatan.
-   Panaskan minyak. Tumis bumbu tumbuk kasar dan daun jeruk hingga harum. Masukkan tomat. Aduk dampai layu. Tambahkan garam dan gula pasir. Aduk rata.
-   Masukkan terong bakar. Aduk rata. Tuang air. Masak sampai matang dan meresap.

Tips:

Terong bisa juga dipanggang di dalam oven kalau mau lebih praktis. (blogkatahatiku.blogspot.com)

BISNIS PONSEL YANG MENJANJIKAN

Peluang di Tengah Maraknya Teknologi Mutakhir

Foto: Effendy Wongso
Saat ini telepon seluler (ponsel) atau yang lebih dikenal dengan sebutan handphone (HP) sudah bukan menjadi barang mewah seperti satu dekade lalu. Di Indonesia, dari data yang dilansir Kementerian Komunikasi dan Informatika, mencatat penggunaan gadget di Indonesia pada 2012 telah mencapai angka 240 juta unit. Angka tersebut lebih banyak dibanding penduduk Indonesia yang jumlahnya di kisaran 230 juta jiwa, sedangkan tingkat penggunanya mencapai 67 persen.
Sementara untuk proporsi kepemilikan, terbanyak di Pulau Jawa di mana rata-rata satu orang mempunyai dua ponsel, baik smartphone dan ponsel reguler. Pemakain ponsel aktif biasanya berusia di bawah 34 tahun. Akses internet diketahui paling sering dibuka di rumah, saat mobile, dan tempat “hangout” seperti kafe dan tempat berkumpulnya suatu komunitas.
Kondisi ini tidak saja menguntungkan provider, akan tetapi juga merupakan peluang yang  menggiurkan bagi masyarakat yang ingin berbisnis terkait bidang tersebut, mulai dari penjualan HP, voucher, aksesoris, servis, bahkan multilevel marketing (MLM). Prospek yang tengah dilanda euforia ini akan menjadi inspirasi bagi masyarakat yang ingin membuka usaha ponsel.
Menurut lansiran Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), melalui Direktur Telekomunikasi, Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Titon Dutono, di  2009 saja terdata 160 juta kartu Subscriber Identity Module (SIM) yang beredar. Satu orang bisa menggunakan lebih dari satu ponsel, sementara satu ponsel ada yang memiliki lebih dari satu kartu SIM. Berkat dukungan infrastruktur komunikasi yang berkualitas dalam memperlancar sinyal, seperti suara yang jelas tanpa terputus-putus, maka dalam kurun waktu yang singkat, di Tanah Air tumbuh 11 operator (provider), masing-masing telah melakukan strategi “perang harga” dan unjuk fasilitas untuk menjaring konsumen.
Belakangan ponsel asal China membanjiri pasaran dengan harga miring dengan tampilan dan model pendahulunya dari ponsel-ponsel merek besar dan ternama. Serangan ini sempat memporak-porandakan produsen ponsel seperti Nokia, Sony, Philips, Motorola, Samsung, LG, dan lainnya. Bahkan jenis “qwerty” Blackberry yang kini tengah digandrungi pecinta ponsel, ditiru dan dijual dengan harga yang sangat murah. Fenomena kemajuan teknologi, menciptakan alat komunikasi ini berinovasi dalam kurun waktu beberapa bulan saja, dan mendikotomi mindset seseorang “yang tidak segera ganti baru tentu akan ketinggalan zaman”.
Dari pantauan KATA HATIKU, industri ponsel memang tak lepas dari Negeri Tirai Bambu China, tak terkecuali di Makassar. Animo masyarakat untuk memiliki ponsel lebih dari satu sudah menjadi semacam tren dan gaya hidup modern. Di MTC Karebosi Makassar, pengunjung gerai maupun outlet ponsel tidak pernah sepi dari pembeli, terutama berburu ponsel China yang berharga murah namun berkualitas high-tech.
Memang, hal tersebut tidak terlepas dari hadirnya berbagai ponsel merek lokal atau lebih dikenal sebagai “HP China”, berharga cukup terjangkau serta dilengkapi dengan berbagai fitur canggih guna mendukung mobilitas masyarakat yang semakin meningkat.
Salah satu pusat penjualan handphone terbesar dan terlengkap di Makassar, yaitu HP Zone MTC yang terletak di Lantai 1 MTC Karebosi, terdapat ratusan gerai ponsel yang menyediakan ponsel merek lokal seperti Oppo,  Nexian, Mito, Cross, TiPhone, Taxco, dan lain sebagainya, termasuk aneka aksesoris pendukungnya. Di samping merek-merek lokal tersebut, tersedia pula merek ternama seperti Nokia, Blackberry, Samsung, Sony, Philips, LG, dan Motorola.
Suasana di HP Zone MTC Karebosi, Kamis (30/1/2014) sore, cukup ramai dipadati pengunjung. Salah seorang owner gerai ponsel di HP Zone MTC, Aryani, mengatakan meski mata uang rupiah melemah beberapa bulan belakangan ini, namun aktivitas transaksi ponsel masih normal, bahkan cenderung melonjak tajam jika ada produk mutakhir yang dirilis beberapa produsen seluler.
“Dengan uang Rp 600 ribu hingga Rp 800 ribu saja, pembeli sudah dapat memiliki HP Android model terbaru, lengkap dengan fitur-fitur canggih seperti wifi, WhatsApp, kamera, jaringan untuk jejaring sosial semacam Facebook atau Twitter, serta fasilitas lainnya,” jelasnya.
Ketika ditanya perihal omset per hari yang dapat diraih gerai ponselnya, wanita yang kurang lebih tiga tahun menggeluti bisnis ponsel ini enggan mengungkapkannya. “Tidak tentu. Yang pasti cukup lumayanlah,” jawabnya.
Sementara itu, menyusuri gerai lainnya di tempat yang sama pun tak kalah ramainya. Di gerai Gudang Handphone blok G01-02, Prima Cell blok M03-06, dan Takasimura Cell blok C11-12, pengunjung terlihat membeludak. Beragam smartphone dipajang dengan banderol yang hampir sama. Untuk Blackberry Z10 misalnya, gerai-gerai tersebut membanderolnya antara Rp 5,6 juta hingga Rp 5,7 juta per unit.
“Harga Blackberry Z10 sudah agak turun, rata-rata sekitar Rp 5,7 juta dari harga sebelumnya sebesar Rp 6 juta. Sedangkan harga bekas atau second, masih berkisar Rp 5,1 juta,” ungkap salah seorang staf di salah satu gerai HP Zone MTC, Wiwik.
Ia membandingkan, harga ponsel jualannya bisa bersaing dengan toko online Lazada.com. “Toko online Lazada, Blackberry Z10 dijual dengan harga Rp 5,9 juta termasuk ongkos kirim,” ungkapnya.
Menurutnya, bagi penggemar gadget mutakhir, biasanya harga tidak jadi soal. Yang penting, mereka bisa mendapatkan barang yang diinginkan. “Apalagi kita sendiri tahu, ponsel dapat mengangkat citra diri yang punya,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)

FOKUS DISTRIBUSI MEREK PONSEL BRANDED

TRYASTUTI
Leader Marketing Oke Shop Flagship Mal Panakkukang
“Fokus Distribusikan Merek Ponsel Branded”

Foto: Effendy Wongso
Fenomena perkembangan teknologi mutakhir pada bidang telekomunikasi, dalam satu dekade terakhir di Tanah Air, secara tidak langsung turut andil dalam memacu akselerasi perkembangan perangkat telepon seluler (ponsel). Distribusi tampak menggurita, dan melahirkan diler-diler yang bekerja sama dengan mitra atau produsen ponsel ternama.
Sebut saja PT Trikomsel Oke Tbk (Oke Shop), di mana perusahaan yang mulanya didirikan di Jakarta pada 7 Oktober 1996 dengan nama PT Trikomsel Citrawahana ini telah tumbuh menjadi salah satu distributor ponsel terbesar di Indonesia. Tercatat, hingga akhir 2010 saja, jumlah diler dan pusat distribusi perseroan ini sebanyak 11.892 diler aktif dan 108 pusat distribusi gerai.
“Oke Shop merupakan perusahaan penyedia produk dan layanan telekomunikasi seluler ternama di Indonesia. Aktivitas usaha dilakukan melalui jalur distribusi dan ritel dengan tujuan mewujudkan visi perusahaan, yakni memberikan produk berkualitas kepada konsumen agar tercipta kepuasan sehingga dapat meraih kepercayaan sebagai salah satu ritel ponsel terpercaya,” jelas Leader Marketing Oke Shop Flagship Mal Panakkukang di Mal Panakkukang (MP), Makassar, saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu menyoal perkembangan yang luar biasa pada industri ponsel.
Menurutnya, selama ini Oke Shop telah menjadi mitra beberapa produsen ponsel ternama seperti Nokia, Samsung, Sony, Hewlett-Packard, HTC, dan Lenovo. Hal ini semata menjaga kualitas produk yang dijual di Oke Shop.
“Terus terang, saat ini masyarakat sudah sangat cerdas. Mereka dapat memilah, mana produk (ponsel) yang berkualitas, mana yang tidak. Sehingga, untuk masalah price itu sifatnya relatif. Saya kira, harga mahal sedikit tapi produknya bagus dan tahan lama, itu malah menguntungkan. Itulah sebabnya pihak kami fokus menjual dan mendistribusikan ponsel-ponsel dengan brand besar saja, dan tidak menjual ponsel China,” ungkap wanita yang telah berkarya selama lima tahun di Oke Shop ini.
Diterangkan, untuk Oke Shop Flagship Mal Panakkukang, produk yang paling diminati masyarakat adalah ponsel merek Samsung.
“Sebenarnya merek-merek ponsel yang kami jual, market-nya sama bagusnya, tapi beberapa bulan terakhir ini, Samsung sedikit lebih laris. Ya, penyebabnya tidak lain karena masyarakat sudah mengenal Samsung sebagai pionir produsen smartphone,” bebernya.
Adapun merek ternama yang disebutnya, dibanderol dengan harga bervariatif tergantung model dan fitur yang diusungnya. “Kalau smartphone Samsung, harganya ada yang berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 8 juga,” imbuhnya.
Ketika ditanya, bagaimana pihaknya menyiasati iklim yang kian kompetitif di usaha penjualan ponsel, Tryastuti menjelaskan bahwa Oke Shop selalu mengeluarkan program promosi.
“Kami rajin mengeluarkan promosi, misalnya promosi ‘Trade In’ yang berlaku 1 September 2013  hingga 6 Januari 2014. Promosi ini adalah program tukar tambah bagi yang ingin memiliki ponsel baru. Jadi pelanggan yang ingin membeli ponsel baru di Oke Shop, dapat menukarkan ponsel lama mereka dengan ketentuan tertentu yang telah diputuskan oleh Oke Shop,” urainya.
Selain itu, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga keuangan nasional dan internasional terkemuka seperti ANZ Panin, Standard Chartered, HSBC, dan lain-lain untuk memudahkan masyarakat bertransaksi di Oke Shop.
“Untuk memperluas jaringan distribusi, kenyamanan pelanggan dan jangkauan pasar yang lebih luas, perusahaan meluncurkan layanan penjualan telepon seluler secara online melalui oke.com. Situs ini menjadi toko online pertama di Indonesia yang menawarkan alat telekomunikasi dengan pembayaran menggunakan kartu kredit,” sebutnya.
Tryastuti menjelaskan, untuk mempertahankan eksistensi perusahaannya sebagai salah satu diler ponsel terbaik di Indonesia, pihaknya senantiasa membekali sumber daya manusia (SDM) yang unggul di setiap Flagship Oke Shop, juga produk serta layanan yang tepat dengan didukung oleh sistem informasi dan operasional yang andal.
“Buktinya, pada 2012 lalu, majalah Asiamoney memberikan penghargaan kepada Oke Shop sebagai Best Managed Companies Award 2011 untuk kategori Small-Cap Corporate of The Year di Indonesia, yakni sebuah penghargaan yang diberikan kepada perusahaan yang memiliki kriteria bussiness strategy, innovation, leadership, dan shareholder’s right yang baik selama 2011,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)

Erafone Gelar Cuci Gudang di Pusat Grosir Modern Karebosi


Foto: Effendy Wongso
BLOGKATAHATIKU - PT Erajaya, salah satu distributor dan retails smartphone serta gadget papan atas Indonesia dengan jaringan toko retailnya yang bernama Erafone, bekerja sama dengan manajemen Pusat Grosir Modern (PGM) Karebosi menggelar Big Promo bertajuk Cuci Gudang Erafone @PGM Karebosi. Big Promo ini akan berlangsung selama sebulan, dari 24 Januari sampai 24 Februari mendatang, bertempat di Pelataran Pintu Utama dan di Lantai 3 PGM Karebosi.
Menurut Building Manager PGM Karebosi, Binsar J Samosir, dalam big promo Cuci Gudang Erafone @PGM Karebosi ini, terdapat handphone dan smartphone dari berbagai merek ternama, seperti BlackBerry, Nokia, Samsung, Sony Xperia, Motorola, LG, Huawei, dan Venera.
Dijelaskan, semua handphone tersebut dijual atau diobral dengan harga super-miring, jauh dari harga yang berlaku di pasaran. “Promo ini disebut Cuci Gudang atau dikenal juga dengan istilah Gudang Sale, di mana harga produk yang ditawarkan sangat jauh dari harga di pasaran, dengan pemberian potongan harga sampai 85 persen,” ungkapnya.
Menurut Binsar, event Gudang Sale seperti ini, sudah digelar Erajaya di beberapa kota besar seperti di Surabaya, Medan, dan Bandung. Tanggapan dari masyarakat sendiri mendapat sambutan luar biasa, mengingat harga yang ditawarkan sangat murah.
“Di Makassar sendiri, event ini baru pertama kali. Jadi, bagi warga Makassar yang ingin mendapatkan smartphone dengan harga miring, segera ke PGM Karebosi saja, mumpung ada event Cuci Gudang ini,” ajak Binsar.

MAKASSAR GOLDEN HOTEL BANJIR PROMO IMLEK

Foto: Effendy Wongso
Dalam rangka menyambut hari raya Imlek 2014 yang jatuh pada Jumat (31/1/2014), Makassar Golden Hotel (MGH) ikut mempersiapkan berbagai macam promo dalam rangka menyambut hari raya tersebut. Dimulai dari dekorasi hotel, seragam staf, promo kamar, sampai promo makanan juga turut menghiasi Imlek di MGH.
Adapun promo kamar, mulai dibuka dari harga Rp 450 ribu, di mana kamar-kamar tersebut termasuk kamar superior dengan berbagai macam benefit, di antaranya free sarapan pagi untuk dua orang, berenang untuk empat orang, dan late check out sampai jam dua siang.
Hal ini disampaikan oleh Marketing Communication (Marcom) Makassar Golden Hotel (MGH). Ivonne Tumbelaka dalam rilisnya kepada sejumlah media di Makassar. Dikatakan, bagi tamu yang bersantap ria bersama keluarga, MGH juga menyajikan menu spesial Imlek, yakni Kepiting Saus Lada Hitam, dan Yu Sang yang merupakan salah satu makanan khas Imlek yang dibanderol dengan harga Rp 150 ribu.
“Tidak ketinggalan, menu Januari-Februari bagi para tamu yang gemar dengan masakan pedas, MGH pun menyajikannya dalam bentuk Nasi Goreng Gendeng dan Mie Goreng Gendeng di Kafe Pier52, di mana makanan-makanan lezat tersebut dibanderol dengan harga Rp 28 ribu per porsi,” jelasnya.
Bagi yang senang dengan menu sate, urai Ivonne, MGH juga menawarkan Sate Lilit khas Bali dengan kombinasi beberapa jenis daging, di mana kuliner lezat ini dibanderol dengan harga Rp 35 ribu per porsi. (blogkatahatiku.blogspot.com)

TINGKATKAN PARIWISATA LEWAT DESTINASI MENARIK

Foto: Istimewa
Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, Indonesia kembali dikunjungi oleh sejumlah wisatawan asing dengan menumpangi kapal pesiar cruise “MS Volendam”, yang tiba di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, Rabu (15/1/2014). Passenger yang ikut Tour Wira tersebut terdiri atas 300 orang wisatawan mancanegera (wisman), berkebangsaan Inggris, Belanda, Australia, dan beberapa negara Eropa lainnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Jufri Rachman mengapresiasi kedatangan para turis yang singgah ke Makassar dalam rangka tour city tersebut. Dikatakan, sejak 2011 beberapa kapal pesiar sudah menyambangi Makassar, di mana selain Makassar para pelancong tersebut juga mengunjungi Pelabuhan Parepare dan Palopo.
Terkait volume penumpang, Jufri memaparkan kalau setiap tahun jumlahnya selalu meningkat, di mana frekuensi kunjungan kapal pesiar cruise pun terus bertambah. Hal tersebut secara langsung akan menambah pendapatan masyarakat di sekitar destinasi.
Untuk itulah, ia berharap ke depannya perlu adanya pengembangan destinasi yang lebih baik, seperti dari aspek kebersihan dan tambahan fasilitas toilet berstandar internasional.
“Saya kira masyarakat harus dilatih agar lebih santun dan ramah menghadapi para pengunjung, guna menarik minat mereka kembali mengunjungi Makassar,” pesannya.
Jufri juga mengatakan bila kedatangan para turis tersebut merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Sulsel, di mana hal itu membuktikan kalau Sulsel makin diminati oleh para wisman.
Selain itu, kedatangan mereka juga untuk melihat kekayaan budaya dan tradisi peninggalan maritim kuno kebanggaan Sulsel seperti Pelabuhan Paotere dan Fort Rotterdam di Makassar, Benteng Somba Opu di Kabupaten Gowa, serta beberapa objek wisata lainnya seperti Bantimurung di Kabupaten Maros, dan dan pasar tradisional Terong di Makassar.
Hal yang sama dikatakan Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Disbudpar Sulsel, Syafruddin. “Kedatangan rombongan penumpang kapal pesiar ini sudah yang kedua kalinya, namun sayang kali ini pihak kami (Disbudpar Sulsel) tidak dapat memberikan penyambutan khusus seperti yang dilaksanakan tahun lalu, mengingat mereka tidak punya banyak waktu lagi untuk berlama-lama di Makassar,” ungkapnya.
Seorang wisatawan asal Melbourne Australia, Jhon, saat  saat dimintai komentarnya, mengaku sangat senang dapat berkunjung di Makassar karena keramahtamahan masyarakatnya.
Menurutnya, Kota Makassar juga sudah cukup ramai sehingga ia merasa cukup terhibur. Ditambahkan, objek wisata alam Bantimurung yang terkenal dengan kupu-kupunya yang unik juga sangat menarik perhatiannya.
Di bulan-bulan berikutnya, imbuh Syafruddin, akan menyusul beberapa kapal pesiar yang akan singgah di Makassar. “Di Februari nanti, akan datang kapal pesiar MS Rotterdam, lalu pada Maret, Agustus, dan September nanti, Makassar akan disinggahi kapal pesiar MS Sea,” paparnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)

PUPUK BERSUBSIDI UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN

Foto: Effendy Wongso
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel melalui Dinas Pertanian, Holtikultura dan Tanaman Pangan (Distan-HTP) Sulsel, menegaskan batas waktu pemberian pupuk bersubsidi kepada delapan kabupaten dan kota untuk menyerahkan Rencana Detail Kebutuhan Kelompok (RDKK) Petanian dan Peraturan Bupati (Perbup) tentang alokasi kebutuhan pupuk di kabupaten dan kota.
Kedelapan kabupaten dan kota tersebut, yakni Kabupaten Takalar, Jeneponto, Enrekang, Bantaeng, Bulukumba, Luwu, Tana Toraja, dan Kotamadya Parepare. Hal tersebut ditegaskan Wakil Gubernur (Wagub) Sulsel, Agus Arifin Nu'mang, saat dialog pengkajian kebijakan penyaluran pupuk nasional dan Sulsel yang digelar di Hotel Imperial Aryaduta Makassar, Jumat (24/1/2014).
Wakil gubernur dua periode tersebut tersebut mengungkapkan, seharusnya kabupaten dan kota dalam menyerahkan persuratan seperti RDKK dan Perbup, berorientasi pada penyaluran pupuk bersubsidi. Pasalnya, jika ada kabupaten dan kota tidak menyerahkan RDKK dan Perbup, maka kabupaten dan kota tersebut tidak akan mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi dari Distan-TPH.
“Jika itu terjadi maka produksi pertanian di daerah yang belum menyerahkan Perbup akan terganggu, petani akan kesulitan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi,” ujarnya.
Agus menegaskan, untuk permasalahan suplai pupuk sebenarnya tidak akan bermasalah karena perusahaan pupuk mengaku sudah siap untuk menyalurkan pupuk bersubsidi ke semua kabupaten dan kota. Untuk itulah, pihaknya mendesak institusi terkait di kabupaten dan kota untuk mempercepat hal itu.
“Sekarang, bagaimana tim validasi bekerja agar nanti di belakang tidak terjadi masalah,” tegas mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel ini.
Agus juga meminta kepada tim validasi untuk benar-benar melakukan validasi kelompok tani agar nantinya pupuk bersubsidi tidak jatuh ke tangan yang salah. Hal yang sama dikatakan Kepala Dinas Pertanian, Hortikultura dan Tanaman Pangan Sulsel, Lutfi Halide.
Menurutnya, semua kabupaten dan kota sudah menyerahkan RDKK, hanya saja sekarang harus dilengkapi persetujuan dari bupati atu wali kota dalam bentuk Perbup. “Untuk saat ini, tinggal delapan kabupaten dan kota yang belum menyerahkan Perbup,” bebernya.
Lebih jauh, Lutfi Halide mengatakan pihaknya akan terus melakukan komunikasi dengan daerah yang belum memasukkan kebutuhan pupuk bersubsidi. Apalagi, untuk tahun ini Sulsel mendapatkan bantuan Rp 2 triliun untuk pupuk bersubsidi.
“Jadi, nanti sistemnya harus betul-betul valid datanya. Karena pemerintah pusat akan menyalurkan pupuk bersubsidi jika datanya sudah divalidasi,” terangnya.
Sementara itu, Direktur Jendral (Dirjen) Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI), Gatot Irianto, kembali menegaskan kepada daerah yang belum melengkapi persuratan tentang alokasi pupuk bersubsidi untuk segera merampungkan secepatnya.
“Sementara ini, masih ada beberapa daerah di Sulsel yang belum selesaikan, saya harapkan dalam satu minggu ini dapat menyelesaikan,” desaknya.
Gatot berharap agar nantinya tidak ada daerah yang menyatakan ketidaksiapannya dalam meningkatkan produksi pertanian. Apalagi, Kementan RI sudah menggandeng pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk membantu peningkatan hal yang dimaksud, di mana direncanakan akan tercapai surplus 10 juta ton pupuk secara nasional. (blogkatahatiku.blogspot.com)

Ruang Kursus dan Bimbingan Belajar yang Ideal

DESAIN RUANG KURSUS - Banyak aspek yang perlu diperhatikan ketika membuat konsep desain ruang kursus atau bimbingan belajar (bimbel) guna menciptakan proses belajar mengajar yang nyaman. Salah satunya adalah dalam hal pemilihan warna, baik karakter dinding untuk ruangan maupun furniture yang ada di dalamnya. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Perkembangan anak meliputi tiga aspek, yaitu kreativitas (kognitif), rasa senang (afektif), dan aktivitas (psikomotorik). Perkembangan anak secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh lingkungan (interior) ruang belajar dan bermain seperti pada masa preschool atau taman kanak-kanak dan tempat belajar nonformal seperti kursus maupun bimbingan belajar (bimbel).
Beberapa penelitian yang dilakukan pakar tata ruang, bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian antara teori dengan pengaruh penerapan elemen-elemen interior ruang belajar dan bermain beberapa lembaga kursus dan bimbel terhadap aktivitas dan motorik anak-anak tersebut.
Menganalisa ketiga aspek yang terpengaruh elemen-elemen interior tersebut terhadap terhadap anak-anak yang tengah melakukan kegiatan belajar, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan elemen-elemen interior ruang belajar dan bermain di beberapa tempat memang sesuai dengan teori maupun pedoman yang dilakukan oleh pakar tata ruang tersebut.
Elemen-elemen interior ruang belajar dan bermain berpengaruh terhadap kreativitas anak-anak kelak. Apalagi, sekolah semacam preschool merupakan fasilitas pendidikan dasar, di mana tempat ini telah membentuk pondasi mental seorang anak saat pertama kali mendapat gemblengan di luar rumah. Untuk itulah, ruang kelas yang ideal diperlukan agar anak-anak merasa nyaman dan betah, sehingga mereka bisa belajar tenang dan leluasa mengasah keterampilan serta mengenal banyak hal.
Secara psikologi, anak-anak senantiasa berpedoman terhadap rumah mereka sendiri. Pada umumnya, mereka yang melakukan kegiatan belajar di luar rumah seperti kursus dan bimbingan belajar tidak ingin gambaran tentang kenyamanan di rumah mereka jauh dari gambaran mereka. Jadi, desain model tempat kursus dan bimbingan belajar pun sebaiknya tidak terkesan konservatif, kaku, dan terlalu formal karena pada dasarnya gambaran semacam ini sudah biasa mereka dapatkan di sekolah reguler.
Untuk itulah, baik interior atau eksterior sebuah ruang kelas untuk kursusnya harus disesuaikan dengan karakter anak yang dinamis. Tujuannya jelas, hal ini agar mempermudah kegiatan belajar tanpa harus membelokkan anak dari dunia mereka yang sebenarnya.

Nuansa Warna Lembut dan Berkarakter

Banyak aspek yang perlu diperhatikan ketika membuat konsep desain ruang kursus atau bimbel guna menciptakan proses belajar mengajar yang nyaman. Salah satunya adalah dalam hal pemilihan warna, baik karakter dinding untuk ruangan maupun furniture yang ada di dalamnya.
Anak-anak, terutama preschool umumnya menyukai warna terang yang mewakili karakter mereka yang selalu aktif dan ceria. Di lain sisi, anak-anak yang sudah mandiri, yang biasanya telah menginjak bangku sekolah dasar (SD), juga membutuhkan warna-warna lembut saat belajar sehingga warna-warna seperti hijau muda dan biru muda bisa menjadi pilihan untuk warna dinding ruang kursus atau bimbel.
Untuk itu warna-warna tadi, penting diaplikasikan pada seluruh ruang kelas beserta furniturenya untuk menggugah semangat mereka dalam belajar. Tentu saja warna terang yang dipilih tidak hanya terdiri dari satu warna, melainkan beberapa warna ceria dan lembut sehingga membentuk kombinasi warna yang unik. Seperti yang telah disebutkan tadi, meskipun sifatnya mendidik dan “formal”, akan tetapi dunia anak identik dengan kebiasaan bermain. Untuk itu sekolah juga wajib menyediakan ruang atau area khusus yang agak luas dan lapang, tujuannya agar anak-anak tidak terperangkap dalam ruang-ruang tembok yang sempit.

Ruang Tunggu yang Nyaman

Faktor kenyamanan sangat dipengaruhi oleh faktor keamanan. Untuk itu furniture yang dipilih sebaiknya menggunakan bahan yang aman dan tidak mudah melukai anak. Hindari sudut-sudut meja atau kursi yang terlalu runcing dan tajam yang bisa membahayakan kulit anak. Selain itu, sediakan juga rak-rak buku yang minimalis dan mudah dijangkau oleh anak-anak saat hendak membaca koleksi buku di ruang kelas masing-masing. Penempatan majalah dinding (madding) juga perlu mendapat perhatian, di mana letaknya harus ideal, tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah, sehingga mudah dibaca oleh anak-anak.
Desain untuk plafon di ruang kelas juga perlu mendapat perhatian, di mana warna-warna polos seperti putih sebaiknya lebih mendominasi ketimbang warna-warna gelap seperti hitam dan sejenisnya. Plafon yang ideal ruang kelas sebaiknya memiliki celah,  hal ini untuk mempermudah cahaya yang masuk sehingga ruang kelas tidak terlihat gelap.
Jangan lupa, sediakan ruang tunggu bagi para orang tua anak yang tengah belajar. Tempat seperti ruang tunggu sebaiknya dibuat minimalis agar tidak terlalu memakan ruang utama, yakni kelas itu sendiri. Ruang tunggu sebaiknya diberi fasilitas seperti TV atau akses Wifi agar para orang tua maupun pengantar anak bisa merasa kerasan walaupun aktivitas belajar anak agak lama. Kalau perlu, sediakan juga minibar atau show case untuk minuman dingin agar mereka tidak perlu keluar kalau ingin minum.
Hal yang paling penting dari struktur ruang kelas untuk kursus dan bimbel adalah bagaimana caranya supaya mampu memberi suasana nyaman dan menarik sehingga anak-anak memiliki semangat dalam belajar. Desain model ruangan seperti ini secara garis besar memang tidak bisa disamakan dengan desain sekolah reguler, yang biasanya memiliki struktur bangunan yang tinggi. Pasalnya, dengan hanya memiliki satu lantai (dasar), maka hal tersebut mempermudah anak-anak kecil beraktivitas, dan tidak harus berpindah dari satu lantai ke lantai lainnya di tingkat atas.

30 January 2014

MENJAMURNYA BISNIS KURSUS YANG EDUKATIF

Upaya Menangkap Peluang “Manis”

Foto: Effendy Wongso
Selama ini, jika menilik peluang usaha pelatihan sumber daya manusia (SDM) atau lebih dikenal sebagai lembaga kursus dan pelatihan, merupakan salah satu jenis usaha yang tidak pernah mengalami kejenuhan, apalagi tren bisnis sesaat yang kerap menjadi momok bagi bisnis-bisnis riil lainnya.
Pasalnya, dalam kapabilitas permodalan peluang usaha ini dapat menyesuaikan dengan segala kondisi yang ada. Kondisi tersebut termasuk kemampuan permodalan dari pemilik usahanya, sehingga bisnis ini dapat bergerak dinamis dan tak terbelenggu kapitalisasi yang menjerat dalam jangka waktu lama.
Sesungguhnya, peluang usaha ini memiliki potensi keuntungan yang tidak sedikit, karena keberadaan lembaga kursus sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk menambah, memperdalam, serta memperluas wawasan dan pengetahuan mereka di era globalisasi saat ini. Terlebih ketika peluang usaha kerja saat ini hanya membutuhkan SDM yang memiliki modal keterampilan yang berbasis pada kompetensi.
Keberadaan sekolah-sekolah formal yang tidak memberikan ruang cukup untuk peningkatan kompetensi masyarakat pun, menjadi faktor utama sehingga publik sangat membutuhkan lembaga pendidikan nonformal, di mana dalam hal ini adalah lembaga kursus.
Pertanyaannya, siapa yang bisa menjalankan usaha ini? Tentu jawabannya adalah siapa saja dengan latar belakang apapun. Kendati demikian, seorang calon pengusaha yang bakal bergelut di bidang pengembangan SDM melalui lembaga pelatihan maupun kursus ini, seyogianya memiliki kapabilitas mumpuni, sehingga tak hanya berorientasi bisnis, namun dari segi edukatif pun mereka telah berkontribusi terhadap pengembangan SDM yang kompeten.
Untuk itulah, seorang calon pengusaha yang akan mengembangkan usaha dan bisnis kursus dituntut profesionalismenya, bagaimana kelak ia dapat bertanggung jawab secara moral melahirkan manusia-manusia andal di Tanah Air. Sementara berkaca terhadap realitas yang ada, harapan tersebut tentu masih jauh lantaran substansi pemberdayaan SDM yang tangguh di Indonesia belum dapat mengakomodir kekurangan-kekurangan yang ada.
Memang, untuk meningkatkan kompetensi dalam bisnis kursus ini seorang calon pelaku usaha harus mampu menjaring informasi yang akurat dari lalu lintas sumber yang mampu memberikan referensi kuat dan kredibel. Sebelumnya, selama ini para pengusaha yang telah mapan dan mandiri di bisnis ini sudah menangkap peluang usaha yang muncul dari realitas kondisi masyarakat di sekitarnya, di mana mereka telah membekali banyak orang dengan keterampilan usaha yang relevan, dengan kebutuhan riil yang bakal menjadi peluang bagus untuk memulai wirausaha.
Jika melihat paradigma yang muncul belakangan ini, di mana sebagian besar kaum bermodal yang ingin bergerak di bidang wirausaha lebih memilih cara mudah dengan membeli waralaba asing berbagai usaha yang kini menjamur dalam jaringan luas seperti ritel, rumah makan, farmasi, dan usaha-usaha lainnya di berbagai pelosok negeri. Sedangkan, di satu sisi banyak pengusaha yang tertipu atas dengan investasi “bodong” lantaran tak mengerti harus bagaimana menginvestasikan modalnya sementara bank sudah tidak lagi manis dalam segi bunga yang menarik.
Oleh karena itu, sudah menjadi rahasia umum bila bangsa dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa ini menjadi sasaran empuk para pengusaha asing yang bergerak di bidang kursus dan jasa pelatihan. Ironis memang jika sampai anak-anak bangsa tidak dapat memanfaatkan peluang usaha ini. (blogkatahatiku.blogspot.com)

CUCIWIS TUMIS JAMUR

Foto: Istimewa
(Untuk 3 porsi)

Bahan:

150 gram cuciwis, dibelah dua
100 gram jamur kancing, dibelah dua
4 siung bawang putih, dicincang kasar
2 buah cabai merah, dibuang biji, diiris halus
1 butir telur, dikocok lepas
2 sendok makan saus tiram
¼ sendok teh merica bubuk
½ sendok teh gula pasir
100 ml kaldu ayam
1 sendok makan minyak untuk menumis

Cara Membuat:

- Panaskan minyak tumis bawang putih dan cabai merah sampai harum. Tambahkan telur. Aduk sampai berbutir. Masukkkan jamur kancing dan cuciwis. Aduk rata.
- Masukkan saus tiram, garam, merica, dan gula. Aduk rata. Tuang air. Aduk rata. Masak sampai matang.

Tips:

Saat menuang telur jangan terlalu diaduk-aduk agar telur tidak terlalu hancur. (blogkatahatiku.blogspot.com)

PROGRAM DISKON YANG MENGGODA

Bijaksana di Antara “Perang Diskon”

Foto: Effendy Wongso
Jelang perayaan hari-hari besar keagamaan lalu, ada paradigma menarik yang dapat ditemui di hampir semua sudut mal, toko, maupun gerai-gerai ritel. Paradigma itu adalah pemberian diskon yang cukup signifikan bahkan cenderung tak logis.
Memang, siapa yang tidak tertarik dengan barang-barang yang berharga murah? Apalagi barang tersebut merupakan merek populer dari sebuah produsen ternama. Seiring, masyarakat sering menjumpai toko-toko yang menawarkan diskon besar-besaran tersebut, akan tetapi sebagian tidak mendapatkan “value” dari apa yang telah dibayangkan sebelumnya.
Pasalnya, barang bermerek dan diberi diskon besar belum tentu berkualitas baik. Dari data yang dilansir beberapa media daring, wanita sering kali tertipu dengan label diskon, apalagi jika diskon yang ditawarkan mencapai 50 persen hingga 80 persen. Akibatnya, konsumen dari kaum Hawa tersebut dengan mudahnya mengeluarkan lembaran-lembaran rupiah dari dalam dompetnya lantaran ingin memperoleh barang-barang yang telah didiskon tersebut.
Kapan lagi dapat barang diskon hingga 70 persen, apalagibermerek? Nah, itulah beberapa alasan yang mendasari “ketergodaan” mereka atas pesona diskon yang dikeluarkan riteler tersebut. Memang, seyogianya semuanya kembali kepada konsumen, di mana mereka harus bijak dalam menyikapi segala sesuatu yang tersirat dalam pesan sebuah diskon. Sejauh ini, diskon memang jadi sarana yang sangat efektif untuk menggoda hati konsumen.
Dari pantauan KATA HATIKU di beberapa gerai waralaba di Makassar, khususnya jelang liburan dan hari-hari raya keagamaan lalu, terlihat produk makanan dalam kemasan seperti biskuit dan kue kering, serta minuman botol seperti sirup merupakan produk yang paling banyak didiskon. Sejauh ini, memang masih terlihat wajar karena diskon ditap pada angkat 10 persen hingga 20 persen. Demikian pula ketika tanggal kedaluwarsanya dicek, juga masih berlaku dan layak konsumsi.
Akan tetapi tidak semuanya dapat terpantau, apalagi jika mengamati satu per satu barang diskon yang beredar, khususnya di pasar-pasar tradisional maupun di lapak-lapak kecil. Selama ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah sangat ketat mengawasi barang-barang kedaluwarsa, meski tak dapat dipungkiri pula bahwa masih ada saja pengusaha “nakal” yang memanfaatkan momentum diskon sebagai trik untuk melariskan dagangannya yang sudah hampir kedaluwarsa.
Tujuan pemasaran yang menggunakan strategi diskon selama ini dikenal ampuh untuk menjaring pelanggan. Alasannya pun bermacam-macam, selain melancarkan daya jual sebuah produk juga untuk menghabiskan stok lama yang masih tersisa. Berbagai alasan dikemukakan oleh pedagang seperti yang telah disebutkan tadi, ada beberapa yang benar-benar rasional dengan asumsi seperti barang sudah break event point (BEP) atau sudah balik modal namun stok barang masih banyak, hingga barang penghabisan karena toko ingin tutup atau pindah.
Semenarik bagaimanapun, pesona diskon tidak menyentuh semua lapisan masyarakat. Beberapa konsumen yang cermat telah mengalkulasikan diskon-diskon tersebut, di antaranya dengan mengamati kualitas, model “up to date”-nya, ataupun unsur-unsur lain seperti butuh atau tidaknya. Dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan KATA HATIKU terhadap dua-tiga konsumen, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak semua orang menyukai barang diskon.
Beberapa konsumen bahkan mengaku sama sekali tidak tertarik membeli barang-barang yang telah dilabeli dengan diskon. Alasannya, barang yang didiskon biasanya berkualitas tidak terlalu bagus, dan untuk produk garmen biasanya model-modelnya sudah ketinggalan. Apalagi barang-barang yang didiskon tersebut terkesan monoton.
Senada, beberapa konsumen malah mengungkapkan hal yang bernada pesimistik. Dikatakan, jika menakar lebih dalam, biasanya konsumen “tertipu”, sebab harga barangnya sudah dinaikkan terlebih dulu, kemudian baru didiskon. Jadi selama ini, masyarakat sama saja membeli barang dengan harga normal.
Memang, menyikapi paradigma diskon yang bagai dua sisi mata uang logam ini perlu disikapi dengan bijaksana. Hal ini memang tergantung dari tiap individu si konsumen, akan tetapi juga tidak terlepas dari peran para pengusaha yang bermain di dalamnya agar tak melakukan praktik strategi “terselubung” dari program diskon yang merugikan konsumennya. (blogkatahatiku.blogspot.com)