21 December 2013

KASIH IBU SEPANJANG MASA

Oleh Effendy Wongso

Foto: Effendy Wongso
Dahulu kala di Negeri Tiongkok, hiduplah seorang ibu yang sudah tua. Dia tinggal bersama anak laki-laki satu-satunya. Kehidupan mereka sangat miskin sehingga hanya menempati sebuah gubuk tua yang terbuat dari kayu. Dulu, sewaktu masih kuat, si Ibu Tua itu setiap hari mencari kayu dan ranting-ranting kering dari pepohonan di hutan untuk dijadikan kayu bakar, baik untuk memasak maupun untuk memanaskan diri saat cuaca sangat dingin.
Selain untuk dijadikan kayu bakar bagi dia dan anaknya, si Ibu Tua itu juga menjualnya di pasar dusun mereka untuk ditukarkan dengan makanan. Tetapi karena sudah sangat tua dan sakit-sakitan, si Ibu Tua itu sudah tidak dapat memikul beban kayu atau ranting-ranting dari pepohonan lagi di pundaknya. Lama kelamaan, dia pun tidak dapat berjalan lagi. Anak laki-lakinya yang pemalas selalu saja mengeluh dan memarahi ibunya tersebut, karena sejak sakit-sakitan ibunya tidak dapat lagi menyediakan kayu bakar lagi di gubuknya tersebut.
Pada suatu hari, si Anak sudah tidak tahan lagi karena ibunya itu sudah menjadi beban hidupnya. Dia sudah tidak sanggup memberinya makan karena makanan untuk dirinya sendiri tidak cukup. Ibunya yang sudah tidak dapat berjalan dan rabun matanya itu, setiap kali dimarahi oleh putranya, hanya dapat menangis diam-diam, tetapi dia tidak pernah memperlihatkan airmatanya itu kepada anaknya, apalagi menyimpan dendam terhadap putra kandungnya tersebut.
Maka berkatalah si Anak kepada ibunya itu. “Ibu, mulai saat ini saya tidak dapat menghidupi dan memberi makan kepada Ibu lagi. Ibu tahu, saya sangat miskin sehingga tidak dapat berbagi makan dengan ibu lagi. Ibu akan saya tinggalkan di hutan.”
Si Ibu Tua yang sudah agak tuli pendengarannya itu hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi ketika si Anak menggendongnya di belakang punggungnya untuk membawanya ke dalam hutan. Saat dalam perjalanan jauh ke dalam hutan, setiap langkah si Anak, si Ibu Tua tua mencabuti daun-daun kering berwarna merah kecoklatan di atas kepalanya.
Setelah berjalan cukup jauh di hutan yang lebat tersebut, si Anak pun mendudukkan ibunya di tanah. Dengan tersenyum penuh rasa puas, si Anak pun berkata kepada ibunya, “Nah, Ibu, sekarang Ibu tidak menjadi beban saya lagi. Saya harap Ibu mengerti dan mau memaklumi keputusan saya meninggalkan Ibu di dalam hutan ini.”
Si Ibu Tua itu hanya mengangguk, tidak marah ataupun kelihatan mendendam. Dia hanya berkata, “Anakku yang baik, jangan khawatirkan keadaan Ibu di sini. Ibu akan baik-baik saja. Pulanglah segera karena hari akan gelap. Jangan sampai tersesat, ikutilah tanda daun-daun kering yang berwarna merah kecoklatan, yang telah Ibu taburkan di tanah sebagai petunjuk jalanmu. Semoga kamu tiba dengan selamat di rumah.”
Mendengar perkataan ibunya, si Anak tiba-tiba menangis meraung-raung menyesali perbuatannya. Dia pun kembali menggendong ibunya itu di atas punggungnya dan pulang bersama kembali ke rumahnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)