30 December 2013

Makassar Masih Butuh Kamar di Bisnis Perhotelan


MASIH BUTUH KAMAR - Hingga 2015 mendatang, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar memprediksi, kebutuhan terhadap kamar hotel di Makassar akan mencapai 1.500 kamar. Belum terealisasinya penyediaan kamar hotel di Makassar mendorong Pemkot Makassar untuk segera menggenjot kesediaan kamar tersebut melalui berbagai kerja sama pembangunan hotel dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Hingga 2015 mendatang, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar memprediksi, kebutuhan terhadap kamar hotel di Makassar akan mencapai 1.500 kamar. Belum terealisasinya penyediaan kamar hotel di Makassar mendorong Pemkot Makassar untuk segera menggenjot kesediaan kamar tersebut melalui berbagai kerja sama pembangunan hotel dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).
Pasalnya, tingginya ‪daya tarik Makassar sebagai daerah destinasi masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas baik ekonomi, sosial maupun politik menjadi faktor utama bagi tumbuhnya industri perhotelan di daerah di bawah kepemimpinan Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin.
Ilham saat ditemui usai grand opening Hotel Grand Himawan di Jalan Pengayoman, Makassar, mengatakan kota yang di pimpinnya tersebut telah menarik cukup banyak pengunjung dengan berbagai aktifvtas, khususnya untuk melakukan kegiatan bisnis di Makassar.
“Sebagai salah satu kota yang menjadi tujuan utama meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), baik tingkat nasional maupun internasional telah membuat kota ini sebagai daerah paling berpotensi untuk mengembangkan usaha di bidang hotel dan restoran,” ujar pria yang lebih akrab disapa Aco ini.
Lebih lanjut walikota dua periode tersebut mengatakan, pemerintah kota harus terus memberikan dukungan dengan memberikan berbagai kemudahan dalam perizinan serta syarat-syarat lain bagi semua kalangan yang ingin bergerak di bidang perhotelan.
Ini harus dipenuhi oleh kalangan pelaku industri perhotelan baik yang berkedudukan di daerah ini maupun yang membuka cabang dari hotel yang bertaraf nasional maupun internasional.
Hal yang sama dikatakan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga. “Potensi untuk majunya industri perhotelan di Makassar masih sangat terbuka. Dengan tingkat akupansi hotel pada saat ini yang terbilang tinggi dibanding daerah lain di Sulawesi, saya  optimis industri ini akan terus hidup dan berkembang,” tuturnya.
Dijelaskan, posisi Makassar sangat berbeda dengan Manado. Pasalnya, selain sebagai kota destinasi utama bagi pendatang atau wisatawan, Makassar juga didukung persepsi dari berbagai pihak sebagai kota untuk menggelar berbagai MICE. 
“Yang paling penting adalah dukungan kuat dari pemerintah setempat (Makassar),” ujar Anggiat saat dikonfirmasi barusan.