29 December 2013

WARUNG KOPI PHOENAM



Warung Kopi Phoenam, “Since 1946”

Kopi selalu mendapat tempat di hati para penggemarnya. Bukan saja pada citarasa dan aromanya yang khas, akan tetapi keterikatan psikologis terhadap komunalitas, baik sekadar kongko maupun keterlibatan emosional individu terhadap suasana warung kopinya yang terbilang klasik.
Adalah Warung Kopi (Warkop) Phoenam, didirikan sejak 1946, warkop ini telah menjadi salah satu ikon kuliner di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Bagi masyarakat penikmat kopi kelas menengah ke atas, Warkop Phoenam pasti tidak asing lagi. Warkop yang dirintis dari sebuah jalan kecil, tak jauh dari Pelabuhan Makassar ini kini mulai merambah Nusantara lantaran memiliki konsumen fanatik.
Saat ini, Phoenam dijalankan oleh generasi kedua dari pendirinya yang bernama Liong Thay Hiong. Meskipun sudah generasi kedua, namun citarasa kopi di Phoenam tetap sama dan tidak berubah. Penerusnya kini juga masih konsisten terhadap cara meracik kopi dengan cara tradisional. Tentu saja ini dilakukan demi mempertahankan eksistensi aroma kopi yang khas klasik.
Dulu, ketika memulai bisnis warkopnya, Liong Thay Hiong didampingi dua orang kerabat dekat dan seorang pamannya yang berpendidikan tinggi bernama Prof Dr Tae Pen Liong. Dengan jiwa kewirausahaan, sang paman memberi nama warkop tersebut Phoe Nam.
“Phoenam berasal dari bahasa Mandarin yang artinya terminal atau tempat transit di selatan. Belakangan, untuk memudahkan pengucapannya dua kosa kata disatukan menjadi Phoenam,” jelas Albert, generasi kedua Warkop Phoenam, saat disambangi di warkopnya, Jalan Jampea, Makassar, beberapa waktu lalu.

Dipatenkan
“Nama Phoenam tersebut telah dipatenkan sejak 2006 lalu, sehingga di manapun, bila Anda menemukan warkop yang menggunakan nama ini, pasti berkaitan dengan Warkop Phoenam yang kini berpusat di Jalan Jampea, kawasan Pecinan di Makassar,” ungkap Albert.
Menurutnya, dari dulu hingga sekarang sajian kopi Warkop Phoenam tak pernah berubah. Mereka mempertahankan kekhasannya, citarasa, dan cara penyajiannya. “Terus terang, kami tidak mau latah mengikuti tren penyajian warkop atau kafe modern.”
Rahasia kekhasan kopi di Phoenam, aku Albert, terletak pada jenis kopi yang digunakan, yang merupakan campuran berbagai macam kopi dengan aroma yang berbeda. “Peracikan kopi di Phoenam masih menerapkan cara-cara tradisional.”
Kelebihan cara tradisional, beber Albert, lantaran rasa kopi versinya bisa diracik sesuai keinginan konsumen, sesuatu yang mustahil dilakukan jika menggunakan cara-cara modern yang patronis. Selain itu, rahasia kenikmatannya adalah jenis air seduhannya. “Kopi kami diseduh bukan dengan air panas saja, namun menggunakan air sari kopi, yang telah disiapkan pada subuh hari sebelumnya. Inilah yang menghasilkan kopi dengan cita rasa yang tinggi.”
Dengan segala kelebihannya Warkop Phoenam kini memiliki cabang di mana-mana, dan mulai merambah Nusantara. Di Makassar sendiri dapat ditemukan di empat titik, yaitu di Jalan Jampea, Bumi Tamalanrea Permai, Jalan Boulevard Raya, Panakkukang Square, dan Jalan Sam Ratulangi. Di luar Makassar, Phoenam dapat ditemukan di Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Waralaba
Outlet Phoenam di Makassar, jelas Albert, dikelola dirinya sendiri beserta anak-anaknya. Sementara itu, untuk yang berada di luar Makassar dikelola dengan sistem manajemen terbuka, atau dalam bahasa bisnisnya adalah kerja sama ala waralaba.
Ia sebenarnya menolak penggunaan kata waralaba untuk bentuk kerja sama yang telah dilakukannya dengan pihak lain, akan tetapi sebagai unit usaha warkop yang mengedepankan “win-win solution” atau bisnis yang berorientasi saling menguntungkan, mau tidak mau manajemen pengelolaannya tetap mengikuti pola waralaba.
“Syarat untuk bermitra dengan Warkop Phoenam, antara lain harus memiliki lokasi yang strategis di kawasan perkantoran dengan ukuran minimal enam kali 20 meter, atau cukup menampung 18 meja dan kursi, serta mengikuti aturan standar properti yang ditetapkan kami selaku pemilik merek. Ya, dapur dan peralatannya harus diseragamkan dengan Warkop Phoenam lainnya,” terang Albert.
Peralatan yang dimaksudnya adalah tiga bahan utama, yakni kopi, teh dan sari kaya atau sejenis selai roti. “Semuanya harus dipasok dari Phoenam Makassar. Sebelum membuka usaha, mitra diberi pelatihan khusus untuk peracikan kopi agar sesuai dengan standar kopi Phoenam. Kontrak kerja sama berlaku selama tiga tahun dan dapat diperbarui kembali,” ujarnya.
   Albert merinci, Phoenam tidak menetapkan harga khusus untuk kemitraan tersebut, kecuali kewajiban penggunaan peralatan yang disiapkan oleh Phoenam. “Tidak ada pembayaran royalti, mitra hanya diwajibkan membeli bahan baku dari Phoenam.”
Lebih lanjut, ia menjelaskan resistansi Phoenam di tengah persaingan warkop yang kian kompetitif adalah pada disiplin waktu.
“Warkop kami konsisten beroperasi sejak pukul lima pagi. Selain menyuguhkan kopi dan teh, kami juga menyediakan roti bakar aneka rasa, telur setengah matang, hingga bubur untuk sarapan,” tandasnya. (blogkatahati.blogspot.com)