29 December 2013

MIE TITI



“Brand Generic Ifu Mi yang Fenomenal"

Jika ada kuliner yang menjadi ikon di Makassar dan sangat populer di Indonesia, itu tidak lain adalah Mie Titi. Padahal, sesungguhnya Mie Titi bukanlah nama makanan sejenis ifu mi (mi goreng Kanton), melainkan “brand generic” dari nama pendirinya yang kerap dipanggil "Titi"
Memang, rasanya ada yang kurang jika berkunjung ke kota berjuluk Anging Mammiri ini tanpa mampir mencicipi Mie Titi. Bukan karena Mie Titi sudah termasuk kuliner Nusantara yang fenomenal, akan tetapi ifu mi jenis ini memang sangat lezat.
Berbahan baku mi yang digoreng kering, lalu disiram dengan kuah kental dicampur kocokan telur berisi beragam sayuran hijau, gorengan, potongan daging ayam dan udang, Mie Titi memiliki ciri khas tersendiri dengan nuansa ‘kriuk-kriuk’-nya.
Disambangi KATA HATIKU, beberapa waktu lalu, Mie Titi Cabang “Irian”, Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, ramai dipenuhi pengunjung. Pengunjung keluar masuk, dan tidak sedikit yang rela antre demi mencicipi aroma ifu mi yang telah melegenda ini. Dari pemantauan KATA HATIKU petang itu, selain pengunjung yang keluar-masuk, tak kalah sibuknya adalah para pelayan Mie Titie yang lalu-lalang mengantarkan pesanan pengunjung. Dalam sekali rengkuh, seorang pelayan biasanya mengantarkan enam hingga tujuh piring di lengan kiri dan kanannya.
Sementara pengunjung telah duduk di meja masing-masing dengan satu cerek berisi teh tawar, cabai rawit campur cuka, merica bubuk, kecap, dan sambal merah.

Usaha Temurun
Merunut ihwal Mie Titi, KATA HATIKU berjumpa dengan Fredy Kohen, pemilik Mie Titi. Pria yang senang berkepala plontos ini merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha ifu mi kakeknya yang bernama Kho Sek Cao alias Koh Cao atau Angko Cao.
“Kakek saya, Angko Cao, semula menjual ifu mi di 1960-an. Di masa itu, kakek saya menjual mi hanya menggunakan gerobak yang diletakkan di depan rumah. Lokasinya di daerah pecinan Makassar. Kala itu, kakek saya berjualan dibantu nenek saya, beserta ayah dan paman-paman, juga bibi saya.”
Fredy menerangkan, dalam perkembangan waktu, usaha ifu mi kakeknya tersebut berkembang dengan masing-masing versi dari anak-anaknya meskipun pada prinsipnya sama, mi goreng Kanton. “Ayah saya, Rusmin Kohen mengembangkan usaha ifu mi ini bernama Mie Titi, kemudian paman saya ada yang mengembangkan Mie Awa dan Mie Hengky, dan bibi saya mengembangkan Mie Anto.”
Cuma, menurutnya, ayahnya, Rusmin Kohen mencari ide membuat mi goreng yang lebih praktis ketimbang mi goreng yang sudah-sudah versi kakeknya yang seperti ‘ceplok telur dadar’. “Makanya, ayah saya menciptakan ifu mi versi Mie Titi ini, yakni mi yang lebih praktis karena sudah digoreng, dan tinggal dituangi dengan kuah kental berbahan sayur, daging, dan lain-lain.”
Pasalnya, terang ayah dua anak ini, ifu mi jenis ini memang sangat praktis dan efisien, sehingga pengunjung tidak perlu menunggu lama-lama mi goreng pesanan mereka. “Sejak itulah, ifu mi versi ayah saya yang bermerek Mie Titi ini mulai dikenal masyarakat. Anak-anak muda, bahkan menjadikan kuliner di warung makan Mie Titi ini sebagai ikon gaya hidup.”

Titi yang Melegenda
Fredy, anak kelima dari delapan bersaudara pasangan Rusmin Kohen (Titi) dengan Yenny mengungkap, ayahnya yang lahir di Makassar, 15 Februari 1942 tersebut, kerap dipanggil Titi oleh sahabat-sahabatnya. Titi berarti “adik laki-laki” dalam bahasa Mandarin. “Jadi tidak heran, Rusmin Kohen akrab pula disapa Pak Titi atau Baba Titi.”
Ketika mulai mandiri, kenang Fredy, ayahnya membuka usaha mi goreng sendiri di 1975. Awalnya, masih kontrak di Jalan Bali. “Warung ifu mi kami saat itu belum punya nama, dan lokasinya pun sempat pindah hingga tiga kali,” jelas pria kelahiran Makassar, 5 Agustus 1972 ini.
“Nah, penyebab nama ‘Titi’ itu muncul sebagai nama warung makan kami, karena pelanggannya pada waktu itu, setiap mau makan warung makan kami, selalu menyebut ‘kita makan di Titi saja’. Dari ungkapan itu ternyata melambungkan nama ifu mi ini sampai sekarang,” paparnya.
Di 1980, lanjut Fredy, mulailah Mie Titi membuka cabang pertama di Jalan Irian yang sekarang berubah nama menjadi Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo. “Di sini, warung makan Mie Titi mulai dikenal hingga sekarang.”

Buka Cabang
Dua dasawarsa sukses mendulang laba dari jualan ifu mi yang menjadi “brand generic”, Mie Titi kemudian membuka cabang di beberapa lokasi di Makassar dan Parepare. “Di 2004, Mie Titi membuat gebrakan baru, membuka cabang di Bali, dan diberi nama Mie Galang. Cabang pertama di luar Sulsel disuguhi menu variatif seperti Mi Jakarta, Nasi Goreng, Mie Galang, Nasi Capcay dan menu andalannya, Mie Titi,” beber Fredy.
Sementara itu, runutnya, cabang keempat Mie Titi berdiri pada 2005 di Jalan Datu Musseng. Pada 2006 dan 2007, Mie Titi kembali membuka cabang di Perumahan Bumi Tamalanrea Permai dan Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Pada 2010, berdirilah cabang Mie Titi di Jalan Perintis Kemerdekaan.
“Masing-masing cabang punya manajemen sendiri, dan dikelola kami delapan bersaudara,” tutur Fredy yang sekaligus menjadi koordinator tiga cabang, Jalan Boulevard Raya di kawasan Panakkukang, Jalan Datu Musseng, dan di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo.
Dijelaskan, kendati dikelola dengan manajemen berbeda, ia memastikan rasa dan kualitas Mie Titi tetap sama. “Untuk itulah, saya biasa mengunjungi cabang Mie Titi lainnya, ikut mencicipi. Kalau ada yang berbeda dari rasa aslinya, maka saya pasti akan memberi masukan,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)